
Ruangan sterilisasi khusus bayi. Mata Akhtar berkaca-kaca saat melihat bagaimana keadaan putri kecilnya di sana. Di dalam kotak inkubator. Tubuh bayinya masih sangat kecil karena memang memiliki berat badan 1, 97 k. Dan panjang nya hanya mencapai 30, 9 centimeter saja.
Bulir kristal bening meluncur dari sudut matanya. " Maafkan Daddy. Daddy tidak bisa menjaga mommy kamu. Maaf, sehingga kamu harus mengalami kondisi seperti ini..." Ucapnya sendu dengan mata masih menatap putri kecilnya dari kejauhan.
" Permisi..." Seseorang menepuk pundaknya.
Akhtar segera menyeka air matanya dan menoleh ke belakang. " Iya, kenapa sus ?." Tanyanya.
" Maaf, tuan Akhtar. Saya ingin memberi tahu bahwa Nyonya Aira sudah sadar. " Ujar suster tersebut.
Betapa bahagianya Akhtar mendapatkan kabar gembira ini. Setelah lima hari Aira tertidur akhirnya ia mendengar bahwa mommy putra putrinya itu telah sadar kembali. Akhtar segera menemui Aira di kamarnya.
Dengan hati bahagia Akhtar memasuki kamar inap Aira. " Ai ." Panggilnya.
Aira yang tadi tidak menyadari kedatangannya kini menoleh ke arah Akhtar. " Ai. Kamu sudah sadar, sayang ?." Tanya Akhtar seraya semakin mendekati tubuh lemah itu. Tapi... kenapa tatapan mata Aira sangat tajam ditujukan ke arahnya ?. Bathin Akhtar.
" Stop !!. Jangan mendekat !."
Akhtar terkejut mendengar teriakkan Aira. Ada apa ini ?.
" Ai. Kamu kenapa ?. Kenapa aku tidak boleh mendekatimu ?." Tanya Akhtar karena kebingungan.
Aira langsung menangkupkan kedua telapak tangan pada wajah nya sendiri. Detik selanjutnya. Tubuh Aira bergetar seiring dengan Isak tangisnya yang memilukan.
" Aira..."
" Stop memanggilku Aira !. Namaku bukan Aira !. Aku Azrinna !. " Tatapan Aira menyalang tajam.
Deg.
Akhtar terpaku di tempat. Inilah akhirnya. Inilah akhir dari kebohongannya. Iya. Dirinya akan kehilangan sesuatu yang selama ini paling berharga untuk keluarga kecilnya.
Suara tangisan Aira masih memenuhi kamar inap ini. Sungguh, Akhtar tidak sanggup melihat Aira menangis seperti itu. Bukan. Bukan Aira. Tapi Azrinna.
" Maaf. " Satu kata yang hanya bisa diucapkan Akhtar atas semua kesalahannya pada Azrinna.
" Kau sudah merusakku... Kau memperdayaku... Kau memanfaatkan keadaan ku..." Azrinna semakin tergugu. " Kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya !!. Semuanya sudah hilang !. Dan kau adalah pria brengsek yang menghancurkan ku !!. "
Akhtar langsung berlari dan mendekap tubuh Azrinna ke dalam pelukannya.
" Lepas !. Lepaskan tangan menjijikkan itu dari tubuhku !!." Azrinna terus memberontak agar terlepas dari dekapan tangan Akhtar. Tangan Aira terus memukul dada Akhtar dengan sekuat tenaga. ( Jangan lupakan bahwa Azrinna adalah seorang pelatih ilmu beladiri ).
Akhtar tidak melepaskan pelukannya meski rasa sakit terus diberikan oleh pukulan tangan Azrinna.
__ADS_1
" Awwhh !!." Azrinna mencengkram perutnya yang tiba-tiba terasa sakit. Bahkan tubuhnya seketika lemas tak berdaya.
Akhtar yang panik langsung memencet tombol panggilan darurat di samping ranjang Azrinna. Tak lama seorang dokter juga dua perawat masuk dan segera memeriksa keadaan Azrinna.
Azrinna yang sudah tak berdaya hanya bisa berbaring pasif saat sedang dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Sedangkan Akhtar sendiri masih senantiasa berdiri tegak di samping pembaringan Azrinna.
" Apa yang terjadi ?. Kenapa bisa sampai seperti ini ?!." Ujar dokter itu panik karena melihat bekas operasi Azrinna yang mengalami kelecetan.
Akhtar juga bisa melihatnya jika bekas operasi Caesar di perut Azrinna tampak sedikit mengeluarkan darah, padahal sebelumnya luka itu sudah kering.
" Kami tadi sedikit ada masalah, dok. " Jawab Akhtar ragu.
Dokter itu hanya menggeleng tak percaya. Lalu mulai mengobati luka yang sedikit mengeluarkan darah itu. Setelah melakukan pemeriksaan selama sepuluh menit, dokter juga dua perawat itu kembali keluar dari ruangan Azrinna.
Sepeninggalan mereka bertiga, Azrinna memalingkan wajahnya dari wajah Akhtar. Ia sungguh benci dengan pria yang berdiri di samping tubuhnya itu.
" Azri. " Panggil Akhtar yang kini mengubah panggilannya. Azrinna hanya bergeming tak merespon sama sekali.
" Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu... " Ucap Akhtar sangat menyesal.
