Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Perpisahan


__ADS_3

Bandar udara internasional Soekarno-Hatta...


Semilir angin malam menjelang pagi menyeruak masuk ke dalam tubuh. Hujan deras ternyata baru saja menghujam bumi Pertiwi. Pokok-pokok rindang di area bandara terlihat basah dan kabut awan juga masih kelabu menghias langitnya.


Keberuntungan ternyata menyapa mereka karena pada saat masih di dalam pesawat, kondisi seperti ini tidak menimbulkan kendala pada saat penerbangannya. Sehingga mereka masih bisa menginjakkan kaki di bumi dengan keadaan sehat tak kekurangan apapun.


Azrinna mendekap erat putri kecilnya dalam kain  yang lumayan tebal. Sedangkan Akhtar menggendong Ezar yang juga di pakaikan baju hangat agar tidak terkena hembus angin yang membahayakan ini. Sama seperti yang dipakai kedua orangtuanya. Mereka berjalan keluar dari area landasan dan diantar duduk di kursi tunggu oleh dua maskapai penerbangan yang membawakan barang-barangnya.


Hanya butuh waktu lima menit, anak buah Akhtar telah sampai. Mereka langsung mengambil alih barang-barang majikannya lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Akhtar dan Azrinna mengangguk ramah pada dua maskapai penerbangan yang dengan siaga tadi menemaninya kemudian masuk ke dalam mobil. Sesaat setelahnya, mobil itu melesat memecah perjalanan yang di selimuti kabut bekas hujan juga embun pagi.


" Kita ke rumah dulu. " Ucap Akhtar.


Azrinna mengangguk. "Iya." Jawabnya.


Dua jam perjalanan dari bandara ke rumah sudah terlewati. Kini akhirnya sampai juga di rumah Akhtar yang berada di daerah ibukota Indonesia.


Keduanya masuk ke dalam rumah dengan masing-masing menggendong sang buah hati. Hingga sampai di kamar yang dulu sering ditempati oleh Akhtar dan Azrinna.


Anak-anak di letakkan di atas tempat tidur dengan hati -hati.


" Kamu juga istirahat dulu di sini. Aku akan pergi ke kamar tamu. " Ujar Akhtar pada Azrinna.


" I-iya udah. " Ucap Azrinna yang sebenarnya sudah tidak enak karena lagi-lagi Akhtar selalu mengalah padanya.


" Tidurlah. Waktu subuh masih satu jam lagi. "


Azrinna mengangguk.


Sedangkan Akhtar sendiri sudah mulai melenggang keluar dari kamar. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Azrinna langsung bergabung dengan anak-anak dan tak lama alam bawah sadarnya mulai menyapa.


Akhtar yang keluar dari kamarnya sendiri langsung memasuki salah satu kamar tamu. Masih dengan pakaian yang melekat di tubuhnya, ia membanting diri di atas tempat tidur dan tidak lama matanya mulai perlahan terlelap dengan tenang.


Waktu terus berjalan dengan tanpa henti. Suara dengungan Kalam panggilan untuk beribadah sudah bergema di seluruh penjuru kota.


Azrinna mulai mengerjapkan kedua matanya yang perlahan terbuka. Ia segera bangkit dari ranjang lalu melangkah memasuki kamar mandi. Hanya beberapa menit saja ia sudah kembali keluar dengan keadaan sudah segar dan terlihat fresh. Azrinna mengambil perlengkapan sholat yang masih rapi di dalam koper lalu membentangkannya menghadap kiblat. Sangat menenangkan.

__ADS_1


Hatinya selalu menghangat dan mendesis hebat setiap kali menghadap Sang Pencipta. Ia teringat akan dosa yang telah di perbuatanya selama ini. Dosa besar yang kini menghadirkan Alchira. Meski ia tahu jika memang dosa itu tanpa kesadarannya dan Allah memaklumi setiap perkara yang lupa ataupun tidak dikerjakan dengan sengaja bahkan dalam tahap tanpa kesadaran.


