
" Azrinna. Kita mau kemana ?." Tanya Hizqi penasaran.
" Nanti kamu akan melihatnya sendiri. Sekarang lebih baik kamu diam, sambil nikmati perjalanannya. " Ucap Azrinna yang masih fokus pada jalanan beraspal di depannya.
Hizqi akhirnya mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Sebenarnya ada sedikit keraguan dalam hati Azrinna saat melakukan perjalanan ini. Karena ia yakin tak yakin bahwa yang dilalui nya ini adalah jalan yang benar. Tapi setelah di ingat-ingat lagi menurut feeling nya ini adalah jalan yang benar. Akhirnya dengan keyakinan hati mobilnya terus membelah kota hingga sampailah di depan gerbang besar yang menyembunyikan rumah yang juga sama besarnya.
Azrinna menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. " Ayo ?!." Ajaknya pada Hizqi untuk segera turun dan mobil.
" Eh eh tunggu dulu. " Hizqi mencengkram kuat lengan Azrinna. " Ini rumah siapa ?. Ngapain kita kesini ?. " Tanyanya butuh penjelasan.
Azrinna menatap lekat wajah sahabatnya. "Ini rumah ayah dari anak-anakku. "
" Benarkah ?!." Hizqi meneliti bangunan yang ada di luar mobilnya. " Tapi, ini bukan rumahnya Aqlan, kan ?." Tanyanya.
" Memang bukan. Ayo, mau ikut turun nggak ?. " Azrinna melepaskan genggaman tangan Hizqi di tangannya lalu keluar dari mobil dan menghampiri satpam yang terlihat sedang asyik bermain game di handphone yang terdengar jelas kebersihannya.
" Assalamualaikum..." Ujar Azrinna pada satpam tersebut.
Pria setengah baya itu langsung melirik ke arah Azrinna. " Wa'alaikum salam. Nyonya ?!." Jawabnya sambil terkesiap segera berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya saat mengetahui siapakah yang datang.
" Buka gerbangnya, pak !." Perintah Azrinna.
" Baik, nyonya. " Pria itu segera memencet tombol dan sesaat kemudian gerbangnya terbuka otomatis.
Azrinna kembali memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya memasuki kawasan rumah milik Daddy nya anak-anaknya ini. Saat menoleh ke arah Hizqi, ternyata sahabatnya masih dalam mode tercengang tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dan Azrinna tidak ingin menghiraukan keterkejutan sahabatnya itu. Azrinna turun lagi dari mobilnya dan Hizqi segera menyusul di belakangnya.
Dengan langkah penuh percaya diri Azrinna memasuki rumah besar bernuansa warna putih kelabu itu. Saat baru saja melangkah masuk ke dalamnya, terlihat beberapa pegawai langsung memberikan penghormatan penuh terhadapnya. Salah satu pelayan langsung mendekat.
" Selamat datang, Nyonya. Senang melihat Nyonya kemari lagi. " Ujar pelayan itu sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Azrinna.
" Iya, saya juga senang bisa ke sini lagi. Oh ya. Di mana anak-anak ?."
" Tuan muda Ezar ada si taman belakang, sedang bermain dengan pengasuh Tania, dan putri Al sedang tidur di kamarnya bersama pengasuhnya juga, nyonya. " Jelas pelayan tersebut.
" Baiklah. Antar saya menemui putriku. "
" Baik, nyonya. Silahkan." Pelayan itu memandu Azrinna dan Hizqi menuju kamar Alchira yang ternyata tidaklah jauh dari kamar utama, milik Akhtar.
Saat sampai di depan pintunya, pelayan itu langsung membuka pintunya untuk sang nyonya rumah. Azrinna langsung masuk ke dalam kamar putrinya yang diikuti Hizqi sedangkan pelayan tadi sudah pergi lagi.
Mata Azrinna melihat sekeliling di kamar putrinya ini begitupun dengan Hizqi yang juga melakukan hal yang sama seperti Azrinna. Dengan langkah perlahan Azrinna menghampiri ranjang khusus bayi dan disana juga terdapat seorang wanita yang cukup terlihat dewasa sedang duduk di samping ranjang putrinya sambil menunduk dan fokus pada gadget di genggamannya.
