
Tok, tok,
Tok, tok,
"Daddy...!. Mommy...!." Teriak Ezar yang sudah berdiri di depan pintu kamar orangtuanya di pagi.
Didekatnya, Tania merasa ketar-ketir karena sikap tuan mudanya telah membuat keributan di pagi hari ini. Tania sudah mengingatkan anak majikannya itu agar tidak melakukan hal demikian, tapi, Ezar ya Ezar. Apapun kemauannya, tidak akan bisa diganggu gugat, apalagi oleh pengasuhnya sendiri. Bahkan Akhtar saja terkadang kewalahan menghadapi sikap Ezar.
"Mommy...!. Daddy...!." Ezar kembali berteriak keras dan memukulkan genggaman tangan mungilnya ke pintu.
Pintu mulai dibuka dari dalam. Ezar segera melenggang masuk dengan wajah kesalnya. Dan apa yang dia lihat di kamar kedua orangtuanya itu ?.
Ezar semakin cemberut saat melihat kedua orang tuanya dan Alchira sedang duduk di atas tempat tidur dan tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Dia merasa diabaikan oleh keluarganya sendiri, dan itu membuatnya sangat marah.
Ezar menghentakkan kakinya dan berjalan kesal ke arah sofa yang masih berada di kamar kedua orangtuanya. Dia membanting diri lalu melepaskan sepatu yang telah rapi dipakainya dan melemparkannya asal ke segala arah. Bahkan salah satu dari sepatu itu ada yang mengenai kaca cermin meja hias sehingga menyebabkannya sedikit retak.
Ezar melirik ke arah keluarganya yang masih di posisi sebelumnya. Yah. Mereka memang tidak menghiraukannya sama sekali !.
Kekesalan Ezar semakin menjadi-jadi, dia turun kembali dari sofa dan dengan kedua tangan bersedekap angkuh, kakinya berjalan ke arah pintu keluar. Dan...
Bugghh !!.
Ezar membanting pintu sekuat tenaga.
Sampai di luar, tangis Ezar langsung pecah dan kaki kecilnya berlari kencang menuju kamarnya sendiri.
Di kamar, Akhtar juga langsung mendapatkan cubitan keras di lengannya oleh Azrinna.
"Aaa...!. Ai, sakittt..!. Lepaskan tanganmu...!"
"Biarin !. Lagian ide siapa ini ?!. " Azrinna semakin mengencangkan cubitannya.
"Sayang, udah dong... Ini sakit sekali, sumpah." Akhtar meringis sambil berusaha melepaskan tangan Azrinna.
"Kamu jahat sekali, mas. Liat kan, Ezar jadi nangis." Azrinna mulai melepaskan cubitannya.
"Iya, iya, maaf. Lagian kita kan sudah sepakat. "
"Yah, tapi ini keterlaluan, mas !." Decak Azrinna seraya bangkit dari tempat tidur. "Ayo, sayang, kita liat mas kamu. " Ucap Azrinna pada Alchira dan membawa tubuh mungil Alchira ke dalam gendongannya dan keluar dari kamar Akhtar menuju ke kamar Ezar.
__ADS_1
"Daddy sama mommy, nakal !. Ezar benci sama kalian..!. " Racauan Ezar terus terdengar memekakkan telinga. Bahkan suara tangisan itu sampai di luar kamarnya.
Azrinna mulai membuka kamar Ezar dan betapa terkejutnya ia saat melihat bantal, selimut juga beberapa mainan Ezar tampak tergeletak tak beraturan di lantai.
Ezar sedang marah besar saat ini, dan semua itu adalah pelampiasan marahnya.
" Ezar..." Panggil Azrinna sambil melangkah mendekati putranya.
"Nggak mau !. Ezar benci sama mommy sama Daddy...!' Ezar membuang mukanya dan langsung menyembunyikan wajahnya di kasur.
Azrinna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sang putra.
"Ezar." Azrinna mengulurkan tangannya mencoba menyentuh tangan putranya namun ternyata langsung ditepis oleh Ezar.
"No...!. Ezar benci mommy...!." Teriak Ezar dengan suara yang tertahan karena wajahnya masih disembunyikan.
Azrinna membuang nafasnya perlahan. Kesalahan Akhtar memang. Ide yang diberikan Akhtar memang sangat buruk. Azrinna menatap wajah putri kecilnya yang juga sama bingungnya. Azrinna memiliki sebuah ide dan langsung membisikkan kata-kata ke telinga Alchira, dan ternyata putrinya memang bisa diajak kerjasama. Yah. Untuk masalah Ezar, akan ia serahkan kepada sang pawangnya.
"Mas. " Alchira memulai aksinya. Jari telunjuk mungilnya menusuk-nusuk pipi kakaknya lalu beralih lagi dengan mengorek-ngorek daun telinga Ezar kemudian dengan gemas mengacak-acak rambut Ezar.