Azrinna terisak dalam sujud terakhir nya. Betapa ia sangat menyesalkan pernah hidup dalam lingkar kehampaan dibalik kebohongan. Tubuhnya bergetar, memohon ampun pada Sang Ghofur agar di maafkan segala lena, baik disengaja maupun tidak.  Salam terakhir menutup simpuhnya. Azrinna bangkit lalu membereskan lagi perlengkapan sholatnya dan menyimpannya di lemari. Iya. Ini adalah kali terakhir ia memakai barang pemberian Akhtar. Karena ia akan menyudahi segalanya. Ia akan kembali ke kehidupan seperti sebelumnya. Dan ia akan berusaha ikhlas harus hidup tanpa melihat putra putrinya dalam kesehariannya.


Azrinna kembali memasuki kamar mandi untuk membersihkan wajah nya yang sedikit kucel karena menangis dan mematut penampilan nya di depan cermin.


Pakaian tertutup sudah kembali membungkus tubuhnya. Tidak ada lagi rambut panjang indah yang tergerai bebas. Tidak ada lagi dress pendek yang memperlihatkan auratnya. Pakaian yang ia kenakan saat ini adalah barang satu-satunya dari Akhtar yang akan dibawa saat kembali ke rumah orangtuanya. Setelah rapi dengan pakaiannya Azrinna menghampiri sang buah hati yang ada di atas tempat tidur.


Saat sampai, ternyata mata putrinya sudah terjaga.


Alchira Nazla Ilario. Putri cantik yang dilahirkan dengan keadaan prematur, kini menjadi bayi yang menggemaskan. Sesuai dengan namanya, Alchira yang artinya pipi kemerahan. Wajah polos Alchira memang putih bersih dan memiliki pipi yang merah merona. Apalagi saat menangis, pipinya itu selalu menampilkan keindahan tersendiri.


Azrinna membawa Alchira ke atas pangkuannya. Tangannya mengusap lembut pipi pink Alchira. Bulir kristal bening meluncur ke wajah putrinya. Azrinna mendaratkan kecupannya berkali-kali pada wajah Alchira seiring isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


" Maafin mommy sayang. Maafin mommy... mommy janji akan selalu menemuimu. Mommy sayang sama Alchira..." Ucap Azrinna dengan suara bergetar.


Sepasang mata seseorang yang berdiri di ambang pintu juga ikut meneteskan air matanya. Akhtar juga merasakan kesedihan yang dialami Azrinna. Bagaimanapun, Azrinna pasti sangat tidak tega meninggalkan Alchira tapi keadaan telah mendesaknya. Azrinna harus pergi meninggalkan putri kecilnya yang malang. Akhtar kembali menutup pintunya rapat.


Dengan telaten, Azrinna mulai membersihkan tubuh bayinya dan memakaikannya pakaian baru yang ia ambil dari koper. Setelah sang putri sudah rapi dan wangi, ia langsung memberinya ASI hingga putrinya kembali tidur tenang. Lalu beralih membangun Ezar yang masih terlelap. Karena memang sudah dibiasakan, Ezar segera menurut tanpa banyak rewel saat Azrinna mulai memandikannya di kamar mandi berlanjut memakaikannya pakaian.


Setelah dua buah hatinya sudah rapi dan wangi. Azrinna membawa keluar Ezar yang ada di gendongannya. Sedangkan Alchira sendiri dibiarkan tidur di atas kasurnya. Tentu saja masih ada pengasuh yang akan menjaganya.


" Jam berapa berangkatnya? " Tanya Akhtar sambil lamat-lamat menatap wajah Azrinna.


" Sekarang."


" Baiklah. Aku akan mengantarmu bersama anak-anak."


" Hemm..." Azrinna tampak kebingungan.


" Biarkan anak-anak bersama mommynya sebelum mereka berjauhan denganmu. " Ujar Akhtar seperti pada permohonan.


Akhirnya Azrinna hanya mengangguk mengiyakan.


" Sering-seringlah kesini untuk menemui mereka. Jangan sampai membuat mereka tidak mengetahui siapakah ibunya. "


" Iya. Akan aku usahakan."

