
"bagaimana keadaannya?. Apa dia belum juga sadar ?." Seseorang menepuk pundaknya dan langsung bertanya demikian.
"Tidak tau. " Yah. Hanya dua kata itulah yang keluar dari sepasang bibir pria yang akhir-akhir ini sering menyendiri bersama lamunannya itu.
Seseorang yang tadi baru datang kini ikut duduk di samping pria yang merupakan sepupu nya. "Terpuruk boleh tapi jangan terus berlarut larut." Nasihatnya.
"Aku bingung bang. Aku juga khawatir akan keadaan Ezar. Dia masih kecil tapi harus kehilangan ibunya. Bagaimana Ezar akan tumbuh dewasa tanpa memiliki ibu?.." suara pria itu terdengar parau seakan menahan tangis yang begitu menyesakkan dada.
Akhtar Ernann Ilario. Pria berusia 27 tahun yang baru saja berstatus duda sebab kecelakaan maut yang menewaskan istri tercintanya dua Minggu lalu.
Waktu itu dirinya bersama sang istri baru saja pulang dari rumah sakit setelah sang istri melahirkan putra pertama mereka. Namun naas, ketika dalam perjalanan pulang seseorang yang terlihat sedang berlari di tengah jalan dan sepertinya orang itu menyeberang tapi tidak melihat kanan kirinya. Dan demi menghindarinya Akhtar mencoba membanting setir ke kiri agar tidak menabrak orang itu. Tapi ternyata tetap saja mobilnya masih sempat menyerempet tubuh orang itu sebelum akhirnya menabrak pohon rindang yang ada di sisi jalan. Bahkan sang istri juga langsung tewas di tempat sebab benturan sangat keras di kepalanya yang juga mengeluarkan banyak darah.
Keberuntungan masih dimilikinya juga sang putra di dalam kecelakaan itu. Akhtar hanya mengalami luka kecil di pelipis nya yang terjadi akibat benturan dengan setir. Sedangkan sang putra ternyata baik baik saja tanpa luka sedikitpun sebab pada saat kecelakaan itu terjadi istrinya begitu erat memeluk putranya untuk menghindari bahaya yang mungkin menimpa bayi mereka yang baru saja dilahirkan di dunia ini.
"Iya aku tau tentang itu. Tapi kamu juga harus mengikhlaskan kepergian istrimu, Tar. Dan... Untuk Ezar, kamu kan bisa mencari ibu sambung~"
"Tidak !. Aku masih mencintai istriku. Aku tidak bisa melupakannya meski dia sudah meninggal sekalipun." Akhtar langsung memotong ucapan sepupunya itu.
"Aku tidak menyuruhmu melupakan istrimu. Aku hanya bilang mencari ibu untuk anakmu."
"Iya, tapi tidak untuk sekarang. Aku masih belum siap."
"Pertumbuhan Ezar tidak menunggu ayahnya siap."
Akhtar termangu. Ia membenarkan ucapan Raihan, sepupunya itu. Karena yang Raihan katakan memang benar adanya bahwa pertumbuhan Ezar tidak menunggu ayahnya siap dulu.
"Ezar memiliki pengasuh yang selalu menjaganya sekarang." Ucap Akhtar akhirnya.
"Pengasuh tidak seperti seorang ibu. Mereka sangatlah berbeda, Tar . "
"Sudahlah, Rai. Aku sedang pusing. Jangan membuatku lebih pusing lagi !." Akhtar bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya yang berada di lantai lantai dua tepat bersebelahan dengan kamar putranya.
Akhtar membanting tubuh di atas kasur dan tangannya meraih bingkai kecil yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
Di dalam bingkai itu terdapat gambar dirinya beserta sang istri yang duduk sambil memangku bayi mereka. Ia sangat ingat moment itu mereka ambil saat masih ada di rumah sakit, tepatnya di taman rumah sakit sebelum mereka melakukan perjalanan pulang tiga jam setelah mengambil pemotretan yang ada di foto itu.
