Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Kelakuan Akhtar


__ADS_3

Jika di kediaman keluarga Winata sedang bahagia karena kehadiran Raffa yang dititipkan Aqlan sebab ayahnya itu sedang memiliki perlu di luar kota.


Lain lagi di rumah Akhtar dan Aira yang kini sedang bersantai dengan sang putra karena Akhtar yang sedang sibuk di ruangan kerjanya.


Wajah Aira selalu tampak sangat bahagia jika bersama Ezar. Begitupun sebaliknya. Ezar benar benar menemukan sosok ibu pada diri Aira. Dan kenyataan itu semakin jelas setelah Ezar mulai minum ASI Aira. Iya. Tepatnya dua bulan lalu setelah melakukan beberapa proses sesuai yang dianjurkan oleh dokter, akhirnya berhasil. Asi Aira sangat lancar bahkan kini Ezar sudah tidak minum susu formulanya lagi.


Saat ini Aira sedang duduk santai sambil memangku Ezar di bawah terik mentari pagi di samping kolam renang. Kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap hari.


Tangan Aira mengusap lembut kepala bayi mungilnya yang kini sedang di alam mimpi. Ia pandangi wajah putranya dengan seksama. Wajah polos, tenang dan teduh itu selalu membuat hatinya terasa damai.


Seiring berjalannya waktu, matahari semakin menyengat dan menyilaukan membuat Ezar mulai mengerjapkan matanya hingga terbukalah kelopak matanya dengan sempurna bersamaan dengan tangisan khas bayi yang langsung melengking keluar dari sepasang bibir mungilnya.


" Hai sayang... Iya, iya. Udah panas ya ?. Iya kita masuk ya..." Aira mengajak bicara pada putranya juga dengan tubuhnya yang bangkit dari duduknya.


" Tania. Kamar Ezar sudah di beresin? ." Tanyanya pada baby sitter Ezar yang sedari tadi berada di dekatnya.


" Sudah nyonya. "


" Baiklah. Terima kasih. Kamu kalo mau istirahat, silahkan. Biar Ezar bersamaku. "


" Iya , Nyonya. "


Keduanya berpisah setelah Aira masuk ke dalam kamar Ezar. Aira meletakkan Ezar penuh hati-hati di atas tempat tidurnya begitupun dirinya yang ikut berbaring di sampingnya. Ezar yang mulai mengerti dengan ibunya langsung mendekat ke tubuh Aira. Iya. Apalagi yang dibutuhkan seorang bayi lima bulan selain sumber kehidupannya ?.


" Uhhh kasian anak mommy laper yaa ?. " Aira mengusap lembut wajah putranya yang kini sedang fokus menikmati sumber kehidupannya.


Aira termenung. Hal yang akhir-akhir ini selalu ia lakukan. Entah apa yang membuat hatinya selalu hampa sedemikian?. Ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tapi apa ?.


Apakah sebuah kebahagiaan?. Tentu saja tidak. Karena selama ini ia merasa sangat bahagia hidup bersama anak dan suaminya. Lalu apa ?.


Apa karena kondisinya yang kini sedang hilang ingatan sehingga ia merasa hatinya sangat kosong?. Jika memang benar iya. Semoga proses penyembuhan nya segera membuahkan hasil. Agar dirinya bisa ingat lagi semua memori yang telah ia lupakan.


Kecupan singkat di pipi membuat lamunannya terhenti. Aira mendongak dan mendapati Akhtar yang kini duduk di samping tubuhnya dengan bibir tersenyum manis. " Mas. "


" Lagi ngelamunin apa, Hem ?." Tanya Akhtar dengan mata lekat menatap wajah Aira juga tangan kanan yang mengusap lembut surai hitam Aira lalu beralih pada pipi Ezar.

__ADS_1


" Aku nggak lagi ngelamunin apa apa, mas. "


" Jangan bohong. Mas liat kamu lagi ngelamun tadi. Ada apa ?. Ayo cerita. Mas siap dengerin. Atau... Apa itu ada hubungannya dengan Ezar ?. Apa Ezar menyakiti kamu ketika sedang seperti ini?. " Akhtar berbicara panjang lebar seolah tidak ada rem, membuat Aira mendengus kesal.


" Mas, ihh !. Apaan sih. Aku nggak papa dan gak ada hubungannya juga sama Ezar. Tadi aku cuma kepikiran, kapan sekiranya aku bisa mengingat segalanya lagi. Udah itu aja. " Tatapan Aira kembali ke wajah putranya yang sedang tertidur pulas.


Akhtar terlihat menghembuskan nafasnya perlahan. Entah apa maksud dari sikapnya itu karena Aira tidak mengerti dan memang hanya author saja yang tahu.


" Ai. "


" Hemm ?. "


" Apa kamu sangat ingin ingatan kamu kembali ?. " Suara Akhtar terdengar sangat lirih tapi Aira masih bisa mendengarnya.


