Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
49


__ADS_3

Hari bahagia itu akhirnya datang. Dimana sepasang kekasih dijadikan sebagai raja dan ratu dalam acara yang sungguh megah yang diadakan di salah satu masjid besar di kota Jakarta.


Dengan persiapan sendiri-sendiri di rumah masing-masing, tepat jam menunjukkan waktu setengah tujuh, semua rombongan berangkat menuju tempat diadakannya acara.


Azrinna yang sudah bak bidadari Tak Bersayap keluar dari kamar dengan kedua tangannya digandeng oleh Sintia dan Hizqi, berjalan anggun menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.


Rombongan dengan puluhan mobil pribadi dari keluarga Winata melaju beriring-iringan membelah jalanan beraspal ibukota. Dan untungnya, pagi ini tidak ada kemacetan di jalan sehingga mereka sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu.


Mobil berhenti di parkiran masjid. Azrinna turun dari mobil dan kedua tangannya kembali digandeng oleh orang yang berbeda dari sebelumnya. Kini yang menggandeng tangannya adalah dua pria terhebat dalam sejarah hidupnya yang tiada lain adalah ayah dan kakaknya nya tercinta.


"Kamu gemetaran, dek ?." Zuhdi bertanya pada adiknya.


"Aku grogi, kak. " Jawab Azrinna lirih. Dari tadi malam, hatinya benar-benar merasa dag dig dug tak menentu. Ia tidak bisa merasa tenang sedikitpun saat ini.


"Bismillah, sayang. Jangan grogi terus. " Ucap ayahnya memberikan semangat.


Azrinna hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang ayah, tak telak, hatinya masih saja merasakan hal yang sama.


Mereka berjalan di atas bentangan permadani berwarna merah yang terjulur sampai ke depan pintu masuk masjid.


Saat kaki Azrinna menapaki satu persatu anak tangga masjid, terdengar suara deru mesin mobil yang datang berbondong-bondong dan ikut terparkir di halaman masjid.


Azrinna menoleh dan ternyata matanya menangkap sosok gagah nan rupawan baru saja turun dari salah satu mobil yang baru datang tersebut.


Azrinna semakin tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Keringat dingin mulai bermunculan di wajah ayunya.


"Udah, jangan diliatin terus, nanti malah semakin grogi. " Ujar kakaknya.


Azrinna mengangguk dan kembali melangkah menuju tempat yang memang dikhususkan untuk dirinya. Tempat yang berada di sudut ruangan dan lumayan jauh dari area akad.


Akhtar yang juga sudah memasuki masjid langsung dibimbing untuk duduk di tempatnya dengan posisi saling berhadapan dengan Wali Azrinna.


Hati Akhtar juga tak ada bedanya dengan Azrinna. Rasa deg-degan benar-benar memenuhi hati dan pikirannya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Nak Akhtar, bagaimana, apa anda sudah siap ?. " Tanya penghulu pada Akhtar.


Akhtar melirik ke arah Azrinna sebentar lalu kembali menatap wajah ayahnya Azrinna lagi. "Maaf, mungkin ini tidak ada dalam agenda acaranya. Tapi, karena ini adalah permintaan Azrinna yang dikatakan pada saya langsung, saya akan mengabulkannya terlebih dahulu." Ucap Akhtar akhirnya.


"Apa yang Azrinna inginkan ?." Tanya Winata penasaran. Sebab ia juga tidak tahu sama sekali.


"Azrinna hanya meminta saya membacakan Al-Qur'an surah An-Nisa ayat satu sampai lima belas, pak." Jelas Akhtar.


Semua mata tampak langsung tertuju pada Azrinna dan yang ditatapnya sedang menundukkan wajahnya penuh, seakan takut melihat reaksi semua orang di sana.


"Masya Allah. Baiklah, silahkan nak Akhtar penuhi keinginan calon istrinya. "


Akhtar mengangguk lalu mulai membacakan surah an-nisa sesuai permintaan Azrinna dengan sangat tartil dan menghayati setiap bacaannya sendiri. Ia hanyut dalam kesyahduan Kalam Lillah.


Semua orang juga tampak menghayati bacaan Al-Qur'an dengan suara merdu Akhtar. Termasuk Azrinna sendiri, yang juga sangat menghayati bacaan itu dan tanpa sadar air matanya berkali-kali menetes di pipinya.


Akhtar menyudahi bacaannya dengan bismillah, kalimat takbir dan hamdalah. Matanya melirik lagi ke arah Azrinna dengan senyuman tipis saat melihat Azrinna sedang menyeka air mata dengan tisu di tangannya.


"Ada lagi agenda tambahan nya ?." Tanya penghulu lagi dan Akhtar menjawabnya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Baiklah, jadi kita bisa mulai acaranya ?."


