
"Jadi, kau menolakku ?." Tanya Akhtar memastikan.
" Sepertinya begitu. Maaf, mungkin kamu bisa mencari perempuan baik lagi di luaran sana. Aku juga akan pergi untuk mencari masa lalu ku yang tertinggal di kota yang jauh dari Jogja. "
" Apa yang kau cari ?."
"Nasibku sama seperti gadis yang kau perdaya itu, meski beda versi saja. Tapi aku tidak sekuat gadis itu yang menyayangi putrinya sebagai seorang ibu yang baik. Aku malah sebaliknya, aku membuang anakku sendiri tanpa rasa belas kasihan sama sekali. " Jelas Zahra membuat Akhtar menjadi semakin penasaran.
"Jadi, kau ?."
"Iya, aku bukan seorang gadis yang murni. Pikiranmu salah selama ini, aku sudah memiliki anak diluar ikatan pernikahan. "
"Bersama kekasihmu?."
"Tidak, aku bahkan tidak pernah dekat dengan seorang pria manapun selain Abi dan Abah, apalagi sampai melakukan hal kotor. Aku korban pelecehan seseorang yang tidak bertanggung jawab saat aku sudah berbaik hati menolongnya ketika dia pingsan di trotoar jalan. Aku akan pergi menjemput putriku, dan semoga dia bisa aku temukan saat aku mencarinya." Airmata Zahra sudah menetes tanpa henti, menciptakan genangan yang menganak sungai di pipinya.
"Astaghfirullah... Semoga kau bisa menemukannya. " Ucap Akhtar tulus.
"Aamiin..." Zahra langsung menyeka air matanya saat melihat dua anak Akhtar sedang berjalan mendekati.
"Daddy. " Panggil Alchira pada Akhtar
"Mommy." Panggil Ezar pada Zahra yang masih mengira Zahra mommynya.
Akhtar mengangkat tubuh mungil Alchira ke atas pangkuannya, begitupun Zahra yang melakukan hal yang sama pada Ezar. Bertepatan dengan itu, Zuhdi dan Hizqi datang.
"Chira. " Panggil Hizqi pada keponakan suaminya.
"Ibu. " Hizqi mengambil alih Alchira dari pangkuan Akhtar.
"Sudah sore. Kami akan membawa pulang Alchira. " Ucap Zuhdi yang sudah pada raut wajah bersahabat.
Sepertinya saat ditinggal berdua bersama istrinya, Zuhdi sedikit mendapatkan pencerahan dari sang istri.
"Iya." Jawab Akhtar yang memang bingung harus menjawab apa lagi.
Hizqi menatap wajah wanita yang sedang memangku Ezar lalu sedikit memaksakan senyumannya yang terlihat kaku. "Assalamualaikum..." Ujarnya pada wanita berpenampilan syar'i itu.
Zahra balas tersenyum ramah. " Waalaikum salam." Jawabnya.
Sepasang suami istri itu pergi dan membawa Alchira ikut bersamanya.
Akhtar berbalik dan mengajak Zahra untuk pulang karena waktu memang sudah menjelang Maghrib.
Keduanya melangkah beriringan dengan Akhtar yang menggendong tubuh Ezar, layaknya sepasang suami istri berbahagia karena baru saja mengantarkan putranya bermain di taman bermain.
Karena Zahra yang tadi datang menggunakan taksi jadi sekarang Akhtar akan mengajaknya ikut bergabung di mobilnya dan mengantarkannya pulang.
Beberapa saat kemudian...
Zahra hendak turun dari mobil tapi ternyata Ezar menarik lengan bajunya. Zahra menoleh menatap wajah tampan bocah kecil itu.
"Mommy..." Panggil Ezar dengan wajah polosnya yang terlihat murung.
Zahra melirik ke arah Akhtar, berharap Akhtar memberikan pengertian kepada Ezar.
__ADS_1
" Ezar. Lepaskan tangannya. Mommynya mau ada perlu dulu, nanti Ezar ketemu lagi sama mommy kalau mommynya sudah selesai. " Ucap Akhtar mengerti.
"No, Daddy... Ezar mau main sama mommy. " Rengek Ezar masih tidak mau melepaskan tarikannya.