" Tentu saja. Aku sangat sangat ingin mengingat segalanya lagi. " Ucap Aira sungguh sungguh. Setelah mengucapkan kata-kata demikian Aira merasakan tubuhnya langsung di peluk erat oleh tangan kekar Akhtar.


Tanpa kata. Akhtar hanya memeluknya dalam diam.


" Mas. Kamu kenapa ?. " Tanyanya bingung dengan sikap Akhtar yang memang sedikit aneh.


" Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. " Jawab Akhtar yang masih mengeratkan pelukannya.


Aira bangkit duduk setelah membenahi posisi tidur Ezar lalu menatap wajah Akhtar yang sangat dekat dengannya.


" Mas. Kamu kenapa ?. Kamu gak biasanya seperti ini. "


" Kita ke kamar yuk ? " Ucap Akhtar dan mendapatkan anggukan kepala Aira.


Keduanya keluar dari kamar Ezar dengan tangan yang saling bertautan hingga memasuki kamarnya sendiri. Setelah keduanya masuk, Akhtar langsung menutup pintu dan menguncinya. Aira menautkan kedua alisnya,  merasa bingung dengan sikap Akhtar saat ini.


" Mas. Ada apa ?. " Tanya Aira lagi. Namun bukannya menjawab, Akhtar malah tersenyum. Senyuman yang terasa asing di penglihatan Aira. Hingga sesuatu membuat Aira terpekik karena Akhtar membawa tubuhnya di atas tempat tidur.


" Mas. Kamu mau apa ?!. " Aira sedikit panik ketika mulai menyadari sesuatu hal.


" Menurut kamu aku mau apa, Ai ?. " Akhtar kembali tersenyum seperti tadi.

__ADS_1


" Mas. Kita sudah sepakat tidak akan melakukannya sampai aku ingat semuanya, kan ?. Jangan seperti ini, mas. Aku mohon... " Aira sudah kelabakan dengan sikap Akhtar.


" Aku menyudahi kesepakatan kita. Aku menginginkan nya, Ai. Kau menyiksaku sampai lima bulan lebih. Jahat sekali istriku ini. " Ucap Akhtar lirih tepat di telinga Aira.


" Iya. Aku tau aku salah. Tetapi kamu sudah berjanji waktu itu, mas... Kamu tidak boleh melakukan nya... !. " Mata Aira sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa tetes sudah menetes dari sudut sudut matanya.


Namun sayang. Akhtar tetap pada pendiriannya. Dia tidak mengindahkan permohonan Aira sama sekali. Hingga satu hal yang paling dihindari oleh Aira tetap terjadi.


" Aww. !!."


" Aira...?."


___________


Aira membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan bernuansa putih. Tatapan matanya memonitor seluruh penjuru ruangan.  Ia sedikit meringis karena merasakan sesuatu seakan menusuk punggung tangannya, lalu perlahan melihat tangannya sendiri.


Infus ?.


Aira kembali menatap sekelilingnya namun tetap saja. Sepi. Ia hanya sendirian di ruangan ini sebagai seorang pasien yang sakit dan tidak didampingi oleh siapapun. Ia mencoba memikirkan sesuatu yang mungkin terjadi sehingga dirinya bisa sampai dirawat seperti ini. Tapi baru beberapa detik ia mencoba berpikir, seseorang sepertinya membuka pintu.


Aira menoleh ke arah pintu yang berderet terbuka lalu mulai memunculkan seseorang di sana.


" Ai. Kamu sudah sadar, sayang ?." Langkah kaki itu mendekati tubuhnya. Melihat pria itu membuat Aira langsung membuang muka.


Tangan Akhtar terasa sedang mengusap lembut rambutnya. Lalu beralih pada pipinya. "Sayang..." Panggil Akhtar namun tidak di respon sama sekali oleh Aira. " Ai. " Akhtar bersuara lagi dan tetap sama. Aira masih diam dengan wajah yang membelakangi Akhtar.


" Pergi. " suara Aira terdengar sedikit serak.


" Sayang..."


" Pergi. "


Akhtar membuang nafasnya berat. " Baiklah. Aku akan pergi. Tapi aku tidak benar-benar meninggalkanmu. Kalau kamu butuh sesuatu, aku ada di depan, yaa. Kamu tidak panggil aja. " Ucap Akhtar mengalah. Satu ciuman singkat ia daratkan di kening Aira lalu keluar dari kamar.


Setelah kepergian Akhtar, Aira kembali pada posisi semula. Untuk saat ini ia masih marah atas sikap Akhtar waktu itu. Iya. Aira sudah mengingatnya.

__ADS_1


Next Time.....😇😇🙏🏻


semangat untuk membaca kelanjutannya ya Readers 😊😊😊😊


__ADS_2