MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
37. Sejauh Mana Taraf Naksir-Naksiran Mereka Berdua?


__ADS_3

Hana tak menjawab. Karena dari balik duduk Tiara dilihatnya Lukas berjalan mendekat diiringi seorang wanita separuh baya berbusana daerah, yang tadi Hana lihat duduk dekat mempelai perempuan.


Bu Novarin.


Beda usia 8 tahun berarti beliau sekitar 50 atau 51 tahun. Hampir seusia ibunya. Namun karena wanita ini memakai riasan tebal dan bersanggul besar, ia kurang bisa membayangkan seperti apa sebenarnya aslinya wanita ini. Walau memang wanita ini sepertinya memiliki profil diri cukup menarik.


Hana yang kemudian perlahan bangkit berdiri dan fokus melihat ke belakangnya, membuat Tiara menengok pula ke belakang...Lukas sang kakak dan bu Novarin mantan ibu kostnya datang. Tiba ke hadapannya dan Hana bersamaan ia telah berdiri dan memutar tubuh, memasang wajah berseri menyambut wanita yang dulu pernah sangat ia segani.


Novarin lebih dulu tersenyum membalas senyum adik bungsu Lukas itu.


"Tiara."


"Ibu..." Tiara membungkuk sedikit, memperlihatkan sikap hormat.


"Dan..." Lalu Novarin beralih melihat pada Hana...sesaat keduanya bertemu pandang, berpandang-pandangan secara intens... Hingga disela oleh Lukas yang bersuara memberi penjelasan.


"Hana Cesilia. Di altar tadi bu Nova belum sempat berkenalan secara resmi dengan istriku. Inilah dia."


Hana meneguk air ludah. "Bu Novarin." Ia juga menunjukkan sikap hormat dengan menundukkan sedikit kepala pada Novarin.


Wanita yang belasan tahun lalu sesuai cerita Tiara pernah naksir-naksiran dengan Lukas itu mengangguk-angguk, menyenyumi Hana hangat dan ramah.


"Aku tak sempat datang ke acara pernikahanmu di Solo maupun resepsinya di rumah ibumu, Hana. Maafkan."


"Oh, ya ampun, tidak apa-apa, ibu--" Hana tidak tau harus berkata apa lagi. Di bawah perhatian pandangan Lukas yang terarah padanya, Hana malah jadi seolah kehilangan kata-kata. Masih kaget mengetahui sang suami dan bu Novarin ini dulu pernah punya memori indah berdua, kini keduanya bersamaan muncul ke hadapan Hana.


Dan sepertinya Lukas menyelidik reaksi darinya dalam berhadapan dengan Novarin...


Keduanya, Novarin dan Lukas, satu terhadap yang lain tidak nampak kikuk. Itu yang tertangkap Hana, diam-diam balik meneliti.


Kemudian Novarin berkata melanjutkan, nada suaranya terdengar lembut keibuan. "Waktu itu aku sedang sakit. Cukup parah. Bed Rest sampai 1 minggu malah. Sehingga aku tak bisa berangkat ke Solo menghadiri acara janji-nikah pernikahanmu. Pernikahan kalian." Novarin melihat dan menyenyumi sekilas Lukas, pria itu balas tersenyum kecil. Dan Hana, hanya bisa ber-O tanpa suara. "Dan bahkan hingga ke hari ini aku belum juga sempat datang berkunjung ke rumah kalian...aduh, tidak termaafkan, 'bukan?"


"Ibuu, sungguh, benar, tidak apa-apa," Hana menyergah halus.


"Okee...baiklah. Kalau begitu terima kasih atas kepengertiananmu," sahut Novarin akhirnya. "Tapi ngomong-omong kalian berdua memisahkan diri ke sini, sedang ada pembicaraan penting kah? Sebentar lagi sesi potong kue pengantin akan segera dimulai. Datanglah kalian mendekat ke sana, hm?"

__ADS_1


"Siap, ibu," Tiara yang menyahut. "Kami berdua tadi cuma...hehe...mengobrolkan sedikit tentang kehamilan kak Hana ini."


"Ooo..." Novarin mengangguk-anggukkan kepala lagi. Kembali melihat pada Hana. "Kapan-kapan nanti aku akan berkunjung ke rumah, Hana. Bila dalam waktu dekat ini masih belum bisa, kau taulah, sesudah sebuah acara pernikahan, biasanya kesibukan yang punya hajat masih belum akan selesai total."


"Iya, ibu, saya bisa mengerti. Trima kasih, ibu Nova sudah mau berencana datang berkunjung. Kami akan dengan senang hati menantikan waktunya ibu bisa datang."


"Sama-sama. Sudah dulu ya, kutinggal lagi. Aku mau berkeliling lagi mencari tamu yang menyebar supaya sebentar lagi mereka datang ke area potong kue wedding."


"Silahkan, bu Nova, silahkan..."


