Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
50


__ADS_3

Suasana gelap gulita sudah menghias langit malam. Rumah Akhtar mulai sepi dari tamu-tamu undangan, termasuk keluarga Azrinna sendiri yang juga sudah pulang ke tempat masing-masing.


Meski pengantin baru dengan dua anak, mereka tetaplah ratu dan raja acaranya yang sangat mewah ini.


Tepat pukul sebelas malam, keduanya masuk kedalam kamar utama rumah Akhtar, yang dijadikan kamar pengantin.


Aura kecanggungan memenuhi keduanya, membuat keduanya salah tingkah dan kebingungan harus melakukan apa dan bagaimana. Mereka hanya diam dengan mata sesekali melirik satu sama lain, dan saling melempar senyum canggung jika terpergok.


Masya Allah, kenapa jadi bingung kaya gini sih ??. Decak Azrinna dalam hatinya.


Astaghfirullah, kenapa rasanya deg-degan terus hati ini. Ucap Akhtar dalam hatinya.


Azrinna memutuskan ke kamar mandi agar lepas dari suasana canggungnya saat melangkah menuju pintu kamar mandi, ternyata Akhtar juga sedang berjalan ke arah yang sama. Keduanya terpaku karena ternyata sama-sama akan ke kamar mandi.


"Mas."


"Ai. "


Lagi. Keduanya semakin salah tingkah karena ternyata berucap berbarengan. Senyum kaku tersungging dari masing-masing bibir mereka.


Akhtar berdehem seolah sedang memecahkan kebingungan agar tidak terlalu larut.


"Kamu mau ke kamar mandi, Ai?." Tanya Akhtar akhirnya.


"Iya, mas. Mas, juga mau ke kamar mandi ?. "


"Iya, yaudah kamu dulu gih. "


"Mas dulu aja, soalnya aku mungkin lama nanti di kamar mandinya. "


"Emang kamu mau ngapain aja di kamar mandinya ?." Tanya Akhtar penasaran.


"Aku... "Azrinna memalingkan wajahnya karena bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Akhtar.


"Ai. "


"Aku sedang datang bulan, mas. Jadi mungkin akan lama proses mandinya. "


Akhtar terpaku dan entah kenapa persendian otot dalam tubuhnya seakan lemas seketika. Akhtar menatap lekat wajah istrinya dengan tatapan berkecamuk, resah, kecewa, dan apapun itu sebagainya.


"Maaf, mas. " Azrinna berucap lirih dengan kepala menunduk dalam karena rasa bersalah.


Ucapan Azrinna membuat lamunan Akhtar terhenti. Akhtar mendekat lalu tangannya terulur mengangkat dagu Azrinna, seketika tatapan keduanya terpaku dalam.


"Masih ada malam-malam selanjutnya untuk malam pertama." Ucap Akhtar dengan suara yang sangat lembut terdengar.

__ADS_1


Blushhh.


Azrinna tak bisa menyembunyikan rona merah di kedua pipinya mendengar ucapan frontal dari suaminya itu.


Cupp.


Azrinna terbelalak saat mendapati kecupan singkat di hidungnya. Yah, meski hanya di hidung, tapi itu sangat cukup membuat Azrinna seakan melayang di udara karena tidak sanggup memikirkan nya.


Saat kesadarannya kembali, Azrinna menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah tertutup rapat dan menenggelamkan tubuh Akhtar dibaliknya.


"Astaghfirullah..." Gumam Azrinna sembari berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepiannya.


Di dalam kamar mandi, Akhtar juga sedang mengatur perasaan di hatinya, mengingat kelakuannya sendiri terhadap sang istri.


Meski termasuk hal kecil, tapi itu sangat, sangat membuat hatinya berdetak tak karuan.


Padahal dulu, apa yang dilakukannya terhadap Azrinna bahkan lebih dari sekedar itu.


Ya Allah, begitu indahnya ikatan pernikahan. Ucap Akhtar dalam hatinya.


Akhtar memulai ritual mandinya dan selesai,  setelah menghabiskan waktu sepuluh menit. Akhtar keluar dari kamar mandi dan bergantian dengan Azrinna yang juga akan membersihkan diri.


Azrinna selesai dengan kegiatan di kamar mandinya dan langsung bergabung tidur di samping Akhtar, karena memang matanya juga sudah sangat mengantuk.


Pukul dua dini hari Azrinna terbangun karena merasa mendengar suara Alchira menangis. Azrinna langsung turun dari tempat tidur dan bergegas melangkah ke arah pintu. Rupanya Akhtar pun mendengar tangisan Alchira.


Azrinna membuka pintu dan ternyata putrinya sedang berdiri didepan pintu sambil menangis. Azrinna langsung mengangkat tubuh Alchira ke dalam gendongannya.


