
"Entah kalau orang lain, kalau buatku sendiri, tak jadi masalah kak Lukas itu menikahi seseorang dengan atau tanpa perasaan cinta.
Karena kupikir yang penting itu adalah intinya. Intinya, kak Lukas pada akhirnya mau juga menikah...setelah ribuan kali kami terutama orangtua menyuruh-nyuruhnya begitu.
Terdengar naif? Terkesan hanya menurutkan pemikiran sepihak? Yah, habis mau bagaimana lagi? Karena kebetulan bagi keluarga kami memang itu yang paling diharap yakni yang penting pada akhirmya dia mau melepas status lajang, jelas hal remeh-temeh lain menjadi tak penting lagi untuk dibahaskan. Secara kasarnya termasuk cinta itu.
Apalagi kakak sendiri yang akhirnya mengambil keputusan untuk berumah tangga. Bukan karena dia dipilihkan atau dijodoh-jodohkan. Terlepas dari ada tidaknya kemisteriusan dibalik niatnya yang ingin berumah tangga itu."
"Kalau dipertanyakan, sekali lagi kalau ini dipertanyakan, kemisteriusan apa sih?
Ya niat menikahnya.
Kami sudah hafal betul kalau sikap kak Lukas selama ini...seolah tak mau dipusingkan memikirkan pernikahan. Seolah hidupnya melulu cuma untuk keluarga dan pekerjaan. Seolah lagi, bentuk cintanya adalah cinta mati hanya untuk Meiska seorang... Nah, kemudian kak Hana hadir dan secara tiba-tiba diperhitungkan menjadi si dia yang terpilih... Kenapa bisa?
Maaf kak Hana, kalau kata-kataku sedari tadi terdengar begitu kasar."
"Belajarlah mencintai dia, kak...kalau memang benar kalian berdua saat menikah kemarin belum memiliki perasaan cinta itu.
Karena dia itu seorang putra sekaligus kakak kami yang sangat baik.
Lukas Hirlandi yang selalu lurus-lurus saja dalam menjalani hidup... Hampir tak pernah mempermainkan yang namanya perempuan makanya kusebut dia bukan playboy... So, kak Hana yakinlah, dia juga pasti bisa kak Hana harapkan menjadi suami yang baik, seorang pria pendamping terbaik yang pernah kak Hana pilih di dalam hidup.
Oke?
Jadi inilah...tema yang mau kuobrolkan ke kak Hana makanya tadi aku sengaja mengajak kakak duduk ke sini untuk bicara..."
...............
Semua menganggap Lukas itu baik.
Iyaa, Hana tidak akan membantah. Ia memang mengakuinya. Sudah sejak pertama mengenal dulu, Hana melihat ada kebaikan di diri dan hati pria itu...
Begitu baiknya pria itu, Hana pun sempat-sempatnya dihadiahi sebuah benda berharga seharga puluhan atau hampir mendekati nominal harga 100an juta ini.
Berbulan-bulan telah berlalu dari hari pembelian, baru di hari ini wanita itu mengetahui fakta dibalik benda itu.
Juga pada hari ini, ada fakta lain pula yang akhirnya terungkap ; yang punya hajat pernikahan yang mana sudah sejak 1 1/2 bulan lalu Lukas mulai serius membahasnya...ternyata wanita itu, pernah disukai Lukas.
Aduh...
"Kak Hana,"
"Ya, mbak Tia?"
"Sejauh ini, hampir setahun ini...kak Hana bahagia kah menikah dengan kakakku Lukas?"
&&&&&--&&&&&
Pukul 5.40 jelang magrib...dalam kendaraan yang terjebak suatu kemacetan di salah satu ruas jalan tol...
"Kau perlu mempelajari mengemudi, Hana. Tapi tak usah ikut kursus, nanti aku sendiri yang akan mengajarkan."
__ADS_1
Wah, sekonyong-konyong...
"Kenapa memang?"
"Kenapa--perlu mempelajarinya? Atau yang tak perlu ikut kursus itu?"
Mau tak mau Hana memperlihatkan senyum singkat. "Yang pertama."
Lukas menoleh sekilas pada sang istri namun tak membalas senyum yang sempat pria itu tangkap. Sebaliknya, pria itu menjawab secara serius. "Hanya supaya kau tak perlu disupiri oleh siapapun selain olehku."
Ooo... Hana manggut-manggut. Dengan nalarnya ia menghubungkan jawaban sang suami barusan ke 'kenapa'nya yang kedua.
Adapun Lukas, dirinya kesulitan membuat pengakuan jujur bahwa ia tak mau ada pria lain ikut campur mengurusi Hana selain dirinya.
