Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
eps. 45


__ADS_3

Taman bermain terlihat sangat ramai, beberapa anak kecil berlarian saling kejar-kejaran, membuat Ezar tampak sumringah dan segera meminta sang ayah untuk masuk ke dalamnya.


Setelah membeli tiket, Akhtar membiarkan Ezar bermain dengan sesukanya bersama teman-teman baru dalam area bermain, sedangkan Akhtar sendiri memilih duduk di bangku yang tidak terlalu jauh untuk mengawasi.


Tak jauh dari posisi Akhtar, seorang wanita berpakaian syar'i juga sedang menikmati pemandangan indahnya keceriaan anak-anak yang sedang bermain. Wanita itu hampir setiap hari datang ke taman bermain ini, namun hanya seorang diri. Dia senang melihat anak-anak itu untuk menghilangkan rasa rindunya pada sang buah hati yang jauh di ibukota. Wanita itu tidak lain adalah Zahra.


Seorang bocah berlari dan tanpa sengaja menabrak Zahra, membuat Zahra sedikit hilang keseimbangan namun dengan cepat ia bisa berdiri nyaman lagi.


Senyum Zahra merekah melihat bocah yang berdiri di hadapannya dengan wajah murung. Bocah itu mendongak menatap wajah Zahra sangat lekat.


"Mommy. " Ujar bocah itu pada Zahra.


Zahra berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah laki-laki yang wajahnya sangat tampan, dan sedikit mirip seseorang tapi ia lupa siapa.


"Mommy."


"Hai, sayang. Ini Tante, bukan mommy. " Ucap Zahra dengan jemari mengusap lembut pipi bocah tersebut.


"No, Mommy. Ezal kangen mommy..." Bocah kecil itu langsung memeluk erat leher Zahra.


Yah. Itu adalah Ezar, yang mengira bahwa Zahra adalah mommynya atau Azrinna. Dan kebiasaan Ezar saat memeluk Azrinna adalah di bagian lehernya.


Zahra kebingungan, tapi tidak punya pilihan lain selain menggendong bocah kecil yang menyebutkan namanya dengan panggilan Ezal.


Dirinya mungkin akan membawa bocah itu bertemu dengan orangtuanya yang entah ada dimana.


Di bumi pijakan lain, Akhtar sebenarnya tahu apa yang terjadi dengan putranya itu karena sedari tadi matanya terus memperhatikan pergerakan Ezar. Tapi, Akhtar memilih diam di tempat dan hanya menyaksikan interaksi Ezar dengan wanita pilihannya itu. Ia berharap, semoga Zahra bisa menjadi ibu yang penyayang untuk Ezar.


Akhtar mengedarkan pandangannya ke arah lain karena merasa ada sesuatu yang ganjal. Dan benar saja, ternyata penglihatannya tidak salah. Disana ia melihat kakaknya Azrinna juga sahabat Azrinna yang pernah ikut berkunjung ke rumah menemani Azrinna. Tapi yang paling membuatnya bahagia adalah jika putri kecilnya sudah tumbuh dengan baik bahkan terlihat sangat cantik dengan pakaian tertutup yang sama dengan yang sering dipakai Azrinna.


Azrinna benar-benar mendidik putrinya dengan baik bahkan dari usia dini sekalipun.


Tanpa sadar, kaki Akhtar melangkah mendekati mereka, membuat dua orang itu sangat terkejut karena kehadirannya.


"Akhtar."


"Kamu."


Reaksi wajah Zuhdi jangan ditanya lagi. Aura permusuhan langsung tergambar jelas di raut wajahnya. Zuhdi segera menarik tangan sahabat Azrinna untuk pergi dari hadapan Akhtar.


"Saya hanya ingin menemui putri saya. Apa itu tidak boleh ?."


Ucapan Akhtar membuat langkah kaki sepasang suami istri itu terhenti. Melihat keadaan ternyata mendukung keinginannya, Akhtar berjalan mendekati mereka.


"Izinkan saya menemuinya, kami sudah lama tidak bertemu. "Ucap Akhtar lagi.


Mereka saling menatap satu sama lain lalu Zuhdi terlihat mengangguk dan setelahnya Alchira yang sedang digendong oleh sahabat Azrinna itu diberikan kepada Akhtar.


