
Tatapan mata Akhtar tak luput dari wajah Aira. Memperhatikan bagaimana Aira tersenyum manis pada putranya, bagaimana menghangatkannya hatinya melihat celotehan lucu Ezar yang bermain dengannya.
Akhtar tersenyum namun hatinya menangis, membayangkan jika seandainya Aira ingat kembali segalanya, lalu bagaimana nasib Ezar nantinya?. Sungguh ia tidak sanggup jika Ezar kehilangan kasih sayang Aira sebagai ibunya.
Dua orang waitress datang membawakan pesanan keduanya dan menatanya di atas meja. Mata Aira langsung berbinar melihat piring pesanannya. Apalagi melihat betapa menggiurkan nya cumi yang ia pesan tadi. Aira menoleh ke arah Akhtar yang ternyata juga sedang menoleh padanya.
" Ai. "
" Mas. "
Kekehan langsung muncul dari mulut keduanya. Merasa lucu sekaligus bingung. Karena ternyata satu pemikiran.
" Biar mas yang suapin kamu. Kamu, udah mangku Ezar aja. " Putus Akhtar akhirnya.
" Nggak papa ?. Nanti mas kerepotan..." Tanya Aira ragu.
" Iya, gak papa, sayang. Jadi, sekarang kita mulai makannya, ya? ."
Aira mengangguk sambil tersenyum. Akhtar mulai menyuapkan cumi merah ke mulut Aira dengan sangat telaten dan sesekali memasukkan makanan ke mulutnya sendiri. Keduanya makan bersama dengan hanya tangan Akhtar saja yang sibuk membuat suasana romantis tercipta di sana. Dan tentu saja momen ini tak luput dari mata pengunjung lainnya. Mereka melihat ke arah keduanya dengan tatapan kagum sekaligus bawa perasaan tersendiri.
Meski di dalam mulutnya terdapat makanan yang ia kunyah, senyum Aira juga tak pernah luput dari menghiasi wajah cantiknya itu. Pun dengan Akhtar yang masih saja menunjukkan perhatiannya.
" Mas. "
" Hem ?. "
Aira menatap lekat wajah Akhtar. Hatinya menghangat mendapati sikap Akhtar yang demikian. Perhatian Akhtar akan dirinya membuat ia semakin mencintai sosok pria romantis tersebut.
" Makasih. " Ucap Aira akhirnya.
" Makasih untuk apa lagi, Hem ? ." Akhtar sedikit mencondongkan tubuhnya ke tubuh Aira.
" Perhatianmu. Mas selalu memberikan yang terbaik untuk ku. "
Tangan Akhtar yang cukup bersih terangkat dan mendarat di puncak rambut panjang Aira. Mengusapnya lembut penuh kasih sayang.
" Kamu adalah yang paling terindah untuk mas. Jadi mas akan melakukan apapun untuk mu, sayang. " Jawab Akhtar yang semakin membuat senyum Aira merekah. " Habis ini mau kemana lagi, sayang ?." Tanya Akhtar kemudian.
" Aku mau ke pantai nya, mas. Tapi..." Aira melirik ke arah Ezar yang sedang duduk tenang di pangkuannya. " Kasian Ezar nanti kepanasan." Lanjutnya.
" Hmm gimana kalo ke pantainya sore ?. Biar gak panas. " Tanya Akhtar.
" Tapi sekarang masih siang, mas. Apa kita akan bolak balik ke sini ?."
" Tidak perlu. Kita bisa nginep di salah satu resort di sini. "
" Beneran, mas ?!."
" Iya, sayang..."
" Makasih, mas. "
Selesai makan, Akhtar menghubungi salah seorang bawahannya untuk mencarikan resort yang akan ia tinggal bersama keluarga kecilnya di area sini. Hanya menunggu beberapa menit akhirnya bawahannya itu menghubungi Akhtar kembali dan memberitahukan bahwa apa yang diperintahkan oleh Akhtar sudah dijalankan.
Akhtar mengajak Aira keluar dari restoran dan kembali melajukan mobilnya menuju resort yang sudah di kabarkan. Setelah memasuki gerbang bangunan untuk menginap itu dua orang yang tadi diberi perintah oleh Akhtar menghampiri keduanya.
" Selamat siang, Tuan, Nyonya. " Mereka ramah menyapa.
__ADS_1
" Apa sudah beres? ." Tanya Akhtar.
" Sudah, Tuan. Tuan dan keluarga bisa segera istirahat. "
" Baiklah. Terima kasih. Kalian bisa kembali ke kesibukan kalian lagi ."
" Iya, tuan. Kami pergi dulu. "
" Iya. "
Sepeninggalan kedua orang bawahannya, Akhtar menggandeng tangan Aira masuk ke dalam resort yang sudah di sewanya.
