Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Bertemu Mantan


__ADS_3

Waktu makan malam Azrinna masih betah di kamar padahal ia sudah terjaga dari setelah shalat isya yang dilakukannya ngaret karena ia baru bangun tidur setelah pukul delapan malam. Azrinna masih betah membaringkan tubuh di samping Alchira yang juga sedang terjaga. Tangan Azrinna mengusap-usap pelan perut sang putri dengan bibir bersenandung sholawat.


Setiap kali Alchira di senandung kan sholawat, bayi berumur kurang dari lima bulan itu akan tenang dan hanya sesekali mengerjapkan kedua matanya juga memainkan jemarinya sendiri.


Azrinna memandang gemas pada putrinya yang semakin hari pertumbuhannya semakin cepat. Pipi kemerahan Alchira kini semakin tembam dan tubuhnya pun semakin berisi sehingga membuat bayi itu terlihat semakin menggemaskan saja.


Alchira mulai bertingkah saat Azrinna menghentikan sholawatannya. Mata sebening kristal itu mencari-cari akan keberadaan sang ibu. Badan Alchira menggeliat ke samping dengan semangat dan perlahan, tubuh mungil itu sudah tengkurap. Tangannya menepuk-nepuk kasur lalu tangan meraih wajah Azrinna yang ada di depannya dengan jemari mungilnya.


" Hai, sayang... Senangnya tengkurap ya ?." Tanya Azrinna yang langsung dijawab oleh celotehan lucu dari bibir Alchira.


Saking gemesnya dengan tingkah laku Alchira, Azrinna menghempaskan tubuhnya ke kasur sehingga terlentang dan langsung membawa tubuh mungil Alchira keatas perutnya membuat bayi itu semakin tertawa cekikikan karena senang, Azrinna pun ikut tertawa renyah, sangat bahagia.


Di ambang pintu seseorang sedang menyaksikan momen tersebut dengan senyuman bahagia. Karena sangat bahagia seseorang tersebut bahkan menyeka air mata yang ternyata sudah keluar dari sudut-sudut matanya.


Dia adalah Sintia yang sebelumnya berniat untuk memanggil Azrinna agar turun ke bawah untuk makan malam, tapi karena melihat kebahagiaan itu tiba-tiba ia memutuskan untuk urungkan niatnya bahkan kembali menutup pintunya dan turun ke lantai bawah lagi.


Azrinna yang menyadari bahwa pintu kamarnya berderet langsung melihat ke sana, dan ternyata pintunya masih tertutup rapat sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Azrinna kembali ke wajah Alchira yang kini di benamkan di dadanya. Mata Alchira memperhatikan wajah Sang ibu dengan sangat intens begitupun sebaliknya. Seakan keduanya saling berinteraksi melalui tatapan mata tersebut.


Azrinna mengusap-usap lagi punggung mungil itu juga dengan sholawat yang kembali ia senandung kan, perlahan tapi pasti mata Alchira kembali terlelap dengan tenang di atas tubuh ibunya. Azrinna tersenyum melihat kelakuan putri kecilnya. Tangan Azrinna beralih pada kepala Alchira dan mengusapnya lembut penuh kasih sayang.


Setelah memastikan bahwa Alchira sudah tertidur nyenyak Azrinna memindahkan tubuh mungil Alchira ke atas tempat tidur, menyelimutinya juga memasang beberapa bantal di sisi-sisinya sebagai penjagaan karena dirinya akan keluar untuk melakukan makan malam di lantai bawah. Sebelum pergi Azrinna mengecup lama kening putrinya.


" Mommy tinggal dulu ya sayang..."


Azrinna keluar dan menaiki anak tangga. Saat sampai di bawah keadaan meja makan tampak sepi tak ada seorangpun di sana. Azrinna melirik kamar orang tuanya yang ternyata tertutup rapat lalu ia beralih mengecek kamar zuhdi yang juga dalam kondisi sama. Azrinna melirik jam dinding yang ada di ruang meja makan yang kini menunjukkan waktu setengah sebelas malam.


Akhirnya Azrinna memutuskan untuk makan malam sendiri karena ia yakin orang tua dan kakak tersayangnya itu pasti sudah makan malam duluan. Sebab kebiasaan di keluarganya, makan malam akan berlangsung di jam sembilan dan akan selesai pada jam setengah sepuluh, paling lama hanya bisa sampai jam sepuluh saja.


Azrinna makan dalam keheningan dengan waktu yang cukup singkat. Setelah membereskan meja makan lalu mencuci piring bekas dipakainya sendiri Azrinna langsung kembali ke kamar.


Saat sampai di kamar, Azrinna menggelengkan kepala saat melihat posisi tidur Alchira. Tadi sebelum ia tinggalkan, Alchira tidur dengan kepala berbantalan kecilnya dan saat ini bantal itu sudah ada jauh dari tubuh putrinya, berada di tepi ranjang. Dan posisi Alchira yang sebelumnya kepala di arah Utara, kaki di arah selatan, ini bertukar dengan sempurna.


Putri cantiknya ini, jika tidur memang Masya Allah sekali. Entah menurun dari siapa kelakuannya itu ?. Bahkan mommy dan Daddy nya pun kalau tidur tenang dan jarang berganti posisi, bahkan setiap kali tidur mereka hanya akan menggeliat dua atau tiga kali saja.


Daddy ?!.


Azrinna tersentak sendiri saat pikirannya tiba-tiba melayang ke arah Akhtar. Dengan cepat ia menggelengkan kepala mencoba menepis bayangan Akhtar yang sempat singgah di isi kepalanya.


