Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
RA ?


__ADS_3

"Ma, pa. Azri berangkat ya." Azri menyalami tangan kedua orangtuanya bergantian lalu mencium pipi Alchira. " Mommy berangkat dulu ya sayang." Ucap Azrinna pada putrinya yang sedang sibuk bermain boneka teddy bearnya.


"Titip Alchira, ma. Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam."


Hari ini wajah Azrinna terlihat berseri juga cerah. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hanya murung dan kacau karena banyak pikiran.


Kali ini ia tidak pergi ke Nanzea melainkan ke sebuah bangunan yang  diberi nama Pelita Bahagia, salah satu yayasan penampung beberapa anak kecil yang tidak memiliki keluarga alias yatim piatu.


Setelah melakukan perjalanan, Azrinna masuk ke dalam rumah penuh keceriaan anak-anak tanpa dosa itu. Saat langkahnya memasuki bangunan yang terdiri dari tiga lantai, Azrinna langsung disambut ramah oleh sang pengasuh.


"Assalamualaikum, Bu. " Ujar Azrinna seraya menyalami tangan wanita tua berumur empat puluhan tahun itu.


"Waalaikum salam, nak Aira. Mari masuk ?!."


"Iya, Bu. " Azrinna melangkah di belakang wanita itu dan duduk di kursi ruang tamu.


Aira. Iya. Pengasuh itu memang mengetahui namanya dengan sambutan Aira sebab pertama kali ia datang ke tempat ini pun saat dirinya masih menyandang nama tersebut dan datangnya bersama Akhtar. Ia mengetahui tempat ini pun karena Akhtar karena Akhtar memang sering berkunjung ke sini.


Inilah sisi baik dari seorang Akhtar.  Akhtar yang memang menyukai anak-anak kecil sering melakukan kunjungan ke panti asuhan dan beberapa kali juga sering mengajaknya.


Dan Pelita Bahagia sendiri merupakan salah satu yayasan yang didirikan oleh Akhtar sendiri yang telah dibangun sekitar empat tahun lalu. Iya. Akhtar sudah membangun yayasan ini jauh sebelum mereka bertemu.


Dikenal sebagai istri dari pemilik yayasan, Azrinna memang diperlakukan sangat hormat oleh pengasuhnya yang bernama Rini.


"Ini, nak. Di minum dulu." Ibu Rini datang dan menaruh segelas minuman manis dan beberapa cemilan ringan di atas meja.


"Oh. Iya, makasih Bu. "


"Iya, nak. " Ibu Rini duduk di hadapannya. "Nak Aira datang sendirian ?. " Tanya Bu Rini padanya.


"Iya, Bu. Saya datang sendirian." Jawab Azrinna sambil menyunggingkan senyumnya yang menurut pendapat beberapa orang tidak pernah luntur dari wajah ayunya.


"Iya, Minggu lalu nak Akhtar juga datang sendirian. Kenapa sekarang tidak pernah bareng kalau datang berkunjung?."


"Iya, soalnya kami memiliki kesibukan masing-masing, Bu. Jadi gak bisa datangnya bersamaan. " Jawab Azrinna berusaha setenang mungkin. Tentu saja dirinya berbohong kali ini. Sebab ia tidak mungkin mengatakan bahwa Azrinna juga tidak tahu kapan Akhtar berkunjung karena mereka yang memang sudah tidak tinggal bersama.


"Iya, iya. Ibu tau, kalian memang sepasang orang-orang yaa?." Ibu Rini terkekeh kecil setelah mengatakannya.


Azrinna hanya tersenyum mendengar ucapan ibu Rini.

__ADS_1


"Oh ya Bu. Anak-anak kemana?. Kok sepi sekali?." Azrinna bertanya demikian karena tadi saat masuk dirinya memang melihat lingkungan terlihat sepi. Bahkan di taman bermain hanya ada tiga orang saja dari anak panti yang berjumlah sekitar empat puluhan.


"Iya. Mereka memang sedang tidak ada, lagi pada keluar ke taman binatang. Dan hanya beberapa saja yang ada di rumah, itu pun yang masih kecil-kecil saja. "


Mendengar taman binatang, Azrinna jadi teringat pada putranya yang sudah lama tidak ia temui. Meski Ezar bukan anak yang dilahirkannya sendiri, tapi ikatan batin itu telah terjalin karena Ezar pernah menjadi anak susunya.


"Nak Aira. "


"Iya, Bu?."


"Ibu ingin memberitahukan, tadi malam ada seseorang yang meninggalkan bayinya di taman bermain anak-anak. "


"Apa ?. Maksud ibu, ada seorang bayi yang di tinggalkan di sini dengan sengaja ?." Tanya Azrinna kaget.