Airmata Azrinna kembali menganak sungai. Azrinna kembali terisak. Dan terus mengabaikan Akhtar.
Tok
Tok
Tok
" Maaf, tuan. " Ucap pengasuh putranya sambil menunduk penuh.
" Tidak apa-apa. Biar Ezar bersama kami. Kamu bisa langsung pulang saja. "
" Baik, tuan. "
Akhtar kembali menutup pintunya. Dengan membawa Ezar, kakinya melangkah menghampiri Azrinna lagi yang masih senantiasa belum merubah posisinya. Ia tahu sebenarnya Azrinna sadar jika Ezar ikut masuk ke dalam bersamanya.
Akhtar menurunkan Ezar di lantai dan membiarkan bocah itu mendekati tubuh mommynya dari arah berlawanan dengan sang ayah.
" Mommy...!." Panggil Ezar ketika telah sampai di hadapan sang ibunya.
Azrinna membuang nafasnya berat. Lalu tangannya terulur membelai wajah sang putra. Meski ia sangat marah dengan Akhtar tapi tidak dengan putranya itu. Azrinna sudah sangat menyayangi Ezar sepenuh hati. Bahkan selama ini dunianya hanyalah bersama Ezar.
" Iya, Ezar..."
__ADS_1
" Mommy, ikut...!. Naik..!." Ezar merengek meminta dinaikkan ke atas tempat tidur bersama ibunya.
" Azri. "
" Letakkan Ezar bersamaku. " Ucap Azrinna ketus.
Akhtar dengan senang hati membawa tubuh mungil putranya bersama Azrinna. Setidaknya ia masih ingin berharap semoga Azrinna tidak menjauh dari Ezar bahkan sampai meninggalkannya. Akhtar mendudukkan Ezar di samping tubuh Azrinna bagian atas. Namun siapa sangka Ezar malah merebahkan tubuhnya dengan tangan mungil yang bermain menyentuh wajah ibunya.
" Mommy.. Ezal kangen..." Ujar bocil itu lalu memeluk erat leher mommynya.
Azrinna hanya tersenyum mendengar ucapan Ezar. Ia membiarkan Ezar terus memeluknya dan tangannya mengusap pelan punggung mungil Ezar.
" Mommy..." Ezar melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Azrinna
" Iya, sayang...?."
" Adek mana ?." Tanya Ezar polos.
Azrinna terhenyak. Sedari bangun dirinya tidak ada kepikiran sama sekali bagaimana keadaan bayinya yang sudah ia dilahirkan itu. Bagaimana rupanya, ia benar benar tidak tahu. Karena dari tadi ia hanya sibuk meluapkan amarahnya pada Akhtar. Yang ia tahu hanya jika bayinya itu dilahirkan dalam keadaan tidak bisa dibilang baik baik saja karena prematur sebab usia kandungannya itu masih menginjak enam bulan lebih saja.
Akhtar yang melihat perubahan pada mimik wajah Azrinna hanya bisa pasrah. Entah apa Yang akan dilakukan Azrinna nantinya ia benar-benar tidak tahu.
Azrinna menoleh ke arah Akhtar dengan raut wajah yang sangat datar. Akhtar faham maksud dari tatapan itu. Sehingga ia berinisiatif menjelaskan nya.
" Putrimu baik-baik saja. Dia sedang mendapatkan perawatan yang baik juga untuk pertumbuhan nya. " Ujar Akhtar.
" Dia perempuan ?."
Akhtar mengangguk. " Iya. Dia perempuan. Cantik seperti mommynya. "
Mendengar ucapan terakhir Akhtar, Azrinna kembali membuang mukanya. Tatapan kembali pada wajah damai Ezar yang berada di dekapan nya. Mata Ezar menyayup setelah diberikan belaian kasih sayang dari mommynya. Tapi belum benar-benar terlelap karena dia malah mencari kebiasaannya saat akan tidur.
Azrinna yang mengerti apa yang di cari putranya hanya bisa merelakannya. Dia seorang gadis yang belum pernah menikah tapi diharuskan memberi ASI nya pada seorang anak kecil yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
" Pergilah. Biarkan Ezar bersamaku. " Ucap Azrinna tanpa melihat ke arah Akhtar sama sekali.
Akhtar tau apa yang akan dilakukan Azrinna. Jadi ia harus memberikan privasi untuk Azrinna. Mengingat keadaannya sekarang sudah tak lagi sama. Akhtar keluar dari kamar lalu menutup pintunya lagi dengan rapat.
Setelah kepergian Akhtar, Azrinna kembali memberikan ASI nya pada sang putra hingga Ezar terlelap tenang dalam tidurnya.
Ia pandangi wajah wajah kecil yang sudah terlihat tampannya itu. Bagaimanakah kehidupan Ezar nantinya jika ia pergi meninggalkannya ?. Ezar sudah bagai belahan jiwanya sendiri dan ia sungguh tidak tega jika harus berpisah dari Ezar. Azrinna mendaratkan kecupannya berkali kali pada wajah Ezar.
" Maafkan mommy, sayang. Suatu hari nanti kita akan berpisah. Kita tidak bisa hidup bersama lagi seperti biasanya. Semoga kamu baik-baik saja tanpa mommy ya, sayang..." Ucap Azrinna lirih dengan mata yang kembali berkaca-kaca lalu mengecup lama kening putranya.
__ADS_1