
Taman Bunga Wiladatika, Depok, Jawa Barat...
Taman Bunga seluas 15 ha, yang menjadi destinasi wisata alam dengan sajian berbagai macam tanaman bunga yang berwarna-warni juga rumput hijau terawat yang membentang.
Area tempat bunga-bungaan tumbuh di kelilingi tanaman perdu, membentuk desain taman yang sangat cantik.
Di salah satu bagian taman terdapat air mancur yang menambah kesan pemandangan semakin menawan hati. Juga terdapat beberapa pohon rindang yang membuat area taman itu terasa teduh dan sejuk.
Azrinna terpaku di tempat saat melihat semua keindahan itu ada di depan matanya. Rasa takjub akan salah satu kemurahan Tuhan membuat hatinya Tek henti-henti berucap syukur.
Bunga berwarna merah seakan menghipnotis matanya.
" Kau suka?." Tanya Akhtar yang kini berada di sampingnya.
Azrinna mengangguk antusias
" Ayo, masuk ?!." Ajak Akhtar yang sudah berjalan lebih dulu. Azrinna melangkah di belakangnya, dengan mata masih menikmati keindahan juga harum wangi bunga-bunga yang bermekaran.
Hari ini memang matahari tidak terlalu bersinar terik karena di salah satu bagian langit terlihat sedang mendung pekat, yang mungkin di daerah di bawah langit itu sedang hujan deras.
Akhtar mengajak Azrinna berjalan berkeliling melihat keindahan bunga-bunga di sebagian taman. Setelah merasakan kelelahan akibat terlalu banyak berjalan, mereka mengistirahatkan tubuh, duduk di salah satu bangku dari semen yang masih berada di hamparan taman, tepatnya di bawah pohon rindang.
"Lihat, sayang. Mommy mu sepertinya sangat bahagia hari ini. " Akhtar mengajak bicara putrinya.
Azrinna yang mendengar itu hanya mengulum senyum cerianya. " Iyalah. Daddy-nya tau sih apa yang membuat mommynya senang. " Ujar Azrinna spontan tanpa sadar telah mengucapkan kata-kata demikian.
Akhtar yang masih terkejut dengan ucapan Azrinna hanya bisa terpaku diam sambil menatap lekat wajah Alchira yang duduk di pangkuannya kemudian melirik ke arah Azrinna. Sesaat tatapan keduanya terpaku dalam.
" Kapan aku bisa menikmati senyummu setiap hari lagi ?." Tanya Akhtar masih fokus menyelami mata Azrinna.
" Maaf." Lirih Azrinna langsung menunduk penuh.
" Kamu masih meragukan keseriusan ku ?."
" Bukan. Bukan itu. Aku hanya... Maaf, dalam ajaranku, kita tidak bisa bersama. Kita berbeda dalam hal keyakinan. "
" Lalu, bagaimana dengan Alchira ?. Apa dia sama sepertimu ?."
" Iya. Aku akan membawanya bersamaku. Dia putriku, sepantasnya dia akan mengikuti ku." Jawab Azrinna yakin.
" Baiklah. Itu akan lebih baik. " Akhtar kembali hanya bisa pasrah apa yang telah diinginkan oleh Azrinna.
" Dan, bagaimana denganmu ?. " Tanya Azrinna penasaran. Karena dirinya memang tahu tentang hal keyakinan bagi seorang Akhtar.
" Aku masih berusaha. Sejauh ini aku masih bingung, apa yang harus menjadi pilihanku. "
" Kau mempelajarinya ?." Tanya Azrinna yang di angguki Akhtar.
__ADS_1
" Semoga kau mendapatkan petunjukNya. " Doa Azrinna tulus.
" Iya. "
Azrinna kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman lalu memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam udara segar yang bercampur semerbak wangi bunga ke dalam paru-parunya.
Matanya kembali terbuka. Azrinna melirik jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul empat sore.
" Kita pulang ?" Tanya Akhtar yang rupanya faham akan apa yang ada di pikiran Azrinna.
" Iya. "
" Ya udah. Yuk ?!."
Beberapa saat kemudian...
Azrinna memasuki mobilnya yang terparkir di parkiran gedung Nanzea, bersama Alchira yang didudukkan di pangkuannya. Azrinna mulai menjalankan mobilnya dan membunyikan klakson mobil saat melewati mobil Akhtar yang masih menunggu kepergiannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Azrinna masih terus menampilkan wajah senangnya bahkan mengapresiasikan dengan sholawat yang menyenandung merdu dari sepasang bibirnya.
Pintu gerbang dibuka lebar saat mobilnya sudah mendekat. " Assalamualaikum, mang Asep...!" Sapanya pada penjaga gerbang.
" Waalaikumsalam, neng..!."
Setelah turun dari mobil, Azrinna segera masuk ke dalam rumah. Di dalam tampak sepi, mungkin mereka sedang melaksanakan kewajiban ibadah sholat Maghrib. Azrinna tidak melanjutkan langkahnya menuju tangga dan menenggelamkan tubuhnya di balik pintu kamar.
Akhtar tidak langsung ke kamarnya sendiri melainkan ke kamar putranya yang ternyata sedang asyik bermain mainan hewan berbagai macam jenis satwa.
Yah. Dari semenjak bisa bermain, Ezar bisa dikatakan berbeda dengan anak-anak sebayanya dalam hal permainan. Jika bocah seusianya di luaran sana lebih suka permainan robot atau apapun permainan yang diperuntukkan untuk anak laki-laki, Ezar malah lebih suka bermain mainan satwa dan berbagai jenis binatang lainnya.
Setiap kali Ezar melihat binatang yang menurutnya adalah baru karena dia baru pertama melihatnya, maka setelah itu juga dia akan merengek untuk dibelikan mainan binatang tersebut.