"Mas... " Panggil Alchira lagi. Tubuhnya menunduk dan mencium kepala Ezar dan beralih pada pipi kakaknya. "Mas..."
"Hemm !." Ezar bergumam masih dalam posisi wajah disembunyikan.
Akhirnya, Ezar mulai mengangkat wajahnya dan bangkit duduk. Wajahnya masih penuh amarah dengan mulut cemberut seperti bebek. Ezar menatap kesal wajah adiknya.
Tepak !.
"Jelek ihh !!." Ucap Alchira tanpa rasa bersalah ataupun takut pada kakaknya karena dengan entengnya menepuk wajah Ezar dengan cap lima jarinya.
"Chira. " Panggil Ezar geram semakin menatap tajam wajah Alchira.
Tepak !.
"Alchira...!" Ezar langsung menerkam tubuh adiknya dan menganiayanya dengan menggelitik tubuh mungil Alchira tanpa henti.
"Hahaha... Mas... Udah... hahaha...mas...!."
"Chira udah nakal sama, mas. Jadi harus dikasih hukuman. " Ucap Ezar masih terus menyiksa adiknya.
__ADS_1
"Mas... Capek... Chira cepek... Hahaha... Ampun...!" Ucap Alchira terbata-bata dan menggeliat tak karuan karena kakaknya memang tidak melepaskannya sama sekali.
Setelah lelah tertawa, keduanya duduk berdampingan dengan nafas yang tersengal-sengal. Keduanya saling melirik dan saat tatapan keduanya bertemu, tawa mereka kembali pecah namun segera terdiam lagi karena lelah.
Pintu kamar yang tadi tertutup saat kepergian sang ibu, kini mulai berderat kembali terbuka dan memunculkan sosok kedua orangtuanya yang sedang tersenyum cerah ke arah keduanya.
Mata Ezar terpaku pada kue yang ada di tangan daddy-nya.
Kue dengan lilin membentuk angka 5, berwarna hijau dan berhiaskan beberapa miniatur hewan-hewan kesukaannya.
"Barakallah fii 'umrik, sayang..." Ucap Azrinna dan mendaratkan kecupan kasih sayangnya pada kening Ezar lalu duduk di samping putranya.
Akhtar berdiri di hadapan Ezar dan menyodorkan kuenya. "Selamat hari lahir, my boy. " Ucap Akhtar lalu mengusap lembut kepala Ezar dengan tangan yang bebasnya.
"Selamat ulang tahun, mas Ezar...!" Ujar Alchira dan langsung memeluk erat tubuh kakaknya.
Senyuman Ezar langsung mengembang begitu saja karena kejutan yang diberikan keluarganya. Sesuatu yang sangat berharga bagi Ezar meski tadi kedua orangtuanya sempat membuat dirinya marah terlebih dahulu. Tapi, itu juga menambah kesan keistimewaannya.
Keluarganya memang tidak seperti kebanyakan orang-orang diluaran sana yang akan membuat pesta besar-besaran untuk merayakan ulang tahun. Karena ajaran kedua orangtuanya memang menerapkan prinsip, jika bertambahnya angka usiamu, maka berkurangnya jatah hidupmu. Jadi, di setiap ulang tahunnya, mereka hanya akan mengadakan kejutan kecil dan lebih mengutamakan memperbanyak berdo'a dan bersyukur saja.
"Makasih, semuanya... Ezar sayang kalian semua..."
"Kami juga sangat sayang sama Ezar. " ucap Azrinna dan ketiganya langsung memeluk erat tubuh Ezar.
"Daddy, kue nya ?!." pekik Alchira
"Daddy...!!." Teriak Ezar saat melihat kuenya sedikit rusak karena tertabrak oleh tubuh mereka.
bukannya merasa bersalah, Akhtar malah tertawa melihat keadaan kue yang sudah rusak. Tawanya menular pada Azrinna dan Alchira, dan sesaat setelahnya, ketiganya tertawa lepas bersama.
"Tidak apa-apa kuenya rusak, yang penting doanya tetap utuh, sayang. " Seperti biasa. Suara Azrinna memang sangat lembut jika berbicara pada kedua anaknya.
Ezar menatap wajah ibunya lalu memeluknya erat. "Tapi Ezar mau dikasih kado sama mommy." Rengek Ezar manja.
"Oke, Ezar mau kado apa dari mommy sayang?."
Ezar mengembangkan senyumnya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Azrinna dan membisikkan sesuatu di sana.
Seketika raut wajah Azrinna terlihat sangat terkejut setelah mendengarkan penuturan putranya itu.
__ADS_1
"Pokoknya Ezar mau hadiah itu, mommy harus menurutinya." Ezar berucap santai.
Sikap Ezar dan Azrinna yang berlawanan itu membuat dua orang di sekelilingnya menjadi penasaran saja.