Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Kado terbaik


__ADS_3

"Memangnya Ezar minta kado apa, sayang ?." Akhtar bertanya pada istrinya setelah mereka sudah kembali ke kamarnya sendiri.


Ditanya seperti itu tiba-tiba wajah Azrinna terlihat merona. Azrinna melengoskan wajahnya tak ingin dilihat suaminya. Dan tingkahnya itu tidak luput dari penglihatan mata Akhtar.


"Sayang."


"Hem ?."


Azrinna menyibukkan diri dengan membereskan barang-barangnya di atas meja kaca rias.


Akhtar semakin penasaran. Dia mendekati tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang. "Ada apa Hem ?, Kamu menyembunyikan sesuatu dariku ?." Bisik Akhtar tepat di sisi wajah istrinya.


Azrinna tersenyum dan membalikkan badannya sehingga kini posisi keduanya saling berhadapan dengan kedua tangan Akhtar masih memeluk erat pinggang istrinya. "Mas."


"Iya, sayang ?."


"Ezar menginginkan seorang adik." Ucap Azrinna sambil wajahnya menunduk penuh.


Akhtar terdiam masih mencerna ucapan istrinya kemudian dia mulai mengerti. "Adik ?."


"Iya, mas."


Senyuman Akhtar semakin lebar. Dia langsung merengkuh tubuh mungil istrinya dengan sangat erat. "Kalau begitu, ayo kita buat adik untuk Ezar." Ucap Akhtar dengan suara yang sangat lembut.


Azrinna reflek menatap wajah suaminya dengan mata membelalak kaget. " Mas ?!."


"Kenapa, sayang ?, Ayo yuk ?."


"Ihh, apaan sih mas ?." Azrinna melepaskan diri dari pelukan sang suami tapi ternyata Akhtar tidak membiarkannya begitu saja.


"Sayang."


"Mas, ini sudah sore loh, jangan macam-macam deh !." Protes Azrinna mencoba menghindar.


Akhtar malah terkekeh melihat tingkah istrinya yang seperti sedang ketakutan. Sudah seperti ingin lari dari tawon saja !.


"Ini baru jam setengah tiga sayang. Masih ada sejam lagi sebelum ashar."


"Tapi, mas..."


"Sayang, bukankah kamu juga ingin merawat bayi lagi, kan ?."


Azrinna terdiam. Dia tatap wajah suaminya yang sedang menatapnya sangat intens. Azrinna akhirnya tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah. Yuk ?!."


Akhirnya, dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga cinta yang tak pernah ada habisnya, keduanya kembali mengarungi lautan samudera indah berpahala.


###


Pagi yang cerah untuk keluarga Ilario. Hari ini adalah hari dimana Ezar harus berangkat sekolah lagi setelah selesai liburannya.


"Ezar... !."


"Yws, mom !!." Bocah kecil itu berlarian turun dari anak tangga menghampiri ibunya yang sedang berdiri menanti kedatangannya.


Azrinna menatap tajam ke arah putranya itu yang entah membuat kesibukan apa di dalam kamar sehingga sangat lama.


"Mas lama." Sungut Alchira menatap tajam wajah kakaknya.


Ezar tersenyum manis karena memang mereka bersalah. "Sorry, mom." Ucapnya memohon pada sang ibu.


"Memangnya Ezar habis ngapain ?."


"Ini." Ezar menunjukkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda.


"Hadiah ?."


"Iya."

__ADS_1


"Untuk siapa ?."


Ezar tersenyum menunjukkan deretan giginya yang tertata rapi kemudian dia melangkah santai begitu saja. "Ada deh. Hahaha!." Ujarnya begitu riang.


Azrinna hanya bisa menggelengkan kepalanya heran pada tingkah putranya itu. Azrinna menggandeng tangan mungil Alchira dan segera menyusul langkah Ezar yang sudah sedang berjalan keluar rumah.


Tiba di gerbang bangunan Sekolah Dasar, banyak sekali anak- anak yang bersenda gurau bersama teman-temannya.