Dengan dipandu pelayan resort, langkah keduanya menuju lantai dua di mana di sanalah kamar utama dalam resort ini. Setelah sampai di depan pintu, Akhtar membukanya perlahan hingga tampaklah ruangan bernuansa putih bersih dengan interior elegan dan melekat di setiap barang barang nya.
" Ayo, sayang ?.."
Aira mengangguk. Dan mengikuti langkah Akhtar memasuki kamar dan menutup pintunya. Aira meletakkan Ezar yang sudah terlelap di atas tempat tidur begitupun dirinya yang duduk di tepian ranjang. Mata Aira tertuju pada kaca besar yang berukuran seperempat dari ruangan persegi tersebut. Di balik kaca itu terlihat hamparan air laut yang membiru juga pasir pantai berwarna putih.
Aira bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati kaca tersebut. Sebatas mata memandang, membuat ia melamun dengan keterpesonaannya. Hingga lilitan di perutnya membuat Aira menoleh dan mendapati wajah Akhtar yang berada tepat di bahunya. Akhtar tersenyum menawan menatap wajah nya.
" Mas. "
" Kamu suka, sayang ?."
Aira mengangguk antusias. " Iya. Aku sangat menyukainya, mas. " Jawab Aira yang juga ikut tersenyum.
Lalu kedua pasang mata itu kembali menatap keindahan di balik kaca besar tersebut masih dengan posisi yang sama. Bahkan Akhtar sedikit semakin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Aira. Membenamkan wajahnya pada rambut panjang Aira yang sangat harum mewangi.
Selama lima belas menit keduanya dengan posisi sama dan untuk menit menit selanjutnya, Akhtar mengajak Aira untuk istirahat. Keduanya terlelap bersama dengan sang putra sebagai pemisah.
Matahari semakin menyingsing menuju arah barat hingga semburat merah menjuru ke segala arah. Mata Aira mulai mengerjap pelan dan lama kelamaan kedua kelopak mata tersebut mulai kembali terjaga.
" Kamu habis mandi, Ai?."
" Iya, mas. Tadi badannya gak enak banget, jadi mandi. " Aira duduk di samping Akhtar dan mengambil alih Ezar lalu meletakkannya di pangkuan.
" Kamu ingin meny*s*i Ezar lagi, Ai ?."
" Iya, mas. Gak papa, kan ?. "
" Iya, kalo Ezar nya masih mau minum ASI, memang lebih baik. "
Aira tersenyum dan mengangguk lalu memulai memberikan ASI nya lagi pada Ezar. Meski sudah sudah tiga Minggu Ezar tidak minum ASI, tapi putranya itu ternyata masih sangat suka dengan ASI nya. Bahkan Ezar terlihat sangat lahap menyedot sumber kehidupannya.
Aira sedikit meringis, mungkin efek dari tidak memberikan ASI nya membuat bagian dari tempat keluarnya ASI itu terasa keram. Apalagi Ezar menghisapnya dengan sangat keras.
Akhtar yang masih di posisi semula hanya bisa menyaksikan bagaimana Aira terlihat sedikit kesakitan memberikan ASI nya pada sang putra.
" Sakit ya?. " Tanya Akhtar dengan mata masih memperhatikan Ezar yang masih terfokus pada sumber kehidupannya.
" Sedikit. Mungkin karena sudah tiga minggu Ezar tidak minum ASI ku jadi rasanya sakit kram. " Jawab Aira yang juga dengan tatapan mata terfokus pada wajah Ezar.
Akhtar mengusap lembut wajah putranya. "Jangan keras-keras minumnya boy. Kasihan mommy mu kesakitan.." ucap nya pada sang putra. Lalu mengecup singkat pipi tembem Ezar dan beralih mencium lama kening Aira.
Keduanya saling bertatapan dengan senyuman manis di bibir. " Aku mau mandi dulu. Setelah itu kita akan ke pantai setelah aku selesai. "
" Iya, mas. "
__ADS_1
Akhtar bangkit dari duduknya dan melenggang memasuki kamar mandi meninggalkan Aira yang masih memberikan ASI nya pada sang putra. Aira kembali menatap wajah Ezar yang masih menikmati Sumber kehidupannya.
" Anak mommy haus banget ya ?. Hem ?. " Jari Aira membelai lembut pipi Ezar. Ezar sedikit mendongak. Matanya menatap lekat wajah sang ibu.
_____________
Keindahan alam Senja menghiasi langit cakrawala. Semilir angin yang terus berhembus mengibarkan rambut panjang Aira yang tergerai bebas. Juga pakaian ketiganya.
Aira berjalan menyusuri pasir pantai tanpa alas kaki dan tangan kiri bertautan dengan jemari tangan kanan Akhtar karena tangan kanan Akhtar menggendong sang buah hati.
