Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Dia sisi yang berbeda


__ADS_3

Kamu yakin kalau dia Azri ?. "


Orang yang diajak bicara itu mengangguk mantap. " Tentu saja. Kami dari kecil selalu bersama. Sebagai seorang kakak, aku sangat mengenali adikku sendiri. " Jawab Zuhdi yakin.


" Kalau seperti itu, berarti Azri hidup bersama seorang pria..." Ujar Aqlan lirih.


Iya. Dirinya sudah lelah. Dirinya ingin putus asa. Pencarian Azri sudah berjalan hingga setengah tahun lamanya tapi Azri belum juga ditemukan. Lalu, setelah mendengar penuturan Zuhdi, haruskah dirinya masih mempertahankan haknya sebagai seorang suami?. Sedangkan di sana. Entah di belahan bumi mana, Azri mungkin saja sedang bahagia bersama seseorang.


" Bolehkah aku menyerah, Di ?." Tanyanya bingung.


Zuhdi memandang iba pada adik iparnya itu. Hatinya sedikit terusik menyaksikan keputus asaan Aqlan. Jika hari kemarin kemarin, Aqlan tampak semangat berusaha untuk menemukan Azri, tidak untuk hari ini. Tepat setelah ia mendengar penuturan Zuhdi.


Acara pernikahan Aqlan dan Azri waktu itu memang tetap terlaksana. Aqlan tetap menjabat tangan wali Azri untuk memindahkan tanggung jawab yang selama ini dipegang oleh ayahnya itu ke atas genggaman tangan nya. Padahal saat itu baik orang tua Aqlan maupun orang tua Azri meminta agar acara itu dibatalkan saja namun Aqlan tetap mau melaksanakan nya meski sang mempelai wanita nya hilang entah kemana.


Kembali ke realita. Aqlan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ada sesuatu hal yang dilupakan karena terlalu fokus mengobrol bersama Zuhdi. Aqlan Bangkit dari duduknya.


" Kau bisa menghabiskan makananmu dulu. Saya lupa hari ini ada pertemuan dengan salah seorang klien di restoran seafood. " Ujarnya.


" Oh. Iya. Tidak masalah. Kau pergi saja, aku juga mau langsung berangkat ke kantor setelah selesai makan. " Jawab Zuhdi mengerti.


Aqlan mengangguk. " Assalamualaikum..."


" Waalaikum salam.."


Setelah mendapat jawaban salamnya, Aqlan segera melajukan mobilnya menuju restoran seafood yang juga miliknya yang berada di area pesisir pantai. Perjalanan selama lima belas menit, akhirnya ia sampai di tempat tujuan.


Aqlan melangkah memasuki restoran. Setiap pegawai yang melihat kedatangan nya langsung menyambut penuh hormat. Melihat kebiasaan yang dilakukan oleh para pegawainya ini membuat senyum ramahnya mengembang. Aqlan langsung bertanya pada seorang manajer restoran akan keberadaan tamunya.


Setelah diantar sampai ke meja yang sudah dihuni oleh rekannya Aqlan langsung menghampiri meja tersebut.


" Assalamualaikum..." ujar Aqlan setelah sampai.


" Waalaikum salam, ehh tuan Aqlan?. " Jawab rekannya seraya berdiri dan menjabat tangan Aqlan.


" Maaf membuat Anda menunggu, tuan Arif. "


" Oh tidak masalah, tuan. Saya juga belum lama sampai. "


" Alhamdulillah. "


" Baiklah. Apa kita bisa langsung masuk ke pembahasan atau anda akan makan dulu tuan ?." Tanya Aqlan.


" Kalau untuk itu, saya serahkan pada sang pemilik tempat saja. " Ucap Arif dan diakhiri kekehan renyah.


Aqlan tertawa renyah mendengar seloroh rekannya. " Kalau begitu kita makan dulu saja, gimana?. Kebetulan saya juga belum sempat makan siang tadi. "


" Baiklah. "


Sepanjang melahap makanan yang tertata rapi di atas meja, Aqlan terus mengamati sikap rekannya yang sepertinya sedang terpesona akan sesuatu hal. Aqlan mengikuti arah pandangan Arif yang ternyata tertuju pada sepasang suami istri yang terlihat bahagia. Di mana di sana, sang suami tampak sangat telaten menyuapkan makanan ke dalam mulut sang istri. Sedangkan si istrinya sendiri terlihat fokus bercanda gurau bersama anak kecil di pangkuannya.