Hana semakin hari semakin terlihat menawan, Lukas kawatir itu mengundang bahaya dan menggiurkan para pria hidung belang.
Ia takut istrinya ini bisa di ambil orang...
Seperti di hari ini, pria itu sempat memergoki ada lebih dari 3 tamu laki-laki di acara resepsi tadi yang berani melirikkan mata ke arah Hana.
Melirik perut hamil itu? Melirik kalung mutiara pada leher itu? Atau melirik wajahnya?
Seolah semua melirik ke arah wajahnya.
"Berarti harus menunggu memulainya beberapa bulan lagi," cetus Hana.
"Ya," sahut Lukas singkat saja.
"Kau cerdas. Aku percaya kau akan cepat memahami apa yang akan kuajarkan."
"Ooo... Trima kasih kalau begitu, untuk pujian dan kepercayaan kamu."
"Nanti akan kusediakan satu mobil khusus lain buat kau belajar."
"Lagi? Setelah kemarin kamu memberiku hadiah yang mahalnya tak terkira, 86,8 juta??"
"8--Tiara yang menceritakan?"
"Iya. Dan aku tak mau lagi menerimanya. Akan kukembalikan kalung ini pada kamu. Nanti di rumah."
"Hana..."
"Tidak mau. Kalau cuma 2-5 juta masih bisa kuterima. Tapi hampir 87 juta? Aku belum segila atau sematerialistis itu menerimanya. Harus kutolak."
"Baik, kita bicarakan itu nanti di rumah."
"Memang. Itu juga niatku."
"Ngomong-omong kalau benda itu kau kembalikan kepadaku, kau percaya saja, aku akan segera membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir sampah."
"Kamuu?!"
__ADS_1
"Aku serius."
"Ugh! Memangnya ini kelereng, yang tak punya harga dibuang-buang dengan begitu saja?"
"Karena itu, jangan kau kembalikan padaku. Simpan saja."
"Tidak bisaa... Ini seharga 5 motor matiic!"
'itu tidak ada apa-apanya dibanding harga mutiara yang kumiliki, hana. kau.'
Lagi-lagi, seolah masih sulit dirasa Lukas untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pemikirannya itu...
Kata-kata Novarin 2 jam lalu kembali terngiang dalam benaknya.
'kalian berbeda usia 11 tahun. hana 31 dan kau 42 ... kenapa aku mengkawatirkan, sekarang memang istrimu tak ada masalah dengan gap usia ini tapi nanti di masa depan, tak tertutup kemungkinan kelak ia bisa saja akan mempermasalahkannya juga? mengingat selalu ada kemungknan pemikiran manusia sewaktu-waktu bisa berubah?
dia mungkin akan bosan padamu, pria yang terlalu dewasa pemikiran dan cara hidupnya dibanding usianya yang jauh lebih muda darimu itu..."
Dan sekarang Hana seolah sedang merajuk tentang kalung mutiara mahal di lehernya.
'hana...masa bodoh tentang kalung, aku tak perduli.
hanya, kumohon, kau jangan pernah pergi dariku... itu saja yang kupedulikan.
jangan karena kau tak bisa menyamai kedewasaanku lantas akhirnya kau memilih...untuk pergi meninggalkan aku...'
'...bagaimana mungkin aku mengajukan perpisahan? posisiku tidak pada tempat aku boleh mengajukan itu...'
'...mengingat selalu ada kemungknan pemikiran manusia sewaktu-waktu bisa berubah...?'
"Kalau begitu, tempat penyimpanannya selanjutnya memang harus di TPA."
"Kamu koq seperti itu banget, siih?"
"Jangan dulu berdebat selagi kita masih di jalan begini, Hana."
"Habisnya kamuu... Ya sudah, dilanjut di rumah."
"Juga sebaiknya tak usah lagi. Sekali kau mengatakan akan mengembalikannya, aku pun tak akan berubah pikiran untuk membuangnya."
"Ichh !" Hana mengernyitkan hidung dengan sebal, menyidekapkan kedua tangan lalu memilih berdiam diri.
Sikap diam kaku di antara ambeknya itu tentu saja masih bisa tertangkap Lukas meski tanpa berpaling melihat ke samping untuk memastikannya.
Di luar kemauannya, Lukas mendapati dirinya diam-diam tersenyum simpul menanggapi sikap yang sedang diperlihatkan Hana.
Selalu ada solusi untuk memecahkan suatu masalah, baiklah, ia yang akan mengalah.
Mulai dari hari ini, ia memutuskan, biarlah ia yang akan lebih banyak mengalah...
Seandainya ternyata Hana tak juga mau bersikap mengalah darinya.
__ADS_1
&&&&&--&&&&&