
"Mom..." Alchira mengangkat kedua tangannya minta digendong oleh Azrinna.
Azrinna yang sedari tadi sibuk membereskan koper langsung meninggalkan kegiatannya dan menghampiri sang buah hati yang sudah ia anggurin dari tadi.
"Uhh. Sayang mommy kasian sekali." Azrinna memangku Alchira dan mengecup kedua pipi Alchira gemas.
"Mom..." Alchira kembali merengek dan mulai mencari-cari kesukaannya.
Azrinna hanya tersenyum melihat wajah menggemaskan putrinya yang sedang mencari ASI nya.
Mungkin karena kelelahan menunggu mommynya selesai membereskan barang-barang ke dalam koper, Alchira baru saja diberikan ASI nya langsung terlelap tenang dalam tidurnya.
Tangan Azrinna terulur membelai penuh kasih sayang rambut keemasan putrinya. Ia pandangi wajah mungil itu yang sepertinya merupakan gambaran Akhtar versi perempuan. Wajah putrinya itu memang sangat mirip dengan daddy-nya. Hidung kecil mancung, alis mata tebal, dagu lancip juga bibir tipis. Meski ada sedikit kemiripan dengannya, tapi kemiripan Alchira lebih dominan pada Akhtar.
Iya. Kemiripan itu terjadi seiring bertambahnya usia Alchira, karena dulu, saat masih sangat kecil bahkan dari bayi Alchira lebih mirip dengan Azrinna.
Setelah Alchira sudah sangat nyenyak dan tidak lagi menyesap ASI nya, Azrinna memindahkan tubuh Alchira ke atas tempat tidur lagi. Dan dirinya pun kembali melanjutkan kegiatannya yang terjeda.
Hari ini memang Azrinna dan sang putri akan melakukan perjalanan jauh menuju Jogjakarta, sesuai yang ditawarkan oleh ibunya tempo hari. Tepatnya Azrinna dua hari lalu Azrinna menerima tawaran ibunya, itupun karena orang tuanya yang mendapat kabar dari pelayan eyangnya yang mengatakan eyang nya itu keadaannya semakin memburuk bahkan sempat masuk ke rumah sakit dan dirawat selama lima hari lamanya.
Eyangnya itu memang sudah sangat renta. Di usianya yang ke tujuh puluh tiga tahun, segala penyakit bagi usia senja kerap kali menimpa tubuhnya.
Selesai membereskan perlengkapannya, Azrinna keluar dari kamar untuk mencari keberadaan ibunya yang ternyata berada di ruang keluarga, duduk berdua bersama ayahnya di sofa.
"Ma, pa. " Azrinna mendudukkan tubuhnya di samping sang ibu
" Ehh Zri. Sudah selesai beres-beres nya?." Tanya ayahnya.
"Sudah, yah. "
"Alchira kemana ?." Kini ibunya yang bertanya.
" Tidur. Dari tadi nemenin Azri beres-beres membuatnya mengantuk."
__ADS_1
'' kasiannya cucuku." Gumam ibunya.
Ketiganya mulai terlibat obrolan kesana-kemari yang masih berkaitan dengan keberangkatan Azrinna dan Alchira. Dari yang siapa yang ikut mengantar mereka sampai stasiun dan yang ikut mereka sampai ke Jogja juga pukul berapakah waktu keberangkatannya. Dan lain sebagainya.
Obrolan itu terhenti saat mendengar mendengar suara adzan Dzuhur berkumandang.
Azrinna kembali ke kamar, membawa handuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berlanjut hingga sholat Dzuhur. Selesai sholat Azrinna segera berdandan. Memakai pakaian tertutup juga sedikit memoles wajah dengan sedikit riasan dan membenahi pakaian sang putri.
Keberangkatan dari rumah ke stasiun pukul setengah dua siang dan berlanjut perjalanan menggunakan kereta pada jam duanya.
Dengan menggunakan mobil Azrinna dan dikendarai supir pribadi keluarganya juga ada Zuhdi yang akan ikut sampai ke Jogja, mobil Azrinna meluncur dengan kecepatan sedang menuju stasiun.
Zuhdi melakukan check in perjalanan ketiganya dan hanya menunggu beberapa menit saja, mereka sudah menaiki kereta dengan kelas bisnis yang kini melaju kencang membela perjalanan.
