
" Azrinna tidak salah Bu. Semua ini salah saya. Saya sudah memanfaatkan keadaan Azrinna yang sedang lupa ingatan. Azrinna taunya kami adalah sepasang suami istri.." Akhtar mulai bersuara.
BUKKH
" Kakak ?!."
" Zuhdi ?!."
" Mas ?!."
Ketiga wanita itu terpekik kaget dengan yang baru saja dilakukan oleh Zuhdi yang tiba-tiba datang dan memukul keras rahang Akhtar sehingga membuat bibirnya sedikit mengeluarkan darah.
" Kau menghancurkan adikku !. Brengsek !!." Zuhdi kembali melayangkan pukulannya. Tangannya mencekal kuat kerah kemeja Akhtar. Zuhdi melayangkan pukulannya berkali-kali ke wajah dan tubuh Akhtar sampai Akhtar tergelak tak berdaya di lantai. Namun dari setiap pukulan keras itu Akhtar sama sekali tidak membalasnya. Bahkan mengelak pun tidak.
" Kakak. Sudah cukup !!." Azrinna berteriak lalu berlari dan mencekal tangan Zuhdi yang siap di layangkan lagi ke wajah Akhtar. " Cukup... Kak. Azri mohon..." Rengek Azrinna yang sudah bersimbah airmata.
Dengan berat hati akhirnya Zuhdi menuruti permintaan adiknya. Zuhdi menghadap tubuh Azrinna dan langsung memeluknya erat.
" Kamu terlalu bodoh, dek. Kakak benci kamu yang seperti ini. Kakak benci. "
" Maafkan aku, kak. Aku juga tidak sadar... tolong jangan membuat masalah ini menjadi panjang. Azri mohon..." Ujar Azrinna dengan suara terbata-bata.
Kedua kakak beradik itu berpelukan dengan saling menderai air mata.
Zuhdi tidak menyangka jika kehilangan adiknya waktu itu juga akan menjadi sesuatu yang juga menghilangkan kehormatan Azrinna. Ia merasa bodoh karena tidak membawa pulang Azrinna waktu itu dan malah membiarkan pria brengsek itu menghancurkan gadis manjanya.
Zuhdi melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Akhtar. Dia berjongkok di hadapan Akhtar. " Adikku terlalu baik padamu. Pergilah. Dan jangan temui mereka lagi !." Tegas Zuhdi dan berdiri lagi tapi tatapan tajamnya masih terarah pada wajah Akhtar.
Akhtar terlihat kaget. " Mereka?." Tanyanya kemudian.
" Iya. Bayi itu akan ikut dengan Azrinna. "
" Tidak. Dia anakku. Dia akan pergi bersamaku. " Ujar Akhtar tak terima. Dia mencoba berdiri dan mendekati Azrinna yang berdiri sambil terisak.
" Azrinna. Alchira..." Panggil Akhtar saat telah sampai di hadapan Azrinna.
Azrinna memalingkan wajahnya dari hadapan Akhtar. " Dia putriku.." jawab Azrinna lirih.
" Tapi dia juga putriku. Aku daddy-nya. "
Azrinna menatap wajah Akhtar. Wajah yang biasanya terlihat bersih menawan itu kini tampak mengenaskan dengan bercak darah di sudut bibirnya juga beberapa lebam keunguan menghiasi beberapa titik di wajahnya.
" Biarkan dia bersamaku. Dia putriku..."
Melihat wajah sedih Azrinna membuat Akhtar tidak tega. Dirinya selama ini sudah egois pada Azrinna.
__ADS_1
" Baiklah. Dia akan ikut denganmu. Tapi aku mohon... Jangan halangi aku bertemu dengannya. "
Azrinna tidak menjawab dan malah berlari meninggalkan mereka semua. Kakinya melangkah cepat menaiki tangga ke kamarnya.
Semua mata yang tadi menyaksikan Azrinna kini mulai beralih lagi ke arah Akhtar.
" Pergilah. " Ucap Zuhdi datar.
Akhtar mengangguk lalu dengan langkah tertatih keluar dari kediaman keluarga Winata.
Zuhdi melangkahkan kakinya mendekati sang ibu yang masih terus menangis di pelukan wanita yang memenuhi seluruh ruang di hatinya.
Hati ibu mana yang tidak hancur?, jika anak gadisnya ternyata diperdaya seseorang di luaran sana. Hati ibu mana yang tidak sakit jika tau bahwa putrinya memiliki anak tapi bukan di dalam ikatan pernikahan.
" Ma." Zuhdi berjongkok di hadapan ibunya. Tangannya menyeka air mata ibunya yang masih terus menganak sungai.
" Adikmu sudah rusak, Di. Anak manja mama sudah rusak..." Ucap ibunya lirih.