Mungkin mereka sangat senang karena bisa bertemu dengan teman-teman sekolahnya lagi. Itulah yang ada di pikiran Azrinna saat ini.


Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke bangunan sekolah.


Sepanjang perjalanan dari rumah hingga sekarang, Azrinna bisa melihat wajah putranya itu sangat senang. Entah apa yang telah membuat Ezar senang itu.


"Makasih, mom." Ezar menyalami tangan Azrinna dan mendaratkan kecupannya di salah satu pipi ibunya. "Ezar masuk dulu, mom. Assalamualaikum."


Tanpa menunggu ibunya menjawab, Ezar sudah lebih dulu nyelonong masuk ke sekolah dan membaur bersama teman-temanya.


Azrinna semakin bingung saja melihat tingkah putranya itu yang semakin aneh saja.


"Chira, apa kamu tau apa yang membuat mas kamu itu sampai senang begitu ?." Bisik Azrinna pada putrinya yang masih berdiri di dekatnya.


"Entahlah, mom. Chira juga gak ngerti mas kenapa. Kalau begitu, Chira juga mau masuk mom." Alchira mencium pipi kanan ibunya. "Makasih mom."


"Iya, hati-hati, sayang. Nanti kalau sudah pulang langsung telfon mommy ya."


"Iya, mom. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Azrinna menatap kepergian putrinya itu yang kini sudah berusia sebelas tahun dan sekarang sudah menginjak kelas 5 sekolah dasar.


Begitu cepat pertumbuhan anak-anaknya itu tanpa dia sadari.


Azrinna tersenyum menatap punggung Alchira yang sudah lenyap di balik banyaknya anak-anak berseragam putih merah.


Tanpa sepengetahuan Azrinna. Saat ini bukannya ke kelasnya sendiri, Ezar malah memasuki kelas lain yaitu kelas adik angkatannya.


Ezar tak memperdulikan reaksi mereka. Dia hanya ingin menghampiri teman dekatnya yang ternyata berada di kelas itu.


"Hai, Ezar ?!."


"Hallo, Zal."


Keduanya saling menyapa satu sama lain dengan senyuman merekah.


Ezar duduk di kursi kosong di samping temannya. "Zal, aku mau titip sesuatu sama kamu."


"Mau titip apa ?."


"Ini." Ezar menyodorkan kotak kecil yang sedang dibawanya.


Raut wajah temannya itu mengerut kebingungan dan Ezar hanya tersenyum menanggapinya.


"Eee maksudnya gimana ini ?, Kamu titip buat siapa ?." Tanya temannya akhirnya.


Ezar mendekatkan wajahnya. "Kasiin ke Abi kamu, bilang aja dari Om Akhtar." Ucapnya sedikit berbisik.


Temannya akhirnya mengangguk mengiyakan. "Oh, iya nanti aku kasih ke Abi."


"Oke, makasih ya. Assalamualaikum." Ezar kembali bangkit berdiri dan keluar dari kelas tersebut.


"Waalaikumsalam."


Sangat senang hati Ezar saat ini. Perasaannya sangat lega karena titipan dari ayahnya sudah dia laksanakan. Dan kini Ezar sudah bersiap untuk mengikuti mata pelajaran pertamanya.


"Mas !."


Panggilan itu membuat Ezar langsung menoleh. Dia sudah sangat hafal pemilik suara itu.

__ADS_1


"Hem ?."


"Mas habis kemana ?, Kok datangnya dari sana ?."


"Tadi habis nganterin amanahnya Daddy."


"Amanah apa?."


"Kotak yang tadi mas bawa."


"Ouh, Chira pikir itu punya mas buat di kasihin ke orang."


Dari nadanya itu membuat Ezar langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. "Jangan mikir yang macam-macam deh, mas tau pemikiran kamu." Ezar langsung berlalu setelah mengatakannya.


Alchira sempat terkejut tapi dia tidak peduli. Alchira langsung mengejar langkah kakaknya untuk kembali ke kelas mereka yang posisinya bersebelahan.


