
Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran, Akhtar langsung memasuki pintu kembar berbahan kaca dan mencari meja yang sudah di pesannya tadi. Saat matanya melihat sepasang suami istri itu, Akhtar segera menghampiri nya.
"Sorry. siz uzoq vaqt bo'ldingiz ?." Tanya Akhtar seraya mulai duduk di kursinya.
"yo'q. biz besh daqiqa oldin keldik ."
**(Maaf. Kalian sudah lama sampai ?)**
**(Tidak. Kami baru sampai lima menit lalu)**
Akhtar mengangguk.
"Kenapa ?. Apa ada masalah dengan mu?." Tanya Melicha spontan.
"Iya. Aku bingung harus apa ?. Sandiwara ini benar-benar menjebak ku. "
"Menjebak mu bagaimana maksudnya?." Kini giliran Raihan yang bertanya.
"Ini semua karena kamu, Rai. Coba dari awal kamu tidak mengatakan jika aku suaminya. Mungkin keadaanya tidak akan seperti ini !." Akhtar menatap tajam sepupunya itu.
"Wait wait. Maksudmu gimana?. Coba jelaskan yang benar dulu. Kita berdua masih bingung ini." Seloroh Raihan yang semakin kebingungan.
" Iya, tadi sebelum ke sini. Aku melihat Aira mencoba menyusui Ezar."
"What ?!!." Sepasang suami istri itu terpekik bersamaan.
"Lalu ?." Malicha berucap sambil menatap lekat wajah Akhtar.
"Iya, aku melihatnya karena terpampang jelas di mata. Ahh...!!. Aku rasa aku semakin frustasi menghadapi situasi ini !." Akhtar membanting punggungnya di sandaran kursi. "Katakan !. Aku harus bagaimana?!." Ucapnya lagi dengan tangan meraup wajah nya sendiri dengan kasar.
"Baiklah. Apa masih ada lagi yang membuat kamu frustasi?." Tanya Raihan lagi.
"Iya. Karena ASI aira tidak keluar, dia meminta untuk melakukan perawatan agar bisa menyusui Ezar ."
"Dan kamu menyetujuinya ?."
"Tentu saja."
Baik Raihan maupun Malicha, keduanya sama-sama menghela nafas panjang.
"Tapi bagaimana bisa ? Sedangkan dia... Sepertinya masih seorang gadis. Maksudku, Aira kayaknya belum pernah memiliki anak." Ujar Raihan.
"Bisa saja, Rai." Seru Melicha.
"Bagaimana konsepnya?. " Akhtar kembali bersuara."
" Jadi. Setau aku. Seorang wanita bisa saja mengeluarkan ASI ketika dia sudah pernah melakukan hubungan badan dengan seorang pria. Tapi. Apakah Aira sudah pernah melakukan nya ?."
__ADS_1
"Ehh. Yah mana aku tau !." Jelas Akhtar lantang.
"Iya juga sih yaa..."
Keheningan menyapa ketiga nya.
"Hemm. Kalau menurutku, kan Aira minta perawatan tuh. Gimana kalo sebelum nya Aira menjalani pemeriksaan kewanitaan dulu ?. " Usul Raihan.
"Bagaimana kalau nanti dia curiga?."
"Yah bilang saja itu memang prosedur nya."
"Berarti aku harus melakukan kerja sama dulu dengan dokter nya, begitu?."
"Iya lah. "
"Baiklah. Akan aku usahakan."
" Sebentar-sebentar. Sekarang kan Aira dalam kondisi hilang ingatan. Lalu bagaimana jika nanti Aira mengingat segalanya lagi?. Tentu saja Aira tidak akan selamanya hilang ingatan, bukan?." Melicha menatap serius wajah Raihan dan Akhtar bergantian.
Kedua pria tersebut langsung termangu mendengar penuturan Melicha yang merupakan pernyataan itu.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya Aira mengingat segalanya setelah kita sudah melakukan segalanya padanya. Ya Tuhan... Rasanya aku takut sekali.." ucap Melicha lagi mendramatisir.
"Tapi kita melakukan nya karena kemauan dia sendiri. Dia yang ingin memberikan ASI nya pada Ezar, Honey."
" Yah tentu saja begitu. Sebab dia mengira dia adalah ibunya Ezar. Seandainya aku yang di posisi itu juga aku akan melakukannya demi sang buah hati. Tidak ada seorang ibu yang tidak ingin menyusui anaknya. Jika pun ada, itu hanya beberapa persen saja di dunia ini."
"Terserah lah. Aku tidak mau ikutan pada sandiwara ini lagi. Sebagai sesama perempuan, aku ingin menjunjung tinggi nilai harga diri ." Melicha memulai menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Rai. Ini semua gara gara kamu. " Tukas Akhtar menatap tajam wajah sepupunya itu.
"Sorry. Sekarang pikiranku sudah buntu. Besok kita bisa membicarakannya lagi. Sebaiknya kita makan dulu saja." Ucap Raihan akhirnya.
"Aku akan langsung pulang saja." Akhtar bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari restoran dan kembali menyalakan mobilnya menuju pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan Akhtar masih berusaha berfikir keras mengenai apa yang akan ia lakukan nanti setelah ia bertemu dengan Aira. Hanya beberapa menit saja mobilnya sudah kembali terparkir di halaman rumah. Akhtar segera masuk ke dalam rumah berlanjut ke kamar.
Saat matanya mengedarkan pandangan di seluruh penjuru kamar ia mendapati Aira sedang duduk sambil memangku Ezar di kursi rotan yang tepat berada di dekat jendela. Langkah Akhtar mendekatinya membuat Aira menoleh karena menyadari kedatangannya.
