
Esok hari tiba, Azrinna sudah siap dengan pakaian tertutupnya karena hari ini ia harus kembali melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu mengajar di Nanzea.
Untuk pertama kalinya. Tepat setelah usia tiga bulan Alchira tinggal bersama Azrinna. Hari ini Azrinna memutuskan akan membawa Alchira ikut bersamanya makanya Alchira juga sudah rapi dengan pakaian tertutup ala baby dengan setelan gamis panjang dengan motif bunga -kecil yang tertata rapi melingkar di bagian perut, persis seperti sabuk juga tidak lupa kerudung kecilnya yang menutup rapat kepala bayinya itu. Warna dusty pink berpadu putih tulang, benar-benar cocok untuk kulit putih Alchira dan... Terlihat sangat menggemaskan.
" Anak mommy sudah cantik dan wangi, ya ?." Azrinna mengajak bicara putrinya. Alchira hanya mengerjapkan mata berkali-kali menanggapi ucapan ibunya, tangan mungilnya bergerak-gerak menyentuh wajah ibunya.
" Ayo, sayang. Kita berangkat... Bismillahirrahmanirrahim.." Azrinna mengangkat tubuh mungil yang tergeletak di atas tempat tidur ke dalam gendongannya lalu membawanya keluar dari kamar.
Sampai di lantai bawah Azrinna meminta bantuan pegawai rumah untuk memasukkan keperluan Alchira ke dalam mobilnya dan dirinya sendiri menuju ruang makan untuk ikut bergabung sarapan pagi bersama keluarganya.
" Assalamualaikum.." ujarnya seraya duduk di kursi bagiannya sedangkan Alchira didudukkan di kursi khusus bayi nya.
" Waalaikum salam..." Jawab mereka serempak.
" Alchira jadi dibawa, sayang ?." Tanya mamanya saat melihat pakaian Alchira yang sudah rapi, sama seperti Azrinna.
" Iya, ma. Alchira akan Azri bawa hari ini. "
" Nanti gimana di sananya ?. Kamu kan harus mengajar anak-anak didik kamu. "
" Paling nanti Azri minta salah satu murid Azri untuk menjaganya kalau Azri lagi masuk kelas."Jawab Azrinna santai seraya sambil menyiapkan makanan ke piringnya sendiri.
Mendengar jawaban Azrinna, Winata hanya menggeleng. Anaknya itu benar-benar sulit dimengerti. Mereka mulai menikmati makanan dengan nuansa hening yang hanya diisi oleh suara dentingan sendok dan piring yang saling berbenturan.
Sesaat kemudian, mobil Azrinna sudah melesat membaur di kepadatan jalan raya. Hanya dua puluh menit, mobilnya sudah terparkir rapi parkiran Padepokan Nanzea.
Turun dari mobil Azrinna memutar langkah menuju pintu belakang dan mengambil troli baby disana lalu meletakkan Alchira di dalamnya.
Azrinna masuk ke dalam gedung Nanzea sambil mendorong troli baby nya. Sampai di lapangan, ternyata masih sepi dan baru beberapa saja yang sudah datang. Azrinna melirik jam tangannya dan ternyata waktu masih terbilang pagi, jarum pendek masih bertahta di antara angka delapan dan sembilan. Jam pelatihan di mulai pukul sembilan lebih lima belas menit.
Azrinna memilih duduk di salah satu bangku yang biasa dipakai rehat oleh anak-anak latihan.
" Assalamualaikum, mba Azri..."
"Waalaikum salam." Azrinna mendongak dan mendapati Haidar berdiri di hadapannya dengan senyum ramahnya.
" Ehh Haidar. "
" Hehe, iya, mbak. " Haidar melangkah mendekati troli baby yang ada di depan Azrinna. " Pertama kalinya mba Azri membawa anaknya. " Ucap Haidar lalu mengelus lembut pipi chubby Alchira. " Cantik. " Ucapnya lagi.
" Iya, saya lagi pengen aja membawanya. Kasian kalau di tinggal-tinggal terus di rumah. " Azrinna masih memperhatikan Haidar yang sepertinya sangat suka memainkan pipi Alchira.
" Mbak. Boleh saya menggendongnya ?." Tanya Haidar tiba-tiba.
__ADS_1
" Eh. Emang kamu bisa menggendongnya ?. " Azrinna sedikit terkejut dengan pertanyaan Haidar.
" Yahh Mbak. Jangan salah loh yaa. Aku ini bukan cuma jago beladiri, tapi ngurus baby juga." Ujar Haidar membanggakan diri sendiri.
" Memangnya kamu sering ngurus baby ?."
Haidar nyengir kuda lalu menggeleng. " Hehehe nggak, mbak. " Jawabnya kemudian.
" Aish. " Dengus Azrinna sambil menggelengkan kepalanya.
" Jadi boleh nggak, nih mbak ?." Tanya Haidar lagi.