Tidak sedikit koleksi mainan hewan yang dimiliki Ezar. Bahkan Akhtar sampai membuatkan ruangan khusus untuk menyimpan itu semua. Ruangan yang jika disamakan dengan hal lain, ruangan itu memang mirip seperti perpustakaan dan bedanya hanya jika perpustakaan di setiap rak nya terdapat berbagai macam buku, maka di sini akan dipenuhi berbagai jenis mainan hewan. Dari yang area satwa liar, seperti reptil, raja hutan juga hewan buas lainnya. Dan ada binatang punah juga yang hampir punah, termasuk si Cantik Cendrawasih Papua. Juga serangga.
Yah. Ezar sendiri yang meminta itu semua untuk menjadi koleksinya, setiap kali Akhtar mengajak putranya itu mengunjungi taman binatang. Di manapun dan kapanpun, sesuai permintaan putranya itu.
Akhtar mendekati putranya yang kini sedang duduk lesehan dengan beberapa hewan mainannya yang berceceran di sekelilingnya.
" Ezar. "
" Hai, Daddy... !" Ezar menyapa Daddy nya tapi matanya tidak lepas dari mainan.
" Lihat sini. Daddy bawa apa untuk Ezar ." Ucap Akhtar yang langsung membuat Ezar menoleh ke arahnya. Bahkan Ezar langsung bangkit dan memeluk leher Akhtar yang sedang berjongkok dengan tumpuan lutut.
" Love you Daddy..!" Ujar Ezar lalu mendaratkan kecupannya di pipi sang ayah.
Akhtar hanya tersenyum lalu mengacak gemas rambut Ezar. Ia memang selalu mendapatkan hal demikian saat memberikan kejutan untuk putranya itu.
__ADS_1
" Ezar tau apa yang Daddy bawa sekarang ?."
" Thysania !!." Seru Ezar dengan suara lantangnya.
Thysania atau kepanjangannya, thysania agrippina, merupakan spesies kupu-kupu putih yang biasanya muncul di sore hari menjelang malam atau petang menjelang pagi. Kupu-kupu ini dalam bahasa jawanya kerap kali dijuluki sebagai penyihir putih, ngengat hantu besar juga ngengat burung hantu.
Julukan-julukan itu memang disesuaikan dengan kehidupan kupu-kupu itu sendiri yang memang sering muncul di sore hari juga memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan kupu-kupu biasanya.
Sebenarnya apa maksud dari kegemaran putranya ini, Akhtar masih belum tau. Jadi ia hanya berasumsi jika Ezar memang suka saja. Atau seandainya ada maksud lain, Akhtar masih belum mengetahuinya.
Dan untuk barang yang ia bawa sekarang adalah tidak lain karena keinginan Ezar yang memintanya untuk membelikannya sebab di beberapa hari yang lalu, tepatnya saat baru pulang dari taman hewan di waktu sore, Ezar melihat kupu-kupu itu melintas di depannya. Dan seperti biasa.
Akhtar harus terima untuk mendapatkan rengekan Ezar agar membelikannya seperti biasa. Dan hari ini lah ia baru bisa menuruti keinginan putranya itu.
Ezar langsung membuka paper bag yang tadi di bawa Akhtar dan langsung membuka box kecil yang dia ambil dari dalamnya.
" Yeah !. Thanks Daddy..!" Sekali lagi Ezar mencium pipi Akhtar karena merasa sangat bahagia jika keinginannya waktu itu ternyata di turuti.
Ezar berlari keluar dari kamar dengan kaki dihentak-hentak ringan. Akhtar segera bangkit dan membuntut di belakangnya. Tidak ada lagi memang, tempat yang akan dituju Ezar selain ruangan Perpus Hewannya.
Ezar melangkah ke lemari kaca yang berisikan berbagai jenis spesies kupu-kupu yang menjadi koleksinya.
" Sini. Biar Daddy yang meletakkannya. " Tawar Akhtar yang akan mengambil mainan kupu-kupu di genggaman jemari mungil Ezar.
" No, Daddy. Biar Ezar saja yang meletakkannya. " Tolak Ezar mentah-mentah
Akhtar akhirnya mengangguk dan mengangkat tubuh Ezar agar menjangkau tempat yang akan di letakki kupu-kupunya. Setelah selesai meletakkan kupu-kupunya, Ezar berbalik dengan tatapan tiba-tiba sendu.
Ada apa dengan Ezar?. Padahal tadi terlihat sangat senang sekali. Bathin Akhtar.
" Daddy..." Ezar menyelehkan kepalanya di bahu sang ayah.
Akhtar memperhatikan tatapan mata Ezar yang tertuju pada satu kupu-kupu cantik berwarna kuning terang, salah satu koleksi mainan putranya.
Kini ia mengerti dengan apa yang ada di pikiran Ezar. Melihat kupu-kupu Itu, Ezar pasti merindukan seseorang yang telah memberikan kupu-kupu tersebut. Yang tidak lain adalah mommynya, Azrinna.
" Daddy... Ezar mau ketemu mommy...'' rengeknya dengan mata mulai berkaca-kaca.
" Ezar kangen mommy ?." Tanya Akhtar.
" iya, Daddy..." Ezar semakin menelusupkan wajahnya di leher Akhtar dan tangan mungilnya semakin memeluk erat leher sang ayah.
Tangan Akhtar bergerak mengusap pelan punggung putranya. Sebenarnya ia merasa bersalah pada putranya itu. Beberapa jam lalu dirinya malah asyik bersama Azrinna sedangkan Ezar malah sudah tiga bulan lebih tidak pernah bertemu dengan mommynya lagi.
" Iya. Nanti kita ketemu mommy, sayang.''
___________
__ADS_1