Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Azrinna teledor


__ADS_3

Seperti biasanya, saat memasuki area latihan kelas senior, Azrinna meminta mereka untuk melakukan pertarungan yang dirinya sendiri sebagai musuhnya.


Satu murid maju lalu membungkukkan badan memberi salam penghormatan terhadap Azrinna dan berlanjut memulai serangan dengan jurus-jurus yang sudah dipelajari sebelumnya.


Azrinna meliukkan tubuh juga melompat cepat saat serangan dilakukan oleh muridnya. Secara spontan ia juga berkali-kali melayangkan serangan balik.


Pertarungan sengit saling memukul, menendang juga menghindar terjadi tak terelakkan hingga sepuluh menit lamanya. Antar guru dan murid itu membungkukkan badan tanda selesai.


Applause dari mereka yang menjadi penonton menggema di ruangan tersebut. Azrinna tersenyum bangga pada murid yang ternyata kemampuannya sekarang lebih mumpuni lagi.


Latihan terus berlanjut sampai jam istirahat berbunyi. Azrinna menutup pertemuannya dengan sedikit petuah lalu keluar dari kelas untuk menemui Sisil juga Alchira.


Ketika sampai di area khusus pelatih, disana ia tidak melihat Sisil. Azrinna menelisik setiap sudut ruangannya dan tetap saja matanya tidak melihat Sisil sama sekali. Azrinna keluar lagi dari ruangan itu dan mencari Sisil yang entah dimana keberadaannya. Kaki Azrinna terus melangkah dengan pandangan yang mencari-cari. Seseorang yang lewat langsung diberhentikan dan ditanya, dan jawabannya adalah tidak tahu.


"Ini Sisil kemana sih ?. " Gumam Azrinna.


Azrinna ke arah kantin yang masih di dalam gedung Nanzea, tapi tidak juga ada di sana. Azrinna memutuskan untuk ke taman kota yang kebetulan berada di samping gedung Nanzea. Terlihat begitu banyak manusia yang membludak dan bagaimana caranya ia menemukan Sisil di area penuh manusia itu. Azrinna benar-benar tidak tahu harus mencari kemana lagi Sisil membawa putrinya. Bukan tidak percaya pada anak muridnya itu, hanya saja ia takut Sisil malah kerepotan mengurus Alchira nantinya.


Azrinna mendudukkan tubuhnya di bangku taman. Pikiran dan hatinya masih resah memikirkan keberadaan Alchira. Seandainya saja Azrinna memiliki nomor telepon Sisil, sudah pasti ia menghubunginya dari tadi.


Sekarang ia hanyalah bisa duduk sambil menunggu kedatangan Sisil bersama putrinya. Ingin kembali ke Nanzea tapi hatinya malah merasakan kenyamanan berada di taman ini. Apalagi kini matanya sedang memperhatikan kegiatan keluarga kecil yang sepertinya sedang sangat bahagia bermain bersama tak jauh jaraknya dari tempat duduknya.


Di sana, terlihat seorang anak kecil yang berjalan riang dengan kedua tangan di gandeng oleh kedua orangtuanya di sisi kanan dan kirinya. Mereka tertawa lepas saat anak kecil itu bersenandung sholawat dengan nada cadel khas anak kecil. Sangat membahagiakan.


Hati Azrinna terasa ngilu menyaksikan momen tersebut. Ia teringat akan putrinya. Apakah Alchira bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ia lihat itu ?. Apakah Alchira akan tumbuh dengan kasih sayang kedua orangtuanya yang utuh seperti anak kecil itu ?.


Di sudut hatinya yang terdalam, ia khawatir jika Alchira ternyata hanya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu saja dan tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang pria yang dalam quotes-nya, adalah cinta pertama seorang anak perempuan.


" Assalamualaikum."


Azrinna yang menundukkan kepalanya melihat sepasang kaki pria kini berada di hadapannya. "Waalaikum salam.." jawabnya tanpa berniat untuk melihat siapakah pria yang sedang berdiri di depannya itu. Azrinna masih betah dengan posisinya.


Tidak tahukah Azrinna jika tingkahnya seperti itu malah membuat pria itu menyunggingkan senyumnya.


" Boleh gabung di bangkunya ?." Tanya pria itu.

__ADS_1


Azrinna seketika mendongak. Matanya membulat karena terkejut saat melihat wajah pria itu. Pria yang sudah dua bulan ini tak pernah dilihatnya. Yah. Pria itu adalah ayah dari putrinya, Akhtar.


Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah karena ternyata putrinya sedang berada di gendongan Akhtar.


Pandangan keduanya bersitatap dengan Akhtar yang tersenyum tipis. Azrinna langsung memalingkan wajah saat mulai tersadar lalu sedikit menggeser posisi duduknya, seakan memberi jawaban akan pertanyaan Akhtar tadi.


Akhtar mulai duduk di sampingnya dan memangku Alchira. Tak ada percakapan. Keduanya duduk bersama tapi dalam keheningan karena tidak ada yang berani memulai labuh dulu.


" Kapan kau mengambilnya ?."


" Kenapa kau membawanya ?."


Ahhh. Sekalinya bersuara ternyata keduanya berbicara berbarengan. Keduanya menjadi salah tingkah kaget dengan sikapnya sendiri.


Akhtar berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya. " Tadi aku mengambilnya dari muridmu, saat kamu sedang masuk kelas." Ucap Akhtar menjawab pertanyaan Azrinna.


Azrinna mengangguk mendengar ucapan Akhtar.


" Kenapa kamu membawanya ke sana, kalau cuma di titipin ke orang. " Tanya Akhtar lagi.


Azrinna tidak sanggup melihat ekspresi wajah Akhtar saat ini. Ia tahu segimana Akhtar menyayangi putrinya, dan apa yang dilakukannya hari ini sudah pasti membuat Akhtar marah. Pasti.


" Tidak ingin meninggalkannya, tapi menitipkannya pada orang lain. Apa bedanya ?." Ucap Akhtar sarkas.


Tuh, benar kan ?!.


Azrinna melirik wajah Akhtar yang ternyata sedang menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi dan lebih ke dingin. Karena tak sanggup Azrinna membuang mukanya lagi.


" Iya, maaf. " Ucap Azrinna menyesali perbuatannya sendiri.


" Jangan di ulangi lagi. Itu akan berbahaya untuk anak kita.  "


Azrinna hanya mengangguk patuh.


" Maaf, aku baru bisa melihatnya sekarang. Dua bulan ini aku sibuk mengurus pekerjaan yang ada di luar negeri dan aku baru sampai di Indonesia kemarin. " Ucap Akhtar selanjutnya.

__ADS_1


" Iya. " Singkat padat dan jelas. Setidaknya jawaban Azrinna ini mewakili akan hatinya yang sempat memikirkan Akhtar selama dua bulan terakhir.


Akhtar menghembuskan nafasnya panjang dan itu terdengar jelas di telinga Azrinna.


" Kamu masih ada kelas ?." Tanya Akhtar yang kembali menatap wajah Azrinna.


Azrinna menggeleng. Karena memang untuk hari ini dirinya hanya memiliki kelas pelatihan sampai jam istirahat saja, tidak seperti hari biasanya sebab sudah jadwal ketentuan yang ia terapkan di padepokannya itu. Jumat Setengah Hari.


" Baiklah. Kalau begitu apa kamu bersedia pergi bersama ku ?. "


" Kemana ?."


" Kemanapun yang kamu mau. Tapi yang jelas Setelah nya aku ingin ke mall dulu untuk membelikan sesuatu untuk Alchira. "


Azrinna tidak langsung menjawab. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


" Baiklah. Iya, aku mau. " Jawab Azrinna akhirnya.


Keduanya bangkit lalu berjalan menuju mobil Akhtar yang terparkir di parkiran. Karena Azrinna menyerahkan tujuan kepergiannya pada Akhtar, jadi Akhtar memutuskan untuk berangkat ke salah satu wisata alam di daerah luar kota.


" Kamu suka bunga, kan ?."


" Hahh ?!." Azrinna menoleh ke arah Akhtar yang sedang fokus menyetir. "Ma-maksudnya gimana ?." Tanya Azrinna sedikit terbata.


"Iya, kita akan ke Depok. " Jawab Akhtar santai.


" Depok ?!. Jauh sekali ?."


"Tidak jauh kok. Masih tetanggaan dengan Jakarta. "


" Iya itu di luar Jakarta, mas. "


" Siapa yang tadi menyerahkan pilihan tujuannya ?. Jadi kita akan ke sana karena itu pilihan ku. "


Azrinna mendengus lalu mengalihkan tatapannya ke luar jendela yang tertutup rapat.

__ADS_1


Memperhatikan rumah-rumah yang berdiri rapi di pinggir jalan dengan berbagai macam warna dan model, membuat mata Azrinna lelah yang akhirnya malah terlelap tenang.


__ADS_2