
"Aku sudah mengikhlaskan hutang ibumu padaku."
"Aku yang tidak ikhlas!"
" ?? "
"Sangat tidak masuk akal hutang sebesar itu hanya kamu ikhlaskan begitu saja tanpa harus dibayar oleh ibuku."
"Ibumu pernah menjadi teman baik almarhumah kakakku. Bahkan mereka bersahabat akrab dan ibumu seorang teman yang lebih peduli pada sakit kakakku di hari-hari terakhirnya. Aku sangat menghargai itu, jadi..."
"Jadi hutang sebesar 250 juta kamu impaskan hanya karena ibu pernah peduli pada kakak kamu?! Aneh. Konyol. Tidak wajar, tidak masuk akal... Tidak, aku akan membayarnya. Aku akan melunasinya."
"Apa kau punya uang sebanyak itu?"
"Ha?"
"Lupakan saja. Pulanglah. Ibumu sudah tidak berhutang apa-apa lagi padaku. Anggaplah seperti itu."
"Aku bilang tidak! Aku...akan membayarnya."
"Kalau begitu, terserah. Kalau uang simpananmu tidak ada sebanyak itu, cukup kau bayarkan sesanggupmu saja."
"Si--simpanan? Tabungan?"
"Ya. Simpanan dalam tabunganmu."
"Tadi aku tidak mengatakan akan membayarkan dengan uang --"
"Lalu?"
"Aku...aku sudaah...mendengar sedikit cerita tentang...kamu. Dari ibu. Maaf, jangan salah paham..."
"Cerita tentang diriku yang mana?"
"Tentang...ngg, ya itu lah yang mendorongku datang kesini menemui kamu. Dengan harapan niatku ini..."
"Jangan berbelit-belit lagi. Cepat katakan apa sebenarnya maksudmu. Apa hubungan cerita tentang diriku dengan..."
"Aku masih perawan! Aku belum pernah tidur dengan siapapun pria!
Kalau kamu memangg...sudah diburu-burui oleh...maaf, orangtuamu... aku bersedia me-menikah dengan kamu...dan mengandung... Untuk memberikan cucu bagi orangtua kamu."
"What?"
"Kamu paham apa yang sedang kumaksud ini."
"Aku tidak paham."
"Ck..."
"Jelaskan,"
"Kenapa aku mesti menjelaskannya lagi sih? Ihh, ini benar-benar memalukan, tau tidak?"
"Lalu kenapa punya niat seperti itu kalau memang itu kau anggap memalukan?"
"Cuma agar hutang ibuku terbayarkan dengan cara yang masuk akal... Aku akan membayar hutang itu dengan menikahi kamu. Me--ngandung dann...memberi cucu bagi orangtua kamu."
"Apa ibumu yang --"
"Tidak, tidak samasekali. Ini murni atas ide dan kemauanku sendiri. Akuu..."
"Apa saja yang sudah ibumu ceritakan tentangku?"
"Ha? Oh, tidak banyak. Ibu cuma mengatakan bahwa kamu...kamu sangat mencintai kekasih kamu itu tapi sayangnya...maaf, dia tidak mau menikah dengan kamu, meskipun dia sama cintanya dengan kamu...
Takut menikah lalu punya anak karena dia punya paranoid dengan yang namanya pernikahan, orangtuanya yang suka bertengkar lalu bercerai... Sementara kedua orangtua kamu sudah begitu ingin...melihat kamu...menikah dan punya anak."
"Hmm..."
"250 juta mungkin tidak berarti banyak untuk kamu tapi bagi kami, itu seperti seharga nyawa atau harga diri kami.
__ADS_1
Biarpun kami orang miskin harga diri kami sangat tinggi. Ibuku membayarkan hutang adik lelakiku dalam kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukannya tanpa berpikir panjang lebih dulu.
Jadi biarkan aku menikah dengan kamu agar...ibuku tidak semakin terbebani dengan cara kamu yang mengikhlaskan...uang yang tidak perlu dikembalikan oleh ibu itu."
"Apa bu Ratna merasa terbebani dengan caraku mengikhlaskan itu?"
"Walaupun ibu tidak menyatakannya secara terus terang aku yang bisa merasakannya. Ibu bukan tipe yang dengan mudah menghalalkan segala cara dengan uang."
"Bu Ratna pasti akan semakin merasa terbebani dengan niat yang ada dalam pikiranmu itu."
"Aku dan ibu akan membicarakannya baik-baik nanti."
"Kau tau apa yang sedang kau rencanakan ini? Bayangkan ibumu bila beliau justru tidak memberi persetujuannya."
"Ma-maksud kamu? Kamu sendiri...men-nyetujuinya?"
"Aku mulai menangkap apa maksudmu yang sebenarnya."
"Kamu masih boleh terus berhubungan dengan pacar kamu itu setelah kamu menikah denganku, aku tidak akan melarang-larang apapun yang ingin kamu lakukan bersamanya.
Asal, jangan sampai ketahuan saja oleh orang-orang terdekat kamu."
"Kau serius?"
"Bukan itu saja."
"Bukan itu saja?"
"Kamu cukup membiayai hidup sehari-hariku saja karena aku tidak akan menuntut permintaan yang aneh-aneh pada kamu.
Aku bukan wanita materialistis, aku tetap akan mencukupi sendiri kekurangan kebutuhanku menggunakan uangku.
Masih akan punya penghasilan sendiri dari pekerjaanku sebagai Cergamis, Komikus, jadi kamu tak boleh melarangku untuk meneruskan pekerjaan ini.
Entah sampai kapan waktunya kamu dan aku harus berpisah nanti pada akhirnya, aku harap kamu..."
"Berpisah?!"
