
Azrinna membereskan kembali perlengkapan sholatnya setelah menyelesaikan sholat isya lalu berniat untuk keluar dari kamar Akhtar tapi ternyata ia dikagetkan oleh keberadaan Akhtar di ambang pintu.
" Mas. " Pekiknya.
" Sudah selesai sholatnya ?."
" Sudah. " Azrinna sedikit takut saat melihat Akhtar malah masuk ke dalam.
" Kamu bisa tidur di sini, Ai " ucap Akhtar yang semakin membuat Azrinna merasa takut.
Kaki Akhtar semakin melangkah maju membuat Azrinna reflek menghindar ke samping. Melihat tingkah Azrinna membuat Akhtar sedikit menarik sudut-sudut bibirnya.
" Gak usah takut. Aku tidak akan ngapa-ngapain" ujar Akhtar santai dan mulai mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Azrinna yang sudah berpikiran kemana-mana hanya bisa mendengus kesal karena pemikirannya sendiri. Ia menoleh pada Akhtar yang ternyata sedang menatap ke arahnya.
" Tidak. Aku bisa tidur bersama Ezar, atau kamar tamu. "
" Kenapa ?."
" Yah karena ini kamarmu. "
" Iya kenapa kalau ini kamarku ?." Akhtar berucap sambil menahan wajahnya agar tidak menampilkan senyuman dan tetap pada mode santai juga datar.
Azrinna membuang mukanya dan bergegas keluar dari kamar Akhtar. Akhtar segera bangkit saat Azrinna mulai lengang. Tangan Akhtar langsung mencekal lengan Azrinna.
" Lepas !." Sentak Azrinna bersamaan dengan gerakannya yang sangat cepat menyentakan tangan Akhtar sehingga langsung terlepas begitu saja.
" Awwh." Pekik Akhtar merasa sakit pada tangannya bahkan rasanya hampir patah.
Azrinna berbalik dan menatap tajam ke arah Akhtar. "Jangan coba-coba menyentuhku. " Tegasnya.
" Maaf. "
" Bukan berarti karena aku mau tinggal di sini kamu bisa sembarangan padaku. Aku melakukan ini semua hanya untuk anak-anakku."
" Iya, iya. Aku mengerti. Aku cuma minta kamu menempati kamar ini. Tidak perlu di kamar Ezar apalagi di kamar tamu. Kamu bukan tamu. Kamu nyonya di rumah ini, Ai. "
" Sudah ku katakan. Aku tidak bisa tidur di kamarmu. Kita bukan mahram. "
" Aku akan tidur di kamar atas kalau seandainya kamu tidur disini. Jangan khawatir. Aku juga mengerti batasanmu. "
Azrinna terdiam. Lagi-lagi ia berfikir buruk pada Akhtar. Azrinna masih tidak mau menolehkan kepalanya. Ia masih malu karena sempat berfikir yang tidak-tidak.
" Kamar tamu jarang di bersihkan. Kamar Ezar juga ranjangnya kecil. Jadi, aku tidak menerima penolakan. " Ucap Akhtar lagi lalu keluar dari kamar dan meninggalkan Azrinna yang masih mematung di tempat. Akhtar berbalik dan menghadap Azrinna. "Jangan lupa dikunci pintunya saat di dalam. " Ucapnya yang terakhir kali lalu kembali melanjutkan langkah.
Azrinna mengelus dadanya karena rasa kesal pada Daddy anak-anaknya itu. Entah dari kapan mulanya, ia merasa sekarang Akhtar sedikit jail. Dan kejahilannya itu benar-benar membuat Azrinna darah tinggi.
__ADS_1
Azrinna keluar dari kamar lalu berjalan ke arah kamar Alchira yang berada di samping kanan kamar Akhtar. Kakinya perlahan masuk ke dalam untuk menghampiri bayinya. Azrinna mengedarkan tatapan matanya ke seluruh penjuru ruangan dan ternyata memang tidak ada siapa-siapa. Pengasuh putrinya itu entah ada di mana.
Tangan Azrinna terulur ke dalam box bayi dan membawa tubuh mungil Alchira ke dalam gendongannya.
" Kita tidur bareng ya, sayang. " Ucapnya pada sang bayi.
