
Bab 46
" Mbak, nabi Ibrahim dan Siti Sarah baru dikaruniai seorang anak setelah usia pernikahan mereka yang ke empat puluh tahun lamanya. Setiap hari mereka berdo'a pada Allah agar Allah segera menitipkan amanah Nya, tapi Allah tidak juga memberikannya.
Meski begitu, mereka tidak pernah putus asa, mereka terus berdo'a dan mencoba bersabar dan ikhlas atas takdir Allah. Hingga usia mereka yang sudah menua, barulah Allah kasih amanah itu. Seorang anak laki-laki yang juga Allah jadikan dia nabi dan Rasul selanjutnya yaitu nabi Ishaq.
Dari situ kita juga bisa menilai, bahwa Allah sudah menyiapkan yang terbaik, dan sesuatu yang baik itu akan Allah kasih pada keadaan yang tepat dan baik juga.
Jadi, yang kita perlukan hanyalah bersabar dan ikhlas atas takdir Allah. Itu saja mbak." Jelas Azrinna panjang lebar agar kakak iparnya itu bisa memahami.
Hizqi menatap lekat wajah Azrinna. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Hatinya menghangat mendengar penuturan Azrinna yang ternyata merasuk kedalam relung jiwanya.
"Zri. "
"Iya, Mbak. "
"Bukankah sebelum Allah menghadirkan nabi Ishaq didalam rahim Siti Sarah, Allah lebih dulu menciptakan darah daging nabi Ibrahim di rahim Siti Hajar ?."
Azrinna merekah kan senyumannya. "Iya, mbak. Sebelum adanya nabi Ishaq Allah menciptakan nabi Ismail lebih dahulu pada istri kedua nabi Ibrahim yaitu Siti Hajar. "
"Lalu, apa aku harus melakukan hal yang sama seperti Siti Sarah?. "
Pertanyaan Hizqi membuat senyum Azrinna redup seketika. "Maksud mbak apa ?." Tanyanya bingung.
"Bukankah nabi Ibrahim memiliki dua istri ?. Tapi... Jika aku ingin menjadi Siti Sarah, sepertinya aku tidak akan sanggup. " Ucap Hizqi lirih dengan mata kembali meredup masam.
Azrinna seketika terpekik kaget dengan kehadiran Zuhdi yang tiba-tiba datang dan memeluk erat tubuh sahabatnya. Tangis Hizqi kembali pecah dalam dekapan suaminya.
"Tidak, sayang. Aku tidak ingin memberikan madu untukmu... "Ucap Zuhdi sambil sesekali memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.
"Tapi, mas... Aku tahu kamu juga menginginkan seorang anak. " Ucap Hizqi di sela-sela tangisnya.
"Jika Allah belum berkehendak, maka itu tidak akan terjadi, sayang. "
"Lalu aku harus bagaimana, mas ?. Aku ingin menjadi wanita sempurna dengan mengurus sang buah hati. Kita sudah lama mengkonsultasikan pada dokter, tapi tidak juga mengalami kemajuan..."
Sepasang suami istri itu saling menatap lekat dengan mata berkabut karena tangis. Azrinna yang pertama kali melihat kakaknya menangis seperti itu membuat hatinya juga terasa teriris.
"Kak, Mbak. " Panggilan Azrinna membuat pasutri itu langsung menoleh ke arahnya.
"Jika kalian mau, Azri memiliki bayi perempuan yang tinggal di panti asuhan milik Akhtar. Dia bayi yang dibuang orang tuanya sendiri. Azri sangat menyayanginya seperti anak Azri sendiri.
Dan, entah kalian percaya atau tidak, Azri merasa dia bukanlah bayi biasa, Azri merasakan bahwa dia memiliki keistimewaan yang sama seperti kita kak. " Azrinna menatap wajah kakaknya.
Zuhdi dan Hizqi kembali bertatapan. "Kamu mau ?." Tanya Zuhdi pada istrinya.
"Mas, mengizinkannya ?."
"Kalau kamu mau, mas tidak mungkin melarangnya." Ucapan Zuhdi langsung mengundang senyum manis Hizqi.
