
"Selamat malam. Maaf, apa benar ini rumah kediaman tuan Ilario?."
"Malam, nona. Benar. Ini rumah tuan Ilario. Apa ada perlu dengan beliau, nona ?."
"Iya. Saya ingin bertemu dengannya. Apa dia ada di rumah?."
" Ada, nona. Maaf, anda siapa ya ?. Dan ada perlu apa?."
Gadis itu masih menampilkan senyuman manis dan ramah nya. " Saya adiknya, pak. Saya baru datang dari Uzbek. "
" Oh. Maaf, nona. Saya tidak tahu soalnya. Kalau begitu, silahkan masuk saja. Tuan ada di dalam. "
" Iya. Tidak apa-apa, pak. Baiklah. Saya masuk ya pak ?."
" Iya, silahkan, nona."
Gadis berparas cantik dengan rambut kekuningan sepanjang pinggang itu masuk ke dalam rumah. Matanya meneliti setiap interior yang menghias rumah tersebut.
"Permisi..." Sapanya pada seorang wanita yang ia kira pegawai di rumah kakaknya ini.
"Iya, nona ?." Tanya wanita itu seraya memperhatikan penampilan gadis di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Tuan Ilario nya ada ?."
" Tuan ada di kamarnya, nona. Maaf Anda siapa ya ?." Tanya wanita itu masih memperhatikan wajah gadis cantik di depannya.
Gadis itu tersenyum." Saya Anira. Adik tuan Ilario. " Jawab gadis itu masih menyunggingkan senyumnya.
" Hahh. Adik ?. Ya ampun. Maaf nona. Silahkan, duduk dulu non.." tawar wanita itu yang tidak lain adalah Tania, pengaruh Ezar.
" Oh. Tidak. Terimakasih. Saya ingin bertemu dengan kakak saya saja. Dimana kamarnya, kalau boleh saya tahu ?."
Tania terdiam tidak langsung menjawab. Dirinya tahu jika sekarang majikannya itu sedang tidak baik-baik saja karena pertengkaran yang terjadi dengan istrinya. Bahkan setelah nyonya nya pergi pun, tuanya belum juga mau keluar dari kamar hingga malam ini.
"Eee. Kamar tuan ada di lantai dua, non. Mari saya antar. "
" Oh. Iya. Mari."
Tania membimbing gadis bernama Anira itu ke lantai atas, tepatnya di depan pintu kamar majikannya.
"Ini kamarnya ?." Tanya Anira memastikan.
Tania mengangguk " iya, non. Ini kamar tuan. "
" Baiklah. Terima kasih, ya. "
" Sama-sama, non." Ujar Tania lalu melengang meninggalkan Anira.
Dengan hati-hati, Anira membuka pintu kamar Akhtar. Objek pertama yang ia lihat di depan matanya adalah seorang yang berdiri tegak memunggungi nya.
Anira berjalan perlahan mendekati tubuh itu.
" Allahu Akbar."
__ADS_1
Deg.
Tubuh yang ia yakin itu adalah kakaknya berjongkok setelah mengucapkan dua kata tadi. Tubuh itu kembali berdiri tegak lalu bergerak lagi bersimpuh dengan menyentuhkan wajahnya di atas kain persegi panjang yang di gelar di atas lantai.
Apa yang dilakukan nya ?. Bukankah itu adalah gerakan ibadah?. Apa dia...?. Oh tidak !!. Dalam diamnya, Anira terus meracau di dalam hatinya.
"Assalamualaikum warahmatullah. " Wajah itu menoleh ke arah kanan. Lalu menoleh ke arah kiri dan mengucapkan hal yang sama.
Anira masih berdiri terpaku di ambang pintu dengan mata terus memperhatikan pria itu yang terlihat masih sangat fokus dengan kegiatannya.
" Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah...
Ya Allah... Hamba sakit, ya Allah... Hamba sakit menyaksikan air matanya. Hamba terlalu egois padanya. Apa yang seharusnya hamba lakukan, ya Allah... Beri hamba petunjuk Mu, wahai Tuhanku...