" Mama. Azrinna tidak rusak. Azrinna masih gadis mama yang manja. Anak gadis mama yang berusaha untuk tetap bertahan dengan kakinya sendiri. Jangan benci Azri, Ma. Dia butuh kita. " Ucap Zuhdi memberikan pemahaman kepada ibunya.
Ibunya menggeleng dengan isakan tangis yang semakin menjadi-jadi. Matanya melirik wajah bayi yang berada di pangkuannya.
" Cucu Mama ?. " Tanyanya pada Zuhdi.
Ibunya mendaratkan kecupannya di kening selembut sutra cucunya. Lalu memberikan bayinya pada Zuhdi.
" Bawa di bertemu Azrinna. Mama butuh sendiri dulu. Kalau papa nyariin, bilang kalau mama ada di kamar. "
Dengan hati-hati Zuhdi mengambil alih ponakannya. " Iya, Ma. " Ucapnya.
Ibunya pergi memasuki kamar. Kini di ruang itu hanya ada dirinya, si bayi juga Hizqi yang sedari tadi hanya jadi penonton. Zuhdi duduk di tempat yang tadi diduduki ibunya, yang berarti dalam posisi bersisian dengan Hizqi.
Hizqi terlihat langsung salah tingkah dan sedikit menggeser posisi duduknya agar lebih jauh dari tubuh Zuhdi.
" Bagaimana kabarmu ?." Tanya Zuhdi.
" Alhamdulillah, baik. "
" Kapan datang ke Jakarta ?."
" Belum lama. Mungkin sebulan lalu."
" Kamu ganti nomor?."
Hizqi mengangguk. " Iya. " Jawabnya.
__ADS_1
" Ouh. Aku kira kamu sudah tidak akan kesini lagi, karena sudah memiliki keluarga sendiri. " Ucap Zuhdi yang langsung membuat Hizqi reflek menoleh ke arahnya. Zuhdi menatap lekat wajah ayu Hizqi yang dengan jarak lumayan dekat itu. Tapi hanya sebentar karena Hizqi tiba-tiba memalingkan wajahnya.
" Apa acaranya batal ?. " Tanya Zuhdi penasaran.
" Iya. "
" Berarti aku masih ada harapan?." Tanya Zuhdi antusias. Dan ternyata pertanyaannya dijawab anggukan kepala Hizqi.
Bukan apa-apa Zuhdi bertanya demikian. Karena dulu interaksinya dengan Hizqi tiba-tiba terputus saat Hizqi memutuskan pulang ke kota-nya. Dan yang dia dengar, bahwa Hizqi pulang itu untuk melakukan acara pertunangan dengan pria yang sudah di tentukan oleh orang tuanya.
Kala itu hati zuhdi benar-benar hancur tak bertepi. Zuhdi sudah menyiapkan semuanya untuk pergi ke orang tua Hizqi bersama keluarga besarnya untuk meminang gadis itu tapi ternyata disana orang tua gadis itu malah sudah memilihkan sendiri jodoh untuk gadisnya.
Dan mendapati kabar demikian. Hatinya seakan seperti sebuah ladang di musim kemarau yang tiba-tiba diguyur hujan deras. Adem, sejuk, dan menggetarkan.
" Terima kasih. Aku akan segera datang ke rumah mu. Semoga tidak terlambat lagi. " Zuhdi mengakhiri ucapannya dengan sedikit kekehan renyah.
" Orang tuaku sudah tau tentang Mas Zuhdi. "
" Benarkah ?!."
" Iya. Jadi jangan menunda-nunda lagi. Nanti ibu malah menjodohkanku dengan orang lain lagi. "
Zuhdi tersenyum cerah. Matanya menatap lekat wajah gadis yang selalu menduduki peringkat pertama dalam hatinya itu. " Iya. Aku janji akan segera datang ke orang tuamu. "
Zuhdi sangat menikmati keindahan wajah ayu Hizqi yang kini bersemu merah. Sangat menggemaskan.
Astaghfirullah...
Zuhdi memalingkan wajahnya dari wajah Hizqi. Ia tersadar bahwa dirinya masih belum boleh menatap gadis itu berlebihan, karena dosa sudah pasti mampir ke tubuhnya.
" Kamu mau ikut ke kamar Azrinna ?." Tanya Zuhdi setelahnya.
" Iya. "
" Ya udah, yuk ?!."
Keduanya bangkit dari duduknya.
" Sini, mas. Biar aku aja yang gendong Alchira. " Hizqi yang melihat cara Zuhdi menggendong tubuh Alchira sangat kaku seperti itu langsung berinisiatif.
" Hehehe. Iya, ini. Aku juga sebenarnya tidak bisa gendong bayi. " Zuhdi memberikan tubuh mungil keponakannya.
Dengan gerakan luwes dan penuh kehati-hatian Hizqi menggendong tubuh Alchira dengan sangat keibuan. Membuat Zuhdi berdecak kagum.
Istri idaman. Bathin Zuhdi.
__ADS_1