Setelah lelah berjalan keduanya meregangkan otot-otot kaki dengan berselonjor di atas hamparan pasir putih. Keduanya duduk bersisian sambil menikmati keindahan ombak ombak pantai.
Akhtar mendudukkan Ezar di atas pasir. Membuat bocah itu semakin ceria karena semakin bebas dengan kebahagiaannya.
" Mas, emang nggak papa Ezar mainan pasir ?." Tanya Aira yang sedikit kaget dengan apa yang dilakukan Akhtar pada putranya.
" Tidak apa-apa. Yang penting di jagain. "
Aira melihat Ezar yang semakin gembira bermain pasir hanya bisa mengangguk pasrah.
Sepasang orang tua muda itu sangat antusias meladeni permainan Ezar yang baru berusia enam bulan. Canda tawa terlontar dari ketiganya. Apalagi cekikikan kecil yang keluar dari mulut Ezar, membuat Akhtar dan Aira semakin di buat gemas saja.
Tak terasa waktu semakin larut. Matahari juga sudah berada di peraduannya sehingga suasana semakin gelap dan hanya menyisakan semburat Oren di langit malam juga hembusan angin yang semakin kencang.
Ketiganya kembali ke resort yang tadi. Setelah sampai Aira langsung membersihkan tubuh sang putra dari kotoran yang di dapat di pantai tadi.
" Mas. Sana mandi dulu gih. Biar bisa gantian."
" Iya, iya. " Akhtar yang tadinya sedang asik mengganggu Ezar yang sibuk di urusi Aira akhirnya pasrah lalu melangkah ke arah pintu kamar mandi.
Bersamaan setelah rapi dan wanginya sang putra Akhtar juga keluar dari kamar mandi. Akhtar menghampiri Aira yang masih sibuk membereskan perlengkapan bayi bekas di pakai oleh putranya itu. " Sini. Biar mas aja. Kamu bersihkan tubuh kamu dulu. " Ujarnya.
" Iya, ini tanggung udah mau selesai, mas. " Jawab Aira dan beberapa detik setelahnya Aira sudah memasuki kamar mandi.
Akhtar bergabung bersama Ezar yang bermain di atas tempat tidur. Tangannya yang iseng mengerjai sang putra dengan mengambil mainannya membuat Ezar langsung menangis.
"Ehh. Kok nangis sih boy ?!. Ini sayang. Ini mainannya, udah ya jangan nangis lagi... " Akhtar sedikit panik karena ternyata Ezar menangis oleh ulahnya. Akhtar membawa Ezar ke dalam gendongannya tapi tetap saja tangis Ezar belum juga mau reda. Membuat Akhtar menjadi frustasi saja.
Akhtar akhirnya menyerah dan mengetuk pintu kamar mandi. " Ai. Kamu masih lama ?!." Ujarnya sedikit mengeraskan suara.
" Iya, iya. Ini mau keluar, mas !." Jawab Aira yang paham dengan kondisinya. Tak lama Aira membuka pintu kamar mandi dan langsung mengambil alih Ezar yang masih terus menangis di gendongan Akhtar.
" Uhhh sayang..ini mommy Ezar. Udah yaa nangisnya..." Ujar Aira sambil menimang-nimang putranya agar berhenti menangis. Dan benar saja. Tangis Ezar mulai mereda setelah berada di tangan sang ibu. Tapi masih tetap menyisakan isakan tangisnya.
Aira duduk di tepi ranjang dan langsung memberikan ASI nya pada Ezar agar tangis Ezar benar benar reda.
Akhtar juga ikut duduk di samping Aira. " Tadi aku iseng mengambil mainannya jadi nangis..." Cicit Akhtar yang merasa bersalah dan dengan wajah sendunya. Tapi justru itu membuat Aira ingin tertawa ketika melihat wajah sang suami tercintanya itu.
" Kamu lucu sekali sih, mas ?!. "
" Ehh ?." Akhtar terpekik bingung.
Tawa Aira akhirnya pecah juga. Dan itu membuat Akhtar tersadar. Akhtar yang telah paham dengan kelakuan istrinya langsung melayangkan balasannya. Tangannya dengan jail menggelitik pinggang ramping Aira, membuat gadis itu kewalahan karena tertawa di tambah ada Ezar yang sedang menyusu padanya.
Satu hal yang dilupakan oleh Akhtar dan Aira karena terlalu asik dengan kejahilannya. Karena tadi terlalu panik saat mendengar tangisan sang putra juga panggilan dari Akhtar yang sepertinya sudah kewalahan menenangkan Ezar agar berhenti menangis, Aira keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya dan hanya menutupi sebatas dada sampai lutut saja. Dan karena kejahilan Akhtar sekarang, handuk itu jadi tergeletak sembarangan.
" Mas !!!. "
__ADS_1
" Ai ??. "