Jika seandainya hamba memang tidak bisa bersanding dengannya, hamba mohon berilah hamba jodoh yang lebih baik lagi darinya...
Aamiin... Ya Rabbana..."
Apa yang dia lakukan ?. Apa dia sedang beribadah ?. Sepertinya dia sedang patah hati. Apa dia sedang menyukai perempuan lain lagi setelah kematian istrinya itu ?.
" Anira ?!."
Anira langsung sadar ketika namanya dipanggil. "Kakak.." ujar Anira sedikit terkejut.
_____________
Dua bulan yang ia katakan pada Azrinna sedang ada urusan pekerjaan di luar negeri sebenarnya adalah bualan semata. Akhtar tidak pernah melakukan itu semua. Dirinya memang memiliki beberapa perusahaan di luar negeri, tapi semenjak dirinya kembali ke Indonesia bersama Azrinna waktu itu dirinya sudah tidak lagi ke luar negeri. Apalagi ke Uzbekistan.
Dan entah mengapa kakinya dengan tanpa sadar menghampiri pria tua itu. Bahkan juga sampai menawarkan membantu pria itu menyapu.
Setelah selesai membersihkan seluruh sudut bangunan itu. Saat dirinya duduk berdua di teras bangunan bernama masjid itu, ia seakan mendapatkan siraman rohani ketika pria tua itu menceritakan beberapa hal tentang agama bernama Islam.
Singkat cerita. Setelah hampir setiap hari ia pergi ke masjid tersebut dan sering mendapatkan banyak pengetahuan tentang agama Islam, ia putuskan untuk melakukan proses sakral agar bisa masuk sebagai umat agama tersebut yang disebut pengucapan dua kalimat syahadat, dibimbing oleh seorang pemilik ilmu agama yang mumpuni, akhirnya ia menjadi seorang mualaf.
Hari-hari selanjutnya ia juga kerap kali mengunjungi bangunan yang memiliki beberapa ruangan kelas juga kamar, yang dinamakan pesantren. Hingga ia melakukan pembelajaran langsung bersama ustadz-ustadz dan Kyai di sana, membuat pengetahuannya semakin mendalam.
Dua bulan memang waktu yang sebentar. Namun karena kemampuan otaknya yang bisa disebut sempurna, Akhtar bisa cepat paham atas materi yang ia dapatkan.
Berjalannya waktu keimanannya semakin bertambah dan semakin melekat di hati. Dan tiba-tiba semua itu seakan sirna saat ia dihadapkan dengan sosok Azrinna. Gadis cantik yang sudah memenuhi seluruh ruang hatinya. Bahkan tanpa sadar ia sudah membuat Azrinna semakin membenci dirinya karena sempat ingin melecehkan gadis yang taat agama itu dengan berani ingin menciumnya.
Akhtar benar-benar merutuki perbuatan tersebut. Ia juga langsung memohon pengampunan terhadap dosanya pada Sang Pemilik Semesta.
Dari siang Akhtar hanya mengurung diri di kamar tanpa mau beranjak keluar sama sekali. Bukan hanya meratapi kesedihannya. Akhtar malah membuat kegiatan sendiri di kamar tanpa ada yang tahu apa yang ia lakukan di kamarnya selain dirinya dan juga Tuhannya saja.
Dari mengambil wudhu untuk mempelajari beberapa buku panduan Islam sampai waktu sholat Dzuhur, berdzikir, berdoa, juga membaca iqro' untuk melancarkan bacaannya dan berlanjut pada Al-Qur'an nya. G
Begitu seterusnya hingga tanpa sadar jika di luar sana langit malam sudah gelap gulita.
Dan sosok yang sudah lama tidak pernah ia lihat itu tiba-tiba ada di hadapannya. Ia juga yakin jika sosok itu pasti menyaksikan kegiatan yang dilakukannya tadi.
" Kapan datang ?." Tanya Akhtar santai seolah tak terjadi apa-apa padahal saat ini hatinya sedang resah memikirkan reaksi yang ditunjukkan adiknya itu.
