Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Pertemuan tak sengaja


__ADS_3

Genap satu tahun dari hilangnya Azrinna. Aqlan sudah di ambang batas kesabaran dalam menunggu. Apalagi jika dirinya pulang ke rumah orangtuanya. Mereka selalu gencar menyudutkan Aqlan untuk menceraikan istrinya itu. Istri yang bahkan sekalipun tidak pernah ia genggam tangannya, tidak pernah ia kecup keningnya dan memberikan nafkah dhohir maupun bathin. Azrinna hanyalah istri dalam bayangan saja.


Dan keputusannya sudah bulat. Ia tidak bisa hidup dalam ketidakpastian. Ia membutuhkan seseorang yang nyata hadir. Ia membutuhkan seorang ibu sungguhan untuk sang putra. Meski berat Aqlan harus memutuskan nya segera dan memulai kehidupannya yang baru dengan keluarga kecilnya nanti.


Aqlan bangkit dari duduknya di bangku taman karena memang sekarang ia sedang menemani Raffa bermain di taman ini.


" Raffa. Ayo pulang !. "


" Iya, yah !." Raffa berlari ke arah ayahnya.


Bocah kecil yang belum genap berumur tujuh tahun itu tiba-tiba membelokkan haluan larinya ke samping kanan. Aqlan yang kebingungan langsung berlari membuntut kemana Raffa akan pergi.


Dari kejauhan, Raffa terlihat sedang berjongkok di hadapan seorang wanita yang duduk di tanah yang sedikit basah. Jika dilihat dari posisinya, wanita itu sepertinya terjatuh dan Raffa berusaha menolongnya.


" Tante. Tante tidak apa-apa kan ?. "


" Iya, dek. Tante tidak apa-apa. Makasih ya. Kamu anak yang baik " ucap wanita itu seraya mengusap lembut kepala Raffa.


Raffa membantu wanita itu untuk bangkit dari duduknya.


" Awwh !!." Pekik wanita itu.


Raffa yang sebenarnya kurang faham jadi panik sendiri melihat tantenya itu seperti sedang kesakitan. Apalagi tangan wanita itu tampak mencengkeram erat perutnya sendiri.


" Mommy !.."  seorang anak kecil yang sepertinya baru bisa berjalan itu menghampiri wanita Yang ada di hadapan Raffa dan memeluk erat leher mommynya juga tangisan melengking khas anak kecil. " Mommy.."


" Heyy, sayang. Iya mommy disini..."


" Nyonya. Apa yang terjadi dengan anda ?!." Seorang wanita dengan pakaian seperti seorang pelayan atau lebih mirip seperti suster itu menghampiri majikannya.


" Aku terpeleset. " Ucap wanita itu.


Raffa semakin kebingungan dengan keadaan yang ada di hadapannya ini dan Aqlan yang menyadarinya langsung ikut bergabung.


" Permisi.." ucap Aqlan. Membuat semuanya langsung menoleh ke arah nya.


" Ayah. "


" Mari saya bantu, nona.." Aqlan mengulurkan tangannya berniat untuk membantu wanita itu.


" Tidak. Terima kasih atas kebaikan tuan, juga anak tuan. Tapi biarkan saya seperti ini dulu. Putra saya sepertinya belum tenang. " Ucap wanita itu meminta pengertian.


" Ouh baiklah. "


" Iya. " Ucap wanita itu dan kembali menenangkan tangisan anaknya yang perlahan mulai mereda. Bahkan tertidur di atas pangkuan mommy nya.


Wanita yang berjongkok tidak jauh dari majikannya itu langsung mengambil alih tuan kecilnya.


Aqlan kembali mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu dan wanita itu menerima bantuan nya. Saat hendak bangun wanita itu kembali terpekik lalu mencengkeram erat perutnya lagi.


" Hahh... Tania, perutku..." Ujarnya sambil meringis kesakitan.


Semua orang langsung panik. Aqlan yang memang tidak tega langsung mengusulkan untuk dibawa ke rumah sakit dan wanita yang sedang menahan sakit di perutnya itu hanya bisa mengangguk pasrah.


Aqlan langsung membawa wanita itu dalam gendongannya dan memasukkannya ke dalam mobil dengan posisi Raffa duduk di samping kursi kemudi dan wanita serta pelayannya itu duduk di kursi penumpang.


Dengan kelajuan sedikit cepat akhirnya perjalanan sampai di rumah sakit. Aqlan keluar lebih dulu dan memanggil bantuan. Tak lama ia kembali bersama dua orang perawat yang juga membawa brankar.


Aqlan membantu mengeluarkan wanita itu dari dalam mobil karena keadaannya sudah pingsan selama di perjalanan tadi. Setelah wanita itu sudah di atas brankar langsung di dorong ke ruang IGD.


