
" Tetaplah disini. " Aqlan berucap dengan mata menatap tajam wajah Azrinna.
" Tidak. Dia membutuhkan pertolongan. " Ujar Azrinna lalu mencoba melepaskan tangan Aqlan dari lengannya tapi Aqlan semakin mengencangkan genggaman tangannya.
" Aqlan !."
" Jangan keras kepala. Kau sedang bersama putrimu !." Aqlan sedikit mengeraskan suaranya.
Azrinna tertegun dan langsung menoleh ke arah Alchira. Bersamaan dengan itu Aqlan juga melepaskan genggaman tangannya lalu secepat kilat berlari untuk menyelamatkan gadis malang di sana.
Azrinna hanya menatap kepergian Aqlan dengan sorot mata tak terbaca.
Kaki Azrinna kembali melangkah namun lagi-lagi berhenti karena kehadiran Akhtar yang tau-tau sudah ada di hadapannya saja. Azrinna menghembuskan nafasnya perlahan.
Kenapa pagi ini semua pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya muncul semua ?!. Membuat Azrinna menjadi sedikit risih juga kesal saja.
Akhtar mengambil Alchira dari troli baby-nya lalu menyingkirkan tangan Azrinna yang masih memegang kendali troli tersebut.
" Pergilah. " Ucap Akhtar tanpa melirik sedikitpun ke arah Azrinna.
" Tapi..."
" Kau akan memelihara kemampuanmu tanpa mau membantu seseorang yang sedang kesusahan ?." Tanya Akhtar yang kini menatap lekat wajah Azrinna.
Azrinna terdiam sesaat dan akhirnya mengangguk. " Titip putriku. " Ucapnya kemudian langsung berlari melesat menghampiri gadis yang tertimpa kemalangan yang kini sedang ditenangkan oleh beberapa orang pelari di sini.
Akhtar yang melihat sikap Azrinna sedikit menipiskan bibir dan menciptakan senyuman manisnya di sana.
Hanya sebentar Azrinna menghampiri gadis yang terus menangis itu. Ia kemudian berjalan sedikit tergesa melawan arah dari jalan yang tadi di lalui Aqlan. Dan benar saja, di area yang sedikit lebih luas Azrinna melihat Aqlan sedang bertarung sengit dengan lima pria berbadan besar sekaligus.
Dengan langkah santai Azrinna menghampiri mereka dan berdiri tidak jauh dari tempat pertarungan itu terjadi. Azrinna terus memperhatikan bagaimana Aqlan begitu lincah melakukan penyerangan yang cukup mematikan membuat lima pria itu tersungkur tidak berdaya di tanah berumput yang terawat.
Tentu saja Aqlan bisa sangat mudah menumbangkan mereka semua, karena Aqlan memang memiliki kemampuan ilmu beladiri yang cukup piawai. Bahkan Aqlan juga kerap kali menggantikan pelatih di Nanzea saat pelatih itu tidak bisa masuk kelas karena sebuah urusan penting.
Itulah yang azrinna dapatkan dari laporan temannya yang memegang kendali padepokan Nanzea.
Aqlan terlihat mengambil kalung berwarna putih terang dari salah satu saku preman itu dan menghampiri Azrinna saat melihat Azrinna berdiri tak jauh dari jaraknya.
Saat Aqlan mulai mendekatinya, mata Azrinna langsung mawas tajam dan detik selanjutnya...
" Aqlan !!."
Azrinna berlari secepat kilat dan langsung menendang tangan preman yang akan menghunuskan sebuah pisau di punggung Aqlan.
Pisau itu terlempar jauh dan menancap di salah satu pohon rindang membuat pria yang tadi memegang pisau tersebut membelalak tidak percaya. Dan itu memberikan kesempatan Azrinna untuk kembali melakukan aksinya.
Azrinna melayangkan tendangannya tepat mengenai rahang pria tersebut lalu menambahkan sebuah pukulan keras ke dada, yang rasanya langsung menembus masuk ke bagian organ dalamnya.
Pria itu tersungkur tidak berdaya dengan sudut bibir lecet dan mengentaskan darah.
