
"Maaf, Bu. Sebelumnya saya ingin bertanya, apa disini ada anak kecil yang bernama R A Arsyilia Silma Zahwa ?." Zahra mulai berbicara setelah meletakkan kembali gelasnya d atas meja.
Ucapan Zahra membuat semua orang terkejut dan diam seketika. Azrinna dan ibu Rini saling lempar tatapan kemudian Azrinna menoleh ke arah Zahra.
"Ada. Dan, kenapa kamu menanyakannya ?."
Zahra menoleh ke arah Azrinna.
"Kau...?." Zahra sedikit terkejut dengan ucapan Azrinna.
"Saya istri pemilik yayasan ini. " Ucap Azrinna seakan memahami keterkejutan Zahra.
Tidak tahukah Azrinna, jika ucapannya itu membuat seseorang yang sedang berada di ruangan lain, tersenyum ?.
" Ouh, baiklah, saya mengerti. " Ucap Zahra yang sudah memahami situasinya.
"Maaf, Mbak Zahra. Sekali lagi saya tanya, apa maksud anda menanyakan salah satu anak-anak saya ?." Ucap Azrinna lagi, kini tatapan matanya sudah tidak se ramah tadi.
Zahra menunduk penuh dengan masih menghadap ke arah Azrinna. Matanya mulai berkaca-kaca dan siap mengucurkan air matanya kapan saja. "Dia putriku. " Ucap Zahra dengan suara lirih hampir tak terdengar. "Saya datang kesini untuk menjemputnya. " Lanjutnya.
"Apa kau yakin dia putrimu ?." Tanya Azrinna kemudian.
Zahra kembali mengangkat wajahnya dan menatap wajah Azrinna. "Tentu saja. Karena saya sendiri yang mengantarkannya kesini. "
"Apa kamu tahu dengan perbuatanmu itu?. Apa pantas seorang ibu mengantarkan anaknya sendiri ke panti asuhan ?. " Tanya Azrinna membuat Zahra tertegun dan hanya bisa menyesali perbuatannya dengan menangis.
"Aku tidak sepertimu, Azrinna. Aku gadis lemah yang sangat takut memiliki seorang anak di luar pernikahan. Aku tidak bisa menjaganya seperti kau menjaga Alchira. Aku memang jahat pada putriku sendiri... Tapi, aku mohon... Izinkan aku mengambilnya dan menebus dosa-dosa ku pada putriku, Azrinna..." Ucap Zahra pilu dan dengan deraian air mata.
Zahra menggenggam erat tangan Azrinna berharap Azrinna mengizinkannya mengambil sang putri.
Mendengar rintihan Zahra membuat Azrinna juga tak kuasa menahan air matanya. Azrinna menangis dalam diam, dan hanya airmatanya saja yang perlahan menganak sungai di pipinya.
"Kau. Kau tahu darimana masa laluku ?." Tanya Azrinna.
"Aku..." Zahra terlihat ragu menjawabnya.
"Mas. " Pekik Azrinna saat melihat Akhtar masuk dari ruangan sebelah.
Akhtar menyunggingkan senyumnya sembari melangkah mendekati dua wanita yang pernah mengusik relung hatinya. Akhtar berjongkok lalu berdiri dengan kedua kakinya di hadapan Azrinna.
__ADS_1
"Mas !. " Azrinna sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Akhtar.
Azrinna langsung berdiri dan menghindar agar kakinya tidak tepat berada dihadapan wajah Akhtar.
Azrinna menatap tak percaya dengan penampilan Akhtar saat ini. Benarkah apa yang dilihatnya sekarang ?. Benarkah itu Akhtar yang dulu pernah memperdayanya ?. Benarkah dia Akhtar, seorang pria yang bahkan tidak percaya akan adanya Tuhan dan keyakinan?. Lalu,, apa yang sedang dia pakai sekarang ?. Apa maksudnya itu ?!.
"Mas, kau. Apa yang terjadi denganmu ?." Tanya Azrinna masih tidak habis pikir dengan apa yang sedang ada di hadapannya itu.
Akhtar kembali berdiri dan mendekati Azrinna.
"Kau masih meragukan ku, Ai ?. Setelah semua yang kau lihat ini ?." Tanya Akhtar dengan sangat tenang.
Azrinna menoleh ke arah kakaknya dan ternyata kakaknya malah mengangguk. Entah apa maksud dari anggukannya itu.
Azrinna kembali melihat ke arah Akhtar. "Jangan melakukannya karena terpaksa, mas. Itu tidak baik. " Ucap Azrinna kemudian.
Masih sempat-sempatnya Azrinna memberikan nasehatnya disaat sedang dalam keadaan seperti ini. Yah. Itulah Azrinna, yang selalu membuat pesonanya menjerat kuat di hati Akhtar dan membuat Akhtar menyunggingkan senyumnya.
"Aku memang terpaksa melakukannya. Aku terpaksa karena aku membutuhkan arah dalam kehidupan ku. Aku butuh penerang agar tidak selalu dalam kegelapan. Dan aku sudah menemukannya, sekarang. " Ucap Akhtar sungguh-sungguh.