"Iya, nak. Sebentar. Ibu ambil di kamarnya. " Ibu Rini bangkit dan berjalan lalu memasuki sebuah kamar yang Azrinna tidak tahu itu kamar siapa. Setelah beberapa menit ibu Rini kembali dengan tangannya menggendong tubuh bayi mungil ke dekatnya. Lalu memberikan bayi itu ke atas pangkuan Azrinna.


Saat bayi itu sudah nyaman di dekapan Azrinna memperhatikan wajah cantik khas seorang bayi itu yang terlihat tenang dalam lelap. Bahkan wajah bayi itu masih terlihat sangat merah begitupun dengan tangan dan kakinya. Sepertinya bayi itu masih berusia beberapa harian saja.


"Dia masih sangat kecil. " Gumam Azrinna yang langsung di angguki oleh ibu Rini.


Ibu Rini menyerahkan sebuah amplop coklat yang ketika ia buka ternyata terdapat sebuah kalung berwarna putih terang dengan bandul kecil berbentuk sebuah tongkat dua lengkungan yang bertahta berlian kecil berwarna pink berbentuk Limas.  Juga secarik kertas yang terdapat tulisan.


"Sepertinya ini namanya." Ucap Azrinna pada ibu Rini.


"Ibu juga berfikir seperti itu. " Ujar ibu Rini yang menuangkan instingnya.


Azrinna kembali menatap wajah bayi itu dengan tatapan lekat. Rupa wajah yang cantik dan terkesan lokal serta terlihat memiliki pancaran sinar terang dari wajah mungilnya.


"R A. Apa itu sebuah singkatan ?." Tanya Azrinna pada ibu Rini.


Ibu Rini menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Ibu juga kurang paham, nak." Jawab ibu Rini kemudian.


Azrinna terdiam. Pikirannya masih mencoba mencerna dua huruf tersebut. R A. Dari nama panjangnya, Azrinna merasa bahwa bayi itu sepertinya putri seseorang yang bukan orang biasa. Nama itu memiliki tiga kata dan memiliki arti yang cukup kuat, Anak perempuan cantik yang selamat dan menunjukkan jalan tentram, merdeka, bahagia dan sempurna. Itulah sekiranya arti yang terkandung dalam nama bayi itu.


"Ibu. "Azrinna menoleh dan menatap lekat wajah ibu Rini.


"Iya ?."


"Ai, titip dia. Jagain dia sebaik-baiknya. Jangan sampai sesuatu terjadi padanya." Ucap Azrinna sungguh-sungguh.


Ibu Rini langsung menautkan kedua alisnya karena bingung akan permintaan Azrinna.

__ADS_1


Bukankah setiap anak-anak yang tinggal di sini dirinya jaga sebaik-baiknya ?. Benak Bu Rini.


Bu Rini balas menatap wajah Azrinna dengan intens. " Ada apa, nak ?. Kau memikirkan sesuatu ?." Tanya Bu Rini penasaran.


"Ai hanya merasa dia bukan anak orang biasa, Bu."


" Benarkah ?!." Pekik ibu Rini.


Azrinna mengangguk yakin.


"Baiklah. Ibu akan menjaganya sesuai yang nak Aira pinta. "


"Iya, Bu. Makasih ya. Kalau begitu Ai pulang dulu ya Bu. " Azrinna memberikan lagi bayi itu pada ibu Rini. Lalu memberikan sebuah amplop, seperti biasanya saat dirinya berkunjung kemari. "Assalamualaikum..."


"Iya. Hati-hati nak. Waalaikum salam."


Sesaat kemudian, pintu gerbang dibuka lebar saat mobilnya sudah sampai di depannya. Azrinna memarkirkan mobilnya di halaman rumah Akhtar lalu keluar dan memasuki pintu utama.


Meski sudah lama tidak pernah datang ke rumah ini karena pertengkarannya dengan Akhtar waktu itu, tapi penghormatan masih tetap didapatkan dari para pegawai rumah.


"Tania. Ezar di mana ?." Tanya Azrinna saat pengasuh putranya itu menghampiri.


"Tuan muda Ezar ada di taman belakang, Nyonya. " Jawab Tania sambil menunduk penuh hormat.


"Kau ada di sini. Apa Ezar sedang bersama daddy-nya?."


"Tidak nyonya. Tuan muda Ezar sedang bersama auntynya, Nyonya. "


"Aunty ?!." Pekik Azrinna terkejut.


"I-iya, nyonya. " Jawab Tania


"Baiklah. Saya kesana, Tania. "


"Iya, Nyonya."


Azrinna melangkah meninggalkan Tania yang masih terdiam di tempat.


Aunty ??


___________

__ADS_1


__ADS_2