
"Kamu sudah siap, Ai ? ." Melicha yang baru saja masuk ke dalam kamar, langsung bertanya dan duduk di samping Aira. Wajahnya pendar akan kecantikan wajah Aira yang baik bidadari di balut gaun pengantin. Tak lupa juga hijab simpel yang kini menutup seluruh rambut Aira.
"Entahlah. Tapi aku sepertinya sangat grogi..." Cicit Aira namun masih terdengar jelas di sepasang telinga Melicha.
"Tidak papa. Dulu aku juga pernah merasakan hal seperti yang kamu rasakan saat ini. "
"Iya. Tapi ini kan aku cuma mengulang acara saja, Mel. Aku dengan mas Akhtar sudah pernah menikah bahkan kami sudah memiliki Ezar..."
Ucapan Aira membuat Melicha termangu. Ada rasa bersalah di dalam hatinya terhadap Aira. Iya. Sandiwara ini masih berlanjut dan entah sampai kapan akan menemukan akhirnya.
Melicha hanya mengulum senyum manis menanggapi ucapan calon sepupunya itu.
"Kita keluar yuk...?! " Ujar Melicha sembari bangkit dari duduknya di sisi ranjang.
"Mel... Aku grogi.." Aira menatap lekat wajah sepupunya. Dirinya memang sangat grogi untuk acara ini. "Aku disini aja ya..?" Ucapnya lagi.
"Kamu yakin?. "
"Iya. Lagian gak ada salah juga kan, kalo aku keluar nya nanti saja setelah akadnya selesai. Biar aku keluarnya dengan mas Akhtar."
Melicha terlihat menghembuskan nafasnya perlahan. "Baiklah. Terserah kamu maunya gimana. Tapi aku juga akan tetap disini menemani mu."
"Kamu gak mau melihat acara ijab qobul nya?."
Melicha menggeleng lalu tersenyum." Aku akan menemanimu saja. Tapi aku keluar dulu ya, biar mereka langsung memulai acaranya tanpa menunggu kamu."
Aira mengangguk setelah nya Melicha segera keluar dari kamar untuk memberi tahu yang di luar agar acaranya dimulai.
DI dalam kamar sendirian, membuat hati dan pikiran Aira resah. Ia merasa ada rasa haru, ragu, takut, juga aneh. Entah apa yang membuatnya demikian?. Tapi yang pasti membuat hatinya sedikit teriris ialah tidak ada sanak keluarga di dekatnya saat ini. Saat di mana ia akan melangsungkan hari sakral bernama pernikahan. Aira tidak tahu apakah yang diucapkan oleh Akhtar beberapa hari lalu yang mengatakan jika dirinya sudah tidak memiliki keluarga satupun jauh sebelum mereka mengenal.
Hatinya ingin mengiyakan saja ucapan Akhtar sebab ia mikir bahwa dirinya sedang mengalami amnesia jadi tidak bisa mengingat segalanya termasuk riwayat hidupnya sendiri sebelum terjadi kecelakaan itu.
Namun ada sedikit yang terasa tak mengenakkan di hati jika dirinya ternyata sudah tidak memiliki siapapun lagi selain Akhtar dan Ezar juga sepasang suami istri sepupu Akhtar.
Lamunan Aira terhenti saat melihat seseorang sudah berada di ambang pintu. Wajah teduh yang selalu membuatnya nyaman saat berada bersama dengannya.
__ADS_1
"Mas..." Panggil Aira dengan suara lirih.
Langkah kaki pria itu mendekati Aira yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Akhtar tersenyum lalu bersimpuh di hadapan Aira.
"Kamu gak mau ikut serta dalam acaranya, Ai ?." Suara Akhtar terdengar sangat merdu.
"Entahlah, mas. Aku merasa takut... Juga grogi." Mata Aira menatap lekat mata Akhtar yang juga sedang menatap matanya. " Aku mau disini aja sampai acara ijab qobul nya selesai. Boleh kan mas ?."
"Boleh aja. Tapi aku mau kamu ikut serta, sayang. Gak papa ya. Lagian ini hanya acara pengulangan saja. Kamu gak usah grogi apalagi takut. Nanti disana kamu bisa menggenggam tanganku biar groginya hilang..."
Aira membuang nafasnya berat. Matanya terpejam sebentar dan kembali menatap mata Akhtar, lalu menganggukkan kepalanya.
Melihat hal itu senyum Akhtar langsung merekah. "Makasih sayang. Ayo kita keluar... ?!." Akhtar bangkit dari simpuhnya dan melangkah keluar kamar dengan tangan menggenggam erat tangan Aira.
