Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Kekesalan Aira


__ADS_3

Alih-alih menolak sikap yang sedang dilakukan Akhtar, Aira malah menyentuh kepalanya sendiri karena merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya bersamaan dengan bayang-bayang memori yang berputar seperti kaset rusak. Aira menjerit tatkala sakit itu semakin menyiksa kepalanya. Hingga perlahan kesadarannya hilang, meski samar-samar ia masih bisa mendengar Akhtar memanggil namanya lalu semuanya tampak gelap.


Sesaat setelah kepergian Akhtar, seorang dokter perempuan berhijab datang bersama dua orang perawat,  dengan senyum ramahnya dan tanpa sadar Aira juga membalas dengan senyuman yang sama pada mereka.


" Selamat pagi, Nyonya Aira ?. "


" Pagi, Dok. " Jawab Aira kaku.


Dokter Nissa --Dilihat dari name tag nya-- mulai menyiapkan peralatan untuk memeriksa tubuh Aira. " Maaf ya. " Ucapnya lagi.


Aira mengangguk mengizinkan tubuhnya di periksa. Setelah kurang dari lima menit, dokter Nissa mengemasi lagi peralatannya. " Kondisi anda sudah stabil saat ini karena semua hasil pemeriksaan normal. "


" Dok. Saya pingsan berapa lama ?." Tanya Aira tiba-tiba.


Dokter itu terdiam sebentar lalu tersenyum lagi. " Anda sudah di rawat di sini sekitar dua mingguan, Nyonya. "


" Dua minggu ?!. " Pekik Aira tak percaya. Selama itukah ?!. Bathin Aira.


" Iya, nyonya. "


" Apa yang terjadi padaku, Dok?. Kenapa bisa sampai pingsan sangat lama ?. "


" Ini bukan hal yang harus di khawatirkan. kondisi seperti ini adalah keadaan normal bagi siapapun yang sedang mengalami amnesia.


Ketika ingatan seseorang itu mulai hadir kembali maka rasa sakit di kepala nya akan sangat terasa dan biasanya memang berakhir pingsan karena ketidaksanggupan syarafnya ketika menerima memori tersebut. " Jelas dokter panjang lebar.  "Ada yang ingin anda tanyakan lagi ?. "


Aira menggeleng lemah. " Tidak. Terima kasih , Dok. " Ucapnya kemudian.


" Baiklah. Kalau tidak ada lagi, kamu keluar dulu ya.  Permisi..."


Aira mengangguk. " Terima kasih. " Ujarnya lirih.


Ruangan kembali di isi hanya dirinya seorang. Bosan. Itulah yang kini kurasakan. Ingin hati memanggil Akhtar yang katanya ada di depan, tapi rasa ego menghempaskan keinginannya itu. Tapi siapa sangka?. Sepertinya Akhtar ikut merasakan apa yang ia rasakan.


Dengan senyum menawannya, Akhtar melangkah menghampiri Aira dan saat sampai di dekat Aira tidak lupa kening Aira menjadi tambatan bibirnya. Hal yang selalu Akhtar lakukan setiap saatnya.


" Maafkan aku ya sayang. Aku tidak bermaksud memaksamu waktu itu..." Ucap Akhtar lembut dengan tatapan sendu.


" Iya. "


Mendengar jawaban Aira, senyuman Akhtar kembali merekah. " Makasih, sayang..." Akhtar langsung memeluk erat tubuh gadisnya. Iya. Meski karena waktu itu Aira sudah tidak gadis lagi.


Aira membalas pelukan sebisanya karena posisinya sedikit susah. " Mas. " Aira mendongak menatap wajah suaminya.


" Hem ?. "


" Ezar bagaimana ?. " Tanya Aira. Entah mengapa ia langsung keinget putra kecilnya. Apalagi setelah mendengar penuturan dokter tadi yang mengatakan dirinya telah pingsan selama dua Minggu.

__ADS_1


" Ezar ada di rumah sama Tania, sayang. "


" Maaf..." Aira menelusupkan wajahnya lagi pada dada bidang Akhtar.


" Maaf untuk apa sayang ?. Kamu gak salah. Aku yang salah kan ?. " Ujar Akhtar kebingungan.


