
Sebulan dari pulangnya Aira dari rumah sakit dan menempati posisi sebagai istri Akhtar. semakin hari hubungan antara Aira dengan Akhtar sudah normal layaknya sepasang suami istri. Keduanya bahkan sering sekali menampilkan keharmonisan rumah tangga nya di hadapan para pelayan rumah.
Selama sebulan ini juga Aira sudah layaknya seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya lebih dari apapun.
Dan satu lagi yang kini Aira sadari namun ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Yaitu bahwasannya ia sedang berada pada kondisi hilang ingatan. Baginya meski ia hilang ingatan ataupun tidak, ia tetap merasa bersyukur karena orang orang yang berada di dekatnya sudah cukup selalu membuat hatinya tenang dan bahagia.
Suara tangis Ezar yang tidak terlalu keras membuat Aira langsung membuka matanya. Aira segera membawa sang putra di dalam pangkuannya untuk mencoba menenangkan Ezar agar berhenti rewel.
"Kamu kenapa, nak?. Cup cup cup... " Aira terus menimang sang buah hati tapi sepertinya sang putra tidak juga menghentikan rewelnya. Aira menatap wajah Akhtar yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya lalu beralih lagi pada wajah Ezar.
Melihat Ezar yang terus memainkan lidahnya membuat Aira memahami sesuatu. Iya. Ezar pasti sedang haus. Fikir Aira.
Aira menoleh ke atas nakas dan matanya menemukan susu formula yang terisi di dalam botol susu bayi. Tanpa berfikir panjang, Aira langsung memberikannya pada Ezar. Berkali-kali ia mencoba memasukkan cerobong lentur itu pada mulut Ezar tapi lagi lagi lidah Ezar mendorong nya keluar dari mulut.
"Kamu ga suka ya sama susunya, sayang?. Kamu udah bosen Hem?. " Aira memang sudah memahami tentang Ezar, pada kebiasaan Ezar yang sering ganti ganti susu formula yang akan di minumnya karena Ezar sering merasa bosan dengan susu yang diminumnya.
Apa aku mencobanya aja kali ya?. Mungkin nanti Ezar jadi terbiasa lagi. Aira bermonolog.
Dengan keyakinan tinggi akhirnya ia memilih jalan yang melintas di dalam benaknya. Aira membuka baju bagian depan atasnya dan mencoba untuk memberikan ASI nya pada Ezar. Iya. Dirinya juga pernah diceritakan oleh Akhtar bahwa Ezar awalnya meminum ASI sebelum akhirnya kecelakaan itu terjadi dan Ezar terpaksa harus mengganti ASI nya dengan susu formula.
Aira sedikit meringis saat Ezar mulai menyedot ASI nya karena itu membuat Aira sedikit kesakitan pada bagian tempat dikeluarkannya ASI tersebut. Apalagi sepertinya ASI-nya tidak juga keluar meski Ezar sudah berkali-kali menghisapnya.
"Gak keluar ya nak ?. " Aira bertanya pada sang putra yang masih terus ngusel di dadanya.
Aira menoleh ke arah Akhtar dan tangannya mencoba menggerak- gerakkan lengan suaminya agar terbangun. " Mas... Mas Akhtar bangun mas..." Ucapnya masih terus menyentuh tangan Akhtar.
Akhtar mulai mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya tersentak kaget karena pemandangan yang tak jauh di hadapannya itu. "Aira. Apa yang kamu lakukan?!." Pekik Akhtar seraya bangkit dan duduk.
" Mas. Aku... " Aira sedikit merasa takut melihat tatapan tajam Akhtar yang menghunus wajahnya. Wajah Aira langsung tertunduk dengan mata sudah berkaca-kaca.
Akhtar menghembuskan nafasnya berat. Dirinya tidak pernah menyangka jika Aira sampai melakukan hal demikian. Iya. Aira menyusui Ezar !.
"Kenapa kamu melakukan itu, Ai ?." Tanya Akhtar dengan suara yang sangat lembut karena menyadari jika sekarang Aira terlihat sangat ketakutan akibat sikapnya yang barusan.
"Aku... Aku hanya ingin memberikan ASI ku ke Ezar, mas. " Aira masih menunduk dalam.
__ADS_1
Menatap wajah sendu Aira membuat Akhtar tidak enak hati atas apa yang baru saja dilakukannya pada Aira. Akhtar menyentuh dagu Aira dan membuat wajah Aira terangkat sehingga kini keduanya mulai bertatapan. "Tapi Ezar sudah terlalu lama tidak minum ASI lagi, sayang.." ucapnya semakin terdengar sangat lembut.
" Iya. Aku tau, mas. Tapi aku aku ingin meny*s*inya lagi. Apa tidak boleh?." Aira mengerjapkan matanya untuk menghalau air mata yang mencoba meluncur dari singgahannya.