Hati Aqlan sedikit meringis menyaksikan momen romantis dari kejauhan tersebut. Pikirannya langsung ke Azrinna. Kapankah sekiranya momen itu di rasakan oleh keluarga kecilnya bersama Azrinna ?. Kelana batinnya.


Aqlan kembali memasukkan makanan ke dalam mulut dengan tatapan sesekali melirik ke arah pasangan tersebut. Hingga makanan yang ada di piringnya tandas begitupun dengan makanan di piring rekannya yang juga sudah habis tak tersisa.


Keduanya memulai pembahasan kerja sama yang akan dibentuk. Hingga satu jam lamanya, rekannya berpamit pulang sedangkan dirinya sendiri melangkah masuk ke dalam ruangan khusus pemilik restoran.


Aqlan menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Tangannya mulai menyibukkan diri bersama berkas berkas data mingguan restoran.


_________


Pagi menjelang siang Akhtar dan Aira kembali membereskan barang-barang karena akan pulang ke rumah. Ini adalah hari ke lima dan juga merupakan hari terakhir ketiganya berada di resort.


Setelah melakukan perjalanan dan sampai di rumah, seluruh pelayan tampak berjejer rapi memberikan penghormatan terhadap ketiganya.


Tania menghampiri Aira. " Senang melihat anda sudah sehat kembali, nyonya..." Ucapnya ramah.


" Iya, Tania. Terima kasih. " Jawab Aira dengan senyum ramahnya.


" Ayo, sayang..." Ucap Akhtar mengajak menuju ke lantai dua yang merupakan kamar mereka.


Aira mengangguk " Tania. Tolong jaga Ezar. " Ucapnya lagi pada Tania seraya memberikan Ezar.


Tania langsung mengambil alih Ezar dari tangan nyonya nya. " Baik, Nyonya. "


Aira pergi bersama Akhtar namun langkahnya kembali berhenti dan menoleh ke arah Tania lagi. "Oh ya, Tania. Kalau Ezar rewel kasih ke saya saja. Dan juga, Ezar jangan di kasih susu formula lagi. " Ujarnya pada Tania.


" Baik, Nyonya." Jawab Tania patuh.


Aira mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya bersama Akhtar. Ketika sampai di depan pintu kamar, Akhtar membukakan pintu dan mempersilahkan Aira masuk. Seperti tuan putri. Itulah yang dirasakan oleh Aira mendapati sikap Akhtar ini. Aira tersenyum dan mengangguk lalu masuk ke dalam dan Akhtar membuntut di belakangnya. Tangan Akhtar kembali menutup pintu kamar setelah keduanya memasuki kamar dengan sempurna.


Aira duduk di tepi ranjang kemudian Akhtar menyusul dan duduk disampingnya. Tangan Akhtar terulur lalu mendekap pinggang ramping istrinya. Dagunya ia letakkan di pundak sang istri. " Sayang..." Panggilannya lirih.


Aira melirik, menatap lekat mata Akhtar yang sangat dekat jaraknya dengan wajah nya. Melihat tatapan yang ditunjukkan oleh Akhtar hati Aira seperti diterjang angin laut. Mendesir menenangkan dan damai.


" Hemm?."


" Mau, kan ?. "


Aira memejamkan matanya. Dirinya paham akan pertanyaan Akhtar. Hatinya seakan masih tidak rela jika Akhtar melakukan nya. Tapi di lain sisi ada perasaan bersalah jika ia menolaknya. Dan akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah. Tentu saja jawaban ini yang diinginkan oleh Akhtar sehingga senyum Akhtar langsung merekah ketika mendapati jawaban demikian.


Akhtar memutar posisi duduk Aira agar menghadap ke arah nya. Tangannya membingkai wajah teduh nan ayu milik Aira.

__ADS_1


" Kamu yakin mengizinkan ku ?. " Tanya Akhtar serius.


Aira tersenyum kaku lalu mengangguk. "Iya, mas. Lakukanlah. Aku akan terima apapun yang kamu lakukan padaku.." ucap Aira yakin.


Akhtar mengangguk dan memulai nya perlahan. Membawa keduanya mengarungi kenikmatan surga dunia.


