Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
eps. 41


__ADS_3

Daerah istimewa Yogyakarta...


Kota beragam julukan ini sudah menjadi tempat tinggal Azrinna selama satu tahun terakhir. Ibunya yang masih merupakan keturunan putri keraton jogjakarta memang menyuruhnya ikut tinggal bersama eyangnya untuk menemani eyangnya yang kini sudah masuk usia senja.


Putri kecilnya juga sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang aktif dan lincah pula cerdas. Mungkin karena menurun dari gen ayahnya.


Hidup di lingkungan keraton dengan berjuta keramahtamahan membuat Azrinna merasa sangat betah di rumah yang masih bernuansa klasik dan mencerminkan kepribadian leluhur nya.


Bangunan rumah besar tanpa tingkat ini hampir seluruh arsitek nya menggunakan kayu jati yang diukir cantik. Warna coklat dan merah bata memenuhi setiap ruangannya. Di padu dengan tanaman bunga yang berjejer rapi di sekeliling bangunan rumahnya, menambah kesan menenangkan.


Jika ke halaman belakang juga tersedia sebuah taman mini khusus yang dilengkapi dipan berukuran dua kali tiga meter untuk merehatkan diri sambil menikmati semilir angin berbaur wangi bunga di pagi dan sore hari.


" Nduk. Alchira kemana ?. "


Azrinna menoleh ke belakang saat mendengar suara eyangnya bertanya. Azrinna bangkit dari duduknya dan menghampiri eyang putri yang sedang berjalan mendekatinya.


" Eyang. Eyang ngapain kesini sore-sore ?."


" Eyang lagi cari anakmu. Kemana dia ?. Dari tadi eyang tidak melihatnya. " Tanya eyang putri.


" Sini, eyang duduk dulu sama Azri. " Azrinna menuntun eyangnya untuk duduk di dipan yang tadi didudukinya.


" Eyang. Alchira sekarang lagi ikut kak Zuhdi jalan-jalan. "


" Oalah. Kirain kemana ?. Eyang sampai nyariin. "


" Iya, eyang. " Azrinna tersenyum. Tangannya mengelus lembut tangan keriput yang ada di pangkuannya.


Azrinna menggeser posisi duduknya dan mulai merebahkan tubuhnya lalu menjadikan pangkuan eyangnya sebagai bantalan kepala.


Tangan eyang mengelus lembut kepala cucunya yang tertutup hijab.


" Eyang. "


" Ceritalah. Eyang siap mendengarkannya, cucuku. "


Azrinna memeluk erat pinggang eyangnya. Wajahnya ia telusupkan ke perut sang nenek.


" Kenapa ya eyang ?. Rasanya sekarang-sekarang hati Azri seperti hampa. Azri gak tau kenapa bisa begitu. "


" Azri kangen sama mama papa ?."


" Gak tau. "


" Lalu apa ?. Gimana rasanya, coba kasih contohnya. "


" Hmm. Sudah beberapa kali ini Azri memimpikan seorang pria, eyang. Azri kenal siapa pria itu. Apa itu ada kaitannya dengan perasaan Azri yang sekarang ya eyang ?."


Eyang putri tersenyum lembut. "Kamu sepertinya merindukan seseorang. "

__ADS_1


"Tapi Azri merasa tidak merindukan siapa-siapa, eyang. "


"Itu karena kamu tidak sadar saja, cucuku.." ucap eyang putri sambil menarik hidung Azrinna gemas.


" Eyang...!. Ihh. Sakit hidung Azri." Decak Azri memegangi hidungnya yang memerah.


Eyang putri terkekeh melihat cucunya cemberut kesal.


Suara adzan Maghrib menggema membaur dengan angin sore.


" Kita masuk ya, eyang ?."


" iya, nduk. "


Azrinna menuntun eyang putri untuk masuk ke dalam rumah. Sampai di depan pintu kamar eyang putri seorang pegawai khusus untuk melayani eyang putri segera menghampiri dan mengambil alih eyang putri masuk ke kamarnya.


Azrinna kembali melangkah memasuki kamarnya sendiri.


Mengerjakan sholat di awal waktu menjadi prinsip yang Azrinna terapkan sedari umurnya masih menginjak usia remaja. Dan untuk waktu Maghrib, dirinya juga terbiasa mengisi waktu awwabin nya dengan dzikir, membaca Al-Qur'an dan sholawat hingga menjelang waktu sholat isya. Adzan isya terdengar, Azrinna kembali mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan bibir berucap takbir.


Empat rakaat ditutup dengan dua salam di lanjut lagi dengan wirid dan do'anya. Azrinna kembali membereskan perlengkapan sholatnya dan menyimpannya lagi di atas meja.


