
Sampai di taman dekat Nanzea, Azrinna dan Akhtar segera turun dari mobil dan mencari keberadaan sang pedagang es dawet dari banyaknya pedagang di area taman tersebut.
"Dimana sayang ?." Akhtar sudah terlihat kelelahan.
Yang ditanya hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Yah, Azrinna memang sibuk mengingat-ingat letak dimana biasanya tukang ws dawet itu berada.
"Ai ?."
"Sebentar mas, aku ingat-ingat dulu." Azrinna kembali sibuk memikirkan tentang dimana letak pedangnya. "Oh ya, aku ingat mas. Yuk ?!."
Wajah Azrinna tampak berbinar menelusuri jalan setapak di area taman sambil menggandeng tangan Akhtar menuju tempat es dawetnya.
Ternyata benar, mereka akhirnya bisa menemukan tempat pedagang es dawet itu mangkal.
Setengah jam mereka mencari-cari keberadaan penjual itu, dan sekarang, Azrinna begitu santainya mengatakan letak yang sebenarnya.
"Assalamualaikum, mang." Sapa Azrinna sangat ramah.
"Waalaikumsalam. " Penjual itu menoleh dan menatap lekat wajah Azrinna seperti sedang mengingat sesuatu. " Neng Azri ?!." Pekik penjualnya kemudian.
Azrinna langsung menerbitkan senyumnya. "hehe iya mang, ini Azri. Ketemu lagi ya mang ?."
"Iya, neng. Sudah lama tidak melihat neng Azri lagi." Penjual itu melirik ke arah Akhtar. "Ini suaminya yan neng ?."
"Iya, mang. Ganteng ya ?." Entah ada apa dengan sikap Azrinna sekarang. Tidak biasanya dia mengatakan itu.
"Iya, neng. Ganteng pisan, malah. Oh ya, mau bikin berapa neng ?."
"Hmm, mas. Kamu mau gak ?."
"Iya, boleh."
"Kalau begitu, bikin dua mang."
"Siap, neng. Silahkan duduk dulu aja."
"Oh iya mang."
Azrinna mengajak Akhtar untuk duduk di kursi yang telah disediakan pedagangnya.
Akhtar yang tidak banyak bicara hanya menurut saja pada kemauan istrinya. Tak lama menunggu, penjual itu datang membawakan pesanan mereka.
"Makasih, mang." Azrinna menerimanya dengan sopan.
"Terimakasih,." Akhtar juga melakukan sikap yang sama.
"Sama-sama, neng." Penjual itu kembali pada gerobaknya untuk melayani pembeli lainnya.
Azrinna menatap gelas berisi es dawet itu dengan tatapan berbinar cerah. Dia langsung melahap es itu dengan sangat nikmat.
Akhtar juga mulai menyuapkan es ke dalam mulutnya sendiri.
Sedikit demi sedikit, Akhtar menikmati ws tersebut. Dia lebih suka menikmati kecantikan istrinya yang sedang sangat sibuk menikmati es nya.
Akhtar menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Azrinna yang masih terlihat kekanak-kanakan meski kini mereka sudah akan memiliki tiga anak.
Azrinna semakin lahap menikmati es dawetnya membuat Akhtar semakin greget melihatnya. "Sayang makannya jangan cepat-cepat. Santai aja." Tegur Akhtar mengingatkan.
Azrinna melirik kemudian menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dan benar saja, Azrinna mulai menikmati esnya dengan perlahan.
"Sayang."
"Hem ?."
"Lihat sini dulu coba."
Azrinna menurut dan melihat ke arah wajah suaminya. "Kenapa ?."
"Mau aku kasih tahu sesuatu gak ?."
__ADS_1
"Sesuatu apa ?." Azrinna menatap kebingungan.
Akhtar tersenyum. Senyuman yang terlihat aneh menurut Azrinna.
"Apa aku boleh mengatakannya ?." Tanya Akhtar semakin membuat istrinya penasaran.
"Mas..."
"Hmm, baiklah. Tapi kamu jangan marah ya ?."
Azrinna terdiam sejenak. "Memangnya mas mau mengatakan apa ?."
"Kamu janji gak akan marah kan ?."
"Hmm, tergantung. Tapi, Iya deh, aku janji gak akan marah. Terus sekarang apa ?,."
Akhtar terlihat menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Akhtar menatap wajah istrinya begitu lekat. "Aku melamar seseorang untuk anak kita."
"Astaghfirullah !, Mas ?!." Azrinna reflek membekap mulutnya sendiri.
Mendapati reaksi istrinya, Akhtar hanya bisa tersenyum kaku.
"Anak kita masih kecil-kecil loh mas ?."
"Iya, aku tahu. Hem, apa kamu tidak marah ?."
Azrinna tersenyum. Dia menatap lekat wajah suaminya dengan tatapan aneh. "Apa dia cantik ?, Sampai mas Akhtar melamarnya di usia dini ?." Tanyanya dengan nada menggoda.
"Cantik ?, Tidak. Dia lebih tepatnya ganteng."
"Apa ?!. Mas, kamu melamar seseorang untuk Alchira ?!." Azrinna semakin dibuat kaget dengan kabar itu.
Akhtar kembali tersenyum lalu mengangguk. "Apa itu dilarang, sayang ?. Bukankah bunda Khadijah juga melamar nabi kan ?."
Azrinna langsung menegakkan posisi duduknya. "Iya, mas. Tapi... Oh tidak, mas kamu belum mendiskusikannya denganku loh ?."