Azrinna berjongkok di hadapan preman tersebut. " Masih bisa berdiri ?. " Tanyanya dengan suara khas seorang Azrinna. Lembut dan terdengar sangat merdu.
__ADS_1
Pria itu tampak ketakutan melihat wajah ayu Azrinna yang kini tersenyum. Tapi bukan senyum mengejek ataupun menakutkan, melainkan senyum manis juga teduh.
" Saya harap ini yang terakhir. Jika kalian masih berulah, maka saya pastikan organ dalam tubuh kalian akan membeku. Pergilah. " Ucap Azrinna dengan wajah yang selalu tenang dan damai di pandang itu.
Mereka tampak mengangguk lalu berdiri dan mengucapkan maaf berkali-kali, selanjutnya mereka segera kabur dengan jalan terpincang-pincang karena tubuh yang sudah remuk redam.
Azrinna menghampiri Aqlan lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke tempat gadis malang tadi.
" Makasih. " Ujar Aqlan sebelum mereka benar-benar sampai di tempat tujuan.
Azrinna sedikit mendongak melirik wajah Aqlan kemudian mengangguk disertai senyuman tipisnya.
Saat sampai di hadapan gadis malang itu yang sedang duduk di tepian jalan, Azrinna menyerahkan barang yang dirampas paksa oleh preman tadi. Yah. Aqlan memang menyerahkannya pada Azrinna agar Azrinna saja yang akan memberikannya pada si pemiliknya.
Gadis itu langsung histeris dan memeluk erat tubuh Azrinna juga menumpahkan tangisannya di bahu Azrinna.
" Mama... Kalungku kembali... Makasih kak. Makasih sudah membawa kalungku kembali... " Racau gadis itu di sela-sela tangisnya.
" Iya. Sudah ya nangisnya. Nanti air matanya habis, dek. " Seloroh Azrinna yang membuat gadis itu terkekeh kecil dalam tangisannya.
Orang-orang di sekitarnya juga ikut tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan Azrinna.
Benar-benar gadis yang menakjubkan. Eh eh. Sudah bukan gadis lagi. Azrinna sudah memiliki seorang putri cantik.
Semua orang membubarkan diri dan hanya menyisakan si gadis malang, Azrinna dan Aqlan saja.
" Apa itu kalung yang sangat berharga untukmu ?." Tanya Azrinna saat gadis itu sudah berhenti menangis, meski masih menyisakan isakan tangisnya.
" Memangnya mamanya kemana ?."
" Mama sudah meninggal karena sakit saat umurku masih delapan tahun. "
" Innalillahi.." Azrinna kembali memeluk gadis itu dengan sangat erat.
Gadis yang ditaksir berusia tujuh belas atau mungkin delapan belas tahun itu kembali menumpahkan tangisannya di dekapan Azrinna. Azrinna mengusap-usap lembut punggung gadis itu.
"Nama kakak siapa ?." Tanya gadis itu saat sudah melepas pelukannya.
" Azrinna. Panggil aku kak Azri saja. Dan namamu siapa ?. " tanya Azrinna balik.
" Namaku Sthefanny. Panggil Fanny. " Jawab Fanny antusias.
" Baiklah, Fanny. Salam kenal. Kalau begitu kakak pergi dulu ya. Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi ya. "
" Iya, kak Azri. "
" Kakak pergi ya. Assalamualaikum... "
Fanny terlihat gelagapan. " Wa-alaikum salam, kak. " Jawabnya sedikit terbata.
Azrinna sedikit menautkan alisnya saat Fanny menjawab salamnya dengan kaku seperti itu. Tapi ia langsung menerbitkan senyumnya dan pergi meninggalkan Fanny.
__ADS_1
Ada yang di anggurin nih🤭. Si Abang Aqlan sayang, yang dari tadi hanya diam dan sebagai penonton saja.
Aqlan akhirnya ikut melangkah tapi tidak melangkah di belakang Azrinna. Ia kembali melanjutkan lari paginya yang tertunda.