Hizqi memeluk erat tubuh suaminya. "Iya, mas. Aku mau." Jawab Hizqi .
Zuhdi kembali menatap wajah adiknya. "Dek, kapan kamu ke Jakarta lagi?. " Tanyanya.
"Insyaallah besok, kak. Dan mungkin Azri akan kembali menetap di Jakarta. "
"Eyang putri ?."
"Eyang putri yang malah menyuruh Azri cepat-cepat kembali ke Jakarta. "
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, kami akan ikut denganmu ke Jakarta besok. "
" Iya, kak. "
___________
"Alhamdulillah..." Gumam ketiganya setelah turun dari kereta api.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan selama berjam-jam, akhirnya mereka kembali menapakkan kaki di bumi ibukota.
Mereka langsung berjalan menuju area parkiran mobil karena mobil jemputan yang sudah dikirimkan oleh orangtuanya ada di sana.
Saat di dalam mobil yang sedang berjalan membawa mereka ke rumah, Azrinna tak sekalipun berpaling dari jendela yang menyajikan pemandangan indah yang sudah setahun lamanya ia tak lihat.
Mobil terus merangkak membelah jalanan beraspal. Hingga beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di rumah.
Winata dan Sintia begitu antusias menyambut kedatangan mereka di depan pintu utama. Memeluk satu persatu anak dan menantunya dengan penuh kerinduan lalu Sintia beralih mengambil alih Alchira dari tangan Azrinna.
"Cucu nenek udah gede, ya?." Ucap Sintia sembari mencium gemas pipi Alchira.
"Ayo, masuk?!." Ajak Winata.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan segera memasuki kamar masing-masing karena waktu Maghrib sudah sangat tipis.
Di waktu yang sama dan beda tempat, Akhtar sedang istirahat di kamarnya setelah selesai sholat Maghrib. Perjalanan Yogyakarta - Jakarta sangat melelahkan.
Setelah menimbah ilmu di pesantren dan sudah dikatakan lulus, di Jogjakarta, ia memutuskan untuk pulang ke Jakarta lagi dengan kehidupan baru dan kegiatan baru juga.
Tidurnya sangat nyenyak, hingga suara adzan Isya berkumandang bagaikan alarm dalam mimpinya.
Akhtar segera bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Setelah selesai, ia langsung membentangkannya sajadah dan mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat.
_____________
Pukul sembilan pagi, Azrinna dan sepasang suami istri, kakaknya, juga Alchira, sudah rapi untuk melakukan perjalanan menuju panti asuhan milik Akhtar.
"Ma, kami berangkat dulu, assalamualaikum..." Satu persatu dari mereka menyalami tangan ibunya.
"Hati-hati dijalan. Waalaikumsalam. " Ujar ibunya.
Dengan menggunakan satu mobil yaitu milik Zuhdi, mereka berangkat ke yayasan Pelita Bahagia.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Bangunan panti asuhan. Mobil Zuhdi sudah terparkir rapi di pelataran yang dikelilingi beberapa zona permainan anak-anak. Sesaat Azrinna memperhatikan suasana di luar mobil melalui kaca jendelanya.
Setahun memang waktu yang tidak singkat. Bahkan anak-anak disini sepertinya semakin banyak. Bathin Azrinna.
Azrinna mengajak kakak-kakaknya turun. Saat menapakkan kakinya di tanah, tatapan Azrinna terpaku pada sebuah mobil mewah yang terparkir di pelataran taman juga.
Jika itu adalah mobil dinas yayasan, tentunya tidak mungkin mewah seperti itu kan ?. Azrinna kembali membatin.
Azrinna mengabaikan rasa penasarannya terhadap pemilik mobil tersebut. Dan mengajak kakak-kakaknya untuk masuk ke dalam rumah pengasuh yayasan.
"Assalamualaikum..." Ujarnya saat sampai di depan pintu yang terbuka.
"Waalaikum salam..." Terdengar suara menyahut dari dalam yang ia sungguh hafal pemilik suara itu.