Azrinna beranjak dari posisinya berdiri lalu membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai Azrinna kembali dan langsung bergabung tidur bersama Alchira.

__ADS_1


_____________


Pagi yang cerah, secerah wajah Azrinna yang terlihat bersinar terang dengan berbalut hijab simpel namun masih terkesan syar'i, berwarna krem berpadukan warna coklat di bagian tepinya juga gamis panjang dengan warna yang sama dengan hijabnya.


Di hari Minggu ini, Azrinna memang mengajak Alchira berjalan-jalan keliling komplek dengan Alchira berada di dalam troli baby-nya.


Di sepanjang jalan tampak terlihat banyak orang yang juga melakukan hal yang sama seperti Azrinna di pagi libur ini. Mereka tampak bersemangat berlari santai juga bersepeda di sisi-sisi jalan. Ia juga kerap kali bertemu dengan orang-orang yang ia kenal dan mereka langsung saling sapa.


Kaki Azrinna terus melangkah santai dengan tangan mendorong troli baby-nya dan sesekali berhenti untuk saling tegur sapa dengan mereka yang kenal dengannya tapi kadang ia merasa tidak kenal dengan mereka sehingga Azrinna hanya menjawab dengan senyum ramah juga sedikit membungkukkan badan. Hal yang malah membuat pesona Azrinna semakin di sukai oleh setiap orang yang melihatnya.


Ramah tanpa melihat siapa.


Itulah yang sempat dipikirkan orang-orang terhadapnya.


Tanpa sadar kaki Azrinna ternyata berjalan melintas di depan gerombolan pria yang ia tidak tahu siapa mereka. Mereka tampak tersenyum ke arahnya lalu dua orang dari mereka menghampirinya. Dengan hati was-was Azrinna masih bersikap biasa saja dan masih berdiri tenang tanpa ada kelihatan gelisah sama sekali.


" Assalamualaikum... Kak. " Ujar salah satu dari kedua orang tersebut sambil tersenyum padanya.


" Waalaikumsalam. " Jawab Azrinna dan sedikit membalas dengan senyuman ramah.


Azrinna melirik ke keadaan sekeliling.


" Maaf, mas. Bisa sedikit menyingkir ?. Anda menghalangi jalan saya. " Ucap Azrinna sesopan mungkin.


" Oh, iya. Tentu saja, Kak. " Ucap mereka berdua lalu sedikit menggeser posisi berdirinya memberikan celah untuk dilewati Azrinna.


" Terima kasih. Maaf, saya permisi akan melanjutkan jalan-jalan pagi lagi. " Ucap Azrinna dengan sangat ramah dan sedikit menunduk seraya mengucapkan salam lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


" Waalaikum salam..."


" Gila, Bro !. Azrinna memang sangat cantik kalau dilihat dari dekat !."


" Pembawaannya menghipnotis mata !."


" Beruntung sekali yang menjadi suaminya. Ahh benar-benar wanita idaman itu sih ."


" Pesonanya memang luar biasa !."


" Tapi jangan macam-macam dengannya. Nanti bisa-bisa langsung dibuat bonyok dah muka. "

__ADS_1


Lamat-lamat Azrinna masih bisa mendengar asumsi-asumsi yang gerombolan itu perbincangkan. Azrinna hanya menyunggingkan senyumnya dan menggeleng mendengarkan selentingan kabar tentang dirinya yang menurutnya sangat berlebihan itu.


Baru beberapa langkah, kaki Azrinna kembali terhenti saat melihat seseorang pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Untuk sesaat mata keduanya saling terpaku dalam diam.


Melihat penampilan pria itu Azrinna berpikir pasti dia juga sedang melakukan olahraga di pagi hari weekend seperti dirinya.


Tatapan pria itu beralih pada Alchira yang ada di troli baby lalu kembali lagi menuju wajah Azrinna. Pria itu berjalan menghampirinya dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.


Kini keduanya sudah berdiri berhadapan dengan tatapan saling bersirobok.


" Dia putrimu ?." Tanya Aqlan saat matanya terlihat memperhatikan wajah Alchira.


Azrinna tidak mampu menjawab dengan kata-kata, ia hanya bisa mengangguk kaku.


Tangan Aqlan terulur dan membelai lembut wajah Alchira. " Cantik. Sama seperti ibunya. " Ucapnya kemudian dengan mata kembali melirik ke arah Azrinna.


Mendengar ucapan Aqlan membuat Azrinna gelagapan salah tingkah. Azrinna menatap tak percaya pada Aqlan.


Kenapa bisa-bisanya Aqlan berbicara seperti itu ?. Batinnya.


" Terima kasih. " Ujar Azrinna sambil menunduk.


" Siapa namanya ?." Tanya Aqlan lagi.


" Alchira. ''


Hening menerjang keduanya.


" Tolong...!!. Tolong...!! Kalungku...!!. Jambret..!!."


Jeritan itu membuat Azrinna dan Aqlan langsung mencari sumber suara. Dan ternyata di jarak yang cukup jauh dari keduanya berdiri, terlihat seorang gadis yang sedang menangis histeris di pinggir jalan.


Keduanya saling menatap. Di dalam hati keduanya terbesit perasaan yang ternyata sama. Seseorang membutuhkan pertolongan.


Tanpa kata, Azrinna langsung melangkahkan kaki untuk menghampiri gadis malang itu. Dan tiba-tiba ia merasa tertahan saat seseorang menahan lengannya.


Azrinna melihat tangannya yang kini digenggam erat oleh jemari Aqlan lalu tatapan beralih ke wajah Aqlan yang juga sedang menatap wajahnya.


" Tetaplah disini. "

__ADS_1


__ADS_2