" Iya, iya boleh. Tapi awas lo ya. Hati-hati. "
" Iya. Tenang aja mbak. " Haidar mulai mengangkat Alchira ke dalam gendongannya.
" Hai, cantik..." Ujar Haidar dengan nada ceriahnya.
Tangan Haidar tampak luwes menggendong tubuh Alchira, pantas saja tadi belagu. Bathin Azrinna sambil terus memperhatikan Alchira yang masih tenang di tangan Haidar.
Haidar duduk di bangku samping Azrinna.
" Mbak. Anaknya namanya siapa ?."
" Oh. Oke, Alchira. Seperti nama anak luar negeri, ya namanya. "
Azrinna sedikit melotot saat mendengar ucapan Haidar. Ia tidak menyangka Haidar sampai bisa ngomong demikian. Karena memang nama itu diberi langsung oleh Akhtar yang memiliki arti pipi kemerahan dalam bahasa Uzbek Turki.
" Zaman sekarang memang nama bayi unik-unik, kan ?."
" Iya, sih. "
Keduanya duduk diam dengan pemikiran juga kesibukan masing-masing.
Jika Haidar terlihat sangat senang berinteraksi dengan Alchira berbeda dengan Azrinna, yang kini pikirannya melayang pada sosok pria yang pernah mengisi hidupnya selama dua tahun lebih. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan ayah dari putrinya itu sampai-sampai sudah dua bulan ini tidak pernah mengunjungi Alchira lagi. Karena sebelumnya, hampir tiga hari sekali Akhtar akan datang ke rumah orangtuanya hanya untuk melihat keadaan Alchira.
" Assalamualaikum..."
Lamunan Azrinna terhenti saat mendengar suara seseorang memberi salam.
" Waalaikum salam.. "
" Mbak Azri bawa anaknya ?!." Pekik gadis di depannya yang tiada lain adalah Sisil.
__ADS_1
Sisil langsung mendekat ke arah Haidar guna melihat anak Azrinna.
" Ya Allah... Lucu sekali, bayinya.." gumam Sisil dengan tangan mulai risih di wajah Alchira. "Sini. Aku mau gendong." Ujarnya pada Haidar.
" Eh. Enak aja. Aku juga baru menggendongnya, masa mau di ambil aja ..!." Haidar sedikit menggeser duduknya menjauh. Sewot Haidar terlihat tidak setuju dengan antusiasme Sisil.
" Ihh. Yah nggak gitu lah. Lagian kamu cowok, dan gak cocok gendong bayi!."
" Yeah. Malah tuh ya, cowok kalo bisa menggendong bayi berarti itu lelaki idaman !."
" Idih. Kata siapa kaya gitu ?!. Gak ada sejarahnya ya." Sisil kembali berusaha mengambil alih Alchira. " Haidar !. Ihh. Siniin !." Ucapnya mulai merajuk.
" Sudah, sudah. Kalian ini ada-ada saja. " Azrinna melerai dua muridnya yang masih saja berseteru." Sudah. Lebih baik kalian siap-siap, biar Alchira sama saya. " Tegas Azrinna sambil mengambil alih Alchira dari pangkuan Haidar.
" Kamu tuh yaa. " Haidar menggeram di hadapan Sisil.
" Apa ?!." sungut Sisil.
Haidar mendengus kesal lalu pergi begitu saja. Sisil yang masih di tempat kini menoleh ke Azrinna dan mendekati Azrinna yang terlihat memasang wajah datar.
" Hehe mbak. "
" Kamu gak ganti baju ?."
" Iya, ganti mbak. Tapi nanti dulu. Sisil mau lihat bayinya dulu."
" Kalau begitu sekalian aja kamu gak usah ganti baju. "
" Ehh. Ma-maksudnya gimana mbak?." Tanya Sisil kaget.
" Iya, saya mau minta tolong jangan Alchira saat saya lagi masuk kelas. Kamu mau kan?." Tanya Azrinna memastikan.
" Ouh. Iya, iya mau mbak. Sini. Baby nya sama Sisil. Mbak Azri masuk aja nggak papa. "
" Baiklah. Makasih ya. Saya percayakan anakku bersamamu. Jaga dia baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung ke saya aja. "
"Iya, mbak. Mbak Azi tenang aja. Sisil pastikan, baby mbak akan Sisil jaga sepenuh hati. "
Azrinna tersenyum. " Ya udah. Saya mau ganti pakaian dulu yaa. Titip anak saya. "
" Iya, mbak."
Azrinna mengambil mengambil seragam khususnya dan langsung menuju toilet untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Azrinna sudah kembali. Dan membereskan tasnya yang sempat berantakan. Semua beres, Azrinna mengajak Sisil untuk menempati area khusus pelatih dan setelahnya, Azrinna meninggalkan Sisil di sana sedangkan dirinya mulai memasuki kelas pelatihan.