
Tatkala asa merajuk ingin di henti, rupanya secercah cahaya harapan masih bersinar. Yah. Hanya secercah saja. Namun tidak apalah meski berada di puncaknya adalah perjuangan dan pengorbanan, apa salahnya untuk berusaha ??.
_______
Hari-hari Azrinna berjalan sesuai alurnya. Meski terkadang ada rasa rindu, tapi ia tetap tidak bisa apa-apa. Rindunya harus di pendam untuk dirinya sendiri. Ia hanya berusaha mengalihkan rindunya dengan hal-hal yang akan membuatnya melupa.
Sebulan terakhir Azrinna kembali aktif dalam kegiatan mengajar ilmu beladiri nya di Nanzea. Dan selama sebulan terakhir ini juga ia tidak pernah bertemu dengan putra putrinya. Ia merindukan mereka, yang jauh dari jangkauannya. Bagaimanakah keseharian mereka saat ini, ia tidak mengetahui sama sekali.
" Melamun lagi ?."
Azrinna faham suara siapa yang baru saja bertanya itu. Ia hanya menghela nafas panjang. Tak kuat rasanya untuk bisa terlihat tegar saat menghadapi ini semua. Azrinna menoleh menghadap ke arah temannya.
" Akhir-akhir ini kamu sering melamun. Ada apa ?. Apa kamu memikirkan masalah Aqlan ?." Tanya Hizqi.
" Tidak. Aku bahkan sudah tidak pernah memikirkan masalah Aqlan lagi. "
" Lalu, apa yang sekarang kamu lamunin ?."
" Entahlah. " Azrinna bangkit dari duduknya dan memasuki kelas pelatihan lagi.
" Azrinna. Kebiasaan kamu ini !. Diajak berbicara selalu saja aku di tinggalkan !. " Hizqi meracau kesal sembari menyejajarkan langkah kaki nya dengan Azrinna.
" Sudah, sana, kamu juga masuk kelas. "
" Iya, nanti lah. Ini masih jam istirahat. "
Azrinna menghentikan langkahnya lalu menghadap Hizqi. Tangannya terulur tepat di depan wajah Hizqi. " Lihat. Apa ini masih waktu jam istirahat ?." Ucapnya saat memperlihatkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hizqi langsung nyengir kuda saat melihat dimanakah jarum jamnya berada. "Ya udah, iya. Aku akan ke kelas sekarang. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum.."
" Iya. Waalaikumsalam."
Mereka berpisah di jalan dan menuju ke tempat kelasnya masing-masing. Azrinna mulai memasuki kelasnya, di tingkatkan Senior.
Mereka tampak langsung terkesiap ketika kedatangan Azrinna. Dengan tertib juga segera berbaris rapi. Azrinna tampilkan senyumnya lalu berdiri di hadapan mereka.
" Assalamualaikum, semuanya..." Sapanya dan langsung dijawab serempak oleh anak-anak didiknya.
" Alhamdulillah dengan Kemurahan Allah, kita bisa berkumpul lagi di sini. Ini adalah pertemuan ketiga kita setelah saya pergi, ya?."
" Iya, mbak. Kami juga sangat merindukan latihan dengan mbak Azrinna. Mbak kemana aja ?. " Celetuk salah seorang muridnya.
Azrinna hanya tersenyum mendengar penuturan muridnya itu. Hari ini ia memang akan sedikit bersantai dalam memberikan pengajarannya, tidak seperti dua pertemuan sebelumnya yang langsung saja pada tingkat pelatihan. Bahkan untuk sekedar tanya jawab seperti ini pun tidak ada.
" Saya tidak kemana-mana. Saya masih menumpang di bumi Allah. " Jawab Azrinna sedikit terkekeh. Dan itu membuat para muridnya juga ikut tertawa renyah. " Jadi, apa sekarang kalian ingin latihan atau pemateri?." Tanyanya kemudian.
__ADS_1
" Mbak, kalau libur dua-duanya gimana?. " Celetuk mereka lagi.
" Kalau libur dua-duanya, berarti kalian ke sini sia-sia aja dong. "
" Untuk pertemuan sekarang saja, tidak masalah, Mbak. " Jawab mereka.
" Hemm, baiklah. Sesuai keinginan kalian. Hari ini kita akan bersantai. "
Mereka tampak bahagia karena usulan nya disetujui Azrinna. Azrinna duduk di matras dan menyuruh murid-muridnya juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.
" Kalau seperti ini. Jadi, kita akan membahas apa nih ?." Azrinna menatap wajah-wajah anak didiknya.
Mereka tampak saling berbisik yang tidak terdengar sama sekali di telinga Azrinna.
" Hmm, mbak Azri. " Seseorang bersuara.
Azrinna menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah seorang pria yang jika melihatnya seperti sudah lumayan dewasa.
" Kamu..." Saat mengamati wajahnya Azrinna sepertinya ingat siapa pemuda itu.