"Iya, pak. "


"Alhamdulillah, kalau begitu, silahkan nak Akhtar menjabat tangan wali perempuannya. "


Dengan keyakinan yang sudah ia tanamkan dalam diri, Akhtar mulai menjabat tangan calon mertuanya.


"Silahkan dimulai, pak Winata. " Ucap penghulu pada calon mertuanya dan diangguki oleh Winata.


"Bismillahirrahmanirrahim. Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Azrinna Zaida Nazla alal mahri,  sab'uun ghraman minadzdzahab wa 'isyruun qiiraatan minal mas, hallan." Ucap Winata lantang.


Akhtar menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dan...


"Bismillahirrahmanirrahim... Qobiltu nikahaha wa tazwijaha, Azrinna Zaida Nazla, alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq !." Akhtar mengucapkan kalimat akadnya hanya dengan satu tarikan nafas.


Suasana hening sejenak lalu dengan suara yang sangat lantang dari orang-orang yang hadir seakan serentak menggema kata "SAH" dan disusul dengan kalimat hamdalah yang terdengar mengharukan.


Setelah satu kata sakral itu menggema, airmata Akhtar langsung membanjiri wajah rupawan nya. Akhtar menangkup wajahnya sendiri dengan bibir tak henti-hentinya menyenandungkan sholawat dengan suara lirih dan hanya mampu didengar oleh telinga sendiri.


Azrinna juga tidak bisa lagi membendung air matanya, ia menangis didalam dekapan ibu dan neneknya yang juga sedang meneteskan air mata.


"Selamat, sayang. Kamu sudah resmi menjadi seorang istri. Tanggung jawab kami sudah dialihkan kepada suamimu." Nasihat Sintia di sela-sela tangisnya.


Azrinna tidak mampu mengucapkan apapun, ia hanya mampu terus menangis di dalam pelukan keduanya.


Eyang putri dan Sintia melepaskan pelukannya, lalu dengan hati-hati Sintia mengusap air mata Azrinna dengan beauty blender kecil yang ada di tangannya.


Akhtar melangkah menghampiri sang bidadari dunianya.


Akhtar menyunggingkan senyuman manisnya lalu mengulurkan tangan ke hadapan Azrinna dan dengan ragu-ragu Azrinna menerima uluran tangan tersebut dan dia salami dengan penuh hormat dan khidmat.


Bersamaan dengan Azrinna yang menyalami tangan kanannya, Akhtar juga tak melupakan untuk menangkupkan telapak tangan kirinya di atas puncak kepala Azrinna dan mengagumkan doa pernikahan lalu setelah selesai meniupkannya di kepala Azrinna.


Acara terus berlanjut sampai pukul sebelas siang saja, sebab akan di lanjut dengan acara pestanya yang diadakan di rumah Akhtar.


Semua orang yang ikut hadir pada acara ijab qobul, mulai membubarkan diri menuju ke tempat selanjutnya. Begitupun dengan sepasang pengantin baru yang kini sudah duduk berdampingan di dalam mobil, tepatnya di kursi belakang karena mobil dilakukan oleh asisten pribadi Akhtar, Eiriek.


Setelah selesai melakukan perjalanan selama dua puluh menit, beberapa mobil mulai memasuki area parkiran di rumah Akhtar, termasuk mobil yang berisikan pengantin baru.


Akhtar turun dari mobil dan disusul dengan Azrinna. Sesaat mereka berdiri berdampingan di atas bentangan permadani berwarna merah, sama seperti yang di masjid tadi. Para tamu undangan mulai berdiri di sisi-sisi permadani seolah memberikan jalan khusus untuk keduanya, pun keluarga besar Azrinna dan Akhtar.


Akhtar melirik ke arah wajah bidadari yang berdiri di sampingnya lalu tangannya menggenggam erat jemari lentik Azrinna.


Azrinna mendongak saat merasa Akhtar menautkan jemari keduanya.


"Kita masuk, sayang ?." Tanya Akhtar dan dijawab anggukan kepala Azrinna.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Gumam keduanya saat kedua pasang kaki itu mulai melangkah memasuki rumah.


Mereka tidak langsung menuju ke kursi pelaminan melainkan ke kamar untuk mengganti gaun akad serba putih berpadu batik itu dengan gaun dan kemeja elegan dan mewah berwarna navy berpadu silver.


Setelah selesai melakukan pergantian baju di kamar yang terpisah, mereka keluar dari kamar dan kembali melangkah beriringan menuju kursi pelaminan dan melaksanakan acara selanjutnya yaitu sungkeman.

__ADS_1


Jika dari pihak Azrinna ada ayah, ibu dan nenek, lain dengan pihak Akhtar yang hanya ada Anira, adiknya Akhtar, sebab ayahnya Akhtar tidak bisa datang karena entah kesibukan apa yang membuatnya tidak mau menghadiri pernikahan anaknya sendiri.


