Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Tanah Baru


__ADS_3

Dua maskapai penerbangan menghampiri keduanya setelah Eiriek memberitahukan siapa akan menaiki pesawat tersebut. Mereka mengambil alih barang-barang Akhtar yang baru saja dikeluarkan dari bagasi oleh Eiriek. Tidak banyak, Akhtar memang hanya membawa satu koper sedang yang hampir berisikan barang barang keperluan Ezar. Karena untuk pakaian nya sendiri sudah tersedia di rumah nya di Uzbek.


Akhtar menggandeng tangan Aira masuk ke area penerbangan dan terus melangkah memasuki kabin pesawat. Keduanya duduk berdampingan dengan Ezar duduk sebagai pemisah.


Lima menit kemudian akhirnya pemberitahuan pesawat akan mengudara menggema di setiap sudut pesawat. Seluruh penumpang segera mempersiapkan diri. Detik selanjutnya pesawat mulai mengudara.


Perjalanan yang melelahkan, akhirnya telah sampai di tujuan.


Bandar internasional udara Islam karimov Tashkent, Uzbekistan.


Setelah melakukan check in selesai penerbangan, yang dibantu oleh maskapai penerbangan, ketiganya memasuki mobil yang sudah menunggu di basement. Lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah.


Jika tadi perjalanan dengan menggunakan pesawat memerlukan waktu belasan jam, berbeda dengan saat ini. Perjalanan hanya menempuh empat puluh menit mobilnya sudah memasuki gerbang berwarna abu-abu yang menyembunyikan rumah mewah nan elegan perpaduan warna putih dan kelabu.


Keduanya turun dari mobil dan mulai melangkah memasuki teras rumah yang berdiri beberapa pegawai yang berjejer rapi di sisi sisi menyambut kedatangannya. Mereka tampak sedikit membungkuk memberikan penghormatan pada sang pemilik rumah.


Sebenarnya Aira sudah sering mendapatkan hal demikian saat di Indonesia. Tapi tetap saja ia merasa tersanjung, karena disini jumlah pegawai itu tiga kali lipat dari di Indonesia sana.


Ketua pelayan menghampiri. " Selamat datang tuan, Nyonya dan tuan muda..." Sapanya ramah.


" Apa kabar Darisa ?. Apa semua baik baik saja selama Ini?."


" Seperti yang terlihat, tuan. Semua baik baik saja, dan sesuai permintaan tuan juga, saya sudah menambahkan beberapa pelayan yang tuan inginkan. "


" Bagus. Tugaskan mereka sesuai yang diperlukan !."


" Baik, tuan."


Akhtar mengangguk dan kembali menggandeng tangan Aira untuk lebih masuk ke dalam rumah. Mata Aira seakan terhipnotis oleh setiap sentuhan desain barang barang yang ada di dalam rumah. Terlihat mewah dan elegan.


" Mas, ini rumah kamu ?." Aira akhirnya bersuara.


" Rumah kita. " Jawab Akhtar santai.


Aira hanya bisa tersenyum manis mendengar penuturan suaminya. Akhtar mengajak Aira memasuki ruangan berpintu kaca. Lift. Iya. Karena rumah mewah milik Akhtar memiliki lima, sedangkan di setiap lantai mencapai ketinggian sepuluh meter, terkecuali lantai empat yang memiliki ketinggian berbeda yaitu lima belas meter. Lantai di mana kamar utama berada.


Lift berhenti ketika nomor yang tertera sudah menunjukkan angka 4, sesuai yang di klik oleh Akhtar tadi.


" Ayo, sayang ?!." Ucap Akhtar saat keduanya telah sampai di depan pintu kembar berukir bunga mawar yang tampak cantik dan elegan.


" Iya, mas. " Aira mengikuti langkah kaki Akhtar memasuki ruangan yang merupakan kamar keduanya itu.


Luas dan menenangkan. Hal yang Aira tangkap ketika melihat seluruh sudut ruangannya yang bernuansa putih dan abu-abu. Khas kamar seorang pria.


Akhtar meletakkan Ezar di atas tempat tidur. "Kita pulang, boy. " Ucapnya pada sang putra seraya mengacak gemas rambut Ezar. Sedangkan Ezar sendiri langsung terfokus pada botol susu yang sudah diisi ASI mommynya.

__ADS_1


" Mom..." Panggil Ezar pada mommy nya yang masih menikmati keindahan kota Tashkent dari ketinggian. Aira menoleh lalu tersenyum ketika melihat putranya sedang melihat ke arahnya.


Aira melangkah mendekati ranjang lalu duduk di samping putranya. Ezar yang sudah di dekat ibunya langsung merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


" Ehh. Manjanya anak mommy ?." Ucap Aira yang merasa gemas melihat tingkah lucu Ezar. Ezar tidak memperdulikan apa yang diucapkan mommynya. Dia hidup di dunianya sendiri. Salah satu tangan mungilnya memainkan jemari lentik Aira sedangkan tangan satunya lagi masih setia memegang botol susunya.


Akhtar hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anaknya pada sang ibu. Sesaat tatapan keduanya bertabrakan. Lalu Aira tersenyum manis dan Akhtar membalasnya dengan senyuman yang sama.


