Musibah Membawa Takdir Ku

Musibah Membawa Takdir Ku
Mulai Terang


__ADS_3

" Dorrr !!."


" Astaghfirullah !!. " Gadis itu menoleh ke belakang. Setelah mengetahui siapakah yang sudah berbuat jahil padanya gadis itu langsung mengambil persiapan untuk mengejar seseorang itu. Aksi saling kejar-kejaran membuat rumah seakan ingin meledak.


" Zuhdi !. Azri !."


Teguran dari sang ayah tidak di indahkan sama sekali. Kakak beradik itu masih gencar untuk saling membalas dengan beberapa pukulan yang cukup mematikan. Meski keduanya tidak se-gender tapi tidak pernah menjadi alasan untuk tidak saling beradu kekuatan, karena keduanya sama-sama memiliki kekuatan seorang pendekar. Apalagi gadis itu adalah seorang pelatih di salah satu padepokan.


" Sudah, cukup !!. " Kali ini mamanya yang bersuara dengan suara keras sehingga seakan menggema di setiap ruangan.


Dengan berat hati pertarungan itu akhirnya dihentikan. Keduanya saling melempar tatapan tajam sebelum akhirnya duduk bergabung dengan kedua orangtuanya di sofa ruang beranda.


" Selalu saja !." Ujar Mama nya geram sendiri melihat kelakuan putra putrinya yang selalu membuat pusing setiap harinya.


" Kak Zuhdi yang duluan ngagetin Azri, ma. "


" Yah cuma di kagetin doang kamu malah membalasnya pake mukul. "


" Yah karena kakak bikin kesel."


" Kakak nggak~"


" Stop !!." Papa nya yang kembali kesal mulai bersuara lagi. Dan otomatis keduanya langsung kicep tak berkutik apa-apa lagi.


" Setiap hari kalian seperti kucing sama tikus. Apa kalian gak malu sama umur ?! Hahh?!."


" Pokoknya ini yang terakhir kali. Kalo besok ada keributan lagi, papa nggak segan segan hukum kalian. "


" Pa...kan kak Zuhdi yang selalu memulai duluan..."


" Sama saja. Pokoknya papa gak mau tau. Mau siapa yang duluan, yang papa tau kalau ada keributan lagi kalian harus dihukum !."


Mutlak.


Jika papanya sudah memberi keputusan, maka itu semua adalah mutlak. Tidak bisa diganggu gugat, apalagi di tawar.


Astaghfirullah !!.


Mata itu langsung terjaga. Tatapan matanya memonitor keadaan sekeliling lalu beralih pada tubuhnya. Iya. Dirinya masih mengenakan mukenah dan tadi ia tertidur lalu bermimpi. Bahkan mimpinya seperti nyata karena sangat jelas.


" Azri ?. Kenapa lagi-lagi aku bermimpi tentang Azri?. Apa itu adalah ingatan ku yang berusaha kembali ?. Kak Zuhdi ?." Ucapnya Aira lirih.

__ADS_1


Kini dirinya semakin yakin bahwa setiap mimpi di dalam tidurnya itu bukan hanya sebatas mimpi. Tapi sebuah ingatan yang mulai kembali memasuki memorinya. Tapi ia juga masih belum sepenuhnya mengerti.


Jika seandainya namanya adalah Azri, kenapa Akhtar memberi bahwa ia bernama Aira ?. Apa maksudnya ?. Kenapa Akhtar membohongiku ?!."


" Sayang... "


Aira terbangun dari lamunannya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Akhtar sedang menghampiri nya dengan senyum mengembang. Aira melepas mukenah nya dan menyambut kedatangan sang suami. Saat sudah berhadapan Akhtar langsung mengecup singkat bibir Aira.


" Baru selesai ?."


" Iya, mas. "


" Baiklah." Akhtar menggandeng tangan Aira menuju ke tempat tidur dan duduk di tepiannya. Tangan Akhtar mengusap lembut perut Aira yang sudah membuncit karena sekarang adalah bulan keenam usia kandungan Aira. Tangan Akhtar beralih pada pipi Aira dan mengusapnya lembut.


" Mas, rindu kamu, sayang." Ucap Akhtar dengan tatapan matanya yang lekat juga terlihat sendu.


" Tapi, mas... Apa itu tidak berbahaya ?." Tanya Aira yang sedikit khawatir dengan ajakan Akhtar mengingat ia adalah salah satu wanita yang sedang hamil lemah. Meski ia ingat kapan terakhir kali Akhtar mengajaknya melakukan itu. Iya. Yaitu pada saat mereka masih di Indonesia. Jadi jika dihitung, mereka sudah empat bulan lebih tidak melakukan hubungan suami istri.


" Bukankah Minggu lalu kita sudah memeriksakannya?. Dan hasilnya sudah membaik bahkan sangat sehat, kan ?. " Tanya Akhtar berusaha meyakinkan Aira. " Aku sudah sangat merindukanmu, sayang. Sudah lama kita tidak melakukannya..." Rengek Akhtar yang mulai merajuk.


Akhirnya Aira mendesah pasrah dan mengangguk. Akhtar juga langsung sumringah setelah mendapat persetujuan Aira.


