
" No !. Aunty... !. That's mine !. " Ezar berlari mengejar wanita yang tertawa lepas berlari menghindar dari Ezar.
" hahaha. Come one. Ezar...!." Ujar wanita itu masih terus berlari menghindari kejaran Ezar.
Azrinna menatap interaksi antara Ezar dengan wanita muda itu. Dilihat dari wajahnya, wanita muda itu memang memiliki kemiripan dengan wajah Akhtar dan pupil matanya pun memiliki warna yang sama, Abu-abu terang.
Kaki Azrinna melangkah perlahan mendekati mereka hingga berhenti saat mata Ezar menatap ke arahnya. Azrinna tersenyum menyambut putranya itu agar mendekat ke arahnya.
"Mommy...!." Teriak Ezar langsung berlari ke arah Azrinna.
Azrinna mendekap erat tubuh mungil Ezar ke dalam pelukan hangatnya dan mendaratkan kecupannya di wajah Ezar yang terkecuali.
Tanya mungil Ezar memeluk erat leher mommynya. "Mommy. Ezal, kangen mommy..." Rengek Ezar menatap wajah Azrinna.
"Mommy juga kangen sama Ezar." Jemari lentik Azrinna mencubit gemas pipi Ezar membuat putranya itu terkekeh di dalam pangkuannya.
Tatapan mata Azrinna beralih pada wanita yang dipanggil aunty oleh Ezar di sana. Wanita itu juga sedang menatapnya intens. Azrinna terbitkan senyuman manisnya menyapa wanita itu dan di balas dengan senyuman yang sama olehnya.
Wanita yang tak tak lain adalah Anira itu menghampiri Azrinna.
"Kau..."
"Azrinna. " Ucap Azrinna meyakinkan keraguan Anira.
"Azrinna. Ezar memanggilmu mommy ?."
Azrinna membuka mulutnya untuk menjawab, tapi suara dari belakang membuatnya tidak jadi menjawab pertanyaan Anira.
Suara itu mengatakan " karena dia mommynya." Suara ngebass yang ternyata keluar dari sepasang bibir Akhtar.
Azrinna dan Anira langsung melirik ke arah Akhtar yang kini sudah berdiri di samping Azrinna. Azrinna yang duduk jongkok mendongakkan kepalanya menatap wajah Akhtar. Wajah yang sudah dua Minggu lamanya tidak pernah ia lihat.
"Mommynya ?."
"Iya. "
"Kalian...?." Anira melirik ke arah Akhtar dan Azrinna bergantian.
"Tidak. Kami tidak memiliki hubungan apapun." Pekik Azrinna seakan tahu apa yang ada di pikiran Anira.
Akhtar langsung menatap lekat wajah Azrinna saat mendengar kata-kata tersebut.
__ADS_1
"Ahh. Sepertinya hubungan kalian sangat rumit. Baiklah. Aku tidak ingin mendengarkan penjelasannya. " Anira melenggang pergi meninggalkan mereka. Tentu saja ia tidak benar-benar pergi, ia memilih tempat yang tepat untuk memperhatikan interaksi yang akan kakaknya itu lakukan bersama gadis berjilbab. Anira berdiri mengintip dibalik pintu masuk.
Di sana. Mereka berdua masih betah dalam keheningan. Bahkan Azrinna bangkit sambil menggendong tubuh Ezar dan melangkah berjalan ke arah kursi taman pun, belum ada satupun dari mereka yang mengatakan sepatah kata pun.
"Apa dia gadis yang membuat Ilario berubah ?. Wajahnya kalem sekali. Jika benar, aku harus memberi tahu ayah secepatnya." Gumam Anira masih memperhatikan tingkah mereka yang masih saja sama. Saling diam tanpa kata.
Akhtar ikut duduk di samping Azrinna. Menatap wajah ayu nan mendamaikan itu lekat. " Ai." Panggilannya membuat Azrinna menoleh dan sesaat kemudian tatapan keduanya bertabrakan di udara.
"Kamu masih mengunjungi Ezar."
"Tentu saja. Dan mungkin ini yang terakhir kali."
"Apa ?!. Terakhir kali ?. Apa maksudmu, Ai ?. " Akhtar meminta penjelasan.
Apa maksudnya terakhir kali ?. Mau pergi kemana kamu Ai ?. Atau kau akan menghindar dari kami karena kau akan memiliki kehidupanmu sendiri lagi ?. Akhtar hanya bisa berbicara panjang lebar di dalam hatinya saja.
