Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Talak


__ADS_3

Akhtar membawa Ezar kembali masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh pengasuh-pengasuhnya.


" No, Daddy...!. Mommy... ikut..!" Ezar memberontak di dalam dekapan ayahnya. "Mommy...!. Ezal ikut mommy...! Daddy, lepas..!"


" Ezar. Ezar nurut ya sama Daddy. Iya. Nanti kita ketemu mommy lagi.." ucap Akhtar mencoba menenangkan Ezar.


" Jalankan mobilnya !." Perintah Akhtar pada sang supir.


" No, Daddy... Ezal mau mommy...!!"


Akhtar memeluk erat tubuh mungil putranya. Ia juga sama sedihnya. Bahkan air matanya juga tak kalah deras dengan air mata Ezar.


Maaf, sayang. Maafkan Daddy yang harus membiarkanmu kehilangan mommy mu lagi.


Meski berderai air mata, Azrinna tetap menampilkan senyumannya. Senyuman pahit akan perpisahan. Azrinna melambaikan tangannya untuk kepergian sang buah hati. Hingga dua mobil itu sudah lenyap di persimpangan jalan.


Azrinna membuang nafasnya perlahan dan mengusap wajahnya yang sempat di banjiri air mata. Lalu mendekati pos penjaga gerbang rumah orangtuanya.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikum salam... Neng Azri ?!. Ini bener neng Azrinna, kan ?!. " Pekik Penjaga gerbang tersebut.


Mang Asep memang sudah bekerja di rumah orangtuanya selama lima tahun hingga hari ini. Makanya saat bertemu Azrinna yang sudah menghilang selama dua tahun lamanya begitu antusias.


" Iya, mang. Ini Azri. " Jawab Azrinna dengan senyuman manisnya.


Azrinna memang selalu ramah pada siapapun, tanpa memandang, jika itu adalah pegawai rumahnya sendiri.


" Masya Allah... Neng Azri apa kabar ?. Kami mencari neng kemana-mana, neng."


" Alhamdulillah Azri baik-baik saja, mang. Lihat. Azri masih sama seperti dulu, kan ?. " Tanya Azri mulai berkelakar.


" Hehehe, iya lah. Mang Asep juga tau kalau neng Azri mah cantik dari dulunya. "


" Iya, makasih aja deh sama pujiannya, mang. "


" Hehe iya, neng. "


" Mang. Mama sama papa ada di rumah ?." Tanya Azrinna kemudian.


" Astaghfirullah !. Ya Allah, neng. Maaf. Mang Asep lupa kalau neng Azri baru Dateng lagi. Bentar ya. Mang Asep buka dulu gerbangnya. " Mang Asep langsung memencet tombol untuk membuka gerbangnya.


" Silahkan, neng. Selamat datang kembali ke rumah... Maaf ya neng, mang Asep terlalu senang bisa ngobrol lagi sama neng Azri. "


" Iya, nggak papa, mang. Ya udah kalo gitu Azri masuk dulu ya mang ?. Assalamualaikum..."


" Iya, neng. Waalaikum salam..."


Mata Azrinna memandangi nuansa rumah yang masih sama seperti sebelum ia pergi. Rumah bercat warna coklat krem itu masih berdiri kokoh dan memiliki tanaman di sisi-sisinya yang menjadikan suasana terlihat asri.


Kaki Azrinna terus melangkah sampai ke pintu. Saat tepat di depan pintu, tangannya mulai mengetuk pintunya. Setelah melakukan nya beberapa kali, terdengar suara yang menyahuti dari dalam.


Pintu perlahan terbuka lebar dan memunculkan seorang yang amat di rindukannya berdiri tepat di ambang pintunya. Mata Azrinna langsung berkaca-kaca melihat wajah teduh di hadapannya itu.


" Assalamualaikum...Mama...!" Ujar Azrinna lalu bersimpuh di kaki wanita yang telah melahirkan dia ke dunia.


" Mama... Maafin Azri yang sudah membuat mama khawatir. Maafin Azrinna yang sudah menghilang selama ini.."


" Azrinna..." Ucap mama nya yang malah terduduk dan langsung memeluk erat putri bungsunya lalu melepaskannya lagi. Mama Azrinna membingkai wajah Azrinna. " Azri, kamu kembali, nak ?. Anak mama sudah pulang ?!."


Azrinna mengangguk.


Mamanya kembali memeluk dengan sangat erat seolah tidak ingin kehilangan putrinya lagi.


" Azrinna. "

__ADS_1


Panggilan itu membuat Azrinna mendongak. "Papa. "


Pak Winata langsung bergabung memeluk tubuh putrinya yang sudah sekian lama menghilang. Ketiganya menumpahkan tangisan haru kebahagiaan karena akhirnya bisa kembali berkumpul bersama.


" Kamu dari mana saja, nak ?. Kami mencarimu kemana-mana. Kamu tega membuat orang tuamu hampir mati karena rasa khawatir." Ucap pak Winata di sela-sela tangisnya.


" Azri..."