"Hmm. Iya boleh sih. Tapi... " Akhtar melirik sumber kehidupan bagi seorang bayi itu masih berada di luar dan terpampang jelas di matanya. Ya Tuhan... Maafkan aku yang malah tidak bisa mengontrol diri ini. Bathin Akhtar.
" Tapi kenapa, mas?." Suara Aira membuat Akhtar terhenti dari lamunannya.
"Emang ASI kamu keluar?." Tanya Akhtar mengalihkan pertanyaan Aira dan kembali menatap mata Aira.
Aira menggelengkan kepalanya lemah. "Sepertinya tidak, mas. Dari tadi Ezar sudah menghisapnya tapi ASI nya gak keluar-keluar..."
"Ya udah gak papa. Jangan di paksain nanti malah kamunya yang sakit. Lagian Ezar kan bisa minum susu formulanya, kan?."
"Iya masalahnya dari tadi Ezar rewel terus dan gak mau minum susunya, mas. Ini lihat !. " Aira menunjukkan botol susu formula Ezar yang masih penuh. "Kalo Ezar bagini terus kasian Ezar, mas."
"Iya mungkin Ezar udah bosen sama susu formula yang merek itu. Kamu tau kan Ezar sering gonta-ganti merek susu yang diminumnya karena bosan ?."
Aira mengangguk. "Iya aku tau, mas. "
"Iya, mas."
"Udah. Itu kamu di simpan lagi. Ingat !. Jangan di paksain !."
Aira yang faham Kemana arah ucapan Akhtar langsung menurut dan segera menyimpan benda berharga nya itu ke dalam tempatnya lagi.
Setelah Aira selesai membenarkan kembali pakaiannya, Akhtar akhirnya keluar dari kamar dan tidak lupa menutup pintu kamar nya.
Di depan pintu kamar, Akhtar masih mencoba menetralkan detak jantungnya yang sempat ber marathon. Ia benar-benar tidak menyangka telah melihat salah satu aset berharga Aira. Dan itu semakin menambah rasa bersalah di dalam hatinya karena dengan tega membohongi gadis sepolos Aira. Ia yakin jika Aira melakukan itu karena yang ada di pikirannya bahwa Akhtar adalah suaminya.
"Maafkan aku, Ai. Aku tidak bermaksud membohongi mu. Ahh... Raihan !. Sialan !. Kau membuatku frustasi !! ." Akhtar mengusap wajahnya gusar. Iya. Jika saja Raihan tidak mengatakan bahwa dirinya bukanlah suami gadis itu ia tidak akan bingung dan frustasi seperti ini.
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku akan tergoda ?. " Monolog nya lirih. Akhtar segera menggelengkan kepalanya agar pikiran buruk itu hilang dari otaknya.
Akhtar melangkah turun dan mencari keberadaan pengasuh Ezar. Setelah bertemu Akhtar menyuruhnya untuk membuatkan susu baru dengan merek yang berbeda dari biasanya. Tania yang faham langsung mulai membuat susunya sedangkan Akhtar Sudak kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Mas." Panggil Aira saat Akhtar sudah kembali memasuki kamarnya.
"Iya, sayang?." Akhtar menyahut dan duduk di samping Aira yang sedang memangku Ezar. " Kamu menginginkan sesuatu, Hem?." Tanyanya.
"Mas. Aku tidak mau Ezar meminum susu formulanya lagi..."
"Hahh ?!. Maksud kamu apa, Ai?. " Akhtar menatap lekat wajah di hadapannya.
"Iya... Aku pengennya Ezar gak usah minum susu formula lagi. Aku mau Ezar meminum ASI-ku aja, mas." Aira berucap dengan wajah polosnya.
"Iya, tapi ASI kamu kan ga keluar, sayang ?,."
"Aku mau melakukan perawatan agar ASI ku keluar lagi, mas. Ya ?!. Aku mohon..."
"Tapi, sayang..."
"Mas..." Aira mengerjapkan matanya berkali-kali. Dan sungguh itu membuat Akhtar merasa gemas.
" Baiklah. Kita akan coba perawatan biar ASI kamu keluar. "
"Makasih, ya mas." Aira langsung menampilkan senyuman manisnya.
" Kalo gitu mas mau keluar dulu, ya."
"Mas mau kemana?."
" Mas, mau ketemu temen dulu sebentar di luar. Kamu gak papa kan di tinggal dulu ?. Mas janji gak akan lama."
"Iya gak papa. Mas hati hati ya di jalannya."
"Iya. Kamu tenang aja. Mas akan hati hati. Nanti kalo kamu mau apa apa langsung panggil pelayan saja. Dan, kalau kamu capek, Ezar di kasiin aja ke Tania."
"Iya, mas. "
"Mas pergi ya. See you.." Akhtar mendaratkan kecupannya di kening Aira dan beralih pada pipi chubby Ezar lalu melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1