Kalaupun ada yang mengatakan bahwa Akhtar adalah pria brengsek, maka Akhtar akan menanggapi itu semua. Karena ia sadar akan apa yang ia lakukan pada Aira ini adalah kesalahan. Ia tahu bahwa pernikahan dirinya dengan Aira waktu itu tetap tidak sah karena itu bukan nama asli Aira melainkan nama salah satu saudara Marinna--ibunya Ezar--yang telah meninggal sebelum ia memboyong Marinna ke Indonesia.


Meski sadar akan kebrengsekannya terhadap Aira tapi ia juga tidak bisa menolak pesona Aira. Apalagi dengan keadaan saat ini. Iya. Bukan ia memanfaatkan keadaan hanya saja situasi nya sendiri yang menawarkan peluang untuk dirinya berbuat hal tidak benar.


Akhtar memandang lekat wajah Aira yang sudah di banjiri peluh. Aira adalah gadis polos yang sudah ia rusak dengan sadisnya.


Tepat pertama kali ia menyentuh Aira di saat itulah Aira kehilangan mahkota yang mungkin selalu dia jaga dengan baik sebelum nya.


**Maafkan aku, Azrinna...maaf. Aku berjanji akan bertanggung jawab padamu. Aku sudah terlalu brengsek terhadap tubuhmu...**


Akhtar mendaratkan kecupannya di kening Aira.


_______


" Jadi, Azrinna sudah menikah?!."


" Sudah tuan. Bahkan sudah memiliki anak."


" Anak ?."


" Benar, tuan. Namanya Raffansyah Gibran Muhammad. Berumur enam tahun. "


Benarkah kamu sudah memiliki anak, Ai ?. Tapi aku yakin, akulah yang menghilangkan mahkotamu itu, mengingat bagaimana aku berusaha sangat keras untuk menghancurkannya.


" Akhtar. "


Akhtar kembali ke kesadarannya. Iya. Orang yang sedang di hadapannya inilah yang memanggilnya. Meski Eiriek adalah asisten nya, tapi Eiriek juga merupakan sepupu Marinna, istrinya. Dan saat ini Eiriek sedang ditugaskan oleh Akhtar untuk mencari tahu identitas Aira. Menghitung sudah satu bulan terakhir Eiriek mengumpulkan informasi tentang identitas Aira dan baru sekarang lah Akhtar mengetahui siapakah sebenarnya Aira itu.


Jika sedang seperti ini Eiriek terkadang hanya memanggil namanya saja tanpa ada embel-embel tuan, boss, atau apapun lainnya yang mencirikan perbedaan diantara keduanya.


" Kamu harus selalu mempersiapkan diri kalau kalau Azrinna mengingat segalanya. Bagaimanapun dia pasti sembuh. "


" Iya. Kau benar. Dan Ezar juga akan kehilangan sosok ibunya lagi. " Ucap Akhtar lesu.


Mendengar ucapan Akhtar, Eiriek hanya bisa mengangguk pasrah. Karena bagaimanapun, Ezar juga merupakan keponakannya. Jadi ia juga merasa kasihan jika harus melihat Ezar kehilangan sosok ibunya untuk yang kedua kali.


" Lalu bagaimana denganmu sendiri?. Apa kamu sudah mulai menyukainya?. " Tanya Eiriek kemudian.


" Sepertinya begitu. Aku selalu menyukai caranya mengasuh Ezar, menyukai caranya memberikan kasih sayang nya pada Ezar. Apalagi kami sudah sering melakukan hubungan itu. Iya. Aku sangat takut jika kehilangan nya. " Akhtar meluapkan semua unek unek di hatinya pada sang asisten pribadi, saudara, juga sahabat nya itu. Yah. Eiriek memang menyandang tiga gelar itu bagi Akhtar. " Aku brengsek ya Eir ?. Gadis polos telah aku rusak begitu saja. " Lanjutnya.


Tidak dipungkiri memang. Eiriek juga berpendapat jika sahabatnya itu adalah pria brengsek yang menghancurkan masa depan seorang gadis polos. Yah, meski Eiriek mengetahui jika Azrinna sudah menikah. Tapi di mata Eiriek Azrinna adalah gadis polos.


