Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Kembali berbohong


__ADS_3

Untuk hal pertama bagi Akhtar menyaksikan Aira berpakaian demikian, sebab selama hidup bersamanya Aira selalu berpakaian tertutup. Bahkan setiap jawaban yang selalu Akhtar tanyakan, Aira hanya menjawab jika dirinya tidak nyaman berpakaian pendek. Entah apakah sebabnya, Akhtar juga tidak paham.


"Ai..." Bibir Akhtar reflek memanggil namanya.


Aira menoleh ke arah tempat tidur yang terisi kan Akhtar di sana. Senyum Aira merekah dengan sempurna. "Mas. Hmm apa pakaianku bermasalah?. " Aira mengecek tubuhnya sendiri. Bersamaan Akhtar yang melangkah mendekati Aira.


"Tidak. Tidak ada yang salah, hanya saja kamu tidak biasanya memakai pakaian pendek, Ai. "


"Entahlah, Mas. Hari ini aku merasa ingin memakainya. Tidak apa-apa kan mas ?. " Aira menjawab dengan ragu.


" Iya. Terserah kamu aja. Lagian memakai pakaian itu kecantikan kamu jadi bertambah. " Akhtar berbisik tepat di dekat telinga Aira.


"Mas !!. " Pekik Aira dengan wajah sudah merah merona.


Akhtar terkekeh kecil lalu berjalan melewati tubuh Aira dan tenggelam di balik pintu kamar mandi.


Aira menoleh ke belakang ketika mendengar suara derit pintu tertutup, senyumnya masih menghiasi wajah ayunya dan melangkah ke arah tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di sana dan tidak lama alam bawah sadar mulai menyapanya.


_________


"Assalamualaikum..."


Seorang pria baru saja masuk ke dalam rumah nya. Matanya menjelajah sekeliling rumah namun semuanya terasa sepi. Ia tengok jam tangan di pergelangan tangannya, ternyata waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Hembusan tertahan ia keluarkan dan melangkah menuju kamarnya sendiri.


Sesampainya di kamar tubuhnya langsung di hempaskan di atas tempat tidur dengan mata menatap lekat langit langit kamar.


"Dek. Kau kah itu ?. Kakak merindukanmu. Kami merindukanmu. Di mana aslinya sekarang kamu berada... ?" Iya. Pria yang terlihat sangat tak bergairah hidup itu adalah Zuhdi. Kakak satunya Azri.

__ADS_1


Ingatan Zuhdi kembali pada acara pernikahan tadi siang. Di mana dirinya hadir di sana sebagai penghulu. Bayangan di mana ia terasa melihat lagi adiknya di dalam diri sang mempelai wanita itu membuatnya semakin frustasi. Apalagi tadi siang, nama mempelai wanita itu bukan Azrinna, melainkan Aira.


" Ya Allah... Jika benar dia adikku, kenapa namanya berubah?. Ada apa ini ya Allah?. Tapi aku yakin bahwa itu Azri. Aku sangat mengenalnya..." Tak terasa, air mata rupanya telah membasahi pipinya.


Pencarian tiada henti sudah berjalan selama empat bulan lamanya, namun semua tidak pernah membuahkan hasil sama sekali. Azrinna masih juga belum ketemu. Bahkan jejaknya pun tidak di ketahui oleh semua orang yang ia perintahkan untuk mencari adiknya itu.


Harapannya kini hanya sebuah do'a jika seandainya adiknya masih hidup semoga dia selalu diberi kesehatan juga keamanan. Dan jika Azrinna memang sudah meregang nyawa, semoga Sang Maha Kuasa mengabarkan hal baik tentang keberadaan nya.


Berpikir keras terus menerus membuat Zuhdi lelah dan akhirnya alam bawah sadar mulai menghampiri. Hingga pagi menyapa, barulah matanya kembali terjaga. Zuhdi turun dari kasur dan melangkah malas ke arah kamar mandi. Setelah lima belas menit berada di kamar mandi dengan pakaian kasual nya karena hari ini adalah hari libur dari waktu kerjanya sebagai pegawai kementerian agama, tepatnya di KUA.


Zuhdi keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana sudah terlihat keduanya orang tuanya yang sedang menikmati sarapan. Melihat wajah mereka membuat hatinya teriris. Iya. Keceriaan yang selalu mewarnai wajah kedua orang tuanya lenyap semenjak hilangnya Azrinna. Perasaan terpukul karena kehilangan itulah yang juga membuat rumah ini terasa hening dan senyap.


Zuhdi menarik salah satu kursi dan mendudukinya. " Selamat pagi, Ma, Pa..." Ucapnya dengan nada di buat seceria mungkin.


Kedua orangtuanya menoleh dan tersenyum. "Pagi, Sayang..." Balas mamanya.


" Bicaralah, nak. " Ujar papanya dengan tatapan kini mengarah ke wajah putranya.


" Hmm, Pa, Ma. Kira kira mungkin tidak, kalo seandainya Azri itu kecelakaan dan hilang ingatan? ."


" Zuhdi..." Panggil Mama nya lirih. Mamanya menatap wajah Zuhdi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. " Apa kamu bertemu dengan adikmu, nak ?. " Ucap mamanya lagi.


" Nggak tau, ma. Aku juga bingung, apakah itu Azri atau bukan?. Aku ketemu dengan dia kemarin, ketika aku jadi penghulu. Dia salah satu pelanggan aku Ma. "


" Maksud kamu, Azri yang menikah?. "


Zuhdi mengangguk. " Namanya bukan Azri, pa. Namanya Aira. "

__ADS_1


Semuanya menghela nafas panjang. Detik selanjutnya hanya keheningan yang tercipta. Lalu terpecah ketika mendengar suara lengkingan anak kecil.


Semua mata langsung menoleh ke arah anak kecil yang sedang berlari mendekat.


" Oma. Opa. Om. " Seru anak kecil itu lagi sembari menyalami satu persatu tangan orang-orang yang sedang duduk di sana.


" Ehh. Cucu nenek pagi pagi udah kesini aja ?. " Sintia membawa anak kecil itu ke atas pangkuannya dan tak lama seorang pria dengan senyum mengembangnya datang lalu menyalami kedua pasangan paruh baya itu.


" Assalamualaikum, ma, pa. "


"Waalaikumsalam..." Jawab semuanya.


" Ayo duduk, nak. " Tawar mama Sintia.


"Tumben kamu datang pagi-pagi sekali, Aqlan?. "  Tanya Pak Syarif.


Aqlan tersenyum lalu berkata " Iya, pa. Raffa merengek terus minta ke sini dari kemarin dan Aqlan baru bisa bawa dia pagi ini. Dan... rencananya Aqlan juga mau menitipkan Raffa selama beberapa hari di sini, soalnya Aqlan harus ke luar kota nanti sore karena sedikit ada masalah dengan cabang restoran yang ada di sana. " Jelas Aqlan panjang lebar.


"Tentu saja. Mama malah seneng Raffa di titipkan ke sini. " Jawab mamanya antusias.


"Alhamdulillah kalo begitu. Makasih, ma, pa. Ya udah Aqlan mau langsung berangkat aja ya. Untuk barang barang Raffa nanti siang ada pengasuhnya yang akan kesini karena sepertinya Aqlan tidak bisa ke sini lagi. "


" Oalah. Kamu ga sarapan dulu?. "


"Aqlan udah sarapan di rumah, ma. " Aqlan mendekati putranya lalu mengudap lembut kepala sang putra." Nanti jangan nakal, ya. " Ucapnya. Dan di angguki oleh Raffa.


Setelah berpamitan, Aqlan keluar dari rumah dan kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2