Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Pasangan senja


__ADS_3

" Dek. Buka pintunya. " Zuhdi terus menggedor-gedor pintu kamar Azrinna. "Azrinna. Kakak mau masuk !. " Ucap Zuhdi lagi semakin mengeraskan suaranya.


Di dalam kamar, Azrinna sedang meringkuk di atas ranjang sambil menangis. Ia enggan untuk membuka pintunya tapi sepertinya kakaknya itu memang memaksa. Azrinna bangun lalu membuka kunci pintu kamar yang langsung saja didorong dari luar dan terbuka lebar.


Mata Azrinna terfokus pada bayinya yang sedang di gendong Hizqi.


" Boleh aku masuk ?." Tanya Hizqi. Dan Azrinna hanya mengangguk.


Ketiganya masuk ke dalam rumah Azrinna. Zuhdi duduk di sofa sedangkan Azrinna dan Hizqi memilih untuk duduk di tepian ranjang.


" Sudah. Jangan nangis terus ihh. Jelek tau gak ?." Seloroh Hizqi berhasil membuat Azrinna sedikit terkekeh. " Nih, ahh. Capek gendongnya." Hizqi menyerahkan Alchira pada ibunya.


Azrinna langsung menatap tajam wajah sahabatnya tapi tetap mengambil alih tubuh mungil Alchira.


" Siapa namanya ?." Zuhdi mulai bersuara.


" Alchira Nazla Ilario. "


" Ilario ?!."


Azrinna mengangguk. Ia tahu bahwa kakaknya itu pasti tidak senang dengan nama terakhir Alchira, karena itu nama Akhtar yang diambil dari kata belakangnya.


" Zri. Kita shopping yuk ?."


" Shopping ?!."


" Iya. Aku yakin di sini tidak ada perlengkapan bayi. " Hizqi berucap dengan tatapan memberi isyarat pada Zuhdi.


Zuhdi yang awalnya tidak paham akhirnya mengangguk juga. Zuhdi tau jika ajakan itu bukan hanya semata-mata untuk membeli keperluan bayi. Tapi lebih ke Azrinna nya sendiri agar tidak terlarut dalam kesedihan.


" Iya. Kita keluar yuk ?. Keponakanku belum memiliki apapun di rumah barunya. "


Beberapa saat kemudian,  Azrinna dan Hizqi sudah sangat heboh kesana-kemari mencari perlengkapan untuk Alchira. Pertama kali sampai, mereka memasuki area pakaian bayi perempuan dan mengambil beberapa stel pakaian yang menurut keduanya cocok lalu beralih ke bagian sepatu-sepatu mungil dan cantik. Azrinna mengambil sandal rajut yang sangat lucu berwarna peach lalu berganti lagi ke area pakaian dalam bayi dan terakhir ke bagian aksesoris, dan sedikit mengambil beberapa aksesoris yang disukai oleh dua wanita tersebut.


Ranjang troli yang di dorong oleh Zuhdi penuh dengan barang-barang Alchira. mereka langsung menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Setelah selesai mereka memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mampir di sebuah restoran yang berdiri tegak di samping jalan.


Ketiganya turun dan memasuki pintu restoran. Jika tadi saat di toko baby Azrinna yang menggendong Alchira. Kini bergantian dengan Hizqi.


Azrinna melangkah tenang di depan dan Zuhdi juga Hizqi ada di belakangnya. Mereka memilih duduk di bangku yang sedikit memojok. Tak menunggu lama waitress datang lalu menyodorkan buku menunya. Setelah semua selesai memesan, waitress itu kembali melenggang pergi.

__ADS_1


Tatapan Zuhdi tampak tidak tenang dan seakan sibuk memperhatikan keadaan sekitar.


" Kak. Ada apa ?. " Tanya Azrinna penasaran.


" Eee ini... Restoran milik Aqlan, Dek. "


" Apa ?!." Azrinna menutup mulutnya terkejut. Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru. "Kak. Kenapa kakak bawa kita ke sini ?."


" Iya, maaf. Tadi aku lupa. Kalau aku ingat juga tidak akan berhenti di sini. "


Azrinna mendesah lalu membanting punggungnya ke sandaran kursi. Bukan tidak mau makan di restoran ini hanya saja dirinya takut jika sampai ada Aqlan di sini karena dia masih belum sanggup melihat wajah orang yang pernah berstatus sebagai suaminya itu.


Pesanan datang lalu di tata rapi diatas meja. Ketiganya mulai menikmati hidangan yang ada di depan mata. Setengah jam mereka menghabiskan waktu di acara makan, mereka memutuskan untuk segera pulang karena waktu sudah menjelang senja. Dan itu sangat tidak baik bagi Alchira, bayi mungil yang dalam perhitungan dokter itu masih berumur enam Minggu.


Perjalanan sore sangat melelahkan karena berkali-kali terjadi kemacetan di lampu merah apalagi sore hari adalah waktu perpulangan dinas, baik itu sebagai pejabat ataupun karyawan membludak memenuhi setiap area jalan beraspal kota metropolitan.