"Mas,."


"Hem."


"Memangnya kotak tadi isinya apa ?."


"Gak tau."


"Oh." Alchira menghentikan langkahnya setelah sampai di depan pintu kelasnya.


Ezar menoleh ke arah adiknya. "Awas belajarnya jangan ngelamun."


"Iya, mas juga awas jangan mikirin taman binatang terus. Hahaha !!." Alchira segera masuk ke dalam kelasnya sebelum terkena amukan sang kakak.


Ezar hanya tersenyum melihat tingkah lucu adiknya itu. Keduanya memang sering berantem layaknya anak kecil lainnya. Tapi, sikap Ezar pada Alchira sangat baik sebagai seorang kakak. Ezar sangat menyayangi adiknya itu meski kadang Alchira sering membuat Ezar kesal.


Didikan Azrinna dan Akhtar memang luar biasa pada kedua anaknya. Apalagi pada Ezar. Hampir setiap malam saat menemani anaknya itu sebagai pengantar tidur, baik Akhtar maupun Azrinna selalu memberikan satu petuah yang harus dipegang teguh oleh Ezar, yaitu jangan pernah menyakiti perempuan karena itu sama saja dia telah menyakiti Ibunya.


Ezar yang sangat menyayangi ibunya dan adiknya tentu saja sangat memegang teguh prinsip itu. Bahkan dia tidak pernah sekalipun membuat ibu dan adiknya menangis karenanya selain karena keberhasilannya saat di sekolah.


###


Azrinna yang selesai mengantar anak-anaknya kini sudah sampai di kantor suaminya. Sudah menjadi rutinitas Azrinna jika setelah mengantarkan anak-anak dia akan mampir ke kantor Akhtar karena memang jaraknya tidak jauh dari sekolah anak-anak. Dan juga masih pada jalur yang sama bahkan pada perjalanan pulang pun.


"Assalamualaikum, mas."


Melihat kedatangan istrinya, Akhtar langsung mengembangkan senyumnya. "Waalaikumsalam, sayang."


Keduanya saling mendekat dan setelah sampai, Akhtar memeluk tubuh istrinya dan mencium kening istrinya dengan lembut.


"Mas lagi sibuk ya ?."


"Nggak, kenapa memangnya ?."


"Hem, aku lagi pengen makan es dawet." Cicit Azrinna dengan suara manja.


Mendengar itu langsung mengundang senyum manis Akhtar. Akhtar berjongkok di hadapan Azrinna dan mendekatkan wajahnya ke perut Azrinna. "Apa anak Daddy ingin makan es dawet?, Hem ?,." Ucapnya terlihat sangat bahagia.


Akhtar mengusap-usap lembut perut Azrinna yang di dalamnya terdapat janin yang masih berumur dua bulan.


"Mas..."


"Iya, iya, sayang. Bentar,." Akhtar dengan sigap mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja dan juga jasnya lalu mendekati istrinya lagi. " Ayo, sayang." Ucapnya dan mengandeng tangan Azrinna saat keluar dari ruangan.


Mereka sampai di area parkir mobil Akhtar dan sebelum masuk ke dalam mobil, Akhtar menghentikan langkah kakinya.


"Sayang, kita mau cari es dawet dimana ?."


"Biasanya di taman dekat nanzea ada yang jualan."


"Baiklah, ayo kita kesana."


Sikap manis Akhtar untuk seorang Azrinna memang tidak pernah kurang dan tidak ada habisnya. Akhtar memperlakukan Azrinna layaknya seorang pengawal kepada ratunya.

__ADS_1


Dan dengan sikap Akhtar yang seperti itu juga, menambah rasa cinta Azrinna terhadap sosok suaminya itu.


Dan sekarang, setelah sekian lama penantian panjang, Azrinna akhirnya bisa mengandung kembali buah hati mereka. Hadiah terbaik dari Yang Maha Kuasa yang masih memberi mereka kesempatan untuk merawat seorang bayi lagi.


__ADS_2