
Meski tidak pernah melihatnya. Ia yakin bahwa pria yang sedang duduk bersama Tania itu adalah Aqlan, suaminya Azrinna.
Alih alih menghampiri mereka, Akhtar berbalik arah dan melangkah gontai menuju keluar rumah sakit. Tanpa sadar kakinya membawa ia ke taman rumah sakit. Akhtar mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku. Pikirannya tidak tentu setelah melihat Aqlan. Ia takut jika Aqlan malah membawa Aira bersamanya. Ia tidak ingin itu terjadi. Akhtar menghubungi asistennya untuk datang. Dan selang beberapa menit, Eiriek sudah bergabung duduk bersama nya.
" Ada apa lagi ?." Tanya Eiriek tanpa basa-basi.
" Aqlan ada di sini. Dia yang membawa Aira kesini. "
" Seriusan ?!."
" Apa kau melihat ketidakseriusan ku?.''
" Baiklah. Iya kau memang serius."
" Jadi aku harus bagaimana, Eir?. "
" Bagaimana keadaan Azrinna?." Bukannya menjawab pertanyaan Akhtar, Eiriek malah memberi pertanyaan.
" Aira baru saja di periksa dan dia mengalami kehamilan lemah." Jawab Akhtar lirih.
" Azrinna hamil ?!." Tanya Eiriek lagi. Dan hanya di angguki oleh Akhtar.
" Kehamilannya lemah karena efek samping dari obat yang diberikan dokter Lukman. "
________
Akhtar menghampiri Aira yang duduk di ranjang dengan punggung bersandar bantal. Saat sampai Akhtar mendaratkan kecupannya di kening Aira. " Kamu sudah sadar, sayang..." Ucapnya.
" Iya, mas. Mas dari mana saja ?." Tanya Aira yang mulai merajuk.
Akhtar tersenyum kaku mengecup semua bagian wajah Aira tanpa terkecuali.
" Mas, ihhh !!. " Tangan Aira memukul mukul dada Akhtar karena kesal. " Mas, geli!." Ucapnya lagi.
Akhtar menghentikan tingkahnya, menatap wajah Aira dengan senyuman. " Makasih, sayang. Baik baik ya. Jangan ceroboh lagi, nanti anak kita Kenapa-napa kalo sampai kejadian tadi terulang kembali. " Nasihat Akhtar serius.
" Anak kita, mas ?. Apa aku...?."
" Iya. Kamu sedang hamil. Usia kandungannya sudah sembilan Minggu, sayang."
" Mas !!. " Aira langsung menghambur pelukan ke tubuh Akhtar, suaminya. Entah mengapa air matanya tiba-tiba meluncur begitu deras. Akhtar yang menyadari bahwa saat ini Aira menangis kembali melepaskan rengkuhannya.
" Kok nangis sih ?." Akhtar menyeka air mata yang sudah membasahi pipi Aira.
Alih-alih menjawab malah kembali menelusupkan wajahnya di dada bidang Akhtar. Bahkan Aira semakin menangis sesenggukan di dalam rengkuhan lengan Akhtar. Akhtar hanya bisa berdiam menunggu tangisan Aira mereda. Dan setelah lelah menangis selama lima menit akhirnya Aira kembali memunculkan wajahnya.
" Mas..."
" Hem ?. Iya kenapa sayang?. Kenapa kamu menangis?."
" Mas, aku tidak mau hamil..." Aira berucap lirih dengan wajah menunduk penuh.
" Kenapa ?. Kenapa kamu tidak mau hamil, Ai ?. Kamu tahu kenapa aku sering meminta melakukan itu ?. karena aku ingin kamu cepat hamil. Dan sekarang, setelah keinginan ku terpenuhi, kamu malah bilang tidak mau hamil ?. Kenapa, sayang...?"
" Ezar masih terlalu kecil..."
" Bukan itu. Aku tau kamu ada alasan lagi selain tentang Ezar. "
" Mas..." Aira mendongak menatap wajah Akhtar.
" Aira.." Akhtar membalasnya dengan tatapan tajam.
" Aku tidak ingin hamil di saat kondisi ku masih seperti ini. Aku ingin ingatan ku kembali dulu. Hanya itu, mas..."
" Lalu apa bedanya kamu hamil sekarang dan nanti ?. Menurut ku sama aja sayang..."