" Mas, mau mandi dulu ya. " Ucap Akhtar kemudian.


" Iya, mas. "


Akhtar bangkit dan melangkah menuju pintu sedang yang berada di sudut ruangan. Sedangkan Aira sendiri masih fokus pada Ezar. Aira memperhatikan mata Ezar yang mulai menyayup kemudian mulai terpejam rapat.


Setelah Ezar sudah semakin nyenyak, Aira segera membenahi posisi tidur Ezar lalu menyelimutinya. Sedangkan botol susu yang sudah hampir kosong itu ia letakkan di atas meja.


Aira bangkit dari duduknya. Hatinya yang penasaran dengan isi kamar membawa langkahnya menjelajah seluruh sudut ruangan. Hingga ia menemukan sebuah pintu berbahan kaca. Dengan perlahan Aira memasuki ruangan yang berpintu kaca tersebut. Ternyata saat masuk, ia di suguhkan pemandangan puluhan bahkan ratusan pakaian yang tertata rapi. Semua pakaian model pria ada di sana.


Aira semakin melangkah dan ternyata semakin masuk ke dalam, semakin banyak pula yang ia temukan di ruangan yang seperti toko pakaian ini. Jika awalan ia menemukan berbagai pakaian pria, kini ia kembali disuguhkan berbagai macam warna juga model pakaian wanita. Dari yang gaun simpel sampai ke yang mewah dan elegan, dress panjang, dress pendek, dress berlengan panjang, pendek dan tanggung, juga terlihat beberapa lemari kaca yang menyimpan beberapa aksesoris wanita seperti perhiasan, jam tangan, dompet, tas, sepatu, juga kawan kawannya bahkan semua itu ternyata sesuai dengan ukuran tubuhnya.


Kaki Aira kembali melangkah dan ternyata ke area pakaian anak kecil yang jika di lihat semuanya berukuran sesuai dengan ukuran tubuh Ezar.


" Ai. "


Tangan Akhtar yang tepat di atas perutnya mengusap lembut perut Aira yang terhalang oleh kain pakaian. Akhtar juga memberikan kecupan singkat di pipinya.


" Mas..."


" Hem ?."


" Mas, menyiapkan ini semua ?."


" Tentu saja. Karena kita akan tinggal di sini selamanya. "


Aira berbalik dan kini menghadap ke arah wajah Akhtar. " Selamanya?!." Tanya Aira.


" Iya. Kita akan di sini selamanya. Hidup bahagia bersama keluarga kecil kita. "


" Tapi, mas. Apa kita tidak akan kembali lagi ke Indonesia?. Jakarta?." Tanya Aira sendu.


Akhtar menggeleng. " Tidak." Ucapnya tegas.


" Loh, kenapa?."


" Karena kita akan tinggal di sini. "

__ADS_1


" Tapi aku sangat menyukai kehidupan di sana..mas kok jahat sih?!.."


" Iya, iya. Kita akan sering melakukan liburan di sana. " Ucap Akhtar mengalah akhirnya.


" Beneran kan?."


" Iya. Tapi nanti setelah kamu melahirkan anak kita. Karena aku takut terjadi sesuatu pada nya. " Akhtar mengusap lagi perut Aira.


" Baiklah. Tidak apa-apa. Lagian aku juga tidak mau membahayakan anak kita. "


" Iya. Ayo. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. " Akhtar menggandeng tangan Aira melangkah entah kemana, Aira hanya bisa mengikuti.


" Mas !!. " Pekik Aira saat keduanya telah sampai di tempat yang ditunjukkan Akhtar.


Bagaimana Aira tidak menyukainya?. Jika di balik besarnya kaca yang membentang, terlihat pemandangan indah sebuah taman yang terlihat sangat asri. Juga sebuah bangunan yang tampak seperti kebanyakan di Indonesia.


" Mas. "


" Hemm ?."


" Apa..itu masjid ?." Aira menunjuk bangunan yang memiliki atap berbentuk kerucut dan berwarna biru. Sangat cantik.


" Iya. Itu masjid. "


" Cantik sekali..."


" Kamu ingin ke sana ?." Tanya Akhtar serius.


" Mau. Tapi..."


" Tapi apa, Hem ?."


" Mas. Apa di sini ada mukenah ?." Tanya Aira kemudian.


" Mukenah ?!." Entah Akhtar merasa hatinya sedikit meringis tatkala mendengar sesuatu hal yang menyangkut pada ajaran agama tersebut.


" Iya. Selama ini aku sudah terlalu jauh dari yang namanya ibadah. " Ucap Aira dengan mata menerawang jauh menatap ke arah masjid itu. "Dimana mukenanya, mas ?." Tanya Aira lagi.


" Eee. Disini kayaknya tidak ada mukenah, sayang. Nanti kita akan membeli mukenah. Ouh. Atau kita suruh seseorang saja untuk membelikannya?. "


" Iya. Aku ingin secepatnya, mas. "


" Baiklah. Kalau begitu kita kembali ke kamar ya ?."


" Iya."

__ADS_1


__ADS_2