Sekitar jam enam Maghrib, mobil Zuhdi sudah sampai di rumah setelah sebelumnya menyempatkan waktu untuk mengantar Hizqi pulang ke rumahnya dulu. Mereka sedikit berlari memasuki rumah karena gerimis yang sedari tadi bergemericik semakin besar dan mulai lebat.


Langkah kaki Azrinna terhenti saat matanya melihat sosok pemimpin dalam keluarganya itu. Tatapan ayahnya datar namun menghunus membuat Azrinna bingung harus bersikap bagaimana, hingga Zuhdi sedikit menyenggol lengannya kembali membawa Azrinna tersadar dari lamunannya.


" Tidak apa-apa. Papa pasti mengerti. " Ucap Zuhdi sambil melangkah mendahului Azrinna menghampiri papanya dan menyalaminya.


" Kalian dari mana ?." Tanya Winata membuat Azrinna sontak mendongak menatap wajah ayahnya.


" Ka-kami habis belanja keperluan Alchira, pa.."jawab Azrinna lirih bercampur rasa takut.


Tatapan mata Winata memperhatikan bayi yang ada di gendongan Azrinna. Sedetik kemudian senyuman menghias di wajah tegasnya itu. Tangan Winata terangkat dan mengusap lembut wajah Azrinna. "Jangan takut seperti itu. Papa tidak marah sama Azri. " Ucap Winata lembut dengan tatapan mata lekat memandang wajah Azrinna yang sudah pucat pasi.


Azrinna sudah tidak sanggup menahan air matanya agar tidak menetes. Azrinna langsung menubruk tubuh ayahnya dengan tangisan yang pecah seketika. Tangan Winata juga tidak berdiam pasif, tangan yang mulai renta itu mengusap-usap pelan punggung Azrinna.


" Maafin Azrinna, pa.."


" Iya, sayang. Papa mengerti keadaannya. Papa percaya, anak manja papa ini tidak akan melakukan hal kotor kalau dalam keadaan sadar." Ujar Winata penuh pengertian.


" Makasih, pa. "


" Yaudah, sana. Sholat dulu. Waktu Maghrib sudah mau selesai. "


Azrinna mengangguk. Ia melirik ke arah Zuhdi yang ternyata sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya sendiri. " Azri ke kamar dulu, pa. " Ucapnya pada sang ayah.

__ADS_1


" Cucu papa bangun, kamu sholat aja biar dia bersama papa. " Winata berbicara tapi matanya fokus pada Alchira yang terjaga.


Azrinna melihat putrinya, yang ternyata benar, kalau Alchira sedang membuka matanya. Kebiasaan bayi, mereka akan tertidur di waktu siang dan terjaga di sepanjang malam. Seperti Alchira ini, padahal tadi saat jalan-jalan Alchira tertidur nyenyak tapi saat sudah mendekati malam dia malah membuka matanya.


Azrinna mengangguk kaku dan sedikit memaksakan senyumannya pada sang ayah. Yang juga membalas senyumnya.


" sini. " Winata mengambil alih Alchira dengan sangat hati-hati. " Udah, sana sholat dulu. " Ucapnya lagi pada Azrinna saat cucunya sudah aman di dalam gendongannya.


Azrinna mengangguk lalu melangkah menaiki tangga dan memasuki kamarnya.


Winata memilih duduk di sofa sambil memangku cucu pertamanya yang ternyata sangat cantik sama seperti ibunya. Tapi ada sedikit garis wajah orang timur yang semakin menambah kesan cantik cucunya itu. Winata memang sudah mendengar semuanya dari sang istri termasuk bahwa ayah dari cucunya itu bukan orang Indonesia  dan merupakan asli keturunan orang negara timur, tepatnya orang Uzbekistan. Makanya wajah Alchira memiliki wajah yang sedikit berbeda dari bayi-bayi di daerah setempat nya.


Tidak selang lama, Sintia datang dan duduk di samping Winata. Matanya tampak kembali cerah dan tidak terlihat ada kesedihan seperti yang tadi siang di tampakkan nya.


" Cantik ya pa ?." Ucap Sintia yang tangannya mulai menyentuh gemas pipi cucunya.


" Iya, sama seperti neneknya. " Jawab Winata santai dan langsung mendapat tatapan kompleks dari istrinya itu. Winata membalas tatapan itu dengan senyum manisnya.


" Ingat umur pa... Udah gak pantes ngegombal seperti itu. " Tukas Sintia kembali memandangi wajah Alchira.


" Sudah juga masih bisa membuatkan bibi untuk Alchira. " Winata kembali melayangkan rayuan mautnya. Dan Sintia hanya mendelik sesaat, tapi semburat merah di wajah, tidak mampu dapat ditutupinya.


" Jadi siap tidak memiliki bayi lagi ?."


" Papa, sudah ih !!. Risih dengernya !."


" Risih apa risih...??."


" Papa...!!" Sintia mencubit keras paha suaminya.


" Aww...! Ma. Lepas... Sakit !!. "


Bukannya menuruti ucapan suaminya melepaskan cubitannya, Sintia malah semakin keras mencubitnya membuat Winata semakin berteriak keras juga


Oekkk oekkk !.


Sepasang pasangan menuju senja itu langsung panik karena cucunya tiba-tiba menangis kencang


___________

__ADS_1


__ADS_2