
Selama tiga bulan terakhir, Azrinna harus melakukan pulang pergi dari rumah ke rumah sakit untuk meninjau perkembangan Putri kecilnya. Melalui prosedur yang diberikan oleh dokter akhirnya putri kecilnya itu bisa pulang karena kondisinya sudah membaik dan memenuhi standar normal seperti bayi lainnya.
Berat badan sang bayi kini sudah mencapai tiga kilo lebih dan panjangnya juga sudah mencapai lima puluh satu meter. Jadi, hari ini putrinya itu sudah boleh di bawa pulang.
Azrinna menatap Akhtar yang sedang fokus menyetir di sampingnya. Sebenarnya ia akui jika Akhtar adalah orang yang baik. Sangat baik malah. Kejahatannya hanya pada karena dia memanfaatkan keadaan Azrinna yang waktu itu sedang amnesia.
Selama setelah ingatannya kembali, Azrinna memang masih tinggal bersama Akhtar tapi tidak lagi dalam ruangan kamar yang sama. Azrinna menempati salah satu kamar tamu yang ada di lantai tiga. Dirinya bahkan tidak pernah menaiki lantai empat lagi. Dan selama itu pula Azrinna mulai membiasakan Ezar agar tidak meminum ASI nya lagi dan menggantinya dengan susu formula. Tapi meski demikian, Ezar masih sering meminta untuk tidak bersama mommynya.
Azrinna menoleh ke belakang, melihat keadaan Ezar yang duduk di kursi belakang. Ezar tampak anteng dengan mainan hewan yang ada di tangannya. Tatapan Azrinna beralih lagi pada wajah Putri kecilnya yang terlelap tenang di pangkuannya.
Terlalu menikmati dunianya sendiri, Azrinna sampai tidak sadar kalau mobil sudah memasuki halaman rumah milik Akhtar. Azrinna yang sudah sadar segera keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Akhtar maupun Ezar yang masih di dalam mobil.
Azrinna memasuki lift dan menekan tombol 3. Setelah suara bel berbunyi dan pintu nya terbuka , Azrinna kembali melangkah dan memasuki kamar yang selama ini di huninya.
Azrinna berjalan ke arah tempat tidur dan meletakkan bayinya di sana lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pintu kamar kembali terbuka dan memunculkan Akhtar dan Ezar di sana. Mata Akhtar mengelilingi seluruh ruangan tapi tidak juga menemukan sosok pemilik nya. Hingga terdengar suara air dari dalam kamar mandi akhirnya membuatnya paham, jika Azrinna sedang ada di sana.
Akhtar menurunkan Ezar di samping adiknya. Ezar terlihat sangat senang melihat adiknya. Tangan mungilnya membelai lembut pipi adiknya. Akhtar tidak melarang sama sekali akan apa yang dilakukan oleh Ezar terhadap putri kecilnya selagi masih tidak membahayakan.
Terdengar suara pintu terbuka. Akhtar menoleh ke arah kamar mandi, yang ternyata sudah ada Azrinna yang berdiri di ambang pintunya. Saat kedua tatapan matanya bertemu, Azrinna segera memalingkan wajahnya dari wajah Akhtar.
Azrinna melangkah mendekati ranjang namun dari sisi berlawanan dari Akhtar.
" Maaf, Masuk tidak meminta izinmu dulu karena tadi Ezar merengek meminta bertemu dengan adiknya. " Ucap Akhtar sedikit merasa bersalah karena memasuki kamar Azrinna seenaknya saja.
Azrinna tidak menanggapi ucapan Akhtar. Ia malah menyibukkan diri bersama anak-anak.
" Baiklah. Aku akan keluar dulu. " Ucap Akhtar lagi lalu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar.
Azrinna membuang nafasnya berat. Ia melirik sekilas ke arah pintu yang sudah tertutup rapat dan melenyapkan Akhtar dibaliknya. Lalu fokus lagi pada anak-anaknya.
" Ezar udah maem belum ?.'' tanya Azrinna pada putranya. Yang di jawab gelengan oleh Ezar.
" Belum. "
" Ezar mau maem ?."