Hentak menggebrak bunyi Cymbal dan Tom-Tom drum yang mendadak digebuk keras dan terdengar lewat pengeras suara membuat fokus mereka berempat spontan terpecah, serempak melihat ke tengah ruangan Ballroom sana.


Musik menggetarkan ruangan lagi. Lagu baru berjenis Big Beat telah diperdengarkan mengganti lagu sebelumnya. Hana sepintas melihat ke seberang ruangan, penyanyi berikutnya di atas panggung itu adalah seorang perempuan muda artis sinetron terkenal.


"Yuk Hana, Tiara, aku tinggal dulu."


"Iya, bu Nova..." Koor Hana dan Tiara.


Hana pikir Lukas akan tinggal. Ternyata suaminya itu ikut putar badan, berjalan mengikuti Novarin tanpa berkata apa-apa padanya dan sang adik.


"Yang sedang di atas panggung itu sepupu kandung mempelai perempuan, kak Hana," Tiara terdengar berujar, mengejutkan sang kakak ipar. Ya suaranya, ya apa yang dikatakannya. Mengembalikan perhatian Hana padanya.


" 'Masa, mbak?"


"Hm-mh. Anak dari kakak laki-laki bu Novarin. Dulu semasih balita dia sering dibawa orangtuanya berkunjung ke kost-kostan," jelas Tiara sambil duduk lagi ke kursi.


"Ooo..." Hana ikut duduk.


"Mungkin sekarang umurnya sudah 21 atau 22 tahun. Aku tidak lagi mengikuti perkembangan kedewasaannya. Cuma tau dia jadi seorang artis sekarang."


"Dia cantik sekali... Aku baru tau dia bisa menyanyi dengan suara sebagus itu."


"Kak Hana juga terlihat cantik sekali di hari ini..."


"Ha?" Terpalingkan otomatis dari panggung ke Tiara, Hana mendapati senyum wanita itu mengembang dalam terdiam sesaat melihati wajahnya...dengan cara senyum-senyum dikulum itu, yang terasakan oleh Hana seolah mengandung makna tertentu.

__ADS_1


Pertautan pandangan mereka berdua saling menyelami.


"Kak Lukas bukan tipe pria playboy, kak Hana..."


Tuh...


Tunggu, Tiara mengatakan apa?


Hana 'waspada'.


Sebagai kelanjutan sang adik ipar tertawa kecil lebih dulu, sebelum ibarat menjatuhkan bomnya ke hadapan Hana.


"Meiska sebelum masuk biara menyempatkan diri bercerita padaku...percayalah, hanya kepadaku. Memberitaukan bahwa kak Hana dan kak Lukas...sebenarnya tidak ada perasaan cinta di antara kalian berdua saat memutuskan untuk menikah, yang itu tentu saja terdengar sangat-sangat mengagetkan bagiku."


Biarpun sudah bersiap, tetap saja Hana dibuat bereaksi terhenyak.


Bahu wanita itu melorot lunglai, memperlihatkan ekspresi memelas memandangi Tiara seperti seorang pencuri yang sedang tertangkap basah mencuri.


"Mbak Tiaa..." Hana menyebut namanya dengan nada menyendu. "Apa lagi...yang lain yang mbak Meiska sudah ceritakan?"


Satu pihak dari keluarga suaminya akhirnya mengetahui...


Tiara segera menenangkan Hana. "Rileks. It's okay. Tidak ada lagi yang lain, kak."


Hana pun menghela napas perlahan. Lega. Di hadapan duduknya Tiara mencoba tersenyum lagi, tapi menyambung bicaranya kemudian dengan berkata-kata serius.


"Dan yah, aku memang kaget. Juga heran. Karena kak Lukas yang tiba-tiba saja mengajukan permintaan ingin menikah ituu...itu sebuah permintaan misterius sebenarnya.


Ada apa tiba-tiba?"


Ohh...


Kalau semula almarhumah ibu mertuanya, kini kecurigaan seorang Tiara lah yang paling menjadi kekawatiran bagi Hana setelah beliau tiada.


Tiara, nama lengkapnya pun Mutiara. Mutiara Agustine. Selama ini sang adik ipar ini sama baiknya terhadap Hana, seperti anggota keluarga Lukas yang lain. Walau jarang atau mungkin hanya satu-dua kali saja pernah menjalin komunikasi bisa dikatakan Tiara memperlakukan diri Hana dengan penuh rasa hormat, respek, tak peduli Hana lebih muda 4 tahun darinya. Tak peduli pertama kali mereka berdua bertemu pun, di hari pernikahan Hana itu saja.

__ADS_1


Tapi kalau situasinya sekarang Tiara sudah mengetahui dan sedang membacai ada apa pernikahan sang kakak terjadi tanpa dilandasi perasaan cinta, apa selanjutnya yang akan terjadi lagi?


__ADS_2