Kenapa kamu membohongiku, mas ?.


Kenapa harus dengan kebohongan?.


Dan...


Apakah status kita ini hanyalah sebuah kebohongan ?.


Jika iya. Berarti kamu adalah pria jahat yang memperdayaku.


Aira terus membatin mencoba meyakinkan bahwa dugaannya adalah benar.


Setelah usai. Aira bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia segera keluar dari kamar mandi namun ternyata sesuatu malah menimpanya.


Aira kesulitan menahan keseimbangan tubuhnya sehingga ia tergelincir bebas ke lantai dengan sangat keras.


Jedug.


Aira memegang kepalanya yang kesakitan karena terbentur tembok lalu tangannya beralih pada perutnya yang tiba-tiba melilit terasa sakit luar biasa. Sesaat selanjutnya pandangannya mengabur kemudian, gelap.

__ADS_1


" Ai. Aira. Apa terjadi sesuatu denganmu ?!. Ai, buka pintunya !!." Ucap Akhtar sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi namun ternyata tidak ada sautan sama sekali karena Aira sudah tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Tepatnya di dekat pintunya.


Akhtar yang sudah panik karena perasaan khawatir, terus berusaha membuka pintunya dan setelah mencoba beberapa kali percobaan akhirnya pintunya terbuka.  Matanya mencari-cari keberadaan sang istri.


" Aira ?!!." Pekik Akhtar yang langsung menghampiri Aira yang sudah tak berdaya di lantai dingin kamar mandi.


Akhtar segera membawa Aira keluar dari kamar mandi, berlanjut keluar rumah dan melakukan perjalanan menuju rumah sakit.


" Darisa !. " Suara Akhtar menggelegar memanggil nama salah satu pelayan di rumahnya. Pelayan itu datang tergopoh-gopoh menghampirinya.


" Saya akan ke rumah sakit. Kamu jaga Ezar. Dia sedang tidur di kamarnya. "


" Baik, tuan. "


Akhtar kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya lalu memerintahkan supirnya untuk segera mengantarnya ke rumah sakit.


Akhtar tidak menghiraukan pakaiannya yang kini sudah kotor karena noda darah yang mengalir deras dari tubuh Aira bagian bawah. Akhtar terus menepuk nepuk pipi Aira berharap Aira membuka matanya. Tapi semua hanya sia-sia, karena Aira terlalu lelap menutup matanya.


" Kharn tambah kecepatan lagi !.'' ujar Akhtar pada supirnya dengan nada semakin frustasi.


Akhtar berkali kali mendaratkan kecupannya pada wajah Aira yang semakin memuncak. Rasa khawatirnya membuat dirinya menjadi lemas sendiri. Melihat keadaan Aira yang demikian membuat nya takut akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Iya. Aira banyak mengeluarkan darah, dan Akhtar memahami sesuatu hal saat melihat itu.


Mobil sudah sampai di lobi. Kharn, sang supir pribadi Akhtar langsung turun dan membukakan pintu belakang samping tuannya. Akhtar segera turun dan berlari masuk ke dalam bangunan menjulang yang selalu dipenuhi oleh bau obat-obatan tersebut. Suara Akhtar menggelar memanggil siapapun pegawai rumah sakitnya. Terlihat beberapa pegawai rumah sakit langsung menghampirinya dan meminta Akhtar untuk meletakkan Aira di atas brankar lalu brankar itu segera di dorong masuk ke dalam ruang IGD.


Akhtar berjalan mondar-mandir di depan pintu UGD, menunggu kabar dari pemeriksaan yang telah dilakukan.


Siapapun yang melihat kegelisahan Akhtar saat ini mungkin jadi ikut ikutan gelisah juga. Sebab Akhtar terlihat sangat frustasi karena rasa takut kehilangan.


Kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seorang dokter keluar dari ruangan mencengkam itu.


" Bagaimana istri saya, dok ?. "


Tatapan dokter itu terlihat gelisah. " Maaf, tuan. Kami terpaksa melakukan operasi untuk pengangkatan bayi dalam kandungan pasien. Jadi, sekarang istri tuan sudah melahirkan prematur. "


Akhtar sudah tidak memiliki tenaga sebagai tumpuan kakinya. Akhtar terduduk lemas di lantai.


" Apa lagi ini ?. Kenapa harus mereka ?!." Akhtar menjambak rambutnya sendiri lalu meraup wajahnya dengan kasar.


" Tuan, bangunlah. Anda tidak boleh seperti ini. Anda harus lebih kuat untuk istri dan putri kecil anda. Mereka membutuhkan anda. " Ujar dokter Kevinne lalu membantu Akhtar bangkit lagi.


" Semangat. Mereka membutuhkan sosok yang kuat untuk tidak semakin terpuruk. " ucap dokter lagi seraya menepuk pundak Akhtar seolah menyalurkan kekuatan dari tepukan tangannya itu. Dokter Kevinne melangkah pergi meninggalkan Akhtar yang kini hanya sendirian dengan perasaan sedih yang teramat sangat.

__ADS_1


__ADS_2