"Berpisah. Kenapa? Kamu toh tidak mungkin selamanya betah pacaran back-street dengan pacar kamu selagi hidup menikah denganku.
"Berpisah dengan anak yang sudah ada?"
"A-nak?"
"Anak. Yang kau rencanakan itu menikah denganku dan memberikan cucu bagi orangtuaku. Seorang anak, 2 orang anak, 3 orang anak..."
"Iy-yaa, tentu saja."
"Dan bagaimana dengan anak itu kalau pada akhirnya nanti kau dan aku..."
"Anak itu tentu saja akan ikut dengan kamu, jadi tanggung jawab kamu, karena memang itu 'kan yang diinginkan oleh orangtua kamu, mendapat cucu dari kamu di tengah hidup mereka?"
"Ya."
"Ya sudah, seperti itu."
"Dan bagaimana kalau setelah waktu yang cukup lama anak itu tidak juga kunjung hadir?"
"Ya pisah. Untuk apa terus dipertahankan? Tetapkan dulu saja berapa lama maksimal tempo menunggunya."
".........."
"Jangan terlalu dipersuliiit. Aku tidak merencanakan niat yang berbelit-belit. Yang penting kamu pada akhirnya menikah, punya anak, orangtua kamu puas dan lega, dan aku juga puas dan lega bisa memperbaiki dan menjaga harga diri dan kehormatan ibuku. Dengan tidak harus menerima begitu-begitu saja keikhlasan kamu memberikan cuma-cuma uang 250 juta itu."
"Hmm..."
"Berpisah dari kamu pun aku tidak akan menuntut kompensasi apa-apa. Aku bersumpah tidak akan mempersulit perpisahan itu. Kamu bisa membuat surat perjanjiannya sesuai dengan apa yang kamu mau."
"Mengapa kau tidak mengajukan perpisahan dari pihakmu sendiri?"
"Ya?"
__ADS_1
"Sedari tadi kau hanya menekankan aku yang seolah-olah akan meminta berpisah. Bagaimana denganmu sendiri? Kau tidak akan menginginkannya?"
".........."
"Ada apa? Kenapa jadi diam?"
"Bagaimana mungkin aku mengajukan perpisahan? Posisiku tidak pada tempat aku boleh mengajukan itu..."
"Jadi kau akan terus bertahan denganku, memaksakan diri bertahan hidup berumah tangga denganku, biarpun di dalam hatimu kau mendadak menginginkan perpisahan --"
"Aku bahkan tidak menginginkan menikah dengan kamu!...itu yang ada dalam hatiku... Diluar pemikiranku yang kuungkapkan ini pada kamu."
"Kalau begitu tidak usah saja menikah denganku."
"Heyy..."
"Aku berulangkali menegaskan sudah mengikhlaskan hutang ibumu. Tapi kau sendiri, tidak ikhlas dalam mencoba mengajukan penawaran padaku."
"Maaf...aku..."
"Sudahlah. Aku serius. Lupakan semua rencana yang ada dalam pemikiranmu itu. Karena sebetulnya justru niatmu itu yang kuanggap lebih konyol dan tak masuk akal dibanding caraku mengikhlaskan uang yang kuberikan pada ibumu."
"Tidak!"
"Kalau begitu, bayarlah dengan uang saja."
"Tidak bisaa. Darimana aku bisa menghasilkan uang 250 juta..."
"Kau boleh mencicilnya, tentu saja."
"Sampai kiamat baru bisa lunas."
"Tidak mengapa. Sesanggupmu saja."
"Menikah saja. Tolong. Aku sehat lahir bathin. Aku tidak jelek-jelek amat. Dan aku juga...punya misi lain. Aku tidak mau ayahku di alam sana menjadi sedih melihat apa yang telah dilakukan adikku dan ibu ini.
Setidaknya ayah pastinya menginginkan aku suatu saat nanti bisa menikah, jadii...ya sudah sekalian saja, aku menikah...dengan kamu."
"..........."
"Kumohonn..."
"Kau sadar, tidak, kau menjadikan dirimu sendiri cuma seharga 250 juta?"
"Aku tak perduli ! ... Daripada kami selamanya berhutang budi 250 juta pada kamu."
"Suruh saja adikmu melunasinya begitu dia bebas dari penjara. Dia cuma dibui selama 2 tahun. Masih terbuka peluang bagi adikmu untuk bisa bekerja lagi dan mendapatkan uang."
"Kamu tidak juga pahaam? Adikku saja tidak punya pikiran, tidak punya malu menggelapkan uang perusahaan sampai ratusan juta hanya untuk bersenang-senang dengan pacarnya. Bagaimana bisa aku mempercayai dan mengharapkan dia..."
"Biarkan dia mempertanggung-jawabkan --"
"Stooop!...kamu bahkan bisa membuat dia pergi nekat merampok bank kalau kamu mencekoki dia saran seperti saran kamu itu!"
"Apa kemungkinannya bisa seperti itu?"
"Phfff...tidak tau."
"Maaf..."
"Sudahlah, aku mau pulang sekarang. Silahkan kamu pikir-pikir lagi tentang semuanya itu tadi. Bukan yang mengikhlaskan, tapi tentang menikah itu."
"Baiklah."
"Baiklah? Maksudnya?"
"Akan kupertimbangkan."
"Oh. Oke."
"Kalau. Kalau misalnya aku bukan seperti aku yang sekarang...misalnya aku hanya seorang bujang tua 60an lapuk dan jelek rupa dimatamu, yang telah bersedia mempiutangkan uangnya pada ibumu...apa kau tetap akan meminta menik.."
__ADS_1
"Ya! Demi harga diri terakhir yang kami punya, iya."
&&&&&-&&&&&