Sesampainya di atas latar acara akad, keduanya duduk berdampingan dan berhadapan dengan penghulu juga wali hakim yang akan menjadi walinya Aira, juga beberapa saksi yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Mulai, pak." Ucap Akhtar pada penghulunya. Namun ternyata tidak di respon sama sekali oleh si bapak penghulu .
Akhtar mengernyitkan kedua alisnya melihat sikap pak penghulu itu ketika menatap Aira. Rasa kesal langsung melanda hatinya kala tatapan itu sangat intens memperhatikan wajah Aira.
"Oh. Maaf. Iya. Kita mulai saja ijab qobul nya. " Jawab pak penghulu akhirnya.
Akhtar dan walinya Aira mengangguk. Lalu saling mengulurkan tangan. Sesaat berikutnya wali Aira tersebut mulai menyenandungkan Kalam sakral pernikahan. Dan kini giliran Akhtar yang mulai mengucap...
"Saya terima nikah dan kawinnya Aira khandra sadiya dengan mas kawin tersebut dan saya rela dengan hal itu dan semoga Allah memberikan AnugerahNya...!"
Seketika kata SAH menggema di setiap penjuru ruangan. Bahkan rasa haru juga bergelut menyelubungi hati orang-orang yang telah hadir.
Acara terus berlanjut hingga malam hari dan barulah semua kembali pada keadaan semula dimana para tamu sudah pergi pulang ke rumah masing-masing.
Begitupun dengan sang pengantin baru. Keduanya mulai memasuki kamar yang sebenarnya sudah sering mereka tempati. Hanya bedanya saat ini kamar tersebut telah dihias sedemikian rupa layaknya kamar kamar pengantin pada umumnya.
Keduanya duduk di tepi ranjang yang bertaburkan kelopak bunga mawar merah.
"Mas..."
__ADS_1
"Hem?."
Lagi dan lagi. Sudah menjadi kebiasaan keduanya jika berbicara selalu mengunci tatapan antar keduanya.
"Kenapa, sayang?. Apa kamu ingin menanyakan sesuatu?."
Aira mengangguk.
"Baiklah. Silahkan. Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?."
"Mas... Sebenarnya aku ingin bertanya, kapan pertama kali kita bertemu?. Maaf. Soalnya aku tidak ingat sama sekali..." Ucap Aira akhirnya. Dan bukannya menjawab, Akhtar malah merengkuh tubuh Aira ke dalam dekapannya.
"Kenapa kamu bertanya itu?. Ada apa hmm?."
Aira mendongak kembali menatap wajah Akhtar. "Entahlah. Aku juga gak tau. Tapi aku beneran ingin tau, mas..."
"Hmm pertemuan kita pertama yaa?." Akhtar menjeda ucapnya dan mencoba mengingat moment di mana ia dan Aira pertama kali bertemu. Lalu mulai mengucap lagi. " Pertemuan kita diawali dengan ketidaksengajaan. Waktu itu aku sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba kamu lewat sambil berlari, dan aku tidak sengaja malah menyerempet tubuh kamu sampai kamu di rawat di rumah sakit hingga beberapa hari. Yahh. Dari situlah awalnya. Kita malah menjalin kasih setelah kejadian itu. "
Aira manggut-manggut mengiyakan saja ucapan Akhtar padahal dirinya tidak mengingatnya sama sekali. "Lalu. Bagaimana dengan kecelakaan yang aku alami sampai aku seperti ini?." Tanya Aira lagi.
Mendengar pertanyaan Aira, Akhtar langsung menghunuskan tatapan nya pada mata Aira. "Itu.. kamu terkena tabrak lari dan kamu langsung dibawa ke rumah sakit, sedangkan aku tau saat kamu sudah tidak sadar di dalam pembaringan..."
Cerita yang sesungguhnya, bukan?. Iya. Hanya saja ada sedikit kata pembantu. Fikir Akhtar
Aira semakin menelusupkan wajahnya pada dada bidang sang suami.
"Udah ahh. Jangan bahas itu lagi. Nanti juga kalo kamu udah pulih, ingatan kamu pasti datang dengan sendirinya." Ucap Akhtar dan di angguki oleh kepala Aira.
"Iya , mas. "
"Baiklah. Kalau gitu kita tidur ya. Kamu pasti kelelahan kan? ."
Aira mengangguk lagi. " Tapi aku mau ganti pakaian dulu, mas. Gak enak tidur masih pakai gaun. "
"Ya udah sana kamu ganti pakaian dulu. Mas tunggu di sini."
__ADS_1
Aira melakukan ritualnya di kamar mandi selama kurang dari dua puluh menit lalu kembali keluar dengan keadaan wajah seger juga pakaian tidur yang kini sudah melekat di tubuhnya.