
Setelah mengucapkan terima kasih, Akhtar keluar dari ruangan dokter tersebut dan melangkah memasuki ruang rawat inap di mana terdapat gadis itu di sana.
Di dalam tampak ada dua perawat yang menemani gadis itu. Sedangkan gadis itu sendiri sedang duduk dengan punggung menyandar pada bantal di belakang tubuhnya. Juga dengan kaki berselonjor di atas pembaringan.
"Kamu sudah sadar ?." Tanya Akhtar seraya mendekati gadis tersebut membuat dua perawat itu sedikit memberi ruang agar dirinya bisa lebih dekat dengan sang gadis.
Entah mengapa tangannya terulur mengusap lembut punggung tangan gadis itu yang sedang tersambung dengan selang infus.
Gadis itu memperhatikan tangannya sendiri yang sedang disentuh oleh seorang pria di sampingnya dan beberapa saat setelah nya dia mendongakkan kepala sehingga kini kedua pasang mata itu terpaku saling menatap namun tidak lama karena Akhtar memutuskan pandangan nya dari mata sang gadis. Gadis itu juga melakukan hal yang sama seperti Akhtar.
"Kamu... Siapa?" Tanya gadis itu dengan suara yang begitu lirih. Dan pertanyaan itu telah membuat Akhtar harus berpikir keras untuk sekedar menjawabnya.
"Aku..." Akhtar benar benar bingung harus menjawab apa?!.
"Suamimu." Suara itu terasa menggema di sudut sudut ruangan. Termasuk di telinga Akhtar.
Akhtar menoleh ke arah suara tadi berasal. Di sana terdapat sepasang suami istri yang sedang melangkah mendekat ke arah nya. "Raihan." Gumamnya setelah melihat jelas wajah pria yang baru datang tersebut.
"Suami?!." Pekik gadis yang masih terlihat sangat lemah di atas ranjang nya.
Tiga pasang mata sontak menoleh ke arah gadis yang masih memasang wajah terkejutnya dengan mata menatap lekat wajah Akhtar.
Sekali lagi Akhtar menoleh ke arah Raihan dan istrinya yang ternyata di balas tatapan tajam juga anggukan kepala dari Raihan. Akhtar akhirnya menghembuskan nafas perlahan dan kembali menatap gadis yang ada di hadapannya.
"Iya. Aku suamimu, Akhtar. Apa kamu tidak mengingatku?."
Oh Tuhan. Yah jelas dia tidak mengingatku !. Bahkan mengenal aku pun, tidak.
Salahkah aku harus membohongi gadis itu...?. Sudah pasti salah besar, bukan?.
Racauan tersebut memenuhi batin Akhtar.
Gadis itu menggeleng lemah. "Aku tidak mengenalmu sama sekali. Apa yang terjadi dengan ku?. Kenapa aku jadi seperti ini?..." Gadis itu berujar lirih dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Akhtar membawa gadisnya dalam pelukan. Yah. Mulai saat ini juga gadis di pelukannya ini akan menjadi gadisnya bahkan istrinya. "Tidak papa. Kamu baik baik saja kok. Kamu hanya mengalami cedera setelah kecelakaan waktu itu." Ucap Akhtar sembari mengusap lembut punggung gadisnya.
"Bahkan aku juga melupakan namaku." Gadisnya mendongak menatap Akhtar yang dia kira adalah suaminya. "Siapa namaku?." Tanyanya masih menatap lekat mata Akhtar.
Akhtar benar benar bingung dengan situasi seperti ini. Matanya terpejam sesaat kemudian kembali menatap wajah gadisnya " Aira. Namamu Aira."
"Aira."
Akhtar mengangguk seraya menampilkan senyumannya. Gadis yang ia beri nama Aira itu kembali menyusupkan wajahnya di dada bidang Akhtar. Untuk beberapa menit keduanya berpelukan dan kembali melepaskan setelah tangis Aira terhenti.
" Sudah ya nangisnya.." ucap Akhtar sembari jemarinya menyeka lembut airmata yang membasahi pipi Aira.
Aira mengangguk dan menampilkan senyumannya yang ternyata sangat cantik menurut Akhtar.
__ADS_1
Sepasang suami istri asli yang ada di dekat mereka hanya mampu menjadi penonton atas drama yang sedang terjadi di hadapannya.
"Hai Aira. Senang melihatmu sadar. " Ucap Melicha, istri Raihan.
Aira tampak tersenyum dan mengangguk kaku karena merasa tidak mengenali wanita yang berdiri di dekat ranjang nya itu. " Hai juga~" Aira tampak kebingungan dengan apa yang akan diucapkan selanjutnya.
"Melicha. " Ujar istri Raihan menyebutkan namanya sendiri.
"Oh. Iya Melicha." Aira kembali menerbitkan senyumnya.
"Kalau begitu kami langsung pulang ya. Maaf tidak bisa lama lama di sini. Kamu juga butuh istirahat, kan?." Ucap Melicha dan memeluk Aira sebentar. " Cepat sehat ya. Ezar membutuhkanmu."
Aira mengangguk dan menatap kepergian dua orang itu yang perlahan lenyap di balik pintu keluar. Matanya kembali menatap pria yang ia tahu adalah suaminya yang ternyata sedang sibuk memainkan handphone nya.
" Mas. " Panggil Aira membuat Akhtar langsung menoleh ke arahnya. "Mas. Siapa namamu?. Maaf aku melupakan namamu." Ujar Aira.
Kamu bukan melupakan namaku Aira. Tapi kamu memang tidak mengenalku.
"Namaku Akhtar, Ai. " Jawab Akhtar sembari tangannya mengusap pelan rambut panjang Akhtar yang tergerai bebas. "Kamu kamu sesuatu, Ai?." Tanyanya kemudian. Yang dijawab gelengan kepala oleh Aira.