Azrinna membawa keluar Alchira dari kamarnya yang ternyata berpapasan dengan pengasuh putrinya yang entah dari kesibukan apa.
" Nyonya. "
" Iya. Alchira akan tidur bersamaku malam ini. Kamu bisa istirahat. "
" Baik, nyonya. Terima kasih. "
Azrinna mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Akhtar.
Sesuai yang diperintahkan Akhtar, Azrinna tidak lupa mengunci pintunya saat ingin membaringkan tubuh di atas ranjang. Azrinna meletakkan Alchira di ranjang dan dirinya sendiri bangkit lagi untuk mencari pakaian tidur di lemari yang ia ingat adalah miliknya di sini.
Saat membuka salah satu pintu lemari itu Azrinna sedikit terkejut saat melihat isinya yang ternyata sudah berubah. Jika dulu, di sana berisi pakaian pendek, dress yang sedikit terbuka, juga apapun itu yang dulu sering digunakan. Tapi semua itu sudah berganti dengan beberapa abaya panjang dengan warna-warna kalem juga tak lupa dengan hijab yang dipadukan dengan setelannya.
Azrinna beralih membuka pintu lainnya. Ternyata pakaian tidurnya masih tertata rapi di sana. Hanya saja untuk pakaian yang sangat terbuka sudah tidak ada dan entah di kemanakan ia tidak tahu. Azrinna memutuskan mengambil baju tidur dengan setelan lengan panjang juga celana panjang lalu memakainya dan kembali bergabung tidur bersama sang putri.
___________
Terik mentari menyapa. Seluruh penghuni rumah sudah siap dengan keyakinan masing-masing. Dengan hati berdebar tak karuan, Azrinna mencoba untuk tetap tegar dan kuat seandainya sesuatu terjadi jika ia bertemu dan menjelaskan semuanya pada orang tuanya nanti.
Hizqi juga sudah datang dari satu jam lalu. Dan kini mulailah perjalanannya. Dua mobil melesat keluar dari kawasan rumah Akhtar. Mobil hitam milik Akhtar yang berisi hanya Akhtar seorang dan mobil minimalis berwarna tosca milik Azrinna yang berisi Azrinna sebagai pengemudinya juga Hizqi yang duduk di sampingnya dan sedang memangku Alchira.
Perjalanan di isi hanya keheningan. Meski Azrinna bersama Hizqi, tapi saat ini ia rasanya tidak ingin mengeluarkan sekedar satu kata pun.
Perjalanan sampai di depan gerbang besar berwarna hitam. Mobil Akhtar sudah melaju pelan saat mendekati gerbang seolah membiarkan mobil Azrinna dulu yang melaju di depan.
Azrinna kembali melajukan mobilnya saat gerbang sudah dibuka oleh mang Asep begitupun mobil Akhtar yang berjalan di belakangnya.
Ketiganya turun dari mobil. Azrinna dan Hizqi melangkah di depan dan Akhtar kembali hanya melangkah. Pintu rumah terbuka lebar saat Azrinna mendorongnya. Azrinna mengatakan agar mereka ikut masuk.
Baru beberapa langkah memasuki rumah, Terlihat Zuhdi sedang berjalan ke arahnya. Di lihat dari pakaiannya, sepertinya Zuhdi akan berangkat ke kantor.
" Assalamualaikum, kak. " Azrinna menyalami kakaknya.
Mata Zuhdi terfokus pada wajah Hizqi dan beralih pada bayi yang sedang di gendong Hizqi. Lalu beralih ke arah pria yang berdiri tak jauh dari tempat berdirinya Hizqi.
" Tuan Akhtar ?." Ujar Zuhdi saat merasa mengenal sosok pria itu.
Akhtar juga terlihat sama terkejutnya saat melihat penghulu yang menikahkannya dengan Aira ada di sini. Ia teringat bagaimana reaksi penghulu itu pada saat melihat Aira waktu di acaranya itu. Pantas saja dia kakaknya. Bathin Akhtar.
" Mama sama papa ada, kak ?." Azrinna yang memahami tatapan kakaknya pada Akhtar langsung bertanya demikian.