Belum sampai Azrinna berucap papanya kembali mengatakan bahwa mereka akan mendengarkan cerita Azrinna di ruang beranda.


Setelah sampai dan duduk di sofa dengan tubuh diapit oleh kedua orangtuanya di kanan kirinya, Azrinna mulai bercerita.


" Azri kecelakaan dan mengalami koma selama beberapa hari. Dan setelah sadar Azri malah tidak ingat apa-apa, bahkan nama Azri pun, Azri nggak ingat. Selama ini Azri hidup bersama seorang. Dia juga yang pernah menolong Azri saat kecelakaan itu terjadi. Maafkan Azri karena baru bisa pulang sekarang. Karena ingatan Azri juga baru-baru ini kembali, Ma, Pa..." Azrinna bercerita dengan di sela-selai dengan air mata.


Ia memang bercerita. Tapi tidak sepenuhnya, karena kisah bagaimana kehidupannya yang selama ini bersama Akhtar pasti akan membuat orang tuanya marah. Jadi ia tidak akan menceritakan nya sekarang. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya.


Azrinna kembali merasakan kehangatan pelukan kedua orangtuanya.


" Kasihan sekali hidupmu selama ini, nak. Semoga Allah membalas kebaikan orang itu yang sudah menolong anak mama ini. "


" Iya, ma. "


___________


Azrinna keluar dari kamar karena mulai merasa bosan. Saat kakinya melangkah menapaki tangga, di ruang beranda terdengar sangat ramai. Karena merasa penasaran, akhirnya ia melangkah lebih cepat untuk segera sampai ke lantai bawah.


Kakinya terpaku di tempat saat melihat siapakah orang yang ngobrol bersama kedua orangtuanya di sana. Ingin hati kembali ke kamar, namun tidak bisa karena mamanya lebih dulu melihat keberadaannya dan memanggilnya agar ikut bergabung.


Dengan berat kaki melangkah, Azrinna tetap menuruti ucapan mamanya untuk ikut bergabung. Azrinna memilih duduk di samping mamanya.


" Itu duduknya di sana, samping Aqlan, nak ." Ucap mamanya membuat Azrinna kebingungan.


" Ma. Apaan sih ?. Azri nggak bisa duduk di sana. " Ucap Azri sedikit membisik.


Semakin membingungkan saja, menurut Azrinna.


Aqlan membalas senyuman mamanya lalu mengangguk.


" Ya udah. Ayo, pa. Kita pergi dari sini. Biar mereka bisa bicara berdua. "


" Iya, ayo ?!."  Kedua orangtuanya bangkit dari duduknya.


" Ma, pa. Kalian di sini aja. Azri nggak enak kalo berduaan doang. " Ujar Azrinna mencegah agar mereka tidak meninggalkannya berdua saja dengan Aqlan.


" Tidak apa-apa. Kalian memang membutuhkan waktu berdua. Ayo, ma ." Ucap papanya lalu menggandeng mamanya pergi.


Kini di ruang beranda terasa hening dan sepi. Azrinna yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunggu Aqlan mengatakannya.


" Azrinna. "


" Hem ?. "


" Sebenarnya pernikahan kita waktu itu tetap terjadi. " Aqlan berbicara dengan suara yang begitu lirih.


" Apa ?!." Mata Azrinna membelalak sempurna menata Aqlan.


" Iya, Azrinna. "


"Tapi... Waktu itu aku nggak ada, kan ?. "


" Kamu memang nggak ada. Tapi wali kamu ada. Kamu tetap sah sebagai istri saya. "


Setelah pemikiran yang panjang. Aqlan memang tidak jadi menceraikan Azrinna. Sebab dia masih memiliki secercah harapan akan kembalinya Azrinna. Dan hari inilah harapan itu terwujud. Doanya di sepanjang malam akhirnya telah dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa.


Azrinna mendengus tertahan. Apa lagi ini ya Allah... Kenapa semuanya jadi runyam seperti ini... Azrinna membatin.

__ADS_1


" Maaf. " Hanya satu kata itulah yang keluar dari bibir Azrinna. " Aku tidak bisa. Lebih baik kau ceraikan aku. Carilah yang lebih pantas menjadi istrimu. " Ucap Azrinna lagi lalu bangkit dari duduknya dan berlari ke arah tangga untuk kembali ke kamarnya.


" Azrinna. Tunggu !!." Aqlan berteriak tapi Azrinna tetap tidak menghiraukannya sama sekali.


Kaki Azrinna terus menaiki anak tangga semakin menjauh dari kejaran Aqlan. Setelah sampai di depan pintu kamarnya Azrinna langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya tapi sulit karena Aqlan menghalanginya.


" Azrinna..." Panggil Aqlan dengan suara yang selembut mungkin. " Ayo kita bicara.."


" Tidak. Aku tidak mau. Tolong ceraikan aku Aqlan. Aku tidak bisa menjadi istrimu...!." Azrinna sekuat tenaga terus mendorong pintunya agar tertutup tapi tetap sia-sia saja.


