Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
43


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam. " Akhtar segera menggeser duduknya memberi tempat untuk seseorang yang baru saja datang. Namun ternyata dugaannya salah. Orang itu malah masih betah berdiri.


"Kamu dicariin Abah, mas. "


"Oh. Iya. Aku akan kesana. " Akhtar bangkit dan melangkah berjalan ke dalam rumah pak kyai. Begitupun wanita yang sedang membantu di belakangnya.


Akhtar sampai di aula tempat yang biasa digunakan untuk melakukan pengajian yang diajar langsung oleh sang Pengasuh pondok.


"Assalamualaikum, pak kyai. " Ujarnya sambil menyalami tangan pria paruh baya yang selalu berbaik hati membagikan ilmunya pada dirinya.


"Waalaikumsalam. Akhtar. "


"Apa pak kyai ada perlu dengan saya ?."


"Iya. Duduklah. "


"Iya, pak kyai. "


Akhtar duduk sopan di hadapan pak Kyai Anwar. Sosok pria yang memiliki wibawa tinggi sebab ilmunya.


"Begini, nak Akhtar. Saya ingin bertanya sesuatu. Apa boleh ?."


"Iya, tentu saja pak kyai. Silahkan. "


"Hmm sebelumnya saya ingin bertanya, apa nak Akhtar sudah memiliki seorang pendamping?." Tanya Kyai Anwar hati-hati.


"Alhamdulillah sudah, pak kyai. "


"Masya Allah." Kyai Anwar terlihat menghela nafasnya panjang.


Akhtar menatap wajah kyai Anwar dengan tatapan kebingungan. "Maaf, pak kyai. Sebenarnya apa maksud anda menanyakan hal demikian ?." Tanyanya.


"Awalnya saya ingin mendekatkan kamu dengan salah satu keponakan saya. Karena saya kira kamu masih sendiri, nak Akhtar. Karena dilihat dari sosok nak Akhtar ini yang saya kira masih lajang."


"Oh. Kalau begitu maaf jika saya mengecewakan pak kyai. Saya memang sudah memiliki pendamping hidup bahkan saya juga sudah memiliki anak, pak kyai. "


"Subhanallah. Kalau boleh tahu, sebenarnya umur nak Akhtar berapa?."


"Alhamdulillah sudah tiga puluh dua tahun sekarang, pak kyai. "


"Ya Allah. Pantas ya sudah berkeluarga?. Wong umurnya sudah sangat dewasa. "


"Iya pak kyai. Oh ya pak kyai. Kalau boleh saya tahu, siapa ponakan pak kyai yang ingin didekatkan dengan saya ?." Tanya Akhtar penasaran.


"Zahra. Kamu kenal kan ?. "


"Iya, saya kenal pak kyai. '' jawab Akhtar yakin. Sebab tidak mungkin dirinya tidak kenal dengan Zahra, karena selama dirinya sering bolak-balik ke pesantren ini sebagai santri kalong, Zahra kerap kali muncul di depannya meski sekedar berpapasan ataupun memberikan jamuan padanya saat ia datang ke rumah pak kyai Anwar.


"Iya. Sebenarnya Zahra bukan hanya santri khodam saya saja. Zahra itu keponakan saya, orang tuanya sudah menyerahkan tanggung jawabnya pada saya sebelum mereka wafat."


Ouh. Jadi gadis itu sudah tidak memiliki orang tua?. Bathin Akhtar.


Gadis cantik nan lugu pemilik nama asli Putri Az-Zahra, adalah salah satu keponakan Kyai Anwar yang baru dimasukkan ke dalam pesantren tiga tahun silam di saat usianya menginjak umur ke dua puluh tahun.


Zahra merupakan anak tunggal, jadi saat kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan dalam pesawat saat kepulangan dari Mesir setelah berkunjung ke keluarga dari jalur ibunya yang disana, Zahra langsung ikut dengan kakak dari ayahnya yaitu Kyai Anwar.


Di samping itu semua, Zahra juga adalah salah satu sosok gadis pendiam, tidak suka berbaur dengan orang-orang disekitar yang tidak ia kenali, takut pada dunia luar juga pada sosok pria selain ayah dan juga pamannya saja.