" Menurut kamu, aku harus bagaimana?. "


" Kau menyukainya, kan?. Kalau gitu berarti kamu tidak boleh melepaskan nya begitu saja. "


" Tapi dia sudah memiliki suami dan seorang anak. Mereka pasti sedang berusaha keras mencarinya. "


" Beri dia obat dan kembalilah ke negaramu. "


" Apa maksudmu?. "


" Iya, ini saranku saja. Hilangkan semua ingatan Azrinna untuk selamanya dan ajak dia ke Uzbek."


" Apa?!. Kau gila ?. Aku tidak bisa melakukannya. Itu terlalu jahat. "


" Tapi itu jalan satu-satunya. Dan kau bisa hidup bahagia bersamanya. Ezar juga tidak akan kehilangan sosok ibunya lagi. "


Akhtar terdiam sesaat. Kemudian mendengus pasrah. " Tapi apa itu beresiko fatal ?. " Tanyanya.


" Entah.  Tapi coba kau konsultasikan dengan dokter khususnya. "


Akhtar menghirup udara sedalam-dalamnya lalu menghembuskan nafasnya perlahan. " Baiklah. Aku akan melakukannya untuk Ezar. "


" Bukan untukmu juga ?. "


Akhtar mendelik menatap tajam ke arah Eiriek dan yang ditatap malah cengengesan.


" Oh iya. Ada satu lagi. "  Ucap Eiriek lagi.


" Apa lagi?!. " Akhtar mendengus kesal.


" Buat Azrinna terikat oleh mu. "


" Apa lagi ini ?. "


" Iya, kalian sudah sering melakukan nya, bukan?. Kurasa...ahh. kau terlalu cerdas. Tidak mungkin tidak mengerti maksudku ?!. "


Akhtar mendesis. " Iya, iya. Aku mengerti. Dan aku akan melakukannya. "


" Yahh. Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat berjuang." Ucap Eiriek sambil menepuk bahu Akhtar.


" Eir. " Panggil Akhtar saat Eiriek sudah berada di ambang pintu. Eiriek menoleh. " Apa ada lagi ?."


" Apa kau yakin Azrinna sudah memiliki anak ?. Karena..."

__ADS_1


" Oke. Aku akan mencari tahu lagi detail nya. " Ujar Eiriek yang sepertinya langsung paham lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Akhtar.


Sepeninggalan Eiriek Akhtar kembali memikirkan ucapan Eiriek tadi. Saran Eiriek memang sangat tepat. Tapi ia juga bingung apakah ia akan semakin menjadi jahat jika melakukan apa yang disarankan oleh Eiriek tadi.


" Hahhh... Untuk Ezar. Iya. Ini semua untuk Ezar. " Gumamnya.


Hatinya sudah yakin sekarang. Ia akan mengikuti saran Eiriek untuk membuat Azrinna hilang ingatan untuk selamanya. Apapun resikonya nanti.


Akhtar keluar dari perusahaan miliknya yang berdiri tegak di luasnya ibukota Indonesia. Yahh. Akhtar memang bukan asli warga negara Indonesia begitupun dengan Marinna. Tapi keduanya sudah pindah ke Indonesia sebulan setelah menikah hingga memiliki seorang anak yang dilahirkan di Indonesia.


Akhtar Ernann Ilario. Pria asal Uzbekistan yang menjadi mualaf semenjak pindah ke negara seribu pulau ini sebab katanya itu akan memudahkan dirinya hidup di negara yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam.  Yah. Dengan uang ia bisa melakukan apa yang ia mau, termasuk menjadi penganut agama Islam tanpa harus melakukan DUA KALIMAT AGUNG itu.


Suara dering telepon masuk membuat Akhtar menepikan mobilnya sebentar. Dan melihat siapa yang menghubunginya.


" Tania ?. "


Entah mengapa perasaannya tidak tenang ketika tiba tiba mendapat panggilan dari baby sitter Ezar itu. Akhtar segera mengangkat telepon nya.


" Hallo, Tania. Ada apa ?."


" Halo, tuan. Maaf saya lancang menelpon tuan. Saya ingin memberitahu Tuan, kalau nyonya pingsan, Tuan. "


" Pingsan ?!."


Tanpa aba-aba Akhtar langsung melempar handphone nya di kursi samping dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tak berselang lama ia sampai di rumah. Akhtar segera turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Setiap ruangan terasa sepi. Akhtar tidak memperdulikan akan hal itu. Kakinya terus melangkah lebar menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah sampai, ia melihat Tania yang berdiri tepat di samping Aira yang terlelap tenang di tempat tidur.