"Ai."
Aira tersenyum memandang ke arahnya. "Mas." Panggil Aira.
"Aku kira kamu tidur, Ai?." Akhtar mendaratkan kecupannya di kening Aira ketika posisinya sudah merapat di tubuh Aira.
"Aku belum ngantuk. Aku juga ingin menunggumu, mas."
__ADS_1
Mendapat jawaban tersebut dari bibir Aira seakan mengingatkan dirinya akan sang istri yang telah meninggal. Pasalnya, istrinya itu tidak akan pernah bisa tidur jika tidak ada Akhtar untuk menemaninya sampai terlelap. "Maaf yaa. Ya udah, ayo kita ke kasur yuk?."
"Tapi aku belum ngantuk, mas."
"Yah gak usah langsung tidur. Kamu cuma harus merebahkan tubuh kamu biar ga capek duduk terus. Lagian Ezar sudah nyenyak, kan?" Akhtar melirik putranya yang sudah tidur nyaman di dekapan Aira.
Aira akhirnya mengangguk dan bangkit dari duduknya lalu melangkah mengikuti Akhtar yang berjalan ke arah tempat tidur. Keduanya merebahkan tubuh dengan posisi berhadapan dengan Ezar berada di tengah antara keduanya.
"Ai. Kamu yakin ingin memberikan ASI kamu ke Ezar?." Tanya Akhtar ragu.
"Kenapa kamu bertanya itu terus mas?. Apa sebenarnya kamu tidak mengizinkan aku menyusui Ezar?." Aira menatap lekat mata Akhtar Dengan tangan masih senantiasa mengusap lembut perut Ezar.
"Bukan seperti itu, Ai. Tapi... "Akhtar menghirup udara sedalam-dalamnya lalu mulai merangka kata kata lagi " Ai. Kita nikah yuk ?." Akhtar sangat cemas sebenarnya setelah mengatakan demikian. Tapi dirinya juga tidak bisa melanjutkan sandiwara nya lagi.
" Mas !. Apa maksudmu?. Bukankah kita suami istri?. Kita sudah menikah kan ?. Dan... Ezar anak kita kan mas ?." Aira tidak bisa
Benar apa yang dikhawatirkan Akhtar, jika Aira akan memberikan banyak pertanyaan ketika ia mengatakannya.
"Mas Akhtar !. " Aira menatap lekat mata Akhtar agar segera memberikan penjelasan. " Cepat katakan, mas !." Desaknya lagi.
"I-iya, Ai. Kita sudah menikah. Tapi pernikahan kita hanya sampai sah dalam agama saja. Pernikahan kita belum sah di mata negara..." Ucap Akhtar perlahan karena takut Aira memberikan reaksi lebih parah lagi.
" Berarti kita belum menikah secara resmi ?." Tanya Aira semakin melekatkan tatapannya pada mata Akhtar.
" Iya, Ai. Kita belum sempat menikah resmi, karena memang kita sudah sepakat akan menikah resmi setelah kamu melahirkan..." Lagi dan lagi. Akhtar semakin hari semakin menjadi pembohong yang amatiran namun terkesan handal. Akhtar membawa tubuh Aira ke dalam pelukannya . "Apa kamu mau menikah dengan ku, Ai ?. " Tanya Akhtar dengan tangan mengusap lembut punggung gadisnya. Matanya menatap lekat mata Aira yang hanya berjarak beberapa senti saja.
" Meski kita tidak menikah resmi di mata negara, kita sudah menjadi sepasang suami istri kan, mas ?. " Ujar Aira.
Akhtar mengangguk mengiyakan ucapan Aira.
" Aku ingin kita memiliki status yang jelas, sayang..."
Iya. Akhtar sebenarnya tidak ingin berbohong lagi, namun keadaan memaksanya untuk terus melanjutkan sandiwara yang sudah terlanjur jauh tersebut.
" Apapun yang terbaik menurut mas Akhtar, aku bisa menerimanya, mas. Aku mau menikah denganmu. " Aira berucap bersama senyumannya yang teramat manis dan cantik di mata Akhtar.
"Makasih, sayang... "
Cupp
Entah keberanian apa yang telah menyapa Akhtar sehingga berani mencium bibir Aira. Karena selama ini dirinya tidak pernah melakukan hal demikian selama hidup bersama Aira yang di dalam sandiwaranya Aira merupakan istrinya.
Cukup lama Akhtar menempelkan bibirnya pada bibir Aira kemudian ia kembali menjarakkan wajahnya dari wajah Aira. Meski telah menjauh tapi tidak dalam posisi berjauhan. Dalam jarak yang sangat dekat seperti ini, Akhtar bisa melihatnya jika wajah Aira tampak merona karena ciuman mendadaknya.
"Mas." Pekik Aira setelah kembali ke permukaan kesadarannya.
"Hem ?. "
__ADS_1
" Ahh. Tidak apa-apa. Aku mau tidur ya ?. " Aira langsung bangkit dari kursi rotan tersebut dan melangkah menuju ranjang tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya juga tubuh Ezar di sana.
Saat ini. Akhtar hanya melihat tingkah absurd yang dilakukan Aira dari kejauhan. Ia tahu. Jika perbuatannya barusan adalah hal yang mengejutkan bagi Aira. Bukankah itu hal yang wajar bagi sepasang suami istri ?. Iya. Dan Aira juga sedang mengira bahwa dirinya adalah suaminya, kan ?.