" Ezar pasti minum susu formula lagi... " Cicit Aira tapi Akhtar masih bisa mendengarnya dengan jelas. Hatinya menghangat mendengar penuturan Aira yang begitu menyayangi putranya. Seulas senyum manis Akhtar terbit.


" Tidak apa-apa. Kan mommy nya lagi sakit. Ezar mengerti kok. " Ucapnya sembari tangan mengusap punggung Aira.


" Aku kangen Ezar, mas..."


" Iya. Kita akan ketemu Ezar nanti di rumah. "


" Aku maunya sekarang !. "


Akhtar melepaskan pelukannya. Kedua tangannya diletakkan di kedua bahu Aira. " Ezar masih kecil, sayang. Gak bagus buat kesehatan nya kalo di bawa ke sini... Kamu mau Ezar sakit ?."


Aira menggeleng. Tangan kanan Akhtar beralih pada kepala Aira lalu mengusapnya lembut. "Cepat sehat ya. Istri mas yang cantik..."  Pipi Aira langsung memerah mendengar ucapan berupa pujian dari Akhtar. " Ehh. Kok pipi kamu merah, sayang?. " Telunjuk Akhtar menusuk nusuk pipi Aira.


Aira menatap sengit wajah Akhtar tapi yang ditatap malah menatapnya dengan tatapan menyebalkan.  " Mas, ihh !!. " tangan Aira reflek memukul lengan suaminya.


Sesaat kemudian suara kekehan Akhtar membuatnya semakin gencar untuk kembali memukulkan tangannya ke arah dada Akhtar.


Belum sampai mendarat di sana Akhtar lebih dulu menangkup kedua tangannya lalu menciumnya lama. Tak terasa senyum Aira terbit dengan sempurna mendapat perlakuan manis dari Akhtar.


Akhtar kembali menatap wajah Aira. Senyuman menawan terbit di wajah tampannya. " Jangan lukai tangan ini untuk memukulku. Tangan ini terlalu berharga untuk putraku..." Ucapnya lembut.


____________


Seminggu Aira merasakan kebosanan yang haqiqi di dalam kamar rumah sakit. Dan hari inilah puncak kebahagiaan nya karena dokter sudah memberikan izinnya untuk ia pulang dan menemui sang buah hati di rumah.


Aira sudah rapi dengan pakaian biasanya, tidak ada lagi baju pasien. Aira duduk manis di tepi ranjang sementara menunggu kedatangan Akhtar yang keluar entah kemana. Matanya langsung tertuju ke arah pintu yang berderet terbuka.


" Ezar ?!. "


Aira langsung bangkit dan menghampiri Akhtar yang datang sambil menggendong putranya. Tangan Aira terulur mengambil alih Ezar. Wajah yang hampir tiap hari selalu tak bersemangat itu kini tersenyum cerah. Berkali-kali Aira mendaratkan kecupannya di wajah Ezar.


" Mommy merindukanmu, sayang. " Ucap Aira di sela sela kebahagiaannya. Setelah cukup Aira menatap wajah Akhtar. " Mas, katanya Ezar gak boleh kesini ?!."


Akhtar tersenyum. " Khusus untuk menjemput mommynya pulang. "


Aira semakin mengembangkan senyumnya. "Makasih, mas. "


" Iya. Yaudah. Kita langsung pulang yuk ?. "


" Iya, mas. "

__ADS_1


Akhtar mengambil tas barang barang Aira yang tadi di letakkan di atas tempat tidur. Keduanya melangkah keluar dari kamar menuju ke parkiran mobil. Setelah sampai di di dekat mobil milik Akhtar, Akhtar melangkah membuka pintu bangku belakang dan meletakkan tasnya di sana. Lalu beralih ke pintu depan samping pintu kemudi untuk mempersilahkan Aira setelah itu menutupnya kembali dan sedikit memutari mobil untuk sampai di pintu sebelahnya. Selanjutnya,  mobil Akhtar sudah melengang dari area parkiran.


Di dalam perjalanan pulang mata Aira sangat terfokus pada rumah rumah yang berjejer di pinggir jalan. Pikirannya kembali melayang tanpa arah. Setelah sadar dari pingsan Aira memang sering melamun dan tak jarang ia juga akan merasakan sakit pada kepalanya ketika sudah kelamaan berusaha mengingat segalanya.