Akhtar dengan hati yang teramat bahagia langsung mengambil alih Alchira dan mendaratkan kecupannya pada kedua pipi putrinya.


"Dad..." Panggil Alchira dengan mata indahnya yang menatap wajah Akhtar.


Salah satu kelebihan yang dimiliki Alchira dan sama seperti Ezar adalah ingatan yang kuat.

__ADS_1


"Al masih ingat Daddy?." Tanya Akhtar bingung.


"Hmm. " Alchira mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangan mungilnya juga memeluk erat leher Daddy-nya, sama persis seperti yang sering dilakukan oleh Ezar, kakaknya Alchira.


"Kami akan menunggu disini. " Ucap sahabat Azrinna seakan memberi waktu pada Akhtar untuk mengajak Alchira bersamanya.


Akhtar mengangguk dan melangkah pergi membawa tubuh mungil Alchira.


Akhtar mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zahra yang tadi bersama Ezar. Dan menemukan mereka sedang duduk di bangku yang tadi diduduki oleh Akhtar.


"Ezar. " Panggilan Akhtar membuat Ezar langsung menoleh ke arahnya.


"Daddy. "


"Yes, my son. Kemarilah, siapa yang Daddy bawa. "


Ezar turun dari bangku dan bergegas menghampiri Akhtar yang berjongkok untuk menurunkan Alchira ke tanah. Meski dirinya tidak tahu jika Alchira sudah bisa berjalan atau belum, tapi jika dilihat dari umur putrinya itu seharusnya Alchira sudah bisa berjalan. Dan ternyata benar, Alchira memang sudah bisa berjalan.


"Baby Al. " Ezar terlihat girang saat melihat adiknya. Dia berlari dan langsung memeluk erat tubuh mungil adiknya.


"Emass." Ucap Alchira memanggil kakaknya.


Mendengar panggilan itu membuat Ezar sedikit kebingungan dan menoleh ke arah Akhtar yang juga kaget dengan panggilan Alchira terhadap kakaknya itu.


"Alchira manggil Ezar nya, mas. " Ucap Akhtar memberi penjelasan.


"Kaya mommy ke Daddy?." Ucap Ezar polos sambil melirik ke arah Zahra yang sudah bergabung.


Akhtar melihat ke arah Zahra dan begitupun sebaliknya. Sesaat tatapan keduanya saling terkunci dalam. Akhtar menerbitkan senyumnya dan ternyata membuat Zahra menjadi salah tingkah lalu melengos kan kepalanya.


Ezar kembali melihat ke wajah cantik adiknya yang berbalut hijab simpel berwarna pink, sama seperti warna pakaiannya.


"Baby Al mau main ?." Tanyanya pada Alchira.


" Iya."


"Ayo, ikut mas Ezar. " Ezar menggandeng tangan adiknya berjalan ke wahana permainan, meninggalkan Akhtar dan Zahra yang masih diam di tempat.


Membiarkan kedua anaknya bermain, Akhtar kembali duduk di bangku sambil terus memperhatikan mereka.


" Duduklah." Ucapnya pada Zahra.


Zahra terlihat ragu namun tetap ikut duduk di samping Akhtar.


"Mereka anak-anakmu ?."


"Iya. "


"Mereka sangat mirip denganmu. "


"Iya, tapi putriku sedikit mirip dengan ibunya, sangat cantik. " Akhtar berucap masih dengan mata memperhatikan bagaimana anak-anaknya bermain di sana.


"Tapi dari reaksi mereka, apa mereka jarang bertemu ?, Mereka tinggal berpisah ?." Zahra juga berucap tanpa melihat ke arah Akhtar dan juga masih memperhatikan anak-anak Akhtar yang sedang bermain.

__ADS_1


"Iya, mereka berpisah selama satu tahun lebih. Ezar bersamaku dan Alchira tinggal bersama mommynya. "


Zahra melirik ke arah Akhtar. "Bukankah istrimu sudah meninggal ketika anakmu masih bayi ?." Tanya Zahra penasaran. Sebab menurut penuturan Abah nya, jika istri Akhtar sudah meninggal saat anak mereka masih bayi.