Hamparan indah pesawahan juga perkebunan sangat sejuk dipandang mata. Kereta terus melaju dan berganti lagi dengan keindahan kota yang terlihat dari ketinggian.
Mata Azrinna sangat menikmati perjalanannya kali ini. Bahkan meski matanya sudah mulai mengantuk, ia masih berusaha tidak melewatkan keindahan yang tersaji di balik jendela kereta.
Zuhdi yang duduk disampingnya hanya menyaksikan berbagai ekspresi yang tergambar di wajah adiknya, karena fokusnya memang lebih ke sang ponakan yang sedang duduk manis di pangkuan.
Di depan gerbang besar berwarna kuning bercampur oren keemasan terdapat dua orang pria baruh baya dengan pakaian khas Jawa menyambut kedatangan mereka dengan ramah juga mengambil alih barang-barang yang di mereka bawa.
Dengan dipandu oleh dua pengawal itu mereka masuk ke dalam rumah dan kembali bertemu dengan beberapa orang yang memakai pakaian adat Jawa.
Yah. Eyangnya itu memang bukan orang biasa. Eyang putri adalah salah satu manusia keturunan darah biru putri keraton Yogyakarta. Yang berarti Azrinna pun memiliki darah yang sama seharusnya. Namun karena Ajeng Ayu Sintia--ibunya Azrinna menikah dengan pria biasa yang hanyalah seorang pemuda pebisnis ikatan itu akhirnya terputus seketika itu juga.
Eyang putri dan eyang kakungnya dulu tidak mempermasalahkan akan hal tersebut. Mereka menerima Winata atau ayahnya itu dengan tangan terbuka dan bahkan mengizinkan Sintia pergi kemanapun sesuai yang diinginkan Winata yang kini malah berakhir di ibukota Jakarta.
Ajeng Ayu Sintia adalah putri semata wayang dari keturunan keratonnya yang berarti Muhammad Zuhdi dan Azrinna Zaida Nazla adalah penerus dari keturunannya.
Bahkan meski keduanya tidak menyadari, keistimewaan yang dimiliki keduanya sudah terlihat nyata sedari mereka kecil. Seperti halnya yang selalu dilihat dari sosok Azrinna. Yang berarti keistimewaan itupun akan terus mengalir pada generasi seterusnya dari keturunan keduanya.
Eyang putri menghampiri dengan kedua tangannya yang dipapah oleh dua pelayan berseragam khas Jawa.
__ADS_1
Meski sudah di usia senja, eyang putrinya itu masih terlihat sangat cantik meski sudah memunculkan beberapa kerutan di wajah. Wajah tenang dan bercahaya itu mendekat dengan senyuman merekah membuat kedua cucunya pun ikut tersenyum dan menyambar tubuh renta itu dalam pelukan.
"Assalamualaikum, eyang..." Ujar Azrinna seraya menyalami eyang putri bergantian dengan Zuhdi.
"Waalaikum salam, nduk, Nang." Jawab eyang putri yang masih melebarkan senyumannya.
Mereka menyudahi pelukan. Mata eyang putri terpaku pada Alchira yang ada di gendongan Zuhdi.
"Iku sopo Nang ?." Tanya eyang putri pada Zuhdi.
Azrinna tersenyum lalu mengambil alih Alchira dari tangan kakaknya. "Ini putri Azrinna, eyang. Namanya Alchira. " Jawab Azrinna.
"Owalah. Putrimu toh nduk ?. Ayu nemen ikih." Eyang putri mengusapkan jarinya pada pipi Alchira.
"Alhamdulillah eyang. Dia memang cantik seperti Azrinna. " Seloroh Azrinna yang langsung membuat eyang putri terkekeh. Sedangkan Zuhdi hanya memutar bola matanya.
Azrinna itu memang sangat pede sekali. Bathin Zuhdi
"Yo wes. Ayuh mlebet. Sampun ndalu. " Ucap eyang pada kedua cucunya.
"Iya, eyang."
Mereka berjalan di belakang eyang masuk lebih dalam ke rumah bernuansa keraton ini. Eyang memerintahkan kepada beberapa pelayan untuk mengantarkan cucunya ke kamar masing-masing lalu eyang kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri karena memang jam sudah memasuki waktu sholat isya.
_________________
( NB )
Ikuh : itu
Oalah: ya ampun
Ayu nemen ikih: cantik sekali ini
__ADS_1
Yo wes, ayuh mlebet , sampun ndalu: ya sudah, ayo masuk , sudah malam