Bahkan bahasa yang sudah lama tidak digunakan itu reflek keluar dari bibirnya. Bahasa tanah kelahirannya.
__ADS_1
" Dari tadi. " Jawab adiknya yang juga menggunakan bahasa yang sama.
Anira mendekat dan langsung memeluk erat kakak laki-lakinya. "Apa yang kau lakukan, kak ?. Kau melakukan ibadah ?." Tanya Anira menatap lekat wajah Akhtar.
"Aku hanya menemukan cahaya. Hidupku selama ini terlalu suram, Anira."
"Ayah akan marah, Ilario. "
" Tidak masalah. Ini hidupku. Dia tidak berhak mengaturku. "
Mata bening beriris abu-abu itu menatap tajam mata kakaknya. "Dia ayahmu. Tentu saja berhak mengatur hidupmu. " Ujarnya sedikit keras.
Akhtar menghadapkan tubuh Anira dengan tubuhnya, memegang pundak kecil dan ramping itu dengan tatapan tajam yang menatap intens.
"Kakakmu ini sudah besar. Bahkan sudah memiliki keluarga sendiri. Tentu saja aku bukan tanggung jawabnya lagi. Dan satu hal yang kamu harus tau, Anira. Dia sangat-sangat tidak berhak mengaturku jika masalah urusan agama. Sudah cukup kita melangkah jauh tanpa memiliki pegangan sama sekali. Kini waktuku kembali. "
"Apa yang kau anut, Ilario?." Tanya Anira serius.
"Islam. "
"Kenapa kau memilih Islam ?. Kenapa bukan yang lainnya saja ?. Bukankah itu agama yang rumit ?."
" Keyakinan. Aku hanya yakin jika Islam adalah agama yang tepat. Bahkan aku sudah merasakannya sendiri saat ini." Akhtar melepaskan genggaman tangannya dari pundak Anira.
Akhtar berjalan ke arah jendela kemudian matanya menerobos keluar melihat gemerlap lampu yang terlihat mini di tengah malam.
"Apa yang kau lakukan disini ?. " Tanya Akhtar dengan tatapan mata masih menyaksikan keindahan malam dari jendela.
"Aku... Aku hanya ingin berkunjung ke rumah kakakku."
Akhtar langsung berbalik saat mendengar suara adiknya yang terlihat sangat kaku. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan adiknya itu.
Akhtar berdiri di hadapan Anira dengan tatapan menghunus. "Kau tidak bisa membohongiku, Anira. Katakan. Apa yang membuatmu datang ke Indonesia?."
Anira langsung menunduk penuh tak berani melihat wajah dingin kakaknya itu. Tapi Akhtar malah menyentuh dagu adiknya dan mendongakkan wajah ketakutan itu.
"Katakan." Ucap Akhtar lagi.
"Ayah memintaku untuk tinggal bersamamu. Dia.. menyuruhku untuk mengawasi mu dan memberitahukan semuanya padanya. "
"Lalu, kau menurutinya?"
"Tentu saja. Dia ayahku. Aku tidak mungkin membantah perintahnya."
Akhtar melepaskan dagu Anira dan langsung memalingkan wajahnya. "Baiklah. Terserah apa yang akan kau lakukan. Turuti saja perintahnya. Kau akan menempati kamar di lantai tiga. " Ucap Akhtar tanpa mau melihat ke arah wajah Anira lagi. Akhtar membanting tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung menenggelamkan wajahnya di balik bantal.
"Apa yang yang terjadi denganmu ?!. Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja, Ilario?." Tanya Anira saat sudah duduk di tepi ranjang Akhtar. Tangan lentiknya menarik bantal yang dibuat persembunyian Akhtar.
" Anira. Pergilah !. Aku sedang tidak ingin diganggu. " Geram Akhtar lalu menenggelamkan wajahnya lagi di balik bantal yang lainnya.
"Tidak mau !. " yah. Anira memang adik keras kepala nya yang manja.
Akhtar memunculkan wajahnya dengan tatapan tajam. "Jangan membuatku marah. Cepat pergi dari kamarku !."
__ADS_1