Kekuatan Aqlan malah lebih dominan. Aqlan mendorong kuat pintunya sehingga kini ia bisa masuk ke kamar Azrinna. Saat keduanya sampai di dalam, Aqlan langsung menutup pintunya dan menguncinya.


" Aqlan !. Apaan kamu ?!. Jangan sembarangan!. Ini kamarku !." Sewot Azrinna.


" Azrinna... Tolong mengertilah keadaannya. Bagaimanapun kamu adalah istri saya. Kita sudah menikah. Aku tidak bisa sembarangan menceraikanmu. "


" Tapi aku tidak bisa, Aqlan. Aku tidak bisa. " Azrinna terduduk di lantai dengan air mata yang meluncur deras di pipinya. " Kamu tidak akan mendapatkan apapun dariku... Ceraikan saja aku, Aqlan..." Lirihnya lagi.


Aqlan memegang kedua bahu Azrinna. " Apa terjadi sesuatu denganmu ?." Tanya Aqlan serius.


Azrinna tidak mengatakan iya ataupun tidak. Azrinna hanya bisa menunduk sambil menangis. Lalu merasakan Aqlan membawa tubuhnya ke dalam pelukannya.


" Apapun yang terjadi padamu. In Syaa Allah saya ikhlas menerimanya. " Ujar Aqlan sungguh-sungguh. " Apapun, Azrinna. Apapun. Saya akan tetap menerimamu. Tolong, jangan memintaku untuk melupakanmu..." Aqlan mengusap lembut rambut Azrinna yang tertutup hijab.


" Dua tahun bukan waktu yang singkat. Dua tahun itu telah merubah hidupku. Aku terlalu tidak pantas untukmu..."


Aqlan melepaskan pelukannya lalu tangannya menyentuh dagu Azrinna dan mendongakkan wajahnya.


" Apa yang membuatmu merasa tidak pantas untukku ?. " Tanya Aqlan dengan tatapan lekat pada wajah Azrinna.


" Kau tidak perlu tau alasannya. " Azrinna bangkit lalu berjalan menjauh dari Aqlan. "Pergilah. Aku tunggu surat pengadilan agamanya. " Ucapnya lagi.


" Azrinna. Kalau kamu tidak mengatakan alasannya, bagaimana saya menceraikanmu ?. Tidak. Saya tidak akan menceraikanmu. " Kekeh Aqlan pada pendiriannya.


Azrinna mendengus kan perlahan nafasnya. Dirinya tidak ingin membuat Aqlan kecewa nantinya jika dia tau bahwa istrinya ini sudah memiliki anak dengan pria lain.


Tapi ia juga berfikir. Mau kapanpun waktunya, semuanya akan tetap terbongkar. Jadi jika ia mengatakan semuanya sekarang, bukankah itu akan lebih baik.


" Kamu pasti akan merasa jijik jika tau alasannya." Ucap Azrinna tanpa berani menatap wajah Aqlan.


" Saya akan mendengarkannya."


Azrinna menarik nafasnya dalam-dalam dan memulai ucapannya. " Tepat tiga bulan lalu, aku baru saja melahirkan." Azrinna semakin menunduk.


" Astaghfirullah..." Aqlan meraup wajahnya sendiri. Lalu membuang mukanya dari wajah Azrinna.


" Selama dalam keadaan tidak ingat apa-apa, seseorang memperdayaku dengan mengatakan bahwa aku adalah istrinya ." Azrinna mulai terisak. " Kamu pasti paham apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri..." Lanjutnya.


Tubuh Azrinna semakin bergetar karena Isak tangisnya.


" Lepaskan aku... Carilah wanita yang lebih baik dariku... Aku mohon..."


" lalu bagaimana dengan kamu sendiri ?. Apa kamu akan baik-baik saja setelah aku melepaskan mu ?." Tanya Aqlan akhirnya.


Azrinna terdiam.  " Insya Allah, ada Allah yang selalu menemaniku. Pergilah. Semoga Allah memberikanmu jodoh yang terbaik. "


Dengan berat hati sebenarnya. Aqlan akhirnya bisa memutuskannya sekarang, setelah mendapat penjelasan Azrinna.


" Baiklah. Aku akan melepaskan kamu. Mulai hari ini kamu bukan lagi istriku, Azrinna Zaida Nazla." Putus Aqlan akhirnya. Setelah mengucapkan hal demikian, Aqlan melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar Azrinna.


Azrinna hanya mampu menatap kepergian Aqlan. Hatinya sedikit teriris aslinya dengan statusnya sekarang. Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup dalam bahtera rumah tangga yang baik di mata dunia maupun agama.


Airmata Azrinna kembali menetes membasahi pipinya. Baru beberapa tetes, Azrinna langsung menyeka matanya dan sekuat tenaga untuk tidak lagi menangisi nasibnya yang ternyata tidaklah berpihak kepadanya.


Azrinna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya perlahan terlelap dalam ketenangan di dalam dunia mimpi.

__ADS_1


__ADS_2