
Azrinna menghampiri Hizqi yang sedang duduk di ruang tamu dan memangku Alchira. Sedangkan Akhtar sendiri masuk ke kamar karena baru saja pulang dari kantor dan belum sempat mengganti pakaian resminya.
" Ehh, Zri. " Hizqi terkesiap ketika Azrinna tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
" Qi. Aku minta tolong, boleh ?." Tanya Azrinna sedikit takut.
" Minta tolong apa ?."
" Hmm malam ini kayaknya aku akan di sini. "
" Apa ?. Azrinna, kamu jangan ngaco deh. Nanti keluarga kamu nanyain gimana?."
" Iya makanya aku mau minta tolong sama kamu, biar keluarga ku tidak berfikir buruk. Aku mohon... Cuma kamu yang bisa membantuku saat ini. "
" Kita tidak ada perjanjian seperti ini kan awalnya ?."
" Iya. Tapi ini menyangkut anak-anakku. Aku tidak tega meninggalkan mereka. Kalau aku pulang sekarang, yang ada nanti Ezar ngambek lagi. Please... Mau ya ?. Hizqi... Kamu teman baikku. " Azrinna merayu mati-matian.
Hizqi menghela nafasnya panjang. Lalu menatap lekat wajah Azrinna. " Tapi kalian bahkan tidak memiliki ikatan sama sekali, Azri. Kamu tahu bagaimana hukumnya, kan ?."
" Iya, aku tahu. "
" Lalu, kenapa kamu masih nekad?. "
" Aku bingung, Qi. Aku hanya bisa memikirkan anak-anak sekarang." Jawab Azrinna, tidak berani melihat wajah Hizqi yang terlihat marah.
" Baiklah. Iya. Aku akan menolongmu. Tapi aku minta, kamu jangan sampai kelewatan. Ingat Iman. Jangan hal seperti waktu itu terulang kembali !." Tegas Hizqi.
Bagi Azrinna, sosok Hizqi adalah teman, sahabat juga guru. Meski umur Hizqi berada dua tahun di bawahnya, tapi Hizqi memiliki pemikiran seseorang yang dewasa. Hizqi juga selalu siap menegur Azrinna saat Azrinna mulai terlena. Karena sejatinya, sikap Azrinna kadang masih kekanakan juga keras kepala, jadi gampang sekali terbawa oleh keadaan.
" Iya. Tidak akan lagi. Aku janji. Lagian besok juga aku akan pulang ke rumah. "
" Iya, iya. Ya udahlah. Aku mau pulang dulu ya. Ingat. Jangan gadaikan Iman!." Tukas Hizqi sekali lagi.
Azrinna memberikan kunci mobilnya pada Hizqi agar Hizqi pulang tidak perlu menggunakan taksi. Dan dirinya pun sepertinya sudah tidak membutuhkannya untuk saat ini.
" Oh iya, Qi. Besok kamu bisa kesini, kan ?. " Tanya Azrinna sebelum Hizqi benar-benar menenggelamkan tubuhnya di dalam mobil.
__ADS_1
" Kamu memintaku menjemputmu kesini?"
" Iya. Bisa kan ?."
" Oh oke. Iya, nanti aku jemput. Aku pulang ya. Assalamualaikum..."
" Iya, waalaikumsalam. "
Mobil milik Azrinna mulai meninggalkan pekarangan rumah Akhtar. Azrinna kembali masuk ke dalam rumah dan berlanjut menaiki tangga menuju kamar Ezar. Saat sampai di depan pintu kamar Ezar yang terbuka, ternyata ia melihat di dalam ada Akhtar dan juga putrinya.
Azrinna masuk dan menurunkan Ezar untuk berjalan sendiri.
" Temanmu sudah pulang ?." Tanya Akhtar.
" Iya, sudah. "
" Hemm. " Akhtar manggut-manggut.
Azrinna mendekati ranjang yang berisi putrinya. "Jangan datang ke rumahku sekarang, karena pasti orang tuaku tidak akan menyetujui nya. "
" Kenapa ?. "
" Apa kamu memberi tahu suami mu tentang ini ?." Tanya Akhtar penasaran.
" Iya. "
" Kenapa ?. "
Azrinna mendengus kesal lalu mengarahkan tatapan matanya pada wajah Akhtar. "Seperti yang tadi aku katakan. Aku merasa menjijikkan di hadapan suamiku sendiri. "
" Tapi kau sangat menyayangi Alchira ?."
" Tentu saja. Bagaimanapun dia adalah putriku sendiri bahkan dia pernah hadir di rahimku. "
" Lalu siapa yang kau benci ?. Aku ?." Tanya Akhtar serius.