Zahra membuang nafasnya perlahan lalu berjongkok ke hadapan Ezar, mendaratkan kecupan sayangnya pada kening dan kedua pipi Ezar.
"Ezar sayang tidak sama mommy ?." Tanya Zahra.
Ezar mengangguk. "Sayang, mommy. " Jawabnya.
"Ezar sayang sama Daddy ?."
"Sayang. "
"Kalau Ezar sayang sama mommy sama Daddy, berarti Ezar harus nurut. Nanti kalau Ezar nurut, nanti mommynya pulang lagi sama Ezar.Β Ezar mau mommynya pulang ?."
"Mau. "
"Iya, nanti mommynya pulang. Ezar bilang sama Daddy suruh jemput mommy. Oke ?!." Zahra menunjukkan tangan dengan ujung jari telunjuk dan ujung jari jempol ditempelkan.
Wajah Ezar kembali cerah dan melakukan hal yang sama seperti Zahra dengan jemari mungilnya. "Oke !." Ucapnya senang.
Zahra mengusap sayang kepala Ezar. " Pintar nya anak mommy. " Ucap Zahra semakin membuat Ezar sumringah.
Zahra melirik ke arah Akhtar. " Ezar membutuhkan mommynya. Jemput dia, aku yakin dia sedang menunggumu. " Ucap Zahra sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Menjadi seorang keturunan dari orang yang memiliki ilmu mumpuni, tidak susah bagi Zahra melihat jauh keluar sana untuk melihat sosok yang begitu dicintai oleh Akhtar.
"Kau yakin?." Tanya Akhtar. Ia tahu bahwa Zahra memiliki keistimewaan itu, tapi ia masih ada keraguan dengan apa yang dikatakan oleh Zahra sebab ia tahu bahwa Azrinna sangat membencinya.
"Daddy. " Panggilan dari Ezar membuat Akhtar menghentikan lamunannya. Akhtar menoleh ke arah putranya. "Daddy, kapan jemput mommynya ?." Tanya Ezar.
"Iya, secepatnya kita akan menjemput mommy, sayang. " Jawab Akhtar yakin dan mengusap lembut kepala Ezar lalu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah kyai Anwar.
_____________
Azrinna mencoba menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan baru yang tak pernah sekalipun ia lakukan, baik itu di Jogja maupun di Jakarta. Ia melakukan hal tersebut hanya karena ingin lepas dari bayang-bayang Akhtar yang sudah mengusik pikiran dan jiwanya. Apalagi setelah mendengar penuturan Hizqi yang mengatakan bahwa Ezar sudah memiliki mommy baru.
Jika Akhtar ada di Jogja, maka pelariannya ke kota ini sudah selesai. Ia akan kembali ke Jakarta dan meneruskan kehidupan barunya di sana. Kakaknya juga sudah menetap di Jakarta sebab ikut dengan istrinya yang merupakan keturunan orang Jogja. Jadi, jika ia pulang ke Jakarta, eyang Putrinya masih bisa dijaga oleh Zuhdi.
Setelah tanaman bunga itu selesai ditanam semua, Azrinna langsung mencuci tangannya di keran yang berada di pojokan taman, lalu masuk ke rumah mencari eyang putri dan meminta izin untuk kembali ke ibukota.
Ternyata eyang putri sangat berbaik hati dengan menyetujui keinginannya.
"Makasih, eyang. Azri pasti akan selalu merindukan eyang." Ucap Azrinna saat memeluk tubuh renta itu.
"Iya... Cucu eyang sudah saatnya bahagia." Ucap eyang putri membuat Azrinna reflek melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah teduh itu.
"Eyang, " Azrinna ingin mengatakan sesuatu tapi ia ragu untuk mengucapkannya.
"Kamu akan bertemu kebahagiaanmu di sana. Segeralah pulang dan jemput masa depanmu, nduk. " Ucap eyang putri lagi membuat Azrinna semakin kebingungan.
"Apa maksudnya eyang ?."
