
"Abah. "
"Katakan, anakku. "
Zahra menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Bah. Saat umi sama Abi mengizinkan Zahra untuk kuliah diluar kota, Zahra ternyata mendapatkan musibah. Waktu itu, tepatnya sebelum Maghrib, ketika Zahra pulang dari kampus Zahra menolong seorang pria yang tergeletak di dekat apartemen Zahra. Karena Zahra gak tega, akhirnya Zahra tolongin, Zahra bawa masuk kedalam apartemen Zahra. Tapi sungguh Zahra tidak menyangka jika dia akan berbuat hal keji pada Zahra, Abah..." Zahra mulai terisak, air matanya sudah tumpah ruah di pangkuan sang paman.
"Apa yang terjadi, nduk ?." Tanya Kyai Anwar.
Zahra mendongak menatap wajah pamannya yang terlihat tenang.
"Zahra dilecehkan, Abah. Zahra kehilangan harga diri Zahra oleh pria itu. Zahra..." Ucapan Zahra semakin tersendat-sendat karena tangisnya yang semakin pecah. "Zahra hamil, Abah. Zahra memiliki anak karena pria itu. Zahra malu ketika Abi menyuruh Zahra pulang, Zahra takut Abi sama umi marah..."
Kyai Anwar tak menunjukkan ekspresi yang berubah. Wajahnya masih tetap tenang dan damai dipandang. Tangan Kyai Anwar kembali mengelus lembut kepala ponakannya.
"Dimana anak Zahra?. " Kyai Anwar mulai bersuara.
"Zahra... Dia..." Zahra terlihat ragu menjawabnya.
"Zahra membuangnya ?." Tanya Kyai Anwar lagi seakan tau apa jawaban nya.
"Zahra takut Abah. Zahra juga masih sangat muda waktu itu. "
"Jadi benar, Zahra membuangnya ?."
Zahra mengangguk lemah.
Flashback on.
"Zahra. Abi sama Umi akan kembali ke Indonesia Minggu depan. Kali ini gak ada alasan lagi. Zahra harus kembali ke Jogja. Kami sangat merindukanmu, nak. "
"Iya, Abi. Zahra akan mengambil cuti untuk ke sana. "
"Syukurlah. Kami senang mendengarnya. "
"Iya, Abi.
"Ya sudah. Kamu istirahat. Di Indonesia ini sudah malam kan ?."
"Iya, Abi. "
"Abi tutup dulu teleponnya ya. Assalamualaikum.."
"Iya, Abi. Waalaikum salam."
Sambungan telepon terputus.
Zahra menangis dalam diam, airmatanya mulai menganak sungai di pipinya. Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Sakit hati dan khawatir membuat ia tidak pernah mau liburan pulang ke kota asalnya lagi, padahal sebelum-sebelumnya, setiap liburan semester ia akan melakukan perjalanan pulang ke Jogja untuk menghabiskan waktu liburannya bersama kedua orangtuanya.
__ADS_1
Zahra melirik perutnya sendiri yang sudah sangat membesar, mengelusnya pelan dengan hati penuh penyesalan.
Seandainya waktu itu ia tidak berbaik hati untuk menolong pria itu.
Seandainya ia tidak memiliki belas kasihan pada orang yang sedang kesusahan.
Seandainya hari itu tidak pernah ada dalam garis takdir hidupnya.
Seandainya, seandainya dan seandainya.
Zahra adalah gadis yang paham agama. Inginnya melenyapkan benih pria brengsek itu tapi ia tak kuasa untuk menjadi pembunuh darah dagingnya sendiri. Meski dia tumbuh karena hal kotor.
Terhitung selama hampir satu tahun Zahra tidak pernah menemui keluarganya. Bahkan untuk obrolan video call pun ia tidak pernah mau, sebab rasa bersalah itu akan semakin kuat saat ia melihat wajah kedua orang tuanya.
"Abi, Umi. Maafkan Zahra... Zahra tidak pantas menjadi putri kebanggaan kalian..."
Setelah lelah menangis Zahra terlelap tenang dengan wajah yang sudah lecek dan tak karuan. Hingga malam semakin larut ia kembali terbangun saat merasakan nyeri dan kram pada perutnya. Zahra mencoba menahan rasa sakit itu sampai semakin terasa menyiksa tubuhnya.
Ia tidak sanggup dan segera menghubungi teman kuliahnya, sahabat yang tahu apa yang terjadi padanya. Hanya beberapa menit temannya itu datang karena memang mereka tinggal di apartemen yang sama dan hanya beda nomor saja.
Lily adalah sahabat Zahra dan berbeda keyakinan dengan Zahra, dia menganut agama kristen protestan. Tapi, meski begitu Lily dan Zahra adalah sahabat yang cukup baik bahkan sudah seperti saudara saja.
Beberapa jam kemudian...