Azrinna mencari keberadaan Akhtar dan akhirnya menemukannya di salah satu bangku di pinggir jalan. Azrinna menghampiri dan duduk di samping Akhtar.
Akhtar hanya melirik ke arah Azrinna. Dirinya tahu bagaimana aksi Azrinna saat melakukan penyerangan pada pria yang akan melukai mantan suaminya itu. Dan adegan itu sedikit mengiris hati Akhtar saat melihatnya.
Selama ini Akhtar sedang berusaha untuk lebih baik agar bisa menjadi teman seumur hidup Azrinna. Dan karena kejadian barusan membuat keyakinan yang ia tanam kuat di hatinya seakan goyah seketika.
Tentu saja, Aqlan lebih baik segalanya dari dirinya. Apalagi Aqlan masih keturunan putra Kyai pemilik pondok besar. Berbeda jauh dengan dirinya yang hanyalah manusia yang baru saja mengenal apa itu keyakinan dan Tuhan.
Sangat miris bukan ?!. Yah tentu saja.
" Maaf merepotkan. " Ucap Azrinna lalu mengambil alih Alchira dari pangkuan Akhtar.
" Dia putriku. Tak sepantasnya kau meminta maaf seperti itu. "
" Tetap saja. Aku telah menitip..." Ucapan Azrinna mengambang.
" Stop, Ai !!. "
Sungguh. Akhtar sangat benci ucapan Azrinna saat ini. Ucapan Azrinna membuat dirinya merasa seperti orang asing saja untuk putrinya sendiri.
Tatapan Akhtar tajam menatap mata Azrinna yang sepertinya masih terkejut oleh bentakan Akhtar barusan.
" Apa maumu Ai ?. Apa kau sangat membenciku?."
" Apa maksudmu ?."
Bukannya menjawab Akhtar malah menggenggam lengan Azrinna dan menariknya kuat. Langkah Azrinna sedikit sulit karena Akhtar masih terus menariknya kuat. Hingga mereka sampai di depan mobil Akhtar, Azrinna langsung disuruh masuk dan disusul Akhtar yang masuk di kursi pengemudi kemudian melakukan mobilnya sedikit cepat.
" Akhtar !. Hentikan mobilnya !. Apa kau ingin membunuhku ?!." Pekik Azrinna yang sedikit panik karena Akhtar melajukan mobilnya tak terkendali.
Akhtar tidak menghiraukan ucapan Azrinna dan terus melesatkan mobilnya yang ternyata menuju ke rumahnya.
Saat sampai dengan memaksa Akhtar kembali menarik tangan Azrinna lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan berlanjut ke kamar utama.
Azrinna semakin ketakutan dengan sikap kasar Akhtar. sebelum-sebelumnya Akhtar tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Akhtar selalu membuatnya nyaman dan aman. Dan saat ini Akhtar sepertinya berada dalam amarah yang nyata.
Akhtar mendekati Azrinna dan mengambil Alchira dari tangan Azrinna lalu meletakkannya di atas tempat tidur kemudian kembali menghampiri Azrinna dengan tatapan tajam menusuk.
" Sejak kapan kau memanggilku dengan nama saja ?." Tanya Akhtar semakin merangsek maju membuat Azrinna reflek memundurkan langkahnya.
" Berhenti !." Azrinna semakin ketakutan saat tubuh Akhtar semakin mendekati tubuhnya.
Lagi. Akhtar tetap tidak menghiraukan ucapan Azrinna.
" Bukan berarti karena kau tidak bersamaku kau bebas, Azrinna. Kau hanya milikku !. " Bentak Akhtar yang semakin membuat Azrinna takut.
" Mas. Apa maksudmu ?. Jangan seperti ini. Aku mohon..." Ucap Azrinna lirih saat Akhtar sudah menyudutkannya ke tembok.
__ADS_1
Bukan Azrinna tidak bisa melakukan perlawanan dalam keadaan seperti ini mengingat dirinya memiliki ilmu beladiri yang tinggi. Hanya saja, saat berhadapan dengan Akhtar, ia merasa kekuatan yang ada di tubuhnya seperti hilang tanpa sisa sama sekali.