" Maaf. " Ujar Aira merasa bersalah.
__ADS_1
Akhtar kembali membawa tubuh Aira ke dalam dekapannya. " Bagaimanapun, dia sudah hadir. Adiknya Ezar sudah tumbuh di rahim kamu..." Ucap Akhtar sembari tangannya mengusap lembut perut Aira.
" Iya, mas. Aku akan menjaganya. "
" Makasih, sayang. Maaf ya, aku jadi memaksamu. "
" Iya, mas. Lalu bagaimana dengan kandungan ku ?. Apa dia baik baik saja di sana?. " Aira mengelus perutnya sendiri.
" Kamu mengalami kehamilan yang lemah, sayang. Jadi kita harus menjaganya dengan baik agar dia tumbuh dengan baik juga di sini. Dan kata dokternya, sebaiknya kamu menghentikan dulu meminum obat yang sering kamu konsumsi selama ini. Karena 9bat itu memiliki efek samping yang lumayan berbahaya untuk anak kita. "
" Tapi bagaimana kalau kepalaku sakit?. Bukankah sakitnya selalu langsung hilang kalau aku meminumnya ?. "
" Kita akan konsultasikan sama dokter agar kamu diberi obat yang tidak terlalu berbahaya dari yang sering kamu minum. "
" Baiklah. Aku terserah kamu saja mas. "
" Apapun untuk kekasihku ini. " Goda Akhtar menatap lekat mata Aira sambil menaik turunkan alisnya.
" Mas..."
Tawa Akhtar langsung pecah ketika mendapati Aira menatap tajam matanya. " Iya, Iya bumil. "
" Mas. "
" Hem ?."
" Ezar mana, mas ?."
" Ada di luar sama Tania. "
" Tadi Ezar menangis ya mas ?."
" Iya. Ezar manggil manggil mommynya terus. "
" Kasian Ezar. Mas, bawa Ezar kesini. Aku ingin menemuinya. "
" Iya. "
Setelah keluar dari kamar Akhtar kembali lagi dengan tangan yang sudah menggendong Ezar.
" Mommy..."
" Ezar, sini sayang. "
Akhtar mendudukkan Ezar di pangkuan mommynya. Tangan Ezar langsung aktif mencari sesuatu yang selalu ia lakukan saat bersama mommynya.
" Mommy... Nen..!." Rengeknya.
" Ouhh. Ezar haus yaa ?. " Tanya Aira menggoda sang putra dengan memainkan pipi tembem Ezar.
" Nen....!!" Ezar kembali merengek dengan tangan mungilnya berusaha menemukan sesuatu yang dicarinya.
" Iya, iya.. aduh anak mommynya haus banget deh kayanya. Sini benerin dulu duduknya. " Aira memposisikan Ezar agar lebih mudah untuk menyusuinya.
Benar saja. Ezar tampak sangat rakus menyedot sumber kehidupannya. Bocah kecil itu terlihat sangat menikmati ASI nya.
Akhtar yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. " Heyy, boy. Ini milik Daddy..!." Akhtar iseng mengerjai sang putra.
" No..!!. " Ucap Ezar lantang. Dan mencoba menyingkirkan tangan Daddy nya itu dari sesuatu miliknya. " Mommy.." adunya pada Aira.
Aira yang mendapat aduan dari sang putra mulai melirik ke arah Akhtar. " Mas..!. Jangan, ahh !. Kasian Ezar."
" Yah aku juga kasihan. Aku juga pengen kaya Ezar..." Ucap Akhtar dan mengedipkan matanya.
" Mas, apaan sih?!. Ingat. Ini di rumah sakit !. " Sewot Aira yang tak habis pikir dengan pemikiran suaminya itu.
" Yah gak papa kali, Ai. "
__ADS_1
" Mas jangan aneh-aneh deh. Udah ahh sana !. "
Akhtar mendengus kesal. " Iya, iya. Disini memang nggak. Tapi nanti ketika kamu sudah pulang, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja !. " Ancamannya.
" Terserah kamu aja lah mas. "
" Yaudah. Kalo gitu mas keluar dulu ya."
" Mau kemana ?. "
" Mau ada perlu sebentar ."
" Ya udah, Iya. Tapi jangan lama-lama. "
" Iya..."