Tangan eyang putri mengelus lembut pipi Azrinna. "Eyang tidak perlu mengatakannya, kamu akan tau sendiri saat disana. "
__ADS_1
"Baiklah, eyang. Jadi, eyang mengizinkan Azri pulang kapan ?."
" Besok, eyang akan menyuruh salah satu pegawai rumah untuk membelikanku tiket keretanya. "
"Makasih eyang. Azri sangat sayang sama eyang putri. " Azrinna kembali menubruk tubuh eyangnya.
"Eyang juga sayang sama cucu eyang yang cantik ini. "
Ucapan eyang putri mengundang kekehan renyah Azrinna.
"Kalau begitu, sana, beresin barang-barang yang akan dibawanya, biar gak ada yang ketinggalan di cek dari sekarang. " Ucap eyang putri mengingatkan.
"Iya, eyang. Azri ke kamar dulu ya eyang. " Azrinna keluar dari kamar eyang putri.
Wajah Azrinna memancarkan cahaya kebahagiaan setelah keluar dari kamar eyang putri. Tapi saat ia berjalan melangkah ke kamarnya sendiri, telinganya malah mendengar sebuah pertengkaran terjadi di dalam kamar Zuhdi. Ia sangat kenal suara dua orang yang sedang berseteru itu.
Azrinna berusaha untuk tidak ikut campur, tapi saat mendengar suara sahabatnya menangis ia jadi tidak tega. Dengan terpaksa, Azrinna akhirnya mengetuk pintu kamar kakaknya dan tidak lama pintu itu terbuka dan menampilkan sosok kakaknya dengan wajah murung seperti banyak pikiran.
" Kak."
" Masuk, dek. " Zuhdi sedikit menyingkir memberi jalan pada Azrinna.
Azrinna melangkah mendekati kakak iparnya yang sedang terisak di tepi ranjang dan memeluk tubuh bergetar karena tangis itu dari samping. Azrinna melirik ke arah pintu yang berderit tertutup dan ternyata sudah tidak mendapati kakaknya disana. Entah kemana perginya kakaknya itu?.
"Mbak..." Panggil Azrinna pelan.
"Zri, mas Zuhdi marah... Dia marah padaku..." Ucap Hizqi lirih disela-sela tangisnya. "Aku harus bagaimana, Zri ?... Aku bingung..." Lanjutnya lagi.
"Mbak, sebenarnya apa yang terjadi?. Azri tidak tahu, jadi Azri juga bingung harus memberi solusi bagaimana. "
Hizqi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Azrinna yang juga sedang menatap wajahnya. "Aku ingin memiliki anak, Kami sudah hampir setahun menikah, tapi Allah tidak juga memberikan amanah itu..."
"Lalu, kak Zuhdi marah karena apa ?.''
"Dia memintaku untuk selalu bersabar dan berikhtiar agar Allah mempercayakan kami menjadi orang tua. Tapi, aku sudah melakukan itu semua, dan Allah tetap tidak menitipkannya juga di dalam rahimku..." Ujar Hizqi akhirnya.
Azrinna menghela nafasnya panjang. Ia cukup tau jika pemahaman agama kakak iparnya ini memang tidak terlalu dalam dan bahkan sering sekali merasakan putus asa karena merasa ujian yang diberikan oleh Allah itu berat baginya, padahal sejatinya, Allah tidak akan memberikan ujian pada hambanya melebihi kapasitas kesanggupan hambanya itu sendiri.
"Mbak, Apa mbak tahu kisah nabi Ibrahim dan dan Siti Sarah, istri pertama beliau ?." Tanya Azrinna kemudian.
Hizqi terdiam beberapa saat kemudian mengangguk.
"Mbak tahu seberapa lama penantian beliau saat menginginkan sang buah hati hadir ?." Tanya Azrinna lagi.
Kali ini Hizqi menggeleng.
_____________
Ada yang belum tahu kisah nabi Ibrahim dan Siti Sarah yang menginginkan seorang anak ?.
Author akan sedikit menguak kisahnya di episode selanjutnya yaa...
Dukungan kalian sangat dibutuhkan oleh penulis amatiran iniππ»ππ»π
salam bahagia untuk readers ku..π₯°π₯°π₯°
__ADS_1