" Mommy... Mommy..."


" Iya, Ezar... Mommy nya gak papa. Ezar jangan nangis yaa."


Aqlan melihat bagaimana usaha pelayan itu menenangkan anak majikannya tapi tidak juga berhasil. Aqlan mengajak Raffa menghampiri anak kecil bernama Ezar tersebut.


" Hai Ezar..." Sapa Raffa dengan senyum ngembangnya.


Ezar yang disapa malah menyembunyikan wajah di pundak pengasuhnya.


" Maaf, tuan muda memang seperti ini kalau bertemu orang baru. "

__ADS_1


Aqlan mengangguk memaklumi. " Iya, tidak apa-apa. Raffa, jangan di ganggu adeknya. "


"Iya, ayah. " Ucap Raffa menurut.


" Maaf.  mbak sudah menghubungi suaminya?."


" Sudah, tuan. "


" Baiklah. "


Suasana hening dengan masih cemas menunggu hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan untuk wanita yang ditolongnya tadi.


Aqlan menoleh ke arah Raffa. " Raffa haus gak ?."


" Iya, ayah. "


" Ya udah. Kita keluar cari minuman yuk ?."


Raffa mengangguk.


" Maaf mbak. Kami tinggal dulu ingin mencari minuman. Mbak mau sekalian nitip?. " Tanya Aqlan ramah pada wanita yang ia tahu bernama Tania itu.


" Oh. Tidak, terima kasih. Tidak usah tuan. "


" mbaknya memang tidak haus?." Tanya Aqlan lagi.


Tania menggeleng lalu mengangguk. Apa maksudnya itu ?. Setelah menggeleng lalu mengangguk?.


" Jadi gimana?."


" Terima kasih tawaran nya, tuan. Saya tidak haus."


" Ouh. Baiklah. Kami pergi dulu. Tidak apa-apa kan di tinggal ?."


" Iya. Tidak apa-apa, tuan. "


__________


Setelah melakukan perjalanan yang cukup singkat, Akhtar akhirnya sampai juga di rumah sakit. Entah apalagi yang membuat Aira sampai masuk rumah sakit lagi ?. Hatinya benar-benar cemas saat Tania memberitahukan bahwa Aira di rumah sakit tadi. Akhtar melangkah lebar menuju ruang IGD karena kata Tania Aira masih dilakukan pemeriksaan di ruangan tersebut.


Panggilan itu membuat langkah kaki Akhtar terhenti. Akhtar menoleh ke arah suara dan mendapati dokter pribadi Aira.


" Dok. "


" Maaf mengganggu perjalanan anda. Ada apa ini kenapa Anda terlihat sangat buru buru?."


" Aira masuk ke rumah sakit, dok. "


" Apa ?!."


" Maaf, dok saya harus melihat istri saya dulu. "


" Iya. Silahkan tuan Akhtar. Semoga istrinya baik baik saja. "


" Iya. "


Akhtar kembali melanjutkan langkahnya menuju area ruang IGD. Saat sampai, ia melihat Tania duduk di kursi tunggu dan putranya yang tertidur pulas di pangkuan pengasuhnya itu. Tania langsung bangkit saat melihat kedatangan tuannya dan itu membuat tidur Ezar terganggu. Ezar langsung menangis kencang.


" Tu-tuan. Maaf..." Ujar Tania menundukkan kepalanya.


" Daddy....!" Ezar yang sudah melihat kedatangan daddy-nya langsung minta di gendong.


Akhtar membawa Ezar pada gendongannya. "Jelaskan ! ?. " Akhtar menatap tajam pengasuh putranya itu.


" Maaf, tuan. Saya juga kurang paham. Tadi saya menemani tuan muda bermain sedangkan nyonya duduk di bangku taman. Dan saat tuan muda meminta untuk menemui mommynya, ternyata Nyonya lagi duduk di tanah. Nyonya terpeleset, tuan.." terang Tania.


Akhtar meraup wajahnya kasar.


Apakah Azrinna akan mengalami terus hal seperti ini jika tidak bersamaku, ya Tuhan... batinnya.


Pintu ruangan itu terbuka dan memunculkan seorang dokter di sana.

__ADS_1


" Dok. Bagaimana keadaan istri saya ?!." Tanya Akhtar panik.


" Mari, ikut ke ruangan saya tuan. "


Akhtar mengangguk dan mengikuti langkah dokter tersebut yang katanya akan ke ruangannya.


"Silahkan duduk dulu, tuan. " Ujar dokter saat sudah sampai di ruangan milik dokter itu.


" Maaf sebelumnya, tuan. Saya akan bertanya dulu. Apakah pasien mengkonsumsi obat yang sedikit berbahaya?."