" nega meni sevgilim tashlab ketding? nega Ezarni tark etding...?" Akhtar membiarkan air matanya menganak di pipi tanpa berniat menyekanya sama sekali. "Sizni sog'indim. Biz sizni sog'indik ..."
*(kenapa kau tinggalkan aku sayangku ?. kenapa kamu meninggalkan Ezar...?")*
__ADS_1
*(Aku merindukanmu. Kami merindukanmu...)*
Tangan Akhtar mengusap pelan gambar wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Akhtar segera menyeka air mata yang telah membasahi pipinya. Akhtar bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu. Tangannya perlahan membuka pintu kamarnya. "Ada apa Tania?." Tanyanya saat melihat sosok pengasuh sang buah hati.
"Maaf tuan. Tuan muda Ezar dari tadi rewel terus dan saya tidak bisa menenangkannya." Tania menundukkan kepalanya sembari menjelaskan.
"Apa kamu sudah memberikan susu formulanya?." Akhtar bertanya sambil mengambil alih Ezar dari gendongan pengasuhnya. Ezar memang terlihat rewel dan bergerak seperti tidak nyaman.
"Sudah tuan. Tapi tuan muda juga menolak meminumnya. Saya sudah mencobanya berkali-kali tapi tuan muda tetap tidak mau minum susunya." Terang Tania lagi.
"Kenapa ya...?. Bukannya Ezar selalu meminum susunya kan?." Akhtar juga heran kenapa Ezar tidak mau minum susunya kali ini. Padahal biasanya Ezar selalu meminum nya.
" Iya tuan. Tuan muda selalu meminum susunya rutin tapi entah kenapa sekarang dia tidak mau."
" Baiklah. Kalau gitu kamu coba hubungi dokter spesialis anak untuk memeriksa apa yang terjadi pada Ezar.!"
"Baik tuan. Saya pergi dulu..." Tania bergegas pergi dari hadapan Akhtar.
"Iya. Cari dokter spesialis yang bagus."
Sepeninggalan Tania, Akhtar membawa putranya masuk ke dalam kamar. Kedua tangannya menimang-nimang sang putra yang masih berumur kurang dari satu bulan itu. Melihat wajah Ezar yang masih begitu polos khas seorang bayi membuatnya kembali teringat sang istri yang mungkin sekarang sudah tenang di alam sana. Ia masih sayang akan keadaan sang buah hati yang harus ditinggalkan oleh ibunya untuk selama lamanya.
"Maafkan Daddy ya nak. Daddy gak bisa menjaga ibumu agar tetap selalu bersama kita..." Akhtar mendaratkan ciuman nya pada kedua pipi chubby putranya.
Waktu terus berjalan hingga tibalah Tania kembali mengetuk pintu dan saat ia buka, Tania sudah bersama seorang dokter dengan pakaian dinasnya juga tak lupa dengan tas jinjing yang bisa di pastikan di dalamnya terdapat beberapa alat medis.
Akhtar mempersilahkan dokter spesialis anak itu masuk dan menyegerakan memulai pemeriksaan pada Ezar. Dokter yang diketahui bernama Arresia itu tampak sangat hati-hati ketika memeriksa tubuh mungil Ezar. Setelah selesai dr. Arresia langsung memulai menjelaskan akan keadaan yang dialami Ezar.
" Lalu kenapa dia tidak mau minum susunya Dok?." Tanya Akhtar setelah mendapat penerangan sang dokter yang mengatakan jika putranya tidak apa apa bahkan tidak sakit sama sekali.
"Itu memang biasa terjadi. Apalagi Ezar sebelumnya pernah meminum ASI kan?."
Akhtar mengangguk sebagai jawaban.
"Anda bisa melakukan memberi susu formula dari berbagai produk atau berbagai rasa sebab apa yang dialami Ezar bisa saja karena dia merasa bosan oleh susu yang sering di minumnya. " Dokter kembali menjabarkan.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih dok. "
"Iya tuan. Semoga Ezar cepat tumbuh baik sesuai perkembangan fisiknya. Jika ada perlu lagi mengenai Ezar anda bisa langsung menghubungi saya, tuan."