Azrinna memalingkan wajahnya dari Akhtar. Dan tidak ada niatan sama sekali untuk pertanyaan Akhtar yang satu ini.
__ADS_1
" Iya. Aku tau kau pasti sangat membenciku, Ai. " Ujar Akhtar sendu. " Tapi apa masih ada kesempatan untuk menghilangkan bencimu itu ?. Katakan. Apa yang bisa aku lakukan agar kamu tidak membenciku lagi ?."
" Di mana ibu kandung Ezar?." Tanya Azrinna tiba-tiba.
Akhtar yang sedari tadi menatap wajah Azrinna kini malah memalingkan wajahnya. "Dia sudah meninggal. Tepat saat baru saja pulang dari rumah sakit setelah melahirkan Ezar. "
"Kecelakaan yang juga membuatku masuk rumah sakit ?."
" Iya. "
Hening.
Suara adzan Magrib menggema bersahutan dengan semilir angin sore.
" Astaghfirullah. Maghrib. Aku lupa sholat ashar !." Azrinna langsung bangkit dari duduknya.
Akhtar yang melihat kepanikan Azrinna langsung berinisiatif menyuruh Azrinna untuk melakukan ibadahnya itu di kamar utama yang merupakan miliknya. Dan karena di sana juga perlengkapan sholat Azrinna berada. Azrinna menyetujui ucapan Akhtar lalu bergegas menuju kamar Akhtar untuk melakukan ibadahnya.
Akhtar sendiri masih di kamar Ezar, menemani putra putrinya di sana. Sambil menjaga Ezar yang sedang bermain mainan hewan, pikiran Akhtar tertuju pada kepanikan Azrinna tadi.
Betapa Azrinna terlihat sebagai hamba yang sangat taat pada aturan agamanya. Ada sedikit rasa penasaran sebenarnya pada agama yang dianut oleh Azrinna itu. Tapi ia juga masih ada memiliki rasa kurang yakin akan keingintahuan tentang agamanya Azrinna itu.
Sebulan lalu, ia pernah mengatakan pada Azrinna bahwa apakah Azrinna mau menerimanya jika ia bisa lebih baik, dan setelah itu pula ia mencoba mencari tahu tentang agama yang dianut oleh Azrinna. Ia mencoba mencari-cari nya di laman web search. Tentu saja ia menemukan beberapa informasi tentang agama Islam. Dan menurutnya setiap ajaran dan larangan yang diperuntukkan oleh agama itu benar-benar memberatkan. Contohnya seperti untuk masalah ibadah saja. Di agama tersebut mengharuskan hambanya untuk melakukannya lima kali dalam sehari. Dan belum lagi hal-hal lainnya, seperti tidak boleh berdekatan dengan seseorang yang bukan mahram atau tidak memiliki ikatan suci atau memiliki hubungan darah, tidak di patutkan mengonsumsi makanan atau minuman beralkohol seperti yang sering dikonsumsi setiap harinya. Juga hal-hal lain dan itu masih banyak lagi.
Akhtar menggelengkan kepalanya saat mengingat hasil media search nya.
Tapi saat di ingat-ingat lagi. Bukankah seorang muslimah yang taat tidak boleh menikah dengan pria non muslim ?. Lalu, apakah dirinya harus nekad mengikuti langkah yang selama ini menjadi pijakan kaki Azrinna ?. Tapi apakah dirinya sanggup ?.
Dan. Untuk putra-putrinya juga akan mengikuti siapa jika kedua orangtuanya memiliki jalan yang bertolak belakang. Azrinna beragama Islam dan sebagai muslimah yang taat sedangkan dirinya sendiri merupakan salah satu manusia yang tidak percaya akan adanya Tuhan.
Terlalu asik dalam lamunannya, Akhtar sampai tidak menyadari jika kini Azrinna sudah kembali dan sedang duduk bermain bersama Ezar.
Melihat kehangatan antara Azrinna dengan putranya membuat Akhtar menyunggingkan senyumannya dengan sempurna.
Pesona Azrinna yang lembut, penuh kasih juga tenang memang membuat siapapun pasti akan bisa merasa nyaman jika bersamanya. Dan mungkin itu juga yang dulu sampai membuat Akhtar gelap mata dan akhirnya malah memanfaatkan keadaan Azrinna.
Ia pandangi wajah Azrinna yang sedang tersenyum cerah. Betapa itu sangat membuatnya terpesona. Lautan Pesona Azrinna memang mampu membuatnya terperosok jauh ke dalam ketertarikannya terhadap sosok Azrinna.
__ADS_1