" Ma-maksudnya gimana, dok?. Saya kurang mengerti."


" Baiklah. Apa anda sering mendapati istri anda mengalami kesakitan yang berlebihan pada area perutnya?." Tanya dokter itu lagi.


Akhtar terdiam dan mencoba mengingat apakah Aira pernah mengalami hal yang dipertanyakan. Setelah di fikir fikir, akhirnya Akhtar mengingatnya.


" Iya, dok. Istri saya akhir akhir ini sering merasakan sakit di perutnya. Ada apa ya dok ?."


" Itu karena istri anda mengalami kehamilan yang lemah. Jadi dia akan mengalami kesakitan di perutnya bahkan bisa sampai pingsan. "


" Hamil ?. Maksud dokter, istri saya sedang hamil ?!." Tanya Akhtar antusias.


" Iya. Usia kehamilannya sudah mencapai sembilan Minggu. Jadi, tuan tidak tahu kalau istrinya sedang hamil?. " Tanya dokter yang sepertinya paham akan sikap keluarga pasiennya ini.


" Iya. Saya tidak tahu sama sekali, dok. "


" Baiklah. Tidak apa-apa. Hal seperti ini memang hal wajar karena sering terjadi. "


" Iya, dok. "


" Iya. Tadi saya bertanya apakah istri anda mengonsumsi obat yang memiliki efek samping berlebihan ?."


" Istri saya sedang mengalami amnesia, dok. Jadi dia sering meminum obatnya. Tapi di minumnya hanya ketika kepalanya sakit saja, menurut petunjuk dari dokternya. " Jawab Akhtar. Bukan sepenuhnya ia berbohong. Karena memang Aira sedang mengalami amnesia, tapi obat yang dikonsumsi Aira bukanlah obat agar Aira sembuh dari amnesianya. Melainkan obat yang justru membuat Aira tetap tidak bisa mengingat segalanya. Iya. Seorang dokter yang ia temui tadi di lobi adalah dokter yang meresepkan obat untuk dikonsumsi Aira saat ini.


" Memang benar. Obat semacam itu memang sedikit berbahaya karena memiliki efek samping yang ditakutkan. Jadi, saya sarankan agar istri anda menghentikan dulu mengkonsumsi obat tersebut, karena dikhawatirkan akan bermasalah dengan janinnya. "


" Baiklah, dok. Saya akan menyuruhnya berhenti mengonsumsi obat itu lagi. "


" Iya. Sebaiknya seperti itu. Tapi jika kehamilannya sudah normal kembali, pasien boleh meminumnya lagi, jika memang masih memerlukan nya. "


" Kira kira kapan kemungkinan kehamilan nya bisa normal kembali, dok ?. "


" Di usia trimester kedua biasanya si janin akan lebih kuat. Dan di waktu ini juga kemungkinan besar, janin pasien sudah mengalami keadaan normal. "


" Baiklah. Terima kasih, dok. Kalau begitu saya permisi, dok. "


"Iya. Pasien juga akan segera dipindahkan ke ruang inap biasa. "


" Iya, dok. "


Akhtar keluar dari ruangan dokter Lukman lalu kembali menuju area ruang IGD. Saat kaki nya semakin melangkah mendekat, wajah itu membuat langkahnya terhenti.


Meski tidak pernah melihatnya. Ia yakin bahwa pria yang sedang duduk bersama Tania itu adalah Aqlan, suaminya Azrinna.


Alih alih menghampiri mereka, Akhtar berbalik arah dan melangkah gontai menuju keluar rumah sakit. Tanpa sadar kakinya membawa ia ke taman rumah sakit. Akhtar mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku. Pikirannya tidak tentu setelah melihat Aqlan. Ia takut jika Aqlan malah membawa Aira bersamanya. Ia tidak ingin itu terjadi. Akhtar menghubungi asistennya untuk datang. Dan selang beberapa menit, Eiriek sudah bergabung duduk bersama nya.


" Ada apa lagi ?." Tanya Eiriek tanpa basa-basi.


" Aqlan ada di sini. Dia yang membawa Aira kesini. "


" Seriusan ?!."


" Apa kau melihat ketidakseriusan ku?.''


" Baiklah. Iya kau memang serius."


" Jadi aku harus bagaimana, Eir?. "


" Bagaimana keadaan Azrinna?." Bukannya menjawab pertanyaan Akhtar, Eiriek malah memberi pertanyaan.


" Aira baru saja di periksa dan dia mengalami kehamilan lemah." Jawab Akhtar lirih.

__ADS_1


" Azrinna hamil ?!." Tanya Eiriek lagi. Dan hanya di angguki oleh  Akhtar.


" Kehamilannya lemah karena efek samping dari obat yang diberikan dokter Lukman. "


__ADS_2