Satu persatu tamu undangan mulai naik dan memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru dan kedua mempelai hanya menyambut dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Hingga tamu yang sangat diharapkan Akhtar akhirnya datang juga. Mereka adalah keluarga besar kyai Anwar, guru ngaji Akhtar saat di Jogjakarta.


Azrinna yang melihat itu juga tak bisa menepis kebahagiaan, mereka adalah orang-orang berjasa dalam proses hijrah suaminya. Mereka adalah orang-orang mulia yang dengan sukarela membagi ilmunya kepada Akhtar.


"Assalamualaikum..." Ujar Kyai Anwar saat sudah berhadapan dengan pengantin barunya.


"Waalaikum salam, pak kyai. Sebuah kehormatan bagi kami bisa dihadiri oleh pak kyai. " Ucap Akhtar merendah dan menyalami tangan Kyai Anwar penuh khidmat.


Azrinna juga melakukan hal yang sama dengan istri kyai Anwar, bahkan tanpa diduga ia mendapatkan pelukan hangat dari ibu nyainya.


"Semoga Allah selalu meridhoi langkah kalian dalam perjalanan berumah tangga. " Doa tulus ibu nyai.


"Aamiin, ya Allah.. " jawab Akhtar dan Azrinna kompak.


"Setelah menikah, jangan lupa sering-seringlah main ke pesantren saat kalian ada di Jogja. " Ucap kyai Anwar.


"Insya Allah, pak kyai. "


Kini giliran Zahra yang memeluk erat tubuh Azrinna. "Selamat, Azrinna... Semoga Allah selalu memberikan keberkahan pada rumah tangga kalian." Ucap Zahra dengan senyuman manisnya yang sepertinya tidak pernah luntur dari menghiasi wajah cantiknya.


"Aamiin. Semoga Mbak Zahra juga segera menemukan jodohnya. "


"Aamiin... Terimakasih doanya."


Disalah satu meja, tepatnya kumpulan khusus para anggota keraton dari keluarga Azrinna, terlihat seorang pria yang tampak memperhatikan interaksi Azrinna dengan perempuan yang terasa familiar di dalam ingatannya.


Raden Dimas Aryana, dia adalah salah satu anak dari sepupu Sintia yang berarti masih saudara dekat dengan Azrinna.


Mata pria itu masih terus memperhatikan wajah Zahra seakan sedang berusaha keras untuk menemukan bayangan Zahra dalam ingatannya. Dan setelah ingatan seperti kau percaya itu terkumpul dan terlihat jelas dalam bayangannya...


"Astaghfirullah. Dia... ?." Pekik Dimas yang ternyata didengar oleh sang ibunda.


"Mas, kamu kenapa ?." Tanya ibundanya.


"Ibunda, lihatlah wanita yang ada dihadapan Azrinna. " Dimas menunjuk ke arah Zahra.


Ibundanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh putranya. "Iya, lalu ?." Tanya ibundanya. "Dia sangat cantik, putraku, apa kamu tertarik padanya ?. Biar nanti ibunda sendiri yang akan memintanya pada orang tuanya, untuk mu. " Lanjut ibundanya.


Dimas melirik kesal ke wajah ibundanya. Umur Dimas memang sudah cukup dewasa dan mengharuskannya memiliki sebuah keluarga kecil. Dan jika dilihat dari umurnya juga, seharusnya Dimas sudah memiliki dua anak.


Bahkan kedua orang tuanya juga sudah berkali-kali mencoba menjodohkannya dengan seorang gadis cantik, berpendidikan, berilmu agama yang kuat, juga memenuhi kriteria kesopanan keluarga keraton. Dan apa yang akan diucapkan Dimas saat itu ?, Dia hanya akan mengatakan, bahwa tidak ada gadis yang lebih istimewa untuk dirinya selain gadis yang telah membawa benihnya yang sempat ia taburkan di ladangnya.


Yah, tentu saja semua keluarganya tahu jika Dimas pernah melakukan kesalahan fatal karena berani menodai anak gadis orang, bahkan langsung menyuruhnya untuk menemui gadis itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, selama sekian lama pencariannya, Dimas masih belum juga menemukan gadis itu.


Dan, jika benar gadis yang sedang berbicara dengan Azrinna itu adalah gadis yang ia cari selama ini, kemungkinan besar anak kecil yang sedang digendongnya itu adalah anaknya. Benih yang berhasil membuahi sel telur di rahim gadis itu.


"Ibunda, sepertinya dia gadis yang aku cari selama ini. "


"Benarkah ?!. Apa kamu yakin, mas ?." Pekik ibundanya tidak percaya.


"Entahlah. Tapi melihat wajahnya, dia sangat mirip dengan gadis itu. "

__ADS_1


"Jika benar, kita harus segera memberitahukan ayahanda mu, mas. "


"Iya, ibunda. Dan semoga dia memang benar gadis itu.


__ADS_2