________
" Bagaimana?. Apa sudah beres?."
" Belum. Masih diproses. Mungkin besok baru akan beres. "
" Baiklah. Aku tunggu hasilnya. "
Sambungan terputus karena Akhtar mematikan sambungan nya. Perjalanan menempuh lima menit akhirnya Akhtar sampai di rumah. Ia langsung menyuruh kepala pelayan agar mengumpulkan semua pegawai di rumahnya di ruang beranda. Sesaat setelah kumpul Akhtar memulai pembicaraannya kenapa sampai seluruh pegawai di kumpulkan.
" Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada kalian semua karena sudah bersedia menjadi pegawai di sini. Dan maksud saya mengumpulkan kalian sekarang adalah ingin memberitahukan bahwa besok kami sekeluarga akan pindah ke negara asal kami.
Dan dengan berat hati juga meminta maaf, bahwa mungkin beberapa dari kalian akan berhenti bekerja di rumah ini. Nanti yang keluar akan diberikan pesangon. Jadi kalian yang nantinya keluar tidak perlu khawatir.
Baiklah. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya harus berangkat lagi ke rumah sakit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. "
Meski tidak tega pada mereka, namun inilah keputusan nya. Ia akan membawa Aira menjauh dari sini. Tempat tinggal Azrinna asli. Jahat?. Iya. Dirinya memang sangat jahat.
Akhtar keluar dari rumah dan melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit. Kakinya berjalan perlahan menuju kamarnya Aira. Saat masuk, ternyata Aira sudah tertidur nyenyak bersama dengan putranya yang juga sudah terlelap tenang. Akhtar semakin mendekati kedua tubuh mungil dalam versi berbeda itu. Tangannya terangkat lalu mengusap lembut kepala Aira dan beralih ke kepala Ezar. Dan mulai beranjak untuk bergabung bersama mereka.
Waktu terus beranjak dengan pasti. Dari siang, sore dan malam, ketiganya berada di rumah sakit. Hingga pagi ini adalah waktunya Aira pulang. Setelah berpamitan dengan dokter juga beberapa perawatan yang sempat mengurus Aira, akhirnya Aira bersama keluarga bisa kembali ke rumah.
" Loh, mas. Kenapa arahnya berlawanan ?." Tanya Aira tiba-tiba karena bingung sebab seharusnya jalan yang dilalui ke arah kanan sedangkan mobil Akhtar malah belok ke arah kiri saat di pertigaan jalan.
" Kita langsung saja, ya. Karena waktu penerbangan sangat mepet. " Ucap Akhtar akhirnya.
" Yahh. Kirain kita mampir dulu ke rumah sebelum ke bandara ?. " Ujar Aira sedikit merajuk
" Iya, maaf, ya. " Ucap Akhtar yang masih fokus pada jalanan beraspal di depannya.
" Iya deh. "
Perjalanan hanya diliputi oleh keheningan. Karena biasanya pasti ramai oleh racauan Ezar. Namun kali ini Ezar sedang tidak nyenyak di pangkuan mommynya.
" Mas, kenapa kamu mengajak kami ke Uzbek mendadak sekali ?." Tanya Aira tiba-tiba.
" Sebenarnya tidak mendadak, Ai. Aku sudah menyiapkan semuanya dari jauh jauh hari. Dan baru hari ini bisa terlaksana. " Ucap Akhtar meyakinkan. Padahal apa yang diucapkan ya adalah kebohongan sebab semuanya mulai disiapkan semenjak kemarin.
" Tapi mas Akhtar baru memberitahuku tadi malam. "
" Iya, karena sebelumnya aku belum sempat ngasih tau kamu. Sudah lah. Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu karena perjalanan masih lumayan lama. "
" Iya, mas. "
Aira menuruti ucapan Akhtar. Matanya perlahan terlelap tenang. Hingga perjalanan yang masih menempuh satu jam lagi itu ia tidak menyadarinya.
" Ai, bangun sayang. " Akhtar menepuk pelan pipi Aira. Aira mulai mengerjakan matanya lalu terbukalah kelopak mata itu dengan sempurna.
"Sudah sampai ya mas ?."
" Iya, sayang. Kita sudah sampai di bandara. Ayo turun ?!." Ujar Akhtar.
__ADS_1