"Mommy... "


"Hai, sayang. Iya, ini mommy, chira... " Azrinna berkali-kali mengecup kepala putrinya. Tangannya juga mengelus lembut punggung putrinya.


Alchira menyenderkan kepalanya di pundak sang ibu. Semenjak baru pertama kali tinggal bersama Azrinna, Alchira memang selalu tidur berdua bersama ibunya hingga saat ini. Dan, ketika sampai menangis seperti ini adalah hal pertama kali bagi Alchira.


Alchira adalah putrinya yang jarang menangis, di rumah orang tuanya pun, saat Alchira terbangun dari tidurnya di malam hari dia tidak akan rewel dan hanya anteng di tempat tidur sambil memainkan bonekanya hingga terlelap kembali.


Mungkin karena tempat baru, jadi Alchira sedikit tidak nyaman dan masih membutuhkan pembiasaan.


"Mas. " Panggil Azrinna saat melihat Akhtar yang sudah terbangun dan sedang duduk di tepi ranjang.


"Biarkan baby Al tidur disini. " Ucap Akhtar memahami kekhawatiran Azrinna.


"Iya, mas. "


Azrinna membawa Alchira ikut bergabung di atas tempat tidur. Mereka mulai kembali terlelap tenang terkecuali Akhtar. Akhtar turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Setelahnya ia membentangkan sajadah menghadap kiblat lalu mulai mengerjakan qiyamul lail -nya.

__ADS_1


Akhtar begitu khusyuk dan hanyut dalam doa panjangnya. Menemani keheningan malam dengan senandung sholawat dan dzikir.


Dari sholat sunnah satu ke shalat Sunnah satunya lagi, terus sampai masuk waktu subuh dan melanjutkan sholat wajibnya.


Azrinna yang mulai terjaga saat mendengar suara adzan subuh dan sangat tertegun melihat suaminya yang sedang hanyut dalam interaksi terhadap Sang Pencipta. Tanpa sadar, air matanya sudah memenuhi pelupuk mata.


Azrinna segera menyeka air mata di pipinya saat melihat Akhtar menoleh.


Akhtar menyunggingkan senyumnya saat tatapan matanya bertemu dengan mata Azrinna. "Bangun dari tadi?." Tanya Akhtar sembari bangkit dan membereskan perlengkapan sholatnya.


"Nggak, aku baru saja bangun saat melihatmu sedang berdo'a." Jawab Azrinna masih memperhatikan kegiatan Akhtar.


Akhtar mendekat dan duduk di tepi ranjang lalu mendaratkan kecupannya di kening Alchira. Kemudian matanya kembali melihat wajah Azrinna.


"Mas."


"Hem ?."


"Kamu bangun dari tadi?." Azrinna mengutarakan pertanyaan yang sama seperti Akhtar.


"Saat kalian kembali tertidur nyenyak, aku nggak tidur lagi sampai sekarang." Jawab Akhtar jujur.


Azrinna semakin tertegun mendengar jawaban Akhtar. Akhtar sudah sangat berubah dan bahkan persis sebagai seorang muslim yang taat.


"Udah, jangan dipikirin. Lebih baik mandi sana, atau mau tidur lagi ?."


"Aku akan mandi saja, mas. "


"Ya udah sana turun. " Akhtar mengusap lembut kepala Azrinna yang memperlihatkan rambut panjangnya.


Dari pertama kali hidup bersama Azrinna, Azrinna memang sangat suka dengan rambut panjang sepinggangnya dan hanya akan memotongnya sedikit jika sudah melebihi batas kesukaannya.


Sepeninggalan Azrinna, ternyata Alchira mulai membuka matanya, mengerjapkan kedua matanya berkali-kali seolah sedang mengumpulkan nyawanya yang masih belum terkumpul.


"Daddy." Panggil Alchira setelah sadar sepenuhnya.


"Selamat pagi, cantik.." ucap Akhtar lalu mengecup kening dan kedua pipi putrinya dengan gemas.


Alchira terkekeh kecil karena kegelian akibat ulah sang ayah. "Daddy, geli... Stop...!. Hahaha..."


"Hahaha, geli yaa ?. " Tanya Akhtar kembali melakukan aksinya dengan kedua tangan mulai menggelitik tubuh mungil Alchira.


Alchira semakin menggelinjang kegelian dan tertawa terbahak-bahak karena kejahilan ayahnya.


"No, dad... Chiya, capek. " Ujar Alchira yang mulai kelelahan karena banyak tertawa.

__ADS_1


Akhtar yang juga sudah lelah tertawa akhirnya menghentikan ulah nakalnya.


___________


__ADS_2