Namun, sepertinya Azrinna belum juga mempercayainya. Wajah Azrinna masih menyorotkan ketidaksukaan terhadap penampilan Akhtar.
Cara berpakaian Akhtar memang sangat mengejutkan bagi Azrinna. Karena saat ini, Akhtar sedang menggunakan setelan baju kemeja panjang dan sarung, serta di kepalanya terdapat peci berwarna hitam legam. Persis seperti seorang santri putra.
Ezar muncul dari ruangan yang seperti Akhtar tadi. Bocah kecil itu berlari dan langsung memeluk erat kaki Azrinna.
"Mommy." Panggil Ezar dengan suara yang biasa saja, tidak seperti sebelumnya.
Azrinna berjongkok dan langsung memeluk erat putranya. "Ezar. " Panggil Azrinna sudah dengan deraian air mata.
Betapa ia sangat bahagia saat ini. Jika dua pria yang menduduki tempat khusus di hatinya sedang memakai pakaian seorang muslim yang taat. Ezar nya menggunakan pakaian muslim ala anak kecil berwarna navy juga peci hitam legam, sama seperti Akhtar.
#(Lupakan sejenak masalah Zahra dan Putrinya)#
"Ezal kangen mommy..." Rengek Ezar dengan mata berkaca-kaca.
"Mommy juga kangen Ezar. " Azrinna mendaratkan kecupannya di kening Ezar. "Mommy sayang Ezar." Lanjutnya lagi.
"Ezal juga sayang mommy. "
__ADS_1
"Iya, nak."
Tatapan mata Azrinna kembali menatap wajah Akhtar. Berharap Akhtar mengucapkan sesuatu kata lagi untuk semakin meyakinkan hatinya.
"Mas." Panggil Azrinna.
"Izinkan aku menemui orang tuamu, Ai. " Ucap Akhtar sungguh-sungguh.
"Tanyakan pada kak Zuhdi." Ucap Azrinna dan di angguki oleh Akhtar.
Akhtar menoleh pada kakaknya Azrinna yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
"Maaf, mungkin dulu saya sangat melukai perasaanmu sebagai seorang kakak, karena telah merusak Azrinna. Tapi, demi Allah, aku sangat menyesali perbuatan kotorku waktu itu. Dan hari ini setelah meminta maaf atas kelakuan ku di masa lalu, aku memohon agar kau juga mengizinkanku untuk meminang Azrinna, menjadikannya ibu dari Ezar dan anak-anak kami kelak." Ucap Akhtar dengan perasaan harap-harap cemas. Ia takut jika Zuhdi masih belum mau memaafkan kesalahannya.
Zuhdi terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dan menatap lekat wajah Akhtar. "Apa kau berjanji untuk selalu membahagiakan adikku ?." Tanya Zuhdi.
"Iya, aku janji. Dengan bersama-sama melangkah di jalan Allah, aku akan terus berusaha untuk membahagiakannya. " Jawab Akhtar yakin.
"Baiklah. Aku mengizinkan mu, tapi kau juga harus menemui orang tua kami dulu. "
"Iya, aku akan melakukannya."
Semua orang tampak langsung menghembuskan napas lega. Termasuk Azrinna, ia merasa hatinya mendesir sejuk saat kakaknya itu sudah memaafkan Akhtar.
Azrinna melirik ke arah Akhtar yang ternyata Akhtar sedang menatap wajahnya sangat intens, membuat dirinya menjadi salah tingkah dan langsung memalingkan wajahnya dari wajah Akhtar.
Akhtar hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu Azrinna.
"Ai. "
Merasa dipanggil, Azrinna kembali menoleh ke arah Akhtar. "Ya ?."
"Zahra adalah putri dari guru mengaji ku. Dia sudah menyesali perbuatannya sendiri dimasa lalu, bisakah kau mengizinkannya membawa anaknya?." Ucap Akhtar berharap Azrinna memberikan kesempatan kepada Zahra untuk yang kedua kalinya agar dia bisa memperbaiki hubungannya dengan sang anak.
Azrinna tidak mengatakan apapun, tapi anggukan kepalanya menjawab pertanyaan Akhtar.
"Alhamdulillah..." Gumam Zahra yang merasa sangat bahagia bahkan air matanya juga kembali membasahi pipi.
Namun kesedihan malah menghampiri hati Hizqi. Hizqi memeluk erat tubuh suaminya dan menangis dalam diam di pelukan Zuhdi.
__ADS_1
Azrinna bukan tak menyadari kesedihan yang dirasakan oleh kakak ipar sekaligus sahabatnya itu, hanya saja, ia juga tak tega memisahkan seorang anak dengan ibu kandungnya sendiri, karena itu pasti sangat menyakitkan.
Hatinya jadi serba salah disini. Yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa semoga Allah lekas memberikan petunjuk Nya dan segera memberikan keturunan untuk pasangan kakaknya itu.