"Ceritanya sangat panjang. Tapi yang jelas, bahwa Ezar dan Alchira memiliki ibu yang berbeda. "


"Kau pernah menikah lagi, dan memiliki seorang putri ?."


"Tidak. "


"Lalu ?."


Akhtar menoleh dan menatap lekat wajah teduh ponakan Kyai Anwar itu. "Kau yakin Ingin mendengarnya?."


"Aku penasaran. " Ucap Zahra lirih tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, karena fokusnya sudah pada dua anak Akhtar lagi.


Akhtar kembali memalingkan wajahnya dari wajah Zahra dan beralih pada putra-putrinya yang sedang tertawa lepas saat bermain.


"Saat istriku sudah diizinkan pulang setelah melahirkan Ezar di rumah sakit, mobil kami terkena musibah. Seorang gadis tak sengaja tertabrak dan mengalami koma, sedangkan istriku telah mati di tempat kejadian.


Dua Minggu setelah kematian istri ku, gadis itu sadar tapi dia mengalami amnesia karena kecelakaan itu. Dan, karena ide dari sepupuku, dengan memanfaatkan keadaannya, menjadikannya ibu untuk Ezar juga istriku.


Kamu tahu aku adalah mualaf kan ?." Tanya Akhtar dan di angguki oleh kepala Zahra.


"Yah, sebelum aku masuk Islam aku tidak percaya akan adanya Tuhan dan keyakinan, karena memang orang tua ku juga tidak memiliki agama.


Yah, karena itulah aku menjadi pria brengsek yang menghancurkan masa depan gadis itu. Aku menjadikannya layaknya seorang istri dan yang lebih jahatnya lagi, aku memberikannya obat khusus agar ingatannya tak pernah kembali agar aku tidak pernah kehilangannya.


Tapi saat dia dinyatakan hamil dan mengalami kehamilan yang lemah, aku menghentikan memberinya obat tersebut sehingga dalam beberapa bulan saja ternyata ingatannya langsung kembali. Bahkan saat setelah melahirkan, dia langsung pergi kembali ke keluarganya dan meninggalkan putri kami yang masih bayi." Akhtar bercerita panjang lebar menceritakan kisahnya bersama Azrinna.


Akhtar tidak tahu jika Zahra ternyata sangat terkejut dan beberapa kali meneteskan air matanya. Rasa sesak memenuhi relung hatinya seolah ikut merasakan kesakitan yang dirasakan oleh gadis yang telah diperdaya Akhtar. Gadis itu harus rela kehilangan masa depannya saat sadar dan harus dihadapkan kenyataan bahwa dia sudah menyandang sebagai seorang ibu tanpa adanya ikatan pernikahan. Sungguh miris kisahnya itu, dan hampir sama seperti yang pernah dialaminya. Tapi sungguh, apa yang dialami gadis itu lebih menyakitkan dibanding dengan apa yang dialaminya.


"Zahra. "


Zahra menoleh ke arah Akhtar dengan mata yang masih berlinang air mata. "Lalu, kenapa putrimu bisa bersama ibunya ?." Tanya Zahra dengan tatapan mata tajam ke wajah Akhtar.


"Naluri seorang ibu. Dia meminta Alchira untuk ikut bersamanya. Dan, sekarang yang aku ketahui, meski Alchira adalah darah dagingku sendiri, Alchira tetaplah tidak Bernasab denganku. Dia lahir dari perbuatan kotorku di masa lalu. Dosa besar yang kutahu adalah zina."


"Iya, tentu saja itu zina dan merupakan dosa besar. "


"Iya." Akhtar menunduk penuh menyesali perbuatannya pada zaman jahiliah itu.


"Zahra."


"Ya."


"Apa kamu masih mau menerimaku setelah mendengar masa lalu ku ?." Tanya Akhtar masih berharap jika Zahra mau memaafkan masa lalunya.


"Dari awal Abah mengatakan tentang niat baikmu, aku juga masih bingung. Apalagi setelah mendengar ceritamu, rasa ragu ku semakin kuat.


Bukan aku ingin menghakimi masa lalumu, bukan. Karena aku juga memiliki kenangan yang buruk di masa lalu ku."


______

__ADS_1


salam bahagia dari penulis 🙏🏻😊😊😊🥰


__ADS_2