Seorang wanita paruh baya keluar dan langsung terlihat sumringah saat melihat Azrinna. "Aira ?!." Pekiknya.
"Iya, Bu." Azrinna menyalami tangan wanita itu dan di ikuti oleh Hizqi. "Ibu, apa kabar ?." Tanya Azrinna.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ibu baik, nak." Jawab ibu Rini lalu matanya terfokus pada Alchira yang sedang di gendong Azrinna. "Ini putrimu, Ai?." Tanyanya pada Azrinna.
"Iya, Bu. Ini putriku. Namanya Alchira. " Jawab Azrinna masih dengan senyuman manisnya.
"Cantik sekali dia. Wajahnya sangat mirip ayahnya." Ucap Bu Rini lalu tangannya mengusap lembut kepala Alchira yang tertutup hijab simple.
"I-iya, Bu. " Azrinna sedikit tergagap mendengar ucapan Bu Rini.
"Ya udah, Ayo, masuk ?!. Kebetulan sekarang juga lagi ada tamu." Ucap Bu Rini seraya memandu mereka memasuki rumahnya.
"Tamu ?. Siapa, Bu ?." Tanya Azrinna penasaran.
"Ibu belum tau, soalnya dia juga baru saja datang terus disusul dengan kedatangan kalian."
Azrinna manggut-manggut mengerti dengan penuturan Bu Rini.
Saat sampai di ruang beranda, tempat yang biasa digunakan untuk menjamu tamu di rumah Bu Rini, terlihat sosok wanita dengan pakaian syar'i sedang duduk di salah satu kursi.
Wanita itu masih sangat muda dan wajahnya pun terlihat tenang dan teduh juga damai kala dipandang. Azrinna bahkan sangat terpesona oleh wajah tersebut. Ia menebak, jika wanita itu pasti dari keturunan orang yang berilmu agama tinggi.
Jika tatapan Azrinna terhadap wanita itu adalah sebuah kekaguman, berbeda lagi dengan Zuhdi dan Hizqi, mereka tampak terkejut melihat wanita yang pernah mereka lihat bersama Akhtar saat berada di taman bermain di Jogjakarta.
Wanita cantik itu pun sama terkejutnya saat melihat dua orang yang pernah ia temui beberapa hari lalu.
Azrinna sedikit bingung melihat tatapan mata wanita itu pada kedua kakaknya, yang menyiratkan kekagetan, begitupun sebaliknya.
"Assalamualaikum..." Ujar Azrinna memecahkan aura menegangkan itu.
"Waalaikum salam." Jawab wanita tersebut yang sudah kembali ke kesadarannya.
Azrinna menyalami tangan se sejuk musim dingin itu. "Azrinna. " Ucap Azrinna seraya menerbitkan senyum ramahnya
"Zahra. " Wanita itu juga membalas senyumnya.
"Mari... " Ucap Azrinna lagi seraya mendudukkan tubuhnya di kursi samping wanita bernama Zahra itu di susul dengan Zuhdi dan Hizqi yang menduduki kursi lainnya.
"Iya, silahkan. " Ucap Zahra ramah.
Kini tatapan mata Zahra terpaku pada wajah polos Alchira. Ingatannya sangat yakin, bahwa itu adalah putrinya Akhtar.
Bu Rini datang bersama salah seorang anak panti yang sudah remaja, membawakan jamuan untuk para tamunya.
"Makasih, Bu. "
"Makasih, Bu. "
Azrinna tanpa sadar bersuara bersamaan. Bu Rini hanya membalas dengan senyuman lalu ikut duduk di salah satu kursi yang masih kosong, sedangkan anak remaja tadi sudah kembali ke belakang.
"Silahkan, diminum. " Ucap Bu Rini pada tamu-tamunya.
"Iya, Bu. "
Mereka mengambil gelas masing-masing dan meminumnya sedikit sekedar untuk menghargai tuan rumah.
"Maaf, Bu. Sebelumnya saya ingin bertanya, apa disini ada anak kecil yang bernama R A Arsyilia Silma Zahwa ?."
Jreng jreng jreng...🤭😊😊
Bersambung...
__ADS_1