Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
42


__ADS_3

Selesai sholat subuh dan muraja'ah Al-Qur'an sebentar, Azrinna keluar dari kamar berniatan untuk menuju ke kamar eyang putri tapi saat sampai, kamar itu terlihat sepi dan hanya ada salah satu pelayan rumah yang sedang sibuk membereskan tempat tidur.


Azrinna keluar dari kamar eyang putri lalu melangkah ke ruang beranda yang juga terlihat beberapa pelayan sedang sibuk membersihkan perabotan rumah.


"Permisi. " Azrinna menghampiri salah satu dari mereka.


"Iya, Neng Putri ?."


"Eyang putri kemana ya?. Di kamarnya tidak ada."


"Ouh. Biasanya jika jam segini Ndoro ada di taman belakang, neng."


"Taman belakang ya?."


"Iya neng Putri."


"Baiklah. Makasih ya."


Setelah mengucapkan terima kasih Azrinna pergi menuju taman belakang. Taman yang dihiasi berbagai macam jenis bunga juga tumbuhan obat herbal di setiap sisi-sisinya.


"Eyang." Panggil Azrinna saat sudah berdiri di samping eyang putri. Membuat wanita paruh baya itu menoleh ke arahnya.


"Azrinna. "


"Eyang lagi metikin apa ?." Tanya Azrinna penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh eyang putri.


"Ini daun kelor. Bagus untuk menjaga daya tahan tubuh. Eyang sering mengonsumsinya semenjak keluar dari rumah sakit kemarin, karena usulan dari salah satu pelayan eyang. "  Ucap eyang putri memberi penjelasan.


"Apa itu rasanya enak, eyang ?."


Eyang putri menoleh sebentar ke arah wajah Azrinna. "Kamu pernah mendengar obat manis ?."


"Hahh?!." Azrinna terpekik bingung.


"Cucuku.. tidak ada rasa obat yang enak, semuanya tidak enak. Tapi khasiatnya yang kita cari. "

__ADS_1


"Iya, Azri tau kalau itu eyang. "


"Eyang sering meminumnya sebelum sarapan. Kamu juga harus meminumnya nanti sebelum sarapan. "


"Apa?. Nggak eyang. Azri gak suka jamu. Eyang aja yang minum itu." Tolak Azrinna mentah-mentah.


"Anak zaman sekarang ini. Memang jarang yang suka jamu. Kalian ini tidak tahu saja, daripada meminum obat mending minum obat Herbal. Kalau obat dokter itu efek sampingnya banyak dan berbahaya, lah kalau herbal tidak memiliki efek samping sama sekali, nduk." Eyang meracau dengan tangan masih fokus memetik daun kelor, katanya.


Salah satu kegiatan eyang putri yang memang dilakukan sendiri tanpa menyuruh pelayannya yaitu ini, meski nanti di bagian pemrosesan jadi nya tetap pelayan yang mengerjakan.


Setelah daun-daun yang dipetik sudah cukup eyang putri menyerahkannya pada pelayan untuk dibuat jamu.


"Sini. Ikut eyang nduk." Eyang berjalan ke arah bagian selatan taman dan Azrinna di belakangnya.


Mereka berdua sampai di tanaman perdu yang entah apa saja namanya yang jelas semua itu adalah tanaman obat herbal yang sering dikonsumsi oleh eyang putri juga.


Penjabaran eyang putri mengenai manfaat dari beberapa tanaman itu membuat kepala Azrinna hampir meledak.


Bagaimana bisa eyang menghafal satu persatu khasiat yang dimiliki oleh tanaman-tanaman itu semua ?. Decak Azrinna dalam hatinya.


Sarapan yang hanya diisi tiga orang itu terasa sepi dan sunyi, hanya ada suara dari sendok yang beradu dengan piring.


Usai makan, Azrinna kembali ke kamar untuk melihat sang putri kecilnya. Ternyata dugaannya benar bahwa Alchira past sudah bangun tapi karena putrinya itu sangat tenang dan rewel jadi meski dia bangun dan tidur ada seseorang disampingnya, Alchira tidak akan menangis dan malah menyibukkan diri sendiri dengan sesuatu yang ada disekitarnya untuk dijadikan mainan.


"Assalamualaikum..." Ujar Azrinna yang ternyata mengagetkan Alchira yang sedang fokus di dunianya sendiri.


Alchira menoleh. "Waalaikum salam..." Meski dengan ucapan yang tidak jelas khas seorang anak kecil. Alchira menjawab salam Azrinna.


Azrinna ikut bergabung duduk di samping Alchira, matanya memperhatikan bagaimana sang putri terlihat sangat ceria.


Azrinna duduk di samping Alchira sambil terus memperhatikan Alchira bermain.


Terlalu lama berdiam, Azrinna tiba-tiba kepikiran Ezar, tepatnya kejadian saat berada di taman binatang. Ia teringat bagaimana kelakuan putranya itu yang sangat berani mengusap-usap bayi cheetah. Jelas itu adalah kejadian yang membahayakan, namun entah kenapa ibu dari bayi-bayi cheetah itu tidak marah sama sekali. Padahal menurut penjaga taman tersebut semua binatang disana seharusnya sangat agresif jika ada seseorang selain penjaganya sendiri, apalagi sampai seberani Ezar. Sudah dipastikan mungkin tangan mungil putranya itu bisa menjadi santapan hewan liar tersebut.


Azrinna juga teringat kata-kata dari bisikan Ezar saat disana. Ezar mengatakan jika ular piton yang mereka kunjungi itu mengajak berkenalan dengan Ezar. Entah benar atau tidak ucapan putranya itu.

__ADS_1


"Chira "


"Hemm?." Alchira mendongak dan menatap mommynya.


Azrinna menatap lekat mata putrinya. Mata dengan warna dan tatapan yang sama seperti Akhtar. Menyelami manik berwarna abu-abu itu dengan perasaan yang berkecamuk.


Kau sedang apa mas ?.


Apa kau merasakan hal yang sama denganku?.


Azrinna tersentak saat putrinya memanggil. Ia paksakan senyuman manis untuk Alchira lalu mengangkatnya dan meletakkan di pangkuan.


"Mom.." Alchira kembali menatap wajah Azrinna seolah memahami sesuatu yang sedang terjadi pada ibunya.


"Ya, sayang?."


Bukannya menjawab Alchira malah menelusupkan wajahnya pada tubuh Azrinna.


"Dad..."


" Hahh ?!.''


"Dad... Chiya angen dad..." Rengek Alchira di tubuh mommynya.


" Chira kangen Daddy?."


"He em."


Azrinna tidak bersuara lagi. Pikirannya semakin gelisah memikirkan Akhtar. Bolehkah dirinya merindukan sosok ayah dari putrinya?. Tapi, bukankah Akhtar sudah memiliki seseorang lain disisinya?.


Azrinna menenangkan Alchira dengan mengelus lembut kepala dan punggungnya. Sholawat juga ia senandung kan agar hati Alchira juga dirinya sendiri bisa tenang, juga agar bayangan tentang Akhtar segera pergi.


Alchira terlelap, nafasnya mulai teratur. Azrinna langsung membaringkan tubuh Alchira di kasur sedangkan ia sendiri memilih fokus menatap langit terik mentari menyengat di balik jendela kamar.


Mata Azrinna menerawang nan jauh disana. Di tempat yang tidak tau dimana. Yang pasti kini hatinya begitu tenang menyebutkan satu nama, Akhtar.

__ADS_1


________


__ADS_2