" Nggak mau. "
" Loh kok nggak mau ?." Azrinna membawa Ezar ke dalam pangkuannya. " Kenapa nggak mau makan, Hem ?. Kalo Ezar nggak mau makan, nanti Ezar sakit. " Azrinna membingkai wajah Ezar dan mendaratkan kecupannya pada kedua pipi Ezar. " Maem ya?. Disuapin mommy maem nya. " Ucap Azrinna lagi.
" No, mommy...!" Ezar menyusupkan wajahnya di tubuh mommynya. " Ezal doesn't eat..!. Mommy...!" Rengek Ezar masih dengan pendiriannya.
__ADS_1
" Ya udah. Iya, nggak maem. Terus Ezar maunya apa, sayang ?. Hem ?."
" Jalan-jalan. "
" Hem ?. Jalan-jalan ?."
Ezar mengangguk. " Jalan-jalan kemana?." Tanya Azrinna lagi.
" Mommy... jalan-jalan...!" Ezar semakin merengek.
Azrinna membuang nafasnya berat. Setelah disapih, Ezar memang sedikit manja, tidak mau makan dan apapun keinginannya harus dituruti. Contohnya seperti saat ini. Padahal mereka baru saja pulang menjemput putri kecilnya dari rumah sakit.
" Iya, Iya. Kita jalan-jalan. " Azrinna turun dari kasur dan melangkah ke depan pintu lalu memanggil pelayan yang memang siap siaga di depan pintunya.
" Iya, Nyonya. "
" Panggilkan tuan ke sini !."
" Baik, Nyonya. "
Pelayan itu menuruti perintah Azrinna untuk memanggil tuanya sedangkan Azrinna sendiri kembali bergabung bersama putra putrinya. Hanya beberapa menit menunggu, Akhtar sudah memasuki kamar lagi.
" Azri. Ada apa ?." Tanyanya sambil mendekat.
" I-iya. Ezar belum makan siang. " Jawab Akhtar gugup.
" Kenapa ?." Kini tatapan tajam Azrinna menghunus wajah Akhtar.
Akhtar terlihat menghembuskan nafasnya berat. " Ezar memang tidak mau makan kalau bukan mommynya yang menyuapinya. "
" Tapi Ezar harus dibiasakan tanpa aku. " Ujar Azrinna sedikit tertahan.
" Azri, pikirkan lagi. Kalau kamu pergi, bagaimana dengan anak-anak ?. Mereka tidak bisa tanpamu..." Ucap Akhtar memohon.
Iya. Pagi tadi, sebelum mereka berangkat ke rumah sakit untuk menjemput putri kecilnya Azrinna mengatakan akan pulang ke Indonesia secepatnya. Tentu saja hal itu sangat membuat Akhtar merasa sedih karena memikirkan kehidupan anak-anaknya nanti.
" Berapa lama lagi ?. Berapa lama lagi kau akan membohongiku ?!. " Azrinna kembali meluapkan amarahnya. Lalu membuang mukanya lagi. " Ezar minta jalan-jalan. " ucapnya kemudian.
Akhtar hanya bisa mengangguk pasrah. "Baiklah. Kita ajak Ezar jalan-jalan. Sekalian makan." Putus Akhtar akhirnya.
Azrinna mengangguk lalu menggendong tubuh kecil bayinya sedangkan Akhtar sendiri menggendong Ezar. Keduanya keluar dari kamar lalu memasuki mobilnya.
Tempat yang dituju memang tidak jauh-jauh dari yang diinginkan Ezar. Yaitu taman bermain khusus anak-anak seusia Ezar.
__ADS_1
Sembari bermain Azrinna begitu telaten menyuapkan makanan ke mulut Ezar. Dan kerap kali harus merasa sabar jika Ezar sudah mulai berlarian.
Akhtar juga yang hadir hanya bisa duduk tenang sambil memperhatikan putranya bermain sambil makan karena di tangannya sedang ada putri kecilnya yang terlelap tenang.
Waktu semakin siang dan Ezar pun mulai kelelahan akibat bermain sesukanya. Mereka memutuskan untuk pulang.