Melihat kedatangan Akhtar, Tania sedikit membungkuk dan melenting keluar dari kamar. Meninggalkan tuan dan nyonya nya di dalam sedangkan sang tuan muda masih di dalam gendongannya.


Akhtar duduk di samping Aira. Mengusap lembut kening gadisnya itu. Bukan sekali dua kali Aira mengalami hal demikian. Karena ia tahu jika Aira pasti akan pingsan jika ingatan nya mulai hadir.


" Kamu pasti sangat tersiksa, sayang..." Akhtar mendaratkan kecupannya di kening Aira lalu beralih pada bibir ranum Aira.


Dengan penuh kasih sayang Akhtar terus mengusap lembut kepala Aira hingga perlahan mata yang terlelap itu kembali terbuka.


Akhtar tersenyum ketika Aira sudah kembali sadar.


" Mas. "


" Iya, sayang. Aku ada disini." Ucap Akhtar dan kembali mengecup kening Aira. " Apa terjadi lagi ?." Tanyanya. Dan di angguki oleh Aira.


" Tidak apa-apa. Itu wajar. Nanti juga tidak akan sakit lagi kalau kamu sudah mengingatnya dengan sempurna. " Aira mengangguk kembali.


" Mas. "


" Hem ?."


" Aku mengingat sesuatu."


" O ya ?. Apa itu sayang ?."


" Nanzea. " Ucap Aira kemudian menggelengkan kepalanya. " Apa itu mas ?. "


" Nanzea ?."


Aira mengangguk. " Iya, mas. "


" Apa ya. Mas juga gak pernah tau tentang Nanzea, sayang. Kamu yakin itu salah satu ingatan yang kamu lupakan?. Atau mungkin nama itu kamu lihat dari jalan jalan atau tayangan di TV. "


Aira mendengus pasrah lalu mengangguk karena ia fikir ucapan Akhtar benar. Namun pada kenyataannya, Akhtar memang tahu apa itu Nanzea. Karena menurut data yang ia cari mengenai Azrinna, Nanzea adalah padepokan ilmu beladiri milik Azrinna bahkan Azrinna juga merupakan pelatih di padepokan ilmu beladiri tersebut.


" Sudah. Jangan sedih. Kita berdoa saja semoga ingatan kamu kembali lagi. "


" Iya, mas. " Akhtar tersenyum lalu mengecup singkat bibir Aira.


Aira yang mendapat perlakuan mendadak itu hanya terpekik kaget. " Mas !!."


Bukannya merasa bersalah Akhtar malah kini menampilkan senyuman anehnya. Apalagi yang ingin dilakukan Akhtar jika sudah seperti itu. Yah. Aira memang sudah faham.


" Tapi mas..."


" Aku merindukanmu, sayang..." Akhtar sudah mulai bersiap. " Dua Minggu, sayang..."


" Iya tapi aku sedang tidak enak badan..."


" Aku akan lembut melakukannya. " Ucap Akhtar lagi meyakinkan.


Aira hanya bisa mengangguk pasrah jika sudah seperti ini.


Setelah dua Minggu tidak melakukan aktivitas suami istri, Akhtar akhirnya merasakan nya lagi. Namun kali ini bukan hanya karena dirinya ingin saja. Melainkan juga salah satu cara yang pernah disarankan oleh Eiriek. Jika Aira harus terikat dengannya. Dan Akhtar harus berhasil.


Setelah selesai, Akhtar mendaratkan kecupannya di perut Aira. Sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan Akhtar sebelumnya. " Tumbuhlah dengan baik di sana." Ucapnya tepat di dekat perut Aira.


" Mas."


Akhtar mendongak menatap lagi wajah ayu nan teduh milik Aira. Melihat tatapan bingung Azrinna, Akhtar hanya bisa tersenyum. " Mas berharap benih mas berhasil. " Ucapnya.


" Kalau benih mas berhasil, bagaimana dengan Ezar?.  Dia masih terlalu kecil untuk jadi seorang kakak. "


" Tidak apa-apa. Lagian jika doa mas dikabulkan, apa yang bisa kita lakukan selain menerimanya, Hem?."


Aira menggeleng lemah mendengar penuturan suaminya itu. Toh jika memang iya. Dirinya juga pasti akan menyayangi anak-anaknya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2