"Mas. "
"Hem?."
"Kalo Ezar, siapa, mas ?."
"Ezar... Dia putra kita. Seorang bayi yang umurnya masih belum sampai satu bulan." Kebohongan demi kebohongan terus tercipta dari sepasang bibir Akhtar. Yahh. Dirinya sadar akan hal itu. Tapi apa boleh buat?. Ini semua sudah terjadi, bukan?.
"Iya. Nanti kita temui Ezar setelah kamu keluar dari sini. Karena Ezar masih sangat kecil untuk masuk ke rumah sakit."
Aira terlihat menghembuskan nafas kecewa. "Baiklah, mas. Aku akan menemuinya setelah keluar dari tempat ini."
"Iya." Akhtar kembali mengusap lembut rambut Aira. Entah mengapa rasa nyaman itu menyapa tatkala dirinya melakukan hal demikian pada Aira.
___________
Waktu terus berjalan dengan pasti hingga hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Setelah dua minggu dirawat sehabis sadar dari tidur panjangnya, Aira akhirnya diperbolehkan pulang.
Selama di rumah sakit ia benar benar diperlakukan dengan limpahan perhatian dari Akhtar, suaminya itu. Akhtar tidak pernah sedikitpun menjauh darinya selama dia terjaga. Seperti halnya saat ini. Akhtar seakan tidak ingin melepaskan genggaman tangannya di tangan Aira. Yah. Aira menganggap semua itu memang adalah hal yang sewajarnya bagi siapapun suami terhadap istrinya sendiri yang sedang sakit.
" Ayo, sayang." Ucap Akhtar setelah keduanya sudah berdiri tepat di depan pintu kembar yang sangat besar dan tampak elegan.
"Iya, mas." Jawab Aira sembari menyeimbangi jalannya sang suami hingga sampailah keduanya di ruang beranda. Di sana terlihat seorang wanita yang menggunakan pakaian seperti perawat sedang menggendong seorang bayi. Sudah jelas wanita itu pasti baby sitter Ezar dan bayi yang di gendongannya itu adalah Ezar. Fikir Aira. "Mas. Apa itu Ezar ?."
"Iya. Itu Ezar, sayang. Kita ke sana yaa?."
Keduanya menghampiri Tania yang sepertinya belum menyadari kedatangan tuan rumah namun segera tersadar setelah Akhtar memanggilnya.
__ADS_1
"Ma-maaf tuan. Saya benar-benar tidak mengetahui kedatangan anda. " Ujar Tania sambil menunduk dalam.
" Tidak apa-apa Tania. Kami memang lupa memberitahu pulang lebih cepat. "
"Iya, tuan. " Tania mulai mengangkat lagi wajahnya dan menatap wajah ayu Aira." Selamat datang, nyonya. Saya ikut senang nyonya sudah sehat." Ucapnya tulus pada sang istri majikan.
"Iya, terima kasih Tania. Hmm boleh saya menggendong Ezar?." Ujar Aira tanpa meredupkan senyumannya. Dan mengambil alih Ezar dari tangan Tania.
"Tentu saja, nyonya." Tania dengan senang hati memberikan sang tuan muda pada ibundanya.
Ezar sudah berada di dekapan kedua tangan Aira. Mata Ezar yang terjaga masih sangat bersih dan murni ditambah pipinya yang chubby membuat Aira tak henti-hentinya tersenyum juga mendaratkan kecupannya di wajah sang buah hati.
"Kita ke kamar, sayang."
"Iya, mas."
Akhtar berjalan di samping Aira hingga keduanya sampai di dalam kamar bahkan menuntun Aira untuk duduk di tepi ranjang.
"Mas. Ezar lucu sekali, ya?."
"Iya, sayang. "
" Wajahnya sangat mirip denganmu. Dan... Kenapa tidak ada mirip nya sama sekali dengan ku?. Padahal aku ibunya.."
Tanpa di sadari Aira bahwa saat ini hati Akhtar sedang meringis memikirkan ucapan Aira. Aira tidak tau jika Ezar bukanlah putranya dan mana mungkin bisa Ezar akan mirip dengannya?.
"Mungkin sekarang Ezar tidak ada mirip nya dengan kamu tapi bisa jadi kan Ezar mirip sama kamunya nanti saat dia sudah gede." Akhtar menjelaskan dengan mencari jalan tengah.
"Iya. Kamu benar juga mas."
"Ya udah. Kalo gitu kita istirahat ya. Kamu juga pasti lelah karena perjalanan tadi. "
"Iya mas. Aku sangat lelah malah."
"Sini. Biar mas barikan Ezar ke Tania dulu. Kamu istirahat duluan aja nanti mas nyusul." Akhtar meraih Ezar dari pangkuan Aira.
"Mas. Ezar disini aja ya. Aku mau tidur sambil memeluknya." Aira berucap sambil menatap mata Akhtar penuh permohonan.
"Tapi kamu harus istirahat sayang. Kalo Ezar ada di sini yang ada nanti kamu gak bisa istirahat."
"Please... Boleh ya mas?. Aku mohon..."
Akhtar menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah. Kita tidur bareng bertiga." Ucapnya kemudian. Yang langsung disambut senyuman lebar dari wajah Aira.
"Makasih ya mas..."
"Iya. Yaudah kita tidur ya."
__ADS_1
"Iya mas." Aira segera meletakkan Ezar di tengah tengah ranjang dan dirinya tidur di samping kiri sang putra. Sedangkan Akhtar berada di samping kanan Ezar.
Telapak tangan Aira mengusap pelan perut Ezar hingga membuat Ezar langsung terlelap tenang begitupun dengan dirinya dan juga Akhtar yang sudah memulai mengarungi samudera mimpi.