Banyak hal yang berkaitan dengan Zahra yang memang memerlukan tanda tanya besar. Bahkan Akhtar yang sering bertamu kesini sedikit memiliki rasa penasaran pada sosok Zahra. Sebab setiap kali bertemu Zahra sering menundukkan kepalanya, berbicara dengan seperlunya saat ditanya.

__ADS_1


Memang sosok yang misterius. Dan membuat Akhtar semakin penasaran.


"Maaf pak kyai. Seandainya saya mencoba mendekati keponakan pak kyai, apa saya diperbolehkan ?."


"Apa ?. Tapi... Bukankah nak Akhtar sudah memiliki seorang pendamping hidup?." Tanya Kyai Anwar kaget. Mungkin lebih tepatnya Kyai Anwar tidak ingin keponakan satu-satunya itu dijadikan pendamping kedua seorang Akhtar.


"Istri saya sudah meninggal, dari putra kami masih bayi, pak kyai. "


"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un."


"Bagaimana pak kyai, apa saya diizinkan untuk mengenal ponakan pak kyai ?."


Kyai Anwar tidak langsung menjawab dan memilih diam seraya menimang-nimang pertanyaan Akhtar. Kyai Anwar membuang nafasnya perlahan. "Baiklah. Iya. Silahkan. Semoga Zahra cocok dengan kamu nak Akhtar." Ucap kyai Anwar akhirnya.


"Alhamdulillah... Terima kasih pak kyai. " Ucap Akhtar tulus.


"Iya, nak Akhtar. Kalau begitu, saya akan memanggilnya untuk kesini. "


"Tidak pak kyai. Hmm maksud saya, pak kyai duduk saja. Biar saya yang memanggilnya. "


"Oh. Ya sudah. Masuklah. Mungkin Zahra ada di dapur. "


"Iya, permisi pak kyai. " Akhtar bangkit dan berjalan menuju dapur rumah kyai Anwar.


Akhtar sudah hafal dengan seluk-beluk rumah milik kyai Anwar sebab dirinya juga kerap kali menginap disini selama menimba ilmu bersama beliau.


Kaki Akhtar berhenti melangkah. Telinganya tajam mendengarkan senandung sholawat nariyah yang terdengar sangat merdu dan menenangkan. Suara itu benar-benar menghipnotis dirinya. Entah siapa pemilik suara itu, yang jelas Akhtar sungguh menyukainya.


Tanpa sadar kaki Akhtar kembali melangkah hingga sampai ke dapur.


Disana hanya ada seorang gadis cantik yang ia tahu, dialah gadis ponakan Kyai Anwar, Zahra. Zahra sedang sibuk mencuci piring dengan bibir tak henti-hentinya bersenandung sholawat.


Ya Allah... Semoga pilihan ku sekarang tepat.


Ini keputusan ku, yang sesuai dengan pintamu, Ai. Semoga kau mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.


Akhtar berdoa dengan sangat. Ia juga berharap semoga Azrinna, gadis cantik ibu dari putra-putrinya itu selalu dilimpahkan kebahagiaan tidak seperti saat bersama dirinya yang penuh kebohongan.


"Assalamualaikum..." Ujar Akhtar saat sudah dekat dengan tubuh Zahra.


"Astaghfirullah. " Zahra berjingkat karena kaget. Zahra menoleh ke arah Akhtar. Sesaat setelah tatapan matanya bertemu dengan mata Akhtar, Zahra langsung memutuskan pandangan dan  menunduk penuh. "Waalaikumsalam. " Jawabnya.


Akhtar yang melihat sikap tersebut tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.


"Apa aku mengganggumu?." Tanya Akhtar setelah meredupkan senyumannya.


"Sa-saya sedang nyuci piring, tuan." Jawab Zahra sedikit terbata.


"Oh berarti mengganggu ya?. Baiklah. Saya akan pergi lagi. Tapi, sebelumnya saya ingin memberitahu kalau kamu dipanggil pak kyai. " Ucap Akhtar lalu pergi tanpa melihat dan menunggu Jawaban Zahra.


Sambil kaki melangkah, Akhtar masih menyunggingkan senyum manisnya. Entah kenapa hal tersebut membuat hatinya yang kian lama mengering kini sejuk kembali. Setelah memanggil Zahra, Akhtar kembali menemui Kyai Anwar, bukan untuk ikut duduk bergabung lagi melainkan izin pamit pulang.