" Astaghfirullah. Kak Zuhdi kemana sih ?. Udah sore masih belum pulang aja !." Azrinna bergumam kesal saat melihat jam dinding yang menempel di tembok dan menunjukkan pukul delapan malam, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan kakaknya itu yang dari siang membawa pergi Alchira, entah kemana?.


Azrinna menyambar handphone nya yang berada di atas tempat tidur lalu menghubungi nomor kakaknya. Hanya beberapa menit sambungan sudah terhubung.


" Waalaikum salam, Zri. Iya. Ini kita lagi perjalanan ke rumah eyang. " Bukan suara Zuhdi yang terdengar, melainkan suara seseorang wanita yang sangat Azrinna kenal.


" Mbak."


" Iya. Kamu tenang aja. Alchira baik-baik saja bersamaku. "


" Iya, mba. Azri cuma cemas aja tadi. Habis kalian sudah malam belum datang-datang juga."


" Iya. Aku matiin ya telepon nya. Assalamualaikum."


"Iya, mbak. Waalaikumsalam. "


Sambungan terputus. Akhirnya Azrinna bisa lepas dari perasaan cemasnya setelah mendengar ucapan Hizqi yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya itu.


Suara deru mesin mobil di luar, Azrinna langsung  berlari ke arah jendela dan membuka gordennya. Ternyata benar, itu mobil kakaknya.


Tidak lama setelahnya, pintu kamar Azrinna diketuk dari luar dan saat membukanya putri kecilnya yang baru bisa berjalan langsung memeluk kakinya.


Azrinna tersenyum lalu berjongkok. "Al udah pulang ?." Tanyanya pada sang putri dan dibalas anggukan kepala oleh Alchira.


Azrinna membawa tubuh mungil Alchira pada gendongannya.


"Zri. " Panggilan itu membuat Azrinna menoleh.

__ADS_1


"Iya, mbak ?.''


" Hmm boleh aku masuk?."


"Oh. Iya silahkan mbak."


Azrinna mempersilahkan Hizqi duduk di tepi ranjangnya. Matanya menatap serius wajah Hizqi yang terlihat sedang gelisah.


"Apa ada sesuatu mbak ?." Tanya Azrinna bingung.


"Daddy-nya Alchira ada di Jogja. "


"Apa ?!. M-ma-maksud mbak, Mas Akhtar ?." Azrinna bertanya dengan suara terbata-bata.


"Iya. Tadi kami ketemu di taman bermain anak-anak. Bahkan Alchira juga sempat dibawa bermain dengannya."


"Astaghfirullah... Kenapa dia bisa ada disini?..." Gumam Azrinna seraya meraup kasar wajahnya sendiri.


"Azrinna."


"Ya, mba ?."


"Apa kau tidak ingin tahu Akhtar bersama siapa tadi?." Tanya Hizqi hati-hati.


Azrinna menatap lekat wajah kakak iparnya. "Ezar pastinya, kan mba ?.''


"Tentu saja. Tapi ada satu lagi. Hmm sepertinya Ezar sudah memiliki mommynya lagi, Zri. Tadi, Akhtar tidak hanya berdua dengan Ezar. Mereka bertiga, wanita itu bahkan di panggil mommy oleh Ezar. " Jelas Hizqi penuh hati-hati.


Mendengar penuturan Hizqi sebenarnya membuat Azrinna sangat terkejut. Dan di hatinya tiba-tiba terasa berdenyut sakit.


Ternyata Akhtar tidak sudah memberikan pengganti ku untuk Ezar. Bathin Azrinna.


Azrinna menghembuskan nafasnya berat. Ia harus bisa merelakan. Bagaimanapun, mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun. Mereka terikat hanya karena anak-anak.


Azrinna bukan siapa-siapa Akhtar. Azrinna hanyalah ibu dari Alchira, putri kecilnya Akhtar. Yah. Hanya sebatas itulah mereka terikat.


"Semoga kau mendapatkan pria yang lebih baik yang tentunya tepat untuk menjadi daddy-nya Alchira." Ucap Hizqi sembari mengusap-usap punggung Azrinna.


Hizqi yang merupakan sahabat Azrinna dari masa sekolah memang sering menjadi tempat curhat Azrinna. Hizqi juga tahu jika selama ini Azrinna memiliki perasaan terhadap sosok ayah dari Alchira.


Yah. Kisah cinta mereka memang sungguh rumit.


Lalu ?.


Bukankah tadi wanita yang dipanggil mommy oleh Ezar adalah seorang muslimah?.


Bahkan pakaiannya sangat syar'i, melebihi cara berpakaian Azrinna.


Kata-kata itu tak diucapkan oleh Hizqi dan hanya berkalam di hatinya saja.

__ADS_1


__ADS_2