"Iya. Itu sudah pasti. Sekali lagi terima kasih atas pemeriksaan terhadap putra saya, Dok."
"Sama sama. " Dokter tersenyum simpul dan keluar di antar oleh pengasuh Ezar.
Sesuai dengan apa yang disarankan oleh dokter Arresia, Akhtar langsung menghubungi bawahannya agar membelikan susu untuk Ezar. Sesaat setelah menutup sambungannya, pengasuh juga sudah datang dan membawa Ezar kembali ke kamarnya sendiri.
Akhtar kembali melihat handphone nya saat mendengar suara notifikasi pesan masuk. Tangannya langsung membuka pesan itu setelah mengetahui siapakah orang yang telah mengirimkan pesan tersebut.
""Maaf tuan. Saya ingin memberi tahu kalau pasien sudah sadar dan sekarang sedang di periksa oleh dokter.""
""Baiklah. Saya akan segera ke sana.""
Akhtar bergegas menuju kamar Ezar untuk melihat dulu sang putra sebelum ia pergi juga ingin memberikan amanah pada Tania agar menjaga Ezar selama dirinya belum pulang ke rumah. Setelah selesai dari urusan nya di kamar Ezar, Akhtar langsung tancap gas melakukan perjalanan menuju ke rumah sakit dimana seorang gadis yang waktu itu tidak sengaja tertabrak oleh mobilnya sehingga mengalami pendarahan hebat di bagian kepala dan juga sempat koma selama hampir satu Minggu.
Dua puluh menit perjalanan yang ditempuh Akhtar. Kini dirinya sudah berada di depan pintu masuk ruang IGD bersama dua pengawal yang sudah ditugaskan untuk selalu berada di rumah sakit selama gadis itu ada di sana. Akhtar mulai mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu. Namun belum sampai menempel tubuhnya pada kursi, Akhtar mengurungkan niatnya alih alih malah menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD tersebut.
"Bagaimanakah kondisinya?. Apa dia sudah baik baik saja?."
"Kita bicarakan di ruangan saya, tuan Akhtar."
Akhtar menghembuskan nafasnya berat kemudian mengangguk. Mendapatkan jawaban dari Akhtar dokter itu tanpa berkata lagi langsung berjalan ke arah ruangan khusus miliknya dengan Akhtar membuntut di belakang nya.
Sesampainya di ruangan. Dokter itu mempersilahkan Akhtar duduk.
"Apa yang terjadi , Dok?. Bagaimana keadaannya?." Akhtar langsung melayangkan kembali pertanyaan nya.
"Menurut pemeriksaan nya, terdapat gangguan yang dialami oleh kepala pasien. Sebab, terjadinya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik. Sedangkan Sistem limbik sendiri berperan dalam mengatur emosi dan juga ingatan seseorang. Bagian otak tersebut bisa rusak jika mengalami benturan yang sangat kencang. Seperti yang telah dialami oleh pasien ini." Jelas dokter panjang lebar.
"Lalu?."
"Iya. Pasien tidak akan mengingat apapun yang telah terjadi sebelum kecelakaan itu. Bahkan untuk jati dirinya sendiri juga kemungkinan besar dia tidak akan mengingatnya sama sekali." Rupanya sang dokter paham akan apa yang sedang dimaksud Akhtar sehingga langsung memberi penjelasan lagi.
"Baiklah. Kalau begitu apakah saya bisa melihatnya, dok?. Bukankah dia sudah sadar tadi?. "
"Iya tentu saja tuan."
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih, Akhtar keluar ruangan dokter tersebut dan melangkah memasuki ruang IGD. Tepatnya ke dalam bilik yang ditempati oleh gadis itu.
Di dalam tampak ada dua perawat yang menemani gadis itu.