__ADS_1
" Mama ada. Tapi papa sudah berangkat ke kantor tadi. " Jawab Zuhdi yang kini tatapan matanya lekat ke arah Hizqi.
Hizqi yang ditatap intens seperti itu oleh Zuhdi hanya bisa menunduk dalam tak berani menatap wajah Zuhdi. Setahun lebih keduanya tidak pernah bertemu dan ini adalah kali pertama keduanya dipertemukan tapi ternyata Hizqi memberikan kejutan yang sangat spesial untuk Zuhdi.
" Kakak juga mau berangkat ?."
" Iya. "
" Ya sudah. Kami ke mama dulu ya
" Iya. "
Ketiganya melangkah menuju ruang tamu. Azrinna mempersilahkan keduanya duduk sedangkan dirinya sendiri mencari keberadaan ibunya. Tidak lama, Azrinna sudah bergabung kembali bersama ibunya.
Akhtar menatap lekat wajah ibunya Azrinna. Wajah teduh dan masih terlihat sangat cantik meski sudah di usia senja. Tapi wajah itu hanya memiliki kemiripan di bagian hidung dan bibir saja dengan Azrinna. Selebihnya, lebih mirip dengan Kakaknya Azrinna tadi.
Hizqi langsung bangkit dan menyalami tangan ibunya Azrinna yang sudah seperti ibunya sendiri itu.
" Assalamualaikum, Tante..."
" Waalaikumsalam, Hizqi. Sudah lama kamu tidak main ke sini, ya ?." Ibunya Azrinna memeluk Hizqi sebisanya karena memang terhalang dengan bayi yang ada di tangan Hizqi. " Rupanya kamu sudah memiliki anak, ya ?." Ucap ibunya Azrinna lagi.
Mendengar ucapan itu Hizqi langsung menatap tajam Azrinna dan Akhtar bergantian.
Pantas tadi Zuhdi sampai menatapku tajam. Ya Allah... Dia pasti mengira Alchira adalah anakku.
Ibunya Azrinna beralih bersalaman dengan Akhtar.
" Hemm. Tante. Ini..." Ucap Hizqi bingung.
" Kita duduk dulu, Ma. " Ucap Azrinna tiba-tiba karena memang untuk menyelamatkan Hizqi yang kebingungan itu.
" Oh, iya. Mari, duduk semuanya. "
Semuanya duduk yang ternyata malah menjemput keheningan saja.
" Ma. "
" Iya, nak. Ada apa?. Kenapa kok ini mama merasa kalian jadi gugup semua ya ?." Ujar ibunya yang tampak memperhatikan wajah-wajah orang di sekelilingnya.
Azrinna mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dan mulai mengambil Alchira dari pangkuan Hizqi. "Ma." Panggil Azrinna dan menyerahkan Alchira pada ibunya.
" Eh eh. " Ibunya terpekik karena tidak siap lalu dengan hati-hati membawa tubuh mungil Alchira di dalam dekapannya. Mata ibunya tampak terkejut ketika melihat bagaimana rupa bayi yang ada di pangkuannya yang ternyata sama persis seperti Azrinna. Bahkan seakan mengingatkan ibunya pada masa kecil Azrinna.
Ibunya menatap wajah Azrinna dan beralih ke wajah Akhtar. Matanya menatap ke-dua orang itu karena ia yakin bahwa wajah bayi yang ada di tangan nya ini memiliki kemiripan dengan wajah putrinya juga Akhtar.
" Katakan. Mama butuh penjelasan Azrinna. " Ucap ibunya menatap lekat wajah Azrinna.
__ADS_1
Azrinna menunduk tak berani menatap wajah ibunya. " Maaf, Ma. Maafin Azrinna yang sudah membuat mama malu... Azrinna memang bersalah. Azrinna membohongi mama sama papa... Azrinna membohongi kalian semua. " Azrinna mulai terisak. Mata ibunya juga mulai berkaca-kaca.
" Apa yang terjadi ?. Kenapa kamu berani melakukannya ?. Kamu tahu itu zina, Azri !. Kamu tahu itu dosa !." Ucap ibunya dengan tubuh yang mulai bergetar karena sangat terkejut dengan hal kotor yang telah dilakukan putri manjanya itu.