" Haidar, Mbak. "
" Oh, iya. Haidar ya. Maaf saya sedikit lupa. " Azrinna tersenyum kaku mendapati kebodohannya sendiri. " Iya, Haidar. Ada yang ingin ditanyakan?." Tanyanya pada Haidar.
Azrinna terkejut mendengar pertanyaan Haidar. Kenapa bisa-bisanya Haidar menanyakan usianya?. Bathin Azrinna.
Teman-teman Haidar juga tampak kagetnya sama seperti Azrinna. Bahkan ada yang tiba-tiba menggeplak lengan Haidar dan membuat Haidar sedikit meringis.
" Seharusnya kamu jangan ngomong di sini. Emang gak mau apa banyak orang ?."
" Iya, gimana lagi ?. Kalau bukan di sini gak bakal bisa bertemu sama mbak Azrinna nya.."
" Huhh. Iya terserah lo aja dehh."
Bisik-saling-membisik itu masih bisa terdengar jelas di Indra pendengaran Azrinna. Azrinna sedikit memicingkan matanya ke arah Haidar dan teman yang duduk disampingnya itu. Azrinna berdehem. Membuat semuanya kembali fokus ke arahnya.
" Oh, iya Haidar. Usia saya Alhamdulillah sudah jalan dua puluh lima tahun. "
" Hahh ?!." Semua orang tampak tercengang mendengar jawaban Azrinna.
" Mbak gak bohong, kan ?."
" Iya. Saya gak bohong. Umur saya memang segitu. Kenapa ?. Ada yang salah ya ?." Tanya Azrinna kebingungan.
" Aku kira umur mbak masih belasan. Atau dua puluhan gitu ?."
__ADS_1
Azrinna melebarkan senyumannya lalu menggeleng. " Tidak. Umur saya malah genap dua puluh lima tahun bulan depan. "
Azrinna melirik ke arah Haidar. Haidar seperti orang yang frustasi saat mendengar jawabannya. Bukan tidak paham Azrinna melihat sikap Haidar seperti itu. Bahkan sangat paham malah. Kini ia bisa menyimpulkan bahwa sepertinya Haidar menaruh hati padanya.
" Terus, apa mba Azri sudah menikah ?. " Tanya seorang gadis yang Azrinna tau namanya, Sisil.
" Saya, Alhamdulillah sudah. "
" Sudah punya anak mbak?." Tanya Reza.
Azrinna tidak menjawab dengan kata-kata melainkan anggukan kepala.
" Kalau begitu sekali-kali anaknya di ajak kesini dong mbak. Biar bisa main di sini sama Sisil." Ujar Sisil begitu antusias.
" Iya, mbak. Kita pengen tau anaknya. Pasti di cakep kaya ibunya. " Kali ini Rena yang menyahut.
" Biar gak ada yang berharap sama mbak Azri lagi. " Azrinna bisa melihat siapa yang bersuara. Iya. Itu Keinn yang mengatakannya. Pria yang duduk di samping Haidar.
Obrolan terus berlanjut hingga waktu mengajar selesai. Niat awal adalah bersantai tapi malah menjadikan ajang wawancara tentang kehidupan Azrinna.
Azrinna memang tidak menyebutkan siapa nama suaminya juga anaknya. Ia hanya memberitahukan bahwa ia sudah berumah tangga. Hanya itu.
Sebenarnya ada keraguan di hatinya ketika harus memberitahu mereka perihal statusnya. Karena orang tuanya saja tidak tahu jika Azrinna sudah memiliki seorang anak dari rahimnya sendiri.
Seseorang yang berdiri tidak jauh dari perkumpulan itu semakin penasaran saja dengan sahabatnya itu. Siapa lagi jika bukan Hizqi. Hizqi benar-benar membutuhkan penjelasan dari Azrinna perihal ceritanya itu.
Perkumpulan dibubarkan. Mereka semua langsung membubarkan diri dari hadapan Azrinna. Dan di saat itulah Hizqi malah menghampiri Azrinna. Azrinna yang sudah paham segera bangkit. Karena ia tahu jika Hizqi sudah ada di dekatnya dari tadi. Azrinna berjalan melewati tubuh sahabatnya.
" Azri !. Kamu hutang penjelasan padaku ...! " Hizqi menarik tangannya.
Azrinna menghembuskan nafasnya berat lalu berbalik menghadap ke arah sahabatnya itu.
" Kalau kamu mau tau, apa kamu mau mengantarkanku ?."
" Kemana?." Tanya Hizqi bingung.
" Mau nggak?." Tanya Azrinna lagi.
" Ya udah iya, iya. Aku antarkan. "
Azrinna mengangguk lalu berjalan lagi dengan Hizqi di belakangnya.
Sebelum keluar dari padepokan, keduanya menyempatkan membersihkan diri di toilet dulu juga mengganti pakaiannya. Setelah semua rapi, Azrinna mengajak Hizqi untuk ikut ke mobilnya.
Hizqi hanya menurut saja. Detik selanjutnya, mobil Azrinna sudah keluar dari area padepokan dan mulai membaur di jalan raya.
__ADS_1