Azrinna memalingkan wajahnya. "Kami akan pergi. "
"Pergi kemana ?. "
"Kau tidak perlu tau. Yang jelas. Mulai sekarang hiduplah semestinya karena kami juga akan melakukan hal yang sama. " Azrinna mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Ia memang ingin Akhtar tidak lagi mengganggu hidupnya lagi dengan sang putri, sebab kepergiannya sendiri tak lain karena menghindar dari Akhtar.
"Kau tega memisahkan aku dengan putriku sendiri, Ai. " Ucap Akhtar lirih.
"Tapi dia darah dagingku. Di dalam tubuhnya juga mengalir darahku. "
Azrinna menoleh dan menatap wajah Akhtar. "Memang benar. Tapi dalam ajaranku, aturannya seperti itu. " Ucap Azrinna lagi.
Ajarannya ?. Tidak tahukah Azrinna jika kini keyakinan mereka sudah sama. Bahkan Akhtar juga paham akan kelakuannya sehingga menghadirkan Alchira itu merupakan dosa besar.
"Terserah. Dia akan tetap menjadi anakku. Aku daddy-nya. Dan, meskipun kau memberikan seorang Daddy baru untuk Alchira. Alchira tetaplah merupakan putriku. "
Untuk sesaat keduanya hanya diam dengan pemikiran masing-masing.
"Aku akan membawa Ezar jalan-jalan dan mempertemukannya dengan Alchira. " Ucap Azrinna memecahkan keheningan.
"Sebelum Maghrib harus sudah ada disini lagi. "
Meski tidak mengatakan iya, tapi dari perkataannya, Akhtar mengizinkan Azrinna membawa sang putra.
"Iya. " Azrinna bangkit dari duduknya dan membawa Ezar pergi dari hadapan Akhtar.
__ADS_1
Anira yang melihat Azrinna akan memasuki rumah langsung bergerak bersembunyi dibalik tembok.
Azrinna mendudukkan Ezar di kursi samping kursi kemudi dan memasang seat belt pada tubuh mungil Ezar.
" Mommy..."
"Iya, sayang ?." Azrinna melirik ke arah putranya sekilas lalu matanya kembali pada jalanan di depan.
Tangan kiri Azrinna terulur dan mengusap lembut kepala Ezar.
"Kita mau kemana mommy ?."
"Kita ke rumah mommy, sayang. Nanti di sana ada baby Al."
"Baby Al."
"Iya, sayang. Baby Al, adiknya Ezar."
"Ezar kangen baby Al, mommy."
Meski Ezar termasuk anak yang masih sangat kecil yang pada umumnya jika melihat sesuatu atau memiliki kenangan maka akan melupakan hal tersebut ketika sudah tidak pernah melihat atau mengenalnya lagi. Maka Ezar memiliki kemampuan ingatan yang kuat. Jika Ezar pernah melakukan atau melihat sesuatu hal. Sampai kapanpun Ezar tidak akan pernah melupakannya.
Seperti saat dihadapkan dengan Azrinna. Karena jarangnya Azrinna menemui bocah kecil itu seharusnya Ezar tidak akan mengenali Azrinna ketika pertama kali melihat. Tapi Ezar bahkan masih sangat hafal dengan siapakah Azrinna dalam hidupnya.
Bahkan Alchira yang terakhir kali bertemu dengan Ezar hampir lima bulan lalu pun, Ezar masih sangat mengenalnya sebagai seorang adik perempuannya yang dia sayangi.
Mobil Azrinna sampai di halaman rumah milik ayahnya. Azrinna menggendong Ezar masuk ke dalam rumah yang langsung melihat ibunya sedang asik menjaga Alchira bermain di permadani yang tergelar di lantai.
"Assalamualaikum, ma." Azrinna menyalami tangan ibunya.
"Waalaikumsalam, nak. Ini siapa ?." Tanya ibunya sambil menyentuh dagu Ezar.
Ezar yang mendapatkan perlakuan demikian langsung menelusupkan wajahnya di bahu Azrinna.
"Dia Ezar, ma. Putra Azri. "
"Azrinna. Kamu...?."
"Bukan, ma. Ezar memang putra Azri karena dari bayinya Ezar adalah anak susu Azri, ma." Azrinna memberi penjelasan.
"Dia anak Akhtar ?." Tanya ibunya dengan tatapan tidak bisa di tebak.
__ADS_1
"Iya, Ma ''
"Masya Allah..."