Selang beberapa menit kepulangan Akhtar, Zahra datang dan duduk di samping Abahnya.


"Assalamualaikum, Abah."


"Waalaikum salam." Jawab Kyai Anwar dan Akhtar berbarengan.


" Sini Zahra. Abah ingin berbicara dengan Zahra." Ucap kyai Anwar pada keponakannya.


Zahra tidak langsung merespon, karena masih bingung ingin bergabung, sebab ia merasa ada hal penting yang akan diucapkan sang paman.

__ADS_1


"Zahra. "


"Ehh. Iya, Abah. " Zahra duduk di samping kyai Anwar.


Tatapan matanya hanya menunduk penuh seolah sedang menghitung bulu permadani yang sedang di duduki.


Perasaan khawatir memenuhi hatinya saat ini. Sebab ia yakin jika pamannya itu akan mengatakan hal yang berkaitan dengan dunia di luar sana.


Seperti itulah Zahra. Dia terlalu takut dunia luar semenjak sebuah insiden besar terjadi padanya ketika beberapa tahun silam.


"Zahra. " Panggil kyai Anwar lagi, membuat Zahra langsung mengangkat wajahnya dan menoleh pada sang paman.


"Iya, bah ?." ,


"Zahra, Abah sebagai seorang yang menerima tanggung jawab Zahra dari Abi Zahra, Abah meminta izin pada Zahra semoga Zahra menerima keputusan Abah. "


"Maksudnya keputusan apa Abah?. " Tanya Zahra bingung.


"Umur Zahra sudah cukup dewasa. Zahra sudah waktunya untuk menjalani hidup berumah tangga. Jadi, Abah sudah memilihkan jodoh untuk Zahra. Apa Zahra mau menerimanya ?."


Zahra kembali menunduk. Dirinya sudah pernah memikirkan sebelumnya. Sebab sudah pasti hal seperti ini akan terjadi di kemudian hari, tepatnya ternyata hari ini.


"Zahra terserah Abah aja, bah. Tapi Zahra izin, Zahra ingin tahu dulu siapa pria yang Abah pilihkan untuk Zahra. " Ucap Zahra dengan suara sangat lirih.


Mendengar ucapan Zahra membuat Kyai Anwar dan Akhtar tersenyum. " Iya. Zahra memang harus tahu siapa pria Abah pilihkan untuk Zahra."


"Siapa bah ?."


"Akhtar. Kamu sudah sering melihatnya kan ?."


"I-iya udah bah. "


"Alhamdulillah. Jadi, bagaimana?. Apa Zahra mau menerimanya?."


"Tapi, bukankah dia... Mualaf bah ?."


"Iya, benar. Akhtar memang mualaf. "


"Abah mengizinkannya meminangku?."


"Nduk. Akhtar memang seorang mualaf, tapi menurut Abah pemahamannya juga sudah bisa dikatakan sempurna.  Abah yakin dia pria yang baik makanya Abah memintanya untuk mu. " Jelas kyai Anwar.


"Jadi, Abah yang memintanya?."


"Iya nduk. Dan, kamu juga harus tahu, jika Akhtar itu bukan pria lajang. Dia sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak, tapi istrinya sudah meninggal ketika anaknya masih bayi. "


Mendengar kata anak dan bayi membuat Zahra tertegun. Ada perasaan yang hanya dirinya sendiri dan author yang tahu, menyapa hatinya.


"Abah."


"Iya, anakku?."


"Abah." Zahra meletakkan kepalanya di pangkuan sang paman. Meski hanya sekedar paman dan bukanlah Abi nya, tapi sikap manja Zahra pada Kyai Anwar sudah layaknya seorang anak dan ayahnya sendiri.


Kyai Anwar juga menganggap putri dari adiknya itu sebagai anaknya sendiri.


Tangan Kyai Anwar mengusap lembut kepala Zahra.


"Kamu ingin bercerita dengan Abah ?."


"Abah, maafkan Zahra. Maafkan Zahra yang sudah mempermalukan kalian semua di hadapan orang juga di hadapan Allah. " Zahra berucap lirih dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu memiliki rahasia yang tidak abah ketahui kan,?." Ucap kyai Anwar tepat sasaran.


_____________


__ADS_2