Azrinna berdehem dan itu langsung membuat pengasuh putrinya terkesiap. Dia langsung bangkit saat tau siapa yang datang.
__ADS_1
" Nyonya ?." Ujarnya.
" Iya. Bagaimana kabar putriku ?. " Tanya Azrinna yang kini matanya sudah terfokus pada sang buah hati.
" Putri Al sehat dan bertumbuh dengan baik, nyonya. " Jelas pengasuh putrinya itu.
Azrinna mengangkat putrinya ke dalam gendongan kedua tangannya. " Kamu bisa pergi." Ucap Azrinna dan langsung di angguki oleh pengasuh bayinya itu.
Azrinna mendaratkan ciuman nya bertubi-tubi pada wajah sang putri. " Apa kabar, sayang... Mommy sangat merindukanmu." Ucapnya di sela-sela kecupannya. " Anak mommy semakin cantik ternyata. Bangun, sayang. Mommy datang untukmu. " Azrinna masih terus menciumi wajah putrinya sehingga bayinya itu merasa terganggu dan akhirnya membuka matanya.
Alchira langsung rewel karena merasa tidurnya terganggu. " Masya Allah. Matamu cantik sekali, nak. " Gumam Azrinna yang melihat betapa cantiknya mata Alchira.
Mata sebening kristal dengan pupil berwarna abu-abu itu sama persis seperti mata Akhtar. Namun ini lebih cantik karena bulu mata Alchira lebih panjang dan lentik.
Hizqi yang dari tadi diam saja mulai mendekati. Tangannya mengusap lembut pipi Alchira. " Dia putrimu ?." Tanyanya pada Azrinna.
" Dia putriku. Malaikat kecilku. "
" Sangat cantik. Sama seperti ibunya. " Ujar Hizqi yang masih terkesima dengan paras sempurna yang di miliki oleh putrinya Azrinna itu.
" Makasih, Qi. Kalau gitu kita keluar dari sini. Kita ke taman belakang untuk menemui putraku." Ucap Azrinna dan langsung di angguki oleh Hizqi.
Keduanya berjalan ke taman belakang rumah. Saat sampai. Azrinna bisa melihatnya dengan jelas bahwa putranya sedang asik bermain puzzle bersama Tania. Azrinna menghampiri mereka.
" Ezar. "
" Hai, sayang.." ujar Azrinna dengan senyum cerah nya pada sang putra. Tapi hanya sebentar karena ia melihat Ezar malah seolah tidak menghiraukan kedatangannya. Ezar berdiri dan langsung bersembunyi dibalik tubuh pengasuhnya.
" Ehh. Ezar. Kok gitu ?. Ada mommynya kok ngumpet ?." Tania juga sama kagetnya saat mendapati sikap Ezar yang demikian.
Azrinna memberikan Alchira pada Hizqi lalu mendekati tubuh mungil Ezar yang masih saja bersembunyi.
" Ezar... Kok mommynya dicuekin?. Ezar gak kangen ya sama mommy ?." Tanya Azrinna menatap sendu pada wajah Ezar.
" No !. Mommy nakal !. Ezal gak mau sama mommy !. " teriak Ezar.
" Ezar masih marah ya sama mommy?."
Ezar semakin tidak menghiraukan ucapan Azrinna dan malah memalingkan wajahnya dari hadapan Azrinna.
" Ezar... " Azrinna mencoba memegang tangan mungil Ezar tapi langsung ditepis oleh Ezar.
" Nggak mau !. Mommy jahat... !. Ezal gak boleh ikut mommy..." Tangis Ezar mulai pecah. "Mommy jahat... !. Ezal gak mau sama mommy... Daddy... !." Ezar berlari ke arah...?. Daddy nya, yang ternyata berdiri tidak jauh dari mereka.
Akhtar langsung membawa tubuh ke dalam gendongannya. Akhtar berjalan menghampiri Azrinna.
__ADS_1
" Aku kira kamu melupakan mereka ." Ucap Akhtar datar dengan tatapan matanya terkunci pada wajah Azrinna.
" Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin melupakan anak-anakku. " Ujar Azrinna tegas.
" Sebulan lebih kau tidak menemui anakmu, dan kau bilang tidak melupakan mereka ?." Akhtar semakin menatap Azrinna dengan tatapan tajam.
" Mas !. Kamu tidak tahu bagaimana kehidupan aku di rumah. Selama ini aku juga ingin menemui anakku, tapi aku gak bisa. Aku gak ada waktu." Jelas Azrinna dengan kepala menunduk.
" Kamu juga nggak tau bagaimana pusingnya aku saat Ezar terus menangis sepanjang hari karena ingin bertemu mommynya, sampai berakhir di rawat di rumah sakit karena tidak mau makan. Kamu juga tidak tahu bagaimana bingungnya kami saat Alchira tidak mau minum susu formulanya dan harus menangis tiap malam karena kelaparan. Kamu tidak tau, Ai. Kamu egois !." Ucap Akhtar mengeluarkan semua unek-unek yang sekian lama menyesakkan dadanya.
Mata Akhtar berkilat marah menatap Azrinna.
Azrinna sudah tidak bisa menahan air matanya agar tidak menjebol bendungannya. Azrinna mengambil alih Alchira dari Hizqi. Ia pandangi wajah tenang Alchira yang sedang terlelap.
" Kamu mengatakan aku egois. Tapi kamu lupa, kalau Alchira hadir karena keegoisanmu. Kau memperdayaku, kau membuatku berzina di saat aku sendiri memiliki seorang suami, kau membuatku merasa menjijikkan di hadapan suamiku sendiri. Dan saat semuanya menjadi seperti ini, kau malah menyalahkan ku..." Azrinna berucap lirih tanpa mau melirik sedikitpun ke arah Akhtar.
Dua wanita yang merasa tidak memiliki kuasa untuk ikut campur, akhirnya memilih masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Akhtar dan Azrinna yang masih terus berseteru. Hizqi juga membawa Alchira bersamanya.
Kini hanya ada Azrinna, Akhtar juga Ezar. Azrinna terduduk di tanah berumput. Ia lemah tak tahu harus berbuat apa.
Akhtar menurunkan Ezar dari gendongannya dan menyuruh putranya itu mendekati sang mommy.
Ezar menatap wajah mommynya yang sedang menangis pilu. Kaki kecilnya berjalan mendekati ibunya. Saat sampai, Ezar langsung memeluk erat leher mommynya, seperti biasa.
Azrinna yang menyadari bahwa kini putranya sedang memeluknya, langsung memeluk balik tubuh mungil Ezar.
" Mommy..." Panggil Ezar yang matanya mulai berkaca-kaca.
Azrinna semakian memeluk erat Ezar. " Maafin, mommy, sayang. Maafin mommy. Ezar jangan marah ya sama mommy. Mommy sayang Ezar." Azrinna mencium kedua pipi Ezar beralih ke hidung dan terakhir ke keningnya. " Mommy sayang Ezar. "
" Mommy... Ezal mau sama mommy. Ezal mau ikut mommy..."
" Iya, sayang. Ezar sama mommy. Mommy tidak akan ninggalin Ezar lagi. " Ucap Azrinna yakin.
Sudah cukup ia membuat putra putrinya menderita karena dengan tega meninggalkan mereka. Azrinna tidak bisa lagi menyaksikan anak-anaknya sampai harus menghindarinya seperti yang dilakukan Ezar tadi. Ia benar-benar tidak sanggup.
Azrinna mendongak ke atas dan membuat tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Akhtar.
" Aku akan datang ke orang tuamu. " Ucap Akhtar seolah mengerti dengan apa yang ada di pikiran Azrinna.
Azrinna mengangguk mengiyakan.
" Malam ini sebaiknya kamu di sini. Jangan membuat Ezar sampai membencimu lagi. " Ucap Akhtar lagi dan Azrinna kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Ayo, masuk. Sudah sore. "
__ADS_1
Azrinna menggendong tubuh Ezar dan membawanya masuk ke dalam rumah.