__ADS_1


" Baiklah. Apa kita akan melakukan perjalanan sekarang?."


" Iya. "


Azrinna bangkit lagi dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar dengan tangan menggandeng tangan mungil Ezar yang sepertinya paham akan ditinggalkan mommynya karena dari bangun tidur Ezar tidak mau sedikit pun jauh dari Azrinna.


Saat sampai di dalam kamar, Azrinna memompa ASI nya untuk sang putri kecilnya lalu memberikannya pada pengasuh khusus Alchira agar menyimpan nya di lemari pendingin supaya tidak basi.


Tidak ada bawaan sama sekali. Azrinna menggendong tubuh Alchira dan membawanya keluar kamar bersama Ezar yang juga di gendong oleh Tania.


Dua mobil pribadi milik Akhtar keluar dari pekarangan rumah. Satu mobil berwarna hitam pekat di isi oleh supir pribadi Akhtar dengan membawa Akhtar beserta keluarga kecilnya yang duduk di kursi belakang dan satu lagi mobil  berwarna silver yang berisi supir pribadi Azrinna yang membawa dua pengasuh Ezar dan Alchira.


Sebuah rumah dengan gerbang besar berwarna hitam sudah terlihat. Di rumah itulah Azrinna dilahirkan juga dibesarkan oleh kedua orangtuanya. Semakin mobil melaju. Semakin dekat pula jarak perpisahan akan terjadi.


Akhtar melirik Azrinna yang semakin memeluk putri kecilnya. Bahkan ia juga melihat dengan jelas jika mata Azrinna kembali berkaca-kaca. Akhtar membuang nafasnya berat. Semua sudah di depan mata. Hanya menghitung menit, semuanya akan berjalan dengan keadaan berbeda.


Mobil berhenti di depan gerbang yang menutupi rumah orang tua Azrinna.


" Azrinna. "


Azrinna yang ingin turun dari mobil mengurungkan niatnya lalu menoleh pada Akhtar.


" Jika aku menjadi lebih baik, apakah kamu mau menerimaku ?. "


Azrinna hanya terdiam menunduk. Ia bingung harus memberi jawaban apa untuk pertanyaan Akhtar. Karena sungguh. Hatinya masih ada amarah untuk Akhtar yang sudah jahat dengan tega membohonginya.


" Anak-anak tidak akan memiliki sosok ibu yang seperti dirimu jika aku tetap mencari yang lain. Mereka sangatlah membutuhkan kamu. Aku mohon, pertimbangkanlah ucapanku lagi..." Ujar Akhtar dengan suara lirih. Akhtar membuang mukanya dari wajah Azrinna. Ia terlalu lemah untuk menghadapi perpisahan ini.


Seseorang mengetuk jendela mobil. Azrinna langsung bergegas turun dari mobil di ikuti oleh Akhtar yang menggendong tubuh Ezar. Keduanya berdiri di dekat mobil. Pengasuh Alchira menghampiri dan mengambil Alchira dari pelukan mommynya. Dengan berat hati Azrinna melepaskan tangannya dari tubuh mungil bayinya. Airmata Azrinna menetes ketika ia mencium wajah putrinya untuk yang terakhir kali di hari ini, lalu beralih mencium kening Ezar lama.


" Titip anak-anakku. " Ujar Azrinna pada Akhtar. Yang dibalas anggukan kepala.


" Mommy...!." Ezar mengangkat kedua tangannya meminta untuk di gendong oleh Azrinna. Azrinna tidak menghiraukannya. Ia hanya mengusap kepala Ezar lembut.


" Ezar sama Daddy yaa?. Mommy mau pergi dulu, nanti kita bertemu lagi. " Azrinna sudah tidak bisa membendung arus air matanya.


" Ikut...!. Mommy...!." Ezar mulai menangis. seolah tahu jika memang iya akan dipisahkan dengan ibunya.

__ADS_1


" Pergilah, mas !. "


Akhtar mengangguk.


__ADS_2