Azrinna menghela nafasnya berat. "Apa dia cukup baik untuk Chira ?,"
"Insya Allah, aku sudah melihat orangnya, dan aku pikir dia cocok untuk Chira."
"Memangnya siapa namanya ?, Eee, mas tau dia dari mana ?."
"Namanya Fazal, dia anaknya Anand, teman waktu mas kuliah dulu. Keluarga Anand juga sudah mengetahui soal ini dan Alhamdulillah mereka menerimanya."
Azrinna memandang wajah tampan suaminya. "Mas." Panggilnya lirih.
"Iya, sayang ?."
"Mas Akhtar tidak sedang melakukan program bisnis kan ?." Tanya Azrinna curiga.
"Astaghfirullah, sayang!, Yah gak lah, mas serius ingin meminta Fazal untuk putri kita karena dia anaknya sangat baik, tutur katanya sangat sopan, dia juga seorang Hafidz di umurnya yang baru lima tahun. Dan sekarang dia sedang di pesantrenkan semenjak keluar SD."
"Kalau begitu aku mau menemuinya !." Ucap Azrinna tiba-tiba semangat.
Akhtar tersenyum manis karena puas pada tanggapan istrinya. "Lain kali aja, sekarang anaknya sedang tidak ada di rumah. Kita akan bertemu dengannya setelah Chira lulus SMP."
Raut wajah Azrinna langsung berubah sendu. "Harus selama itu ya ?."
"Iya."
"Tapi aku mau tau keluarganya, boleh ?."
"Hem, nanti aku bicarakan dulu sama mereka."
"Baiklah."
Keduanya kembali fokus menikmati es dawet yang sudah mulai kehabisan es batunya. Lagi-lagi Akhtar lebih suka menikmati kecantikan istrinya dibandingkan dengan es dawetnya.
"Yang."
__ADS_1
"Hem."
"Sekarang kamu nambah gemukan ya ?." Ucap Akhtar berkomentar.
"Kan aku sedang hamil, mas." Jawab Azrinna mengoreksi.
"Iya, tapi hamil kali ini kamu kelihatan banget gemuknya." Ucap Akhtar lagi.
Azrinna menghentikan makannya dan menatap kesal wajah suaminya. "Lalu ?."
"Lalu... Yah kamu jadi nambah menggemaskan, membuatku semakin jatuh cinta." Ucap Akhtar dengan gombalan mautnya.
Wajah Azrinna langsung merona hanya dengan mendengarkan gombalan receh suaminya. "Apaan sih mas !." Sungutnya sambil membuang muka.
Melihat istrinya salah tingkah, Akhtar langsung terkekeh. "Ehh, bener kok. Nambah kesini, kamu nambah cantik aja." Akhtar kembali menggoda.
Sudah tampak seperti tomat matang saja wajah Azrinna sekarang. "Mas, udah ahh. Udah tua gak pantes ngegombal kaya gitu ."
"Udah tua dari mananya ?, Kalau aku udah tua, gak mungkin istri aku bisa hamil lagi." Akhtar mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil.
Azrinna semakin salah tingkah. "Udah ahh." Ucapnya sambil bangkit dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja.
Akhtar ikut berdiri dan meletakkan selembar uang di kursi bekas didudukinya. "Mang, uangnya di sini ya ?, Makasih !." Akhtar langsung mengejar langkah Azrinna.
"Sayang, hey !, Jalannya jangan cepat-cepat, nanti perutnya keram."
Ucapan Akhtar langsung dituruti Azrinna. Azrinna mulai berjalan santai dan Akhtar segera menghampirinya lalu menggandeng tangannya. Azrinna merapat ke tubuh suaminya dan memeluk lengan Akhtar.
Akhtar merubah posisi tangannya menjadi memeluk tubuh mungil istrinya. Keduanya berjalan sambil memeluk satu sama lain menelusuri jalan setapak taman yanga terasa sangat asri.
Setiap pengunjung disana terlihat berpasangan dan tampak mesra. Dan itu juga dilakukan oleh sepasang suami istri dewasa itu dengan hati yang diliputi oleh bunga-bunga cinta yang terus bermekaran.
"Aku merasa seperti anak remaja yang sedang berpacaran." Gumam Akhtar.
"Iya ya mas ?, Padahal anak-anak kita sudah pada gede, mereka juga udah mau lulus SD."
"Tidak apa-apa, mumpung mereka masih pada sekolah, kita berpacaran aja disini."
Azrinna terkekeh geli mendengar usulan suaminya itu yang tidak ingat umur.
Keduanya terus berjalan santai sambil menikmati pemandangan lalu lalang orang yang sedang berkunjung di taman itu juga.
"Mas."
"Hem."
"Terimakasih."
"Terimakasih ?." Akhtar menatap wajah istrinya tak mengerti.
"Untuk semuanya. Untuk yang dulu dan sekarang dan masa depan juga."
"Aku dulu sangat jahat sama kamu, sayang."
"Nggak, mas. Bukan kamu yang jahat, tapi memang garis takdir Allah yang memberikan kisahnya seperti itu."
Keduanya saling menatap dalam dengan senyuman manis yang sama-sama dilontarkan.
"I love you." Bisik Akhtar.
Azrinna tersenyum. "Ana uhibbuka Fillah." Ucapnya lirih dengan wajah yang bersemu merah.
Cup.
"Mas !!."
"Hahaha !!."
...Selesai ...
__ADS_1