Bayi cantik dan lucu sudah ada di pelukan Zahra dan mulai menikmati sumber kehidupannya dari sang ibu. Zahra melirik Lily yang sangat setia di sampingnya dari tadi.
Lily tersenyum lalu mengusap pelan punggung mungil putri sahabatnya. "Kita adalah sahabat. Dan selamanya akan seperti ini. Jadi, jangan pernah ucapkan terima kasih lagi untukku. "
" Baiklah. " Zahra melirik wajah cantik sang putri. "Ly. " Panggilnya lirih.
"Iya Ra. "
"Ly. Sepertinya aku tidak bisa merawatnya. Aku takut Abi sama Umi tau dan marah besar padaku. "
"Jadi, apa yang akan kau lakukan ?. "
"Ly. Berjanjilah padaku kau akan membantuku. " Zahra menatap lekat wajah sahabatnya.
"Aku janji. Kau mau aku bagaimana ?."
"Setelah kepulangan ku dari sini. Aku ingin minta tolong padamu, jauhkan dia dariku. "
"Ra. Kau yakin tega melakukannya?. Dia putri yang sudah kau kandung selama sembilan bulan lamanya. "
"Aku tidak tega. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku mohon Ly... Tolong aku. "
"Baiklah. Sesuai janjiku aku akan membawanya ke tempat yang sesuai dengannya. "
__ADS_1
"Makasih, Ly.." Zahra mencium kepala bayinya lama.
Maafkan ibu, nak. Ibu harus tega melakukannya padamu. Tapi ibu janji. Ibu akan menjemputmu lagi dikemudian hari. Batin Zahra dengan deraian air mata.
Waktu terus berjalan dengan pasti. Kini Zahra sudah pulang ke apartemennya. Zahra mengambil KTP yang sudah disimpan selama berbulan-bulan lamanya. Yah. Kartu nama itu milik pria brengsek yang sudah melecehkan harga dirinya.
Dilihat dari identitasnya, ternyata pria itu bukanlah pria biasa. Dia adalah seorang Raden Keraton. Dan yang lebih parahnya lagi, pria itu penduduk asli Jogjakarta, kota yang sama dengan dirinya.
Meski ia tidak yakin kapan akan bertemu lagi dengan pria itu juga Putrinya setelah ia membuangnya, tapi setidaknya nama sang putri kecilnya akan memudahkan dirinya untuk mencari nya di kemudian hari.
Zahra menggoreskan tinta di secarik kertas. Huruf-huruf yang ia tulis rangkai menjadi sebuah nama yang cantik, secantik wajah putrinya.
Kertas itu ia masukkan ke dalam amplop coklat berukuran sedang. Juga kembali memasukkan kalung berlian yang didapatkan dari neneknya saat kecil. Kalung itu menjadi barang berharga bagi dirinya dan selalu dipakai di manapun dan kapanpun. Hingga kini ia akan melepaskannya bersama kepergian sang putri.
Pukul sebelas malam, Zahra dan Lily melakukan perjalanan menuju sebuah yayasan penampung anak-anak yatim piatu.
"Maafkan ibu, sayang. " Zahra mencium wajah sang putri tanpa terkecuali sebagai tanda perpisahan lalu menyerahkan pada Lily untuk di letakkan di bangunan rumah itu.
Flashback end
"Zahra menitipkannya di panti asuhan, Abah. " Jawab Zahra lirih.
"Astaghfirullah... "
"Maafkan Zahra, Abah. "
"Zahra. Lihat Abah nduk. " Ucap kyai Anwar memegang kedua bahu ponakannya untuk kembali duduk.
Zahra menatap takut pada wajah tenang pria paruh baya tersebut.
"Zahra harus bertanggung jawab dengan apa yang Zahra lakukan, nduk. Abah minta. Zahra menjemput putri Zahra. Bawa dia kesini. Jangan menambah dosa lagi dengan menelantarkan putri Zahra seperti itu. " Ucap kyai Anwar dengan suara yang begitu lembut.
"Abah tidak marah sama Zahra ?." Tanya Zahra yang bingung dengan ekspresi pamannya yang sepertinya biasa saja.
"Tidak. Abah tidak marah sama Zahra. Tapi Abah meminta Zahra untuk membawa anak Zahra kesini, meski bagaimanapun, dia cucu Abah. Dia pantas mendapatkan kasih sayang seorang ibu juga kakek neneknya. Cucu Abah harus memiliki ilmu yang sama dengan ibunya. " Jawab Kyai Anwar dengan senyuman tulusnya.
Mendengar penuturan pamannya, Zahra langsung memeluk erat tubuh renta itu. Ia sangat, sangat, sangat bahagia karena ternyata putrinya diterima baik oleh paman sekaligus ayahnya itu.
"Makasih, Abah... "
"Pergilah. Abah akan menunggu kedatanganmu bersama cucu Abah. "
"Pasti, Abah. Zahra akan membawa Silma ke sini."
"Namanya Silma?."
"Iya, bah. "
__ADS_1
____________