Saat sampai di rumah, Ezar meminta istirahat di kamar mommynya bersama sang adik. Dan lagi-lagi Akhtar hanya bisa pasrah menuruti kemauan putranya. Setelah meletakkan Ezar di ranjang Azrinna, Akhtar langsung memilih pergi. Namun saat belum sampai ke pintu Azrinna lebih dulu memanggil namanya. Akhtar menoleh dan menatap wajah Azrinna yang juga sedang menatap ke arahnya.
" Besok. Aku ingin kembali ke Indonesia. " Ucap Azrinna tanpa ragu.
Akhtar melangkah menghampiri Azrinna dan duduk bersimpuh di hadapan Azrinna yang sedang duduk di tepi ranjang. " Azrinna... Kamu yakin Ingin meninggalkan Ezar dan Alchira ?. Mereka membutuhkan mu. " Ucap Akhtar sendu.
" Aku tau. Tapi aku tetap harus melakukannya. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku juga punya keluarga. Aku punya kehidupan sendiri..." Ujar Azrinna dengan suara yang mulai bergetar karena mulai terisak.
Akhtar menggenggam erat tangan Azrinna. Untuk kali ini, Azrinna ternyata mengizinkannya.
" Alchira dilahirkan dalam keadaan memprihatinkan. Kamu sudah berjuang untuk bisa membuatnya sempurna seperti sekarang. Lalu, apa kamu tega membiarkan putri kecil kita tumbuh tanpa mommynya, Ai ?." Ujar Akhtar semakin memohon dengan matanya yang juga sudah memerah dan berkaca-kaca. Bahkan ia kembali memanggil Azrinna dengan sebutan Ai, yang berarti Aira.
Azrinna semakin menangis sesenggukan. Tentu saja dirinya tidak akan tega. Alchira putri kecilnya yang ia kandung selama enam bulan lebih. Dia sangat, sangat tidak tega meninggalkan Alchira. Tapi ia juga harus memberi keputusan.
" Kalau begitu, aku akan membawa Alchira bersamaku. "
" Lalu kamu membiarkan dia menjadi gunjingan semua orang karena dilahirkan tidak memiliki seorang ayah ?." Tanya Akhtar semakin menyudutkan.
Azrinna menggeleng dengan isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Akhtar bangkit dan merengkuh tubuh bergetar Azrinna. Memeluknya erat sekali. Dan lagi lagi Azrinna tidak memberontak bahkan kini membalas pelukan Akhtar.
" Terus aku harus bagaimana ?... Keluargaku pasti menungguku pulang... "
" Iya, kamu akan pulang. Besok kita akan kembali ke Indonesia. " Ujar Akhtar akhirnya.
Azrinna mendongak menatap wajah Akhtar yang juga berderai air mata. " Kita ?." Tanya Azrinna bingung.
" Iya. Aku dan anak-anak akan ikut ke Indonesia. Meski kemungkinan kalian tidak akan bisa hidup seperti biasanya. " Akhtar memaksakan untuk tersenyum.
Berat. Itulah yang dirasakan Akhtar saat ini. Ia harus memberikan keputusan yang sangat sulit sebab ia akan berpisah dengan Aira-nya. Sekian lama mereka hidup bersama. Dan itu membuat Akhtar sangat menaruh hati untuk mencintai sosok ibu dari putra-putrinya.
Di lubuk hati Azrinna yang terdalam sendiri tidak bisa memungkiri jika sebenarnya ia juga sudah mulai menaruh hati pada Daddy anak-anaknya. Bagaimanapun, sikap Akhtar selama ini, itu sangatlah membekas di hatinya.
Tapi kembali pada kenyataan. Bahwa mereka tidaklah mungkin bisa bersama. Itulah yang ada di pikiran Akhtar karena ia tahu jika Azrinna memiliki keluarga kecilnya sendiri.
Akhtar melepaskan pelukannya di tubuh Azrinna. " Maaf. " Ujarnya sambil menunduk merasa bersalah.
Azrinna tidak menanggapi sama sekali. Kemudian keheningan tercipta di antara keduanya. Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Kecamuk rasa tak menentu menyergap hati hati yang sedang gundah itu.
__ADS_1
Kecanggungan menyertai keduanya. Hingga keheningan itu dipecahkan oleh deheman Akhtar.