Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Amarah Azrinna


__ADS_3

" Aku sudah mengalah membiarkan Alchira bersamamu. Aku sudah mengalah menyetujui permintaan kamu yang tidak boleh menemui anakku sendiri setiap hari. Lalu apa yang kau balaskan kepadaku ?!. Kau membuat jarak antara aku dengan Alchira !. Kau menjadikanku seperti orang asing untuk putriku sendiri, Azrinna !." Setiap kata-kata Akhtar menggelar di dalam kamar.


Azrinna semakin bergetar karena takut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ternyata marahnya Akhtar sangat mengerikan. Azrinna menunduk tak berani menatap mata Akhtar yang sedang menatapnya tajam.


" Aku tidak pernah memiliki maksud seperti itu. Kau sendiri yang beranggapan aku seperti yang kau tuduhkan. " Ucap Azrinna lirih.


" Kau pikir aku tidak memahaminya, Ai?. Bukan sekali dua kali kau melakukannya padaku. " Ucap Akhtar dengan ucapan tertahan.


Tangan Akhtar membingkai wajah Azrinna dan semakin memajukan wajahnya pada wajah teduh Azrinna yang sudah diliputi oleh ketakutan.


Azrinna memejamkan matanya saat nafas keduanya mulai bertabrakan. Sejenak ia diam sambil berusaha meyakinkan diri lalu kembali membuka matanya dengan tatapan tajam penuh amarah.


Plakk !!


Wajah Akhtar yang hanya beberapa senti lagi akan menyentuh wajah Azrinna langsung menoleh ke samping saat Azrinna menamparnya keras.


" Jangan menyentuhku !." Teriak Azrinna sambil mendorong dada Akhtar kuat sehingga bisa terlepas dari kurungannya.


Azrinna berlari ke arah tempat tidur dan mengambil Alchira dari sana lalu bergegas keluar dari kamar Akhtar. Dengan langkah tergesa-gesa Azrinna keluar dari rumah yang selama ini selalu menjadi sumber tempatnya menumpahkan air mata.


Sampai di luar gerbang, ia memberhentikan taksi yang kebetulan lewat.


" Jalan pak .!" Ujarnya pada supir taksi yang sesegera mungkin menuruti ucapannya.


Di dalam kamar, Akhtar menggeram kesal dan menjambak rambutnya sendiri. Kakinya menendang-nendang angin dengan tanpa arah lalu membanting tubuh di atas tempat tidurnya.


Mata Akhtar terpejam rapat memikirkan kejadian barusan.

__ADS_1


" Ahhh !. Azrinna, kau membuatku gila !." Sekali lagi Akhtar mengacak-acak rambutnya sendiri.


" Apa sebesar itu kau membenciku ?. Apa kesalahanku terlalu banyak padamu sampai kau harus bersikap seperti itu padaku ?." Akhtar meracau dengan pikiran yang sedang carut-marut.


Di belahan bumi yang lain Azrinna segera masuk ke dalam rumah setelah membayar ongkos taksinya. Langkah kaki Azrinna tergesa menaiki anak tangga sehingga menyebabkan suara nyaring yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan.


Air mata Azrinna sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia terisak dalam tangis. Ia buka pintu kamarnya lalu menutupnya sedikit kencang dan menangis terduduk dibaliknya.


"Astaghfirullah...!. Kenapa rasanya sakit sekali hati ini ?.. " lirih nya seketika bayangan menemukan memori dimana Akhtar membentaknya tadi. Azrinna memeluk erat tubuh mungil Alchira yang duduk di pangkuannya.


Jujur. Di hatinya memang sudah terisi dengan nama Akhtar dan ia tidak memungkiri bahwa dirinya menaruh hati pada sosok Akhtar.


Hanya saja perbedaan di antara keduanya yang menjadikan dirinya takut jika memiliki hubungan lebih bersama Akhtar, meski Akhtar adalah ayah dari putrinya sendiri.


Tok


Tok


Tok


Terdengar teriakan suara ibunya dari luar. Azrinna hanya melirik kenop pintu yang diputar dari luar. Ia tahu pasti ibunya itu sedang sangat khawatir akan keadaannya saat ini.


" Azrinna...!" Panggil ibunya lagi juga kembali menggedor-gedor pintu.


Azrinna mendengus lalu membuka pintunya. Menampilkan sosok ibunya yang terlihat cemas.


Tangan sang ibu menyeka air mata yang membasahi wajah Azrinna.

__ADS_1


" Kamu kenapa nak ?."


Azrinna tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.


" Sini duduk dulu. " Ucap ibunya menggiring Azrinna ke tempat tidur dan duduk di tepiannya.


" Mama..." Azrinna menyenderkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


Sintia mengusap lembut kepala Azrinna yang terbungkus hijab. "Kamu ketemu Akhtar?." Tanya ibunya. Sebab setiap kali Azrinna bertemu dengan Akhtar Azrinna sering sekali bersikap demikian.


"Ma. Apa Azri salah, kalau Azri menyukai mas Akhtar ?." Tanya Azrinna mulai membuka suara.


" Tidak. Itu tidak salah,. Yang salah itu jika kamu menyukai orang yang salah."


" Lalu, Azri harus gimana, Ma?. Azrinna bingung..."


" Azri mau ke rumah eyang, nak ?."


Azrinna mendongak menatap wajah ibunya. "Eyang ?. Di Jogja, ma ?."


" Iya, sayang. Kamu mau kesana ?."


" Tapi... Azri punya tanggung jawab di sini, ma. Azri gak bisa meninggalkannya begitu saja. "


" Ya udah. Terserah kamu aja. Tapi kalau kamu mau, nanti ngomong ke mama. "


Azrinna mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2