" Ai. "


Aira menoleh ke arah Akhtar yang masih fokus menyetir dan sekilas sekilas menatap ke arahnya.


" Kalo kamu ngantuk, lebih baik kamu tidur aja. " Ucap Akhtar.


" Tidak. Aku tidak mengantuk sama sekali, mas." Jawab Aira lalu kembali memperhatikan suasana di luar mobilnya.


Aira bukan mengantuk. Dirinya hanya sedang dalam pikiran berkelana tanpa arah. Namun itu sedikit membuatnya mengingat sesuatu di masa lalu meski tergambar samar samar.


Akhtar yang melihat sikap Aira hanya bisa menangis pasrah sebab ia paham apa yang sedang terjadi dengan gadisnya itu. Dirinya juga menyadari akan hal tersebut terjadi pada Aira semenjak Aira sadar dari pingsan nya.


" Kita langsung pulang saja, apa kamu mau jalan-jalan dulu, Ai ?." Tanya Akhtar.


" Memangnya mau jalan-jalan kemana ?. " Tanya Aira penasaran. Sebab tidak biasanya Akhtar menawarinya jalan jalan. Mengingat dari pertama kali Aira bangun dari komanya dan setelah tinggal di rumah pun, Akhtar tak sekalipun mengajaknya keluar untuk melakukan sesuatu selain kontrol kesehatan Aira sendiri.


" Kamu maunya kemana ?. "


" Aku tidak tau apapun saat ini. " Aira berucap sambil menunduk. Iya. Dirinya tidak ingat sama sekali dimana kiranya letak tempat wisata.


Tangan kiri Akhtar terangkat dan mengusap lembut rambut panjang Aira yang tergerai bebas. " Kamu pengen tempat seperti apa yang ingin dikunjungi ?. Pantai ?. Alam ?. Atau berbelanja ke mall ?. " Sekilas Akhtar menatap wajah Aira dengan senyuman manisnya.


" Pantai. Aku ingin ke pantai saja, mas. " Putus Aira akhirnya.


" Baiklah. Kita ke pantai sekarang. " Akhtar sedikit menarik kepala Aira dan mendaratkan kecupannya di kening Aira sebentar lalu fokus lagi pada jalanan beraspal di depannya.


Perjalanan menempuh dua puluh menit mobil Akhtar sudah mulai memasuki parkiran wisata pantai pasir putih. Setelah terparkir, ketiganya turun dari mobil dan melangkah berbarengan memasuki kawasan pesisir pantai.


Sebatas mata memandang, hamparan pasir putih menghampar di tepian air laut yang biru membentang.


" Kita ke restoran dulu ya ?. Ini sudah masuk jam makan siang. "


Aira mengangguk dan menyejajarkan langkah kaki Akhtar menuju sebuah restoran besar berbentuk panggung yang masih berada di pesisir pantai.


Semakin langkah mendekat semakin kuat pula bau harum masakan berbahan seafood menusuk Indra penciuman.


Sebuah jembatan kayu terbentang lebar mulai keduanya pijaki menuju pintu masuk restoran. Karena bisa dibilang, restoran seafood ini berada di atas air pesisir pantai.


Setelah masuk, Akhtar mengajak Aira ke meja yang berada dekat kaca besar yang menyajikan pemandangan luar air laut dari dalam restoran ini.


Seorang waitress menghampiri dengan senyum ramahnya. " Permisi, tuan dan nyonya. Silahkan mau pesan apa ?. " Ujarnya seraya menyodorkan katalog menu yang tersedia di restorannya.


" Cumi merah, kepiting geprek minumnya lemon tea. " Ujar Aira dan langsung dicatat oleh waitress itu.

__ADS_1


" Saya kerang saus tauco sama lobster saus balado, terus minumnya lemon tea. " Ucap Akhtar dan langsung dicatat oleh waitress tersebut kemudian mengucap permisi sebelum pergi lagi.


Sembari menunggu pesanannya datang, Aira mulai sibuk